Crazy Eros

Crazy Eros
Raka Pindah Sekolah


__ADS_3

Sesampainya di taman belakang sekolah, Jingga pun mulai mencari keberadaan Raka. Namun nihil, Raka tidak ada di sana.


Kemudian Jingga pun memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang ada di situ sembari menunggu Raka datang.


"Kenapa Raka pindah ke sekolah ini ya?" Tanyanya bermonolog. "Aneh banget." Gumamnya.


Masih asik berpikir, tiba-tiba saja dari arah belakang ada sebuah tangan yang menutup kedua matanya.


Jingga yang mendapatkan perlakuan itupun terkejut, sehingga bergerak tak nyaman.


"Heii, siapa si lo?" Teriaknya marah. "Lepasin gak! Ngapain si nutup -nutup mata gue, ha?" Sambungnya.


Kemudian orang yang berada di belakangnya pun tertawa sembari menjauhkan tangannya dari kedua mata Jingga.


"HAHAHAHA."


"Raka!" Panggil Jingga sembari berkacak pinggang.


"Lucu banget si kamu, kalau marah kayak tadi." Kata Raka sesudah menyudahi tawanya.


"Ternyata kamu! Kenapa si jahil banget?" Tanya Jingga seraya mengerutkan bibirnya.


Sebelum menjawab, Raka pun lebih dulu duduk di sebelah Jingga. "Sorry deh, habisnya enak tau, gangguin kamu kayak tadi." Ujarnya sembari mengacak rambut Jingga.


"Kamu dari mana aja? Kok bisa duluan aku yang nyampe." Tanya Jingga kesal.


"Iya, maaf ya. Tadi sebelum mau kesini, aku ke toilet dulu." Jawab Raka merasa bersalah.


"Iya gapapa." Ucap Jingga sembari tersenyum. "Ohiya, jelasin dong yang tadi!" Perintah Jingga kepada Raka.


"Yang mana, sayang?" Tanya Raka pura-pura.


"Is Rakaaa, serius dong!"


"Iyaiya, aku bakal jelasin." Ujar Raka sembari menjawil hidung Jingga.


"Buruannn!" Ucap Jingga tak sabaran.


Sebelum menjelaskan, Raka lebih dulu menghembuskan nafas pelan. "Jadi, sebenarnya aku tuh memang udah ngerencanain sekolah disini, makanya deh aku pulang ke Indonesia." Jelas Raka.


"Tunggu! Berarti kamu pulang ke Indonesia ini bukan karena lagi liburan?" Tanya Jingga.


Raka mengangguk sembari tersenyum. "Iya, aku kesini bukan karena pengen liburan, tapi ya karena aku memang bakal menetap disini selamanya. Dan itu artinya kita bakalan terus ketemu setiap hari, kamu senang kan, sayang?


Jingga yang mendengar itu pun membelalakkan matanya tak percaya. "Ha? Serius?" Tanya Jingga tak percaya.


Raka mengangguk. "Iyalah serius, emang muka aku nampak main-main waktu ngomong tadi?"


Jingga menggeleng. " Aku senang banget dengarnya, karena kamu bakalan menetap disini." Ujar Jingga sembari tersenyum.


"Tapi, Rak, apa alasan yang buat kamu milih menetap di Indonesia?" Tanya Jingga.


"Kamu mau tau alasan aku milih untuk menetap di Indonesia?" Bukannya menjawab, Raka justru bertanya balik kepada Jingga.


Jingga mengangguk.


"Ya karena kamu lah, aku udah gak mau lagi jauh-jauh sama kamu. Aku pengen setiap hari ketemu kamu, makanya deh aku bilang ke mama sama papa buat mindahin aku di sekolah Indonesia. Dan untung aja papa sama mama setuju sama keputusan aku. Karena kebetulan juga mama sama papa lagi pindah tugas kesini." Tutur Raka sembari mengenggam kedua tangan Jingga.


"Kamu sweet banget si, aku gak nyangka kamu punya effort yang besar." Kata Jingga sembari tersenyum manis.

__ADS_1


"Itu karena aku sayang banget sama kamu, Jingga." Ujar Raka sembari menatap Jingga dengan tulus.


"Aku juga sayang kamu, Raka." Balas Jingga seraya memeluk Raka. Dan Raka pun membalas pelukan Jingga.


Setelah beberapa menit berpelukan, Jingga pun lebih dulu melepaskan pelukan mereka berdua.


"Kok di lepas?" Tanya Raka kecewa.


"Kamu lupa? Kita lagi di sekolah sekarang, bahaya tau." Jawab Jingga sembari melototkan matanya.


Raka terkekeh. "Tapi kan disini lagi sepi." Ujarnya dengan tampang watadosnya.


"Kamu ni ya, kan ada cctv. Gimana si!" Kesal Jingga.


"Iyadehiya, ntar aja kalau kita udah keluar dari kawasan sekolah, okey?" Ucap Raka.


