
Di sebuah kamar, seorang laki-laki sedang duduk di balkon sembari memandangin langit-langit malam. Laki-laki itu ialah Eros.
"Sebentar lagi." Gumamnya sembari tersenyum licik.
Ceklek
"Sayang." Panggil Dara yang baru saja masuk ke dalam kamar putranya.
"Ayo makan malam! mama udah siapin semuanya di meja makan tadi." Sambungnya.
"Iya, ma, mama duluan aja! Nanti Eros nyusul." Sahut Eros seraya tersenyum.
"Beneran ya!" Ujar Dara.
"Iya, ma." Ucap Eros.
"Yaudah mama turun duluan ya, jangan lupa nyusul kamu!"
"Iya, ma."
Setelah itu Dara pun melenggang pergi keluar dari kamar putranya.
"I can't wait for that time to come."
Gumam Eros sebelum menyusul sang mama.
***
Sedangkan di lain tempat, sebuah keluarga sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Gimana, pa? tentang masalah perusahaan kita? Apa pelakunya udah ketangkap?" Tanya Rachel kepada suaminya.
Evan yang tadinya sedang fokus mengelus rambut putrinya pun menoleh ke arah sang istri.
"Belum, sayang." Jawab Evan, tersirat nada putus asa di ucapannya.
"Aneh ya pa, kenapa polisi kayak susah banget nangkap pelakunya. Jingga yakin banget, pelakunya itu masih di sekitaran sini kok, pasti belum pergi jauh." Ujar Jingga sembari menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Benar, pa. Apa yang di bilang Jingga. Pelakunya pasti masih berada di sekitar-sekitar sini." Sahut Rachel ikut menimpali.
"Iya sayang, papa tau. Tapi kalau soal polisi, wajar aja lah mereka belum nemu pelakunya, kan kasusnya baru di urus kemarin. Kita tunggu aja dalam seminggu ini, kalau memang gak ketemu juga, yaudah kita ikhlasin aja. Papa juga sebenarnya udah ikhlasin kejadian itu kok, ya walaupun berat rasanya." Tutur Evan dengan senyumannya.
"Papa kenapa baik banget si jadi orang? Ini ni, yang buat orang berlaku seenak jidat sama papa. Papa kebaikan si jadi orang." Kesal Jingga.
"Stt, gak boleh gitu! Kita itu harus senantiasa jadi orang baik. Kalau orang jahat sama kita, yaudah biarin aja, jangan di balas sama kejahatan juga." Ujar Evan sembari menjawil hidung putrinya.
"Habisnya Jingga kesal sama orang yang jahat sama keluarga kita, kayak mereka tu gak ngeehargain kita banget, padahal kita udah baik ke mereka." Seru Jingga sembari mengerucutkan bibirnya.
"Gak semua orang kayak gitu, sayang. Kadang ada juga kok yang ngebalas perbuatan baik kita."
"Kalau memang ada, mana buktinya. Lihat, kita lagi kayak gini buktinya gak ada yang bantu kita. Sumpah sick banget si mereka."
"Mungkin mereka memang lagi gak bisa bantu sayang, bisa aja kan keuangan mereka juga lagi gak cukup. Udah ya, gak boleh ngomong gitu lagi!" Kata Evan.
"Tapi yang di bilang sama Jingga tu ada benarnya lho, pa." Sela Rachel.
"Kamu lagi, bukannya di nasihatin anaknya, malah ngikut-ngikut." Ujar Evan sembari menatap garang sang istri.
"Iyadeh maaf." Ucap Rachel.
"Udah sana Jingga tidur! besok sekolah kan? Udah malam ni." Perintah Evan, yang segera di turutin oleh Jingga.
"Yaudah Jingga tidur dulu ya, pa, ma." Pamit Jingga sembari mencium pipi kedua orang tuanya secara bergantian.
"Iya sayang. Good night princess, have a nice dream." Seru kedua orang tuanya.
"Good night to, ma, pa." Balas Jingga.
Setelah itu Jingga pun melenggang pergi.
***
"Gue makin gak tega ngelihat keluarga gue kayak gini. Gue pengen buat perusahaan ini kayak dulu lagi, tapi gimana caranya?" Monolog Jingga sembari mengacak-acak rambutnya.
"Cuma ada satu cara saat ini yang bisa gue lakuin. Tapi di satu sisi gue ragu, sedangkan di sisi lain, gue gak sanggup ngelihat perusahaan keluarga gue kayak gini, kalau terus-terusan di biarin, yang ada pasti bakalan tambah hancur."
Jingga menghembuskan nafas pelan. "Gak ada pilihan lain, terpaksa gue harus minta bantuan Eros." Ujarnya "Ya, gue harus minta bantuan Eros. Dan semoga aja Eros mau bantu gue." Katanya yang akhirnya mengalah dengan egonya.
***
__ADS_1
Seperti yang ada di pikirannya kemarin, hari ini Jingga benar-benar memutuskan untuk meminta bantuan dari Eros.
