
Sudah seminggu, semenjak kejadian Eros dan keluarganya yang datang ke rumah Jingga, untuk melamar gadis cantik itu.
Selama seminggu itu pula, gadis itu merasa lega dan juga bebas, karena Eros sudah tidak pernah mengganggunya lagi.
Hubungannya dan juga Raka semakin membaik, mereka semakin terlihat romantis, mau itu hanya berdua ataupun di depan orang-orang. Dan juga, teman-teman sekolahnya sudah mengetahui tentang mereka. Mereka juga sudah mengetahui bahwa hubungan Eros dan Jingga sudah berakhir, banyak yang beropini jika hubungan keduanya tandas karena Jingga menghianati Eros dengan menjalin hubungan bersama Raka. Jingga pun tidak ambil pusing mengenai opini-opini mereka, yang terpenting bagi Jingga sekarang karena akhirnya Jingga bisa terlepas dari kegilaaan Eros.
Jingga terlalu senang, sampai dia lupa bahwa Eros tidak mungkin semudah itu melepaskannya.
"Kantin yuk, guys!" Ajak Aca dengan semangat.
"Kuy lah!" Sahut Abel tak kalah semangat.
"Kalian aja deh, gue lagi pengen di kelas." Jawab Jingga sembari membaca sebuah novel yang dia bawa.
"Dih, baca novel mulu, gak bosen apa?" Tanya Abel dengan sinis.
"Berisik deh, udah sana lo pada ke kantin, jangan ganggu gue!" Ujar Jingga kesal.
"Yaudah deh, yuk, Ca! Kita tinggalin aja ni orang sendiri." Ajak Abel sembari menarik tangan Aca.
Aca yang di tarik pun hanya memutar bola matanya malas. "Bye, Jing." Teriak Aca yang sudah agak menjauh dari pandangan Jingga.
Jingga yang melihat kelakuan kedua temannya pun menggelengkan kepalanya. Kemudian gadis itu pun melanjutkan membaca novelnya.
Ohiya, mengenai Raka, laki-laki itu hari ini sedang tidak datang ke sekolah. Karena laki-laki itu sedang pergi ke Australia untuk menemui kakek dan neneknya.
Setelah beberapa menit kemudian, suara langkah kaki yang baru saja masuk ke dalam kelas membuat gadis itu menoleh ke asal suara tersebut. Yang ternyata suara langkah kaki itu adalah milik Eros.
Sama seperti hari sebelum-sebelumnya, laki-laki itu melewatinya begitu saja. Jingga pun mengangkat bahunya acuh dan kembali membaca novelnya.
Sedangkan Eros yang sudah duduk di kursinya, kini menetapkan pandangannya hanya ke satu titik, yaitu kepada gadis cantik yang sudah membuat hatinya kacau, gadis jahat yang sialnya sangat dia cintai.
'Aku gak sabar buat kamu terikat dengan aku, Jingga.' Batinnya seraya tersenyum miring. 'Aku yakin, cara yang aku lakukan setelah ini, akan membuat kamu mau gak mau untuk balik lagi ke aku.' Lanjutnya tanpa melunturkan senyum miringnya.
Jingga yang sedang sedang di perhatikan dengan tatapan tajam dari arah belakangnya pun mengelus tengkuknya. 'Kok gue jadi merinding gini ya.' Batin Jingga heran.
***
Malam pun tiba. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 08.00.
Jingga, gadis itu saat ini sedang berbaring santai sembari menscroll beranda sosial medianya. Masih asik menscroll, Jingga di buat kaget karena mendapatkan banyak pesan dari Aca.
Tanpa menunggu lama, gadis itu pun langsung membuka isi pesan tersebut.
Aca:
Jingga
Jingga
Jingga
P
P
Lo dimana?
Tolongin gue, Jingga!
Jingga mengernyit bingung melihat isi pesan tersebut, kemudian gadis itu pun mulai mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan dari sahabatnya itu.