Jingga berdehem. "Yaudah kalau gitu aku ke kantin dulu ya, aku takut teman-teman aku nyariin aku, soalnya tadi aku izin sama mereka kalau aku mau ke perpustakaan." Tutur Jingga.


"Yaudah bareng aja kalau gitu, aku juga mau ke kantin." Tawar Raka sembari bangun dari duduknya.


"Eh jangan, ntar kalau tau Eros kan bahaya." Tolak Jingga.


"Kan Eros taunya kalau kita sepupuan." Ujar Raka.


"Iyasi, yaudah deh, ayok!" Ajak Jingga sembari bangun dari duduknya.


"Ayok!" Ucap Raka sembari menggandeng tangan Jingga.


"Raka, jangan di gandeng tangan aku!" Peringat Jingga sembari melepaskan gandengan tangan mereka berdua.


"Ohiya, aku lupa. Maaf ya, udah kebiasaan soalnya." Kata Raka sembari terkekeh.


Kemudian setelah itu mereka pun mulai melangkahkan kakinya menuju kantin.


***


"Hai semua, sorry ya kalau gue lama." Ujar Jingga kepada teman-temannga setelah sampai di kantin.


"Iya gapapa kok, Jingga." Sahut kedua temannya itu berbarengan.


Kemudian Jingga pun mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Abel.


"Rak, duduk gih!" Perintah Jingga sembari menunjuk sebuah kursi yang berada di depannya.


Raka menurut. Dan dengan segera mendaratkan pantatnya di bangku yang tadi di tunjuk oleh Jingga.


"Gue baru sadar kalau lo kesini tadi sama Raka, si anak baru itu." Ujar Aca.


"Hooh, sama, gue juga baru sadar." Sahut Abel. "Btw kok lo bisa sama dia? Emang kalian udah saling kenal?" Tanya Abel sembari menatap Jingga dan Raka dengan curiga.


Sedangkan keduanya yang mendapatkan pertanyaan dari Abel pun kini merasa kikuk.


"Ntar deh gue jelasin, mending lo berdua abisin makanan kalian dulu." Perintah Jingga sembari tersenyum masam.


"Banyak banget yang mau lo jelasin nanti." Ucap Aca heran.


"Iyani, klarifikasi-nya banyak amat." Sahut Abel sembari memakan sandwichnya.


"Udah deh, jangan bahas sekarang!" Ujar Jingga memohon, dan berharap teman-temannya itu menurut.

__ADS_1


"Iyadehiya." Seru kedua temannya.


"Rak, kamu gak mau pesan makan?" Tanya Jingga kepada Raka.


"Gak usah, aku lagi gak lapar. Mending kamu aja yang pesan!" Perintah Raka.


"Aku lagi diet." Ujar Jingga.


"Kamu ni ya, gak pernah berubah dari dulu, selalu aja diet." Kata Raka sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Beralih ke Aca dan Abel, kini keduanya sedang melongo tak percaya karena melihat percakapan singkat Jingga dan Raka.


"Lo dengar kan tadi? Mereka berdua ngomongnya pake aku-kamuan, anjir!" Ujar Abel berbisik kepada Aca.


"Iya gue dengar. Gue jadi curiga sama mereka berdua." Balas Aca sembari berbisik juga.


"Kenapa lo berdua bisik-bisik?" Tanya Jingga yang mengejutkan Aca dan Abel.


"Lo bisa gak si, jangan ngagetin!" Kesal Aca.


"Ya, sorry." Ujar Jingga dengan raut wajah tak bersalah.


"Jingga?" Panggil Abel.


"Apaan?" Tanya Jingga.


"Pokoknya, lo punya banyak hutang penjelasan sama kita berdua!" Jawab Abel dengan mata yang menatap tajam Jingga.


"Oke." Kata Jingga pasrah.


Ting!


Masih asik berbicara kepada kedua temannya dan Raka, ponsel Jingga berbunyi yang menandakan ada pesan masuk.


Jingga pun dengan segera membaca nama pengirimnya, dan ternyata adalah Eros. Kemudian gadis itu pun membuka pesan tersebut karena ingin tau apa yang di kirim oleh laki-laki itu.


Eros🔥


Sayang, maaf ya gak bisa nemanin kamu ke kantin, soalnya aku lagi ada di panggil ke kantor sama bu Yasmin


Me


Iya, gapapa. Emangnya kamu ada masalah apa? Kok sampai di panggil ke kantor


Eros🔥


Gada masalah apa-apa, cuman ada 1 hal doang yang mau bu Yasmin tanyain ke aku


Me


Ohgitu, yaudah


Eros🔥


Jangan lupa makan ya!


Read


Bukannya membalas, Jingga justru mengread saja pesan terakhir dari Eros.

__ADS_1


'Syukurlah, Eros hari ini gak akan nemuin gue di kantin.' Batin Jingga lega.


__ADS_2