Dan kebetulan saat ini di kelas hanya ada Eros dan Jingga, karena semua teman-teman sekelasnya pada pergi ke kantin.
Jingga pun beranjak dari bangkunya, dan kemudian menuju bangku milik Eros.
"Eros." Panggil Jingga setelah sudah sampai di hadapan Eros.
Eros yang tadinya sedang membaca buku pun menoleh ke arah suara.
"Ada apa?" Tanya Eros dengan raut wajah datar. Tak lupa pula laki-laki itu meletakkan buku yang tadi dia baca ke atas meja.
"Lo pulang sekolah sibuk gak?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Eros, Jingga malah bertanya balik kepada Eros.
Eros menggeleng.
"Bisa kita ketemuan di cafe nanti siang? Kalau gak bisa gak papa kok." Ujar Jingga ragu-ragu.
"Pasti nolak." Batin Jingga.
"Oke." Di luar perkiraan Jingga, laki-laki itu justru menerima ajakan dari Jingga, dan itu membuat Jingga tanpa sadar tersenyum.
"B-Beneran? Lo mau?" Tanya Jingga dengan antusias, dan di jawab anggukan oleh Eros.
"Cafe mana?" Tanya Eros.
"Nanti gue shareloc tempatnya." Ujar Jingga.
"Bukannya nomor gue udah lo block?" Tanya Eros santai.
Berbeda dengan Eros yang terlihat santai, Jingga justru merasa malu mendengar ucapan Eros.
"Soal itu, maafin gue ya. Tenang aja, nanti gue buka kok blockannya." Ujar Jingga gugup sembari memainkan jari-jarinya.
"Oke." Setelah mengatakan itu, Eros pun beranjak dari bangkunya.
"Lo mau kemana?" Tanya Jingga.
"Perpus." Jawab Eros singkat, kemudian laki-laki itu pun melenggang pergi ke tujuannya.
"Kutu buku banget si tu orang, bukan tipe gue banget." Gumam Jingga.
Sedangkan di lain sisi, laki-laki yang tadi berbicara dengan Jingga, berdiri di balik tembok sembari memperhatikan gadis itu.
***
"Mana si tu orang, kok lama banget." Ujar seorang gadis yang tak lain adalah Jingga.
Seperti yang mereka rencanakan tadi disekolah, siang ini, keduanya akan bertemu di cafe.
Saat ini gadis itu sedang menunggu Eros yang belum juga datang. Seketika pikiran buruk pun memenuhinya.
"Apa dia ngerjain gue? Dia bilang mau, padahal dia gak datang." Monolognya dengan bibir yang mengerucut. "Tapi gak mungkin deh, Eros gak mungkin kayak gitu. Eh--tapi mungkin aja."
"Gak-gak, gue yakin Eros pasti datang, Eros gak mungkin setega itu sama gue." Ujarnya sembari menepis semua pikiran buruknya.
10 menit berlalu, dan seseorang yang di tunggu pun akhirnya datang dengan langkah tergesa-gesa.
"Sorry, gue telat." Ujarnya sembari mendudukkan dirinya di kursi bersebrangan dengan Jingga.
"It's oke, gapapa." Ucap Jingga dengan senyum palsunya, yang nyata di dalam hatinya ia sedang mendumel kepada Eros.
"Lo belum pesan makanan entah minuman?" Tanya Eros.
"Belum. Gue lagi gak lapar ama haus." Jawab Jingga berbohong. Gadis itu bukan tidak lapar dan haus, justru dia sangat lapar dan haus sekarang. Jingga tidak mempesan makanan dan minuman karena dia ingin menghemat sisa uangnya.
"Mbak." Panggil Eros kepada seorang waiters.
"Iya mas, mau pesan apa?" Tanya waiters tersebut ketika sudah di hadapan Eros.
"Lo mau pesan apa?" Bukannya menjawab pertanyaan dari waiters itu, Eros justru bertanya kepada Jingga.
"Gak usah, gue kan udah bilang, gue lagi gak lapar sama haus." Jawab Jingga.
"Wagyu steak with blackpaper sauce 1, milkshake strawberry 1, and ayam rica-rica 1, air soda nya 1." Tanpa mendengarkan penolakan Jingga, Eros pun menyebut satu persatu pesanan mereka kepada waiters.
"Dia masih ingat sama makanan favorit gue." Batin Jingga.
"Oke, mohon di tunggu ya mas, mbak! Kalau begitu saya permisi." Pamitnya, kemudian melenggang pergi.
__ADS_1
"Lo apaansih, kan gue udah bilang, gue gak mau pesan." Ujar Jingga.
"Kalau lo gak mau makan, gue juga gak mau ngomong sama lo di sini, dan mendingan gue pulang aja, kita batalin pertemuan ini." Tutur Eros dengan santai.
"Oke fine, gue makan." Ucap Jingga. "Bodoh banget, kok gue iyain si, nanti gue bayar pesanan gue gimana?" Batinnya resah.