Me:
Kenapa, Ca? Lo mau minta tolong apa?
Tidak ada balasan dari Aca, padahal terlihat centang biru di pesan yang baru saja Jingga kirim, yang artinya pesan itu sudah di baca oleh Aca. Jingga yang melihat itupun di landa kepanikan. Dia takut ada hal buruk yang terjadi kepada sahabatnya. Dengan segera, Jingga pun memutuskan untuk menelepon Aca, tapi nihil, teleponnya malah di tolak oleh sang empu. Membuat Jingga semakin panik.
Me:
Aca, jawab dong! Lo kenapa? Jangan buat gue khawatir
Sama seperti sebelumnya, pesan itu telah di baca. Jingga pun memutuskan untuk mengirim pesan kembali, tapi belum sempat dia mengetik, ternyata Aca sudah membalas pesannya.
Aca:
Tolongin gue, tolong jemput gue!
Me:
Lo dimana emangnya? Dan juga, sebenarnya lo kenapa?
Aca:
Ceritanya panjang, nanti gue ceritain, intinya sekarang lo jemput gue dulu!
__ADS_1
Please!
Me:
Okeoke, gue bakalan jemput lo, lo tenang dulu ya. Sekarang lo shareloc aja lokasinya ke gue!
Aca:
📍Hotel Sejiwa
"Itukan hotel yang ada di dekat rumah Eros. Ngapain Aca sampe di sana?" Tanya Jingga sembari mengernyit heran. "Nanti aja deh gue tanyain ke dia langsung, mending gue sekarang gue kesana aja, gue takut terjadi apa-apa sama Aca." Lanjutnya.
Me:
Oke, sabar ya Ca, gue otw sekarang
Aca:
Iya. Bilang ke resepsionisnya kalau lo mau ke kamar 122 ya
Setelah mengirimkan balasan buat Aca, Jingga pun mulai bersiap-siap. Setelah sudah selesai bersiap-siap, Jingga pun segera melenggang pergi.
Dan syukur saja, orang tuanya saat ini sedang tidak berada di rumah, mereka sedang pergi keluar kota selama 2 hari, seperti biasa untuk melakukan perjalanan bisnis. Hingga Jingga tidak harus bersusah payah untuk meminta izin terlebih dahulu.
***
Sesudah sampainya Jingga di hotel. Gadis itu pun dengan segera menuju ke meja resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis tersebut sembari tersenyum ramah, ketika melihat Jingga di hadapannya.
Jingga membalas senyumannya. "Saya mau ke kamar 122, mbak." Sahut Jingga.
"Apakah benar nona bernama Jingga?"
Jingga mengangguk. "Iya, mbak." Katanya dengan sopan.
"Baik, mari saya antarkan." Ujarnya sembari berjalan lebih dulu dari pada Jingga. Tapi sebelum melanjutkan langkahnya, resepsionis itu menyuruh temannya, untuk menggantikan posisinya sebentar.
Jingga pun mengikuti langka kaki resepsionis tersebut.
"Ini kamarnya, kita sudah sampai, nona." Ujar resepsionis itu ketika mereka sudah tiba di depan kamar nomor 122. "Sebentar saya bukakan pintunya ya, nona." Lanjutnya yang di jawab anggukan oleh Jingga.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Jingga, resepsionis itupun mulai membukakan pintu hotel tersebut untuk Jingga.
"Terima kasih, mbak." Kata Jingga.
Resepsionis itu mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu ya, nona." Pamitnya undur diri.
Jingga mengangguk sembari tersenyum.
Setelah kepergian resepsionis itu, Jingga pun mulai masuk ke kamar yang di maksud oleh Aca.
"Aca." Panggil Jingga sembari menutup pintunya kembali.
Tidak ada sahutan. Hanya ada keheningan.
"Mungkin di kamar mandi kali ya." Gumam Jingga. Kemudian Jingga pun memutuskan untuk mengcek kamar mandi yang ada di situ.
Setelah sudah sampai di depan kamar mandi, gadis itupun mengetuk pintunya. Tapi tetap tidak ada sahutan, Jingga pun memutuskan untuk membukanya, dan ternyata di dalam kamar mandi itupun tidak ada Aca di dalamnya.
"Kok gak ada ya, sebanarnya Aca dimana si?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Aca." Panggil Jingga ulang, bahkan saat ini gadis itu sudah berteriak, agar sahabatnya itu mendengar.
Tapi nihil masih tidak ada jawaban.
Tok tok tok
"Itu pasti Aca." Ujarnya sembari melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
Setelah pintu terbuka, bukan wajah Aca yang dia lihat, melainkan wajah asing, yang ternyata itu adalah petugas hotel.
"Maaf mengganggu, nona. Saya kesini hanya ingin mengantarkan makanan dan minuman buat, nona." Ujar petugas hotel itu sembari menunjuk sebuah troli makanan yang dia bawa.
"Tapi kayaknya saya belum ada mesan deh." Kata Jingga dengan jujur.
"Oh, ini tadi teman anda yang sudah memesan, nona." Jawab petugas hotel itu sembari tersenyum.
'Mungkin Aca kali ya, yang pesan ini.' Batin Jingga.
"Gimana, nona? Bisa saya letakkin makanan sama minuman ini ke dalam?" Tanya petugas itu.
Jingga mengangguk. "Silahkan!" Kata Jingga mempersilahkan.
Petugas hotel itupun mulai melakukan pekerjaannya. Tak lama, pekerjaannya pun selesai, petugas hotel itupun izin undur diri kepada Jingga. Jingga pun mempersilahkannya, petugas itu pun mulai pergi sembari membawa troli makanan yang tadi dia bawa.
__ADS_1
Jingga masuk kembali ke dalam kamar, dan menutup pintu kamarnya kembali. Kemudian gadis itu mendudukkan dirinya di sofa.
15 menit kemudian, belum juga ada tanda-tanda bahwa sahabatnya itu akan datang. Jingga juga sudah mengirimkan sebuah pesan kepada sahabatnya berulang kali, tapi tidak ada balasan dari sahabatnya. Bahkan terdapat centang 1 di pesan yang Jingga kirim. Dan itu membuat Jingga menjadi gelisah.
"Apa Aca bohongin gue ya?" Tanya Jingga pada diri sendiri.
Tiba-tiba saja gadis itu merasa haus, membuat Jingga mau tak mau meminum minuman yang tadi di antar oleh petugas hotel tersebut. Lagipula tidak ada masalahnya bukan meminumnya duluan tanpa menunggu Aca? Salahkan saja sahabatnya itu yang membuat dirinya menunggu lama sampai kehausan.
"Segarnya." Ujar Jingga yang sudah selesai meminum minuman itu hingga tandas.
Tapi, beberapa menit kemudian gadis itu duduk dengan gelisah, kepalanya terasa pening dan tubuhnya juga merasa panas, padahal AC di kamar hotel ini sudah sangat dingin tadi.
Ceklek
Pintu terbuka. Seseorang baru saja masuk, kemudian orang itu menutup pintunya kembali, tak lupa pula menguncinya.
Orang itu adalah seseorang lelaki, kalian pasti sudah dapat menebaknya, kan? Yap, orang itu adalah Eros.
Eros yang melihat itu tersenyum miring. Ternyata obatnya cepat bereaksi, batinnya sembari menyeringai.
Mendengar suara pintu terbuka, Jingga pun menoleh.
"Eros." Ujarnya dengan suara lirih, suara yang sangat menggoda bagi Eros.
Laki-laki itu tidak membalas ucapan Jingga, bahkan lelaki itu tidak bergerak sama sekali, masih berdiri di dekat pintu dengan mata yang terus memandang ke arah Jingga. Tidak ada niat sama sekali mendatangi gadis malang itu. Dia ingin Jingga sendiri lah yang lebih dulu menyuruhnya untuk mendekat.