"Lo tenang aja, pesanan lo tadi gue yang bayar kok." Seru Eros seolah menjawab kebingungan Jingga.
"Kok dia bisa tau gue lagi gak bisa bayar. Bodoh amat ah, gue harus pura-pura nolak dulu pokoknya." Batin Jingga.
"Eh, gak usah. Gue bayar sendiri aja." Sahut Jingga.
"Gapapa, gue aja yang bayar." Kata Eros.
"Yaudah deh kalau gitu, thanks ya." Tutur Jingga tulus. Dan di balas anggukan oleh Eros.
***
Setelah mereka menyelesaikan makan mereka, kini Eros pun membuka suara untuk bertanya kepada Jingga, hal apa yang ingin gadis itu bicarakan.
"Jadi? Hal apa yang pengen lo omongin?" Tanya Eros.
"Gue butuh bantuan lo." Jawab Jingga.
"Bantuan apa?" Tanya Eros lagi.
"Gue mau pinjam uang sama lo, boleh gak?" Jawab Jingga gugup.
"Gue tau gue punya banyak salah sama lo, tapi please! lupain masalah kita yang kemarin, gue juga minta maaf karena udah nyakitin lo." Tutur Jingga memohon. "Tolong bantu gue, Ros. Cuman lo satu-satunya harapan gue." Sambungnya.
"Bentar-bentar! Lo mau minjam uang sama gue? Bukannya keluarga hidup berkecukupan ya?"
"Itu dulu, sebelum perusahaan papa gue hancur, dan sekarang perusahaan itu udah hancur. Dan gue pengen bantu papa buat ngembaliin perusahaan papa kayak dulu lagi, gue gak mau lihat papa sama mama gue sedih dan hidup susah."
"Kenapa bisa? Bukannya kayaknya selama ini perusahaan papa lo baik-baik aja?" Tanya Eros.
"Itu semua karena ada yang bawa kabur semua uang perusahaan." Jawab Jingga. "Gue mohon, bantu gue, gue janji kok, gue bakalan bayar." Sambungnya.
"Berapa yang lo butuhin?" ujar Eros.
"700 juta." Sahut Jingga.
"Oke, gue bakalan bantu lo. Gue bakalan pinjamin lo uang." Ucap Eros.
Mendengar itu membuat mata Jingga berbinar. "Serius?" Tanya Jingga antusias. Dan di jawab anggukan oleh Eros.
"Makasih ya. Gue berutang budi banget sama lo." Katanya dengan senyum yang merekah.
"Tapi--itu semua gak gratis."
"Iya gue tau kok. Kan gue udah bilang tadi sama lo, kalau gue bakalan bayar, atau gak kalau perlu gue cicil deh perminggu, gimana?"
"Bukan bayaran itu yang gue mau. Uang segitu gak ada apa-apanya bagi gue. Lagian lo mau nyicil itu setiap minggu? Yang ada sampai kapanpun belum tentu lunas." Ujar Eros dengan senyum mengejek.
Mendengar ucapan Eros membuat Jingga menggertakkan giginya. "Sialan, dia ngejek gue?" Batin Jingga kesal.
"Terus lo mau di bayar pakai apa?" Tanya Jingga.
"Lo." Jawab Eros.
"Maksudnya?" Tanya Jingga tidak mengerti.
"Gue mau lo balikan sama gue, dan selalu ada disisi gue." Jawab Eros sembari mengambil tangan Jingga yang berada di atas meja, kemudian menggenggamnya.
"Gila lo! Jangan mentang-mentang gue minjam uang ke lo, lo jadi semena-mena ya sama gue." Ucap Jingga sembari menarik paksa tangannya yang di genggam oleh Eros.
"Kenapa si? Kenapa lo gak mau balikan sama gue? Gue kurang apa?" Tanya Eros sendu.
"Please! Mau ya! Gue janji, gue bakalan buat lo bahagia, gue bakalan bantu perusahaan keluarga lo, dan dan gue juga bakalan setia sama lo." Sambungnya dengan tatapan memohon.
"Dengerin gue! Cinta itu gak bisa di paksain, mau sampai kapanpun gue gak bakalan bisa cinta sama lo." Ujar Jingga kesal. "Gue lebih baik cari cara lain buat bantu keluarga gue, daripada harus balikan sama lo." Katanya, kemudian melenggang pergi, meninggalkan Eros yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu.
Kemudian tatapan sendu itu berubah dengan tatapan tajam, dan rahang laki-laki itupun mengeras.
"Kamu nolak aku lagi, Jingga."
"Kamu nyakitin aku lagi."
'"Aku kurang apa? Aku gak terima ini!" Ucapnya sembari meremas sendok yang ada di tangannya hingga sendok itu menjadi bengkok.
__ADS_1
"Tenang Eros, tenang!" Monolognya sembari menghembuskan nafas pelan.
"Gue yakin, Jingga pasti bakalan tetap balik lagi ke pelukan gue." Gumamnya sembari menyeringai.