"Tolong gue, Ros." Pintanya dengan suara yang di penuhi gairah.
Mendengar itu seringaian Eros semakin melebar, inilah yang dia tunggu. Dia merasa menang sekarang. Kemudian, laki-laki itu melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Jingga.
"Mau gue bantu, hm?" Tanya Eros menggoda gadis itu.
Jingga mengangguk dengan cepat.
Eros yang melihat wajah penuh nafsu Jingga pun semakin tak tahan. "Berdiri!" Pintanya kepada Jingga.
Gadis itu menurut, dengan cepat dia melakukan apa yang di perintahkan oleh Eros.
Setelah melihat Jingga sudah berdiri, dengan cepat laki-laki itu menyatukan bibirnya dan juga bibir Jingga. Bukan hanya menyatukannya, Eros pun mengulumnya dengan penuh nafsu.
Setelah beberapa menit, Eros pun mulai melepaskan pernyatuan bibir mereka. "Lo yakin bakalan tetap mau lanjutin? Dan lo yakin gak bakalan nyesal? Karena kalau sampai kita lanjutin ini, gue gak akan pernah ngelepasin lo lagi." Ujar Eros sembari menatap tajam Jingga.
Jingga mengangguk.
"Mana suara lo!" Bentak Eros sembari meremas kedua pipi Jingga, hingga gadis itu mengaduh kesakitan.
"Awwss--iya, gue tetap mau lanjutin ini, persetan sama semuanya!" Ujar Jingga.
Eros tersenyum puas mendengar jawaban gadis yang di cintainya itu. "Good girl." Ucap Eros sembari menyelipkan anak rambut Jingga ke belakang telinganya.
"Sekarang, ayo Eros, lakuin!" Ajak Jingga tak sabaran, karena nafsunya benar-benar sudah di ujung tanduk.
"Gue bakalan bantu lo, sebelum lo bilang kalau lo itu milik gue!" Ujar Eros.
"T-tapi--" Ucapan Jingga terhenti karena Eros memotongnya.
"Yaudah kalau gak mau, gue gak akan bantuin lo, biar lo menderita karena nafsu lo itu. Gimana?" Tanya Eros sembari menyeringai.
"Okey, gue bakal ngomong." Kata Jingga cepat.
"Silahkan!" Perintah Eros.
"Gue milik lo, Eros!" Ujar Jingga.
"Apa? Gue gak denger." Ucap Eros pura-pura.
"GUE MILIK LO, EROS!" teriak Jingga dengan kesal.
Eros semakin melebarkan senyumannya, dia merasa sangat puas sekarang.
"Oke, ayo kita lakuin." Katanya sembari mengangkat tubuh Jingga seperti karung beras.
Setelah itu, laki-laki itu membanting tubuh gadis itu ke atas kasur yang membuat gadis itu terpekik kaget.
Kemudian, Eros membuka seluruh pakaiannya dan juga pakaian Jingga.
Setelah selesai membuka seluruh pakaian mereka, Eros pun memposisikan dirinya di atas Jingga. "Sudah siap, honey?" Tanya Eros dengan mata yang menatap Jingga penuh kabut birahi.
Jingga mengangguk. Kemudian Eros pun mulai melakukan aksinya, mereka melakukannya dengan nikmat. Tanpa tau bahwa kelakuan mereka ini salah.
Kelak ketika gadis itu sadar nanti, pasti gadis itu akan menyesali semuanya. Dia pasti akan hancur-sehancurnya, karena mahkota yang selama ini dia jaga telah di ambil oleh seseorang yang justru sangat dia benci dan dia hindari.
"Akhirnya, aku bisa milikin kamu seutuhnya, Jingga." Desis Eros.
Dan tanpa Jingga sadari, semua kelakuan mereka dari awal telah di rekam oleh Eros.
__ADS_1