
"Gila, tai, monyet, asu." Segala umpatan keluar dari mulut Jingga sembari kakinya menendang-nendang angin di depannya.
Setelah kejadian tadi bersama Eros, kini gadis itu sedang menuju jalan pulang dengan berjalan kaki. Bukan tanpa sebab gadis itu memilih pulang dengan berjalan kaki, dia hanya ingin menjernihkan pikirannya karena mendengar ucapan laki-laki yang bernama Eros itu. Selain itu, rumah gadis itu pun tak jauh dari cafe yang tadi di datangin untuk berjumpa dengan Eros.
"Dia kira gue bakalan bertekuk lutut gitu sama dia, mentang-mentang gue mau minjam uang sama dia. Dia salah besar kalau berpikiran kayak gitu tentang gue." Ujarnya sinis.
"Nyesel gue minta bantuan ama tu orang, bagusan gue kerja jadi pembantu di bandingkan harus balikan sama dia."
Setelah itu gadis itu pun ingin menyebrang. Sangking asiknya mendumel, gadis itu tak sadar bahwa dari arah samping kanannya ada sebuah mobil melaju kencang, hingga--
"Aaaaaaaaa." Jerit gadis itu sembari memejamkan matanya.
Tapi sebelum mobil itu menghantam tubuhnya, dia merasakan ada seseorang dari belakangnya yang lebih dulu mendorongnya. Hingga gadis itu terjatuh.
Brak
Gadis itu pun menoleh ke arah belakang karena mendengar suara benturan keras itu. Dan seketika tubuhnya pun menegang, waktu seolah-olah berhenti karena melihat pandangan di hadapannya.
Seseorang yang tadi mendorong tubuhnya dari belakang, kini terbaring lemah di tanah dengan darah di sekujur tubuhnya. Dan lebih terkejutnya lagi, seseorang itu adalah Eros, cowo yang tadi dia maki-maki.
Setelah sadar dari keterkejutannya, gadis itu pun melangkahkan kakinya ke arah Eros yang terbaring dengan sisa-sisa kesadarannya. Laki-laki itu tersenyum ke arah Jingga.
Sedangkan mobil itu? Sudah melarikan diri, dasar mobil sialan, batinnya.
Sesudah sampai di hadapan Eros, gadis itu pun berjongkok di depan tubuh Eros.
"K-Kamu gapapa kan?" Tanya Eros dengan nafas tersengal. "S-Setidaknya aku udah berhasil nyelamatin kamu, walaupun hampir telat." Sambungnya.
Lihatlah! Seberapa besar rasa sayang Eros ke Jingga. Di saat dia sekarat pun, laki-laki itu masih tetap mempertanyakan keadaan gadis itu. Eros justru tidak peduli dengan keadaannya sendiri sekarang.
Kemudian setelah mengucapkan itu, laki-laki itu pun pingsan akibat tidak tahan dengan rasa sakit yang di rasakannya.
"Gak-gak, lo gak boleh tutup mata!" Katanya sembari mengguncang tubuh Eros.
"Eros, please! Lo bangun dong, jangan mati!" Katanya seraya masih tetap mengguncang tubuh lemah Eros. Bahkan gadis itu kini sudah mulai menangis.
"I-Ini bukan salah gue kan, hiks?" Tanyanya ketakutan sembari menutup mulutnya.
"Gak--ini bukan salah gue. Ini bukan salah gue." Lirihnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gue harus minta bantuan sama orang buat bawa Eros ke rumah sakit." Ujarnya.
"Bertahan Eros!" Katanya, kemudian Jingga pun melangkahkan kakinya untuk mencari bantuan.
Entah kebetulan dari mana, ada sebuah warung yang kebetulan banyak pembelinya. Tanpa menunggu lama, Jingga pun melangkahkan kakinya ke arah warung itu.
"Pak, buk. Tolongin saya!" Ujar Jingga.
"Ada apa, nak?" Tanya seorang ibu-ibu. "Kenapa kamu terlihat panik gitu?" Sambungnya.
__ADS_1
"Ada teman saya yang di tabrak lari di sana, tolong bantu saya buat bawa teman saya ke rumah sakit pak, bu!" Jawab Jingga dengan memohon.
"Baiklah, mari ibu-ibu, bapak-bapak, kita bantu anak ini!" Sahut ibu itu lagi sembari menyuruh yang lainnya.
***
Sesudah sampai di rumah sakit, Eros pun langsung di bawah ke ruanh UGD oleh dokter, dan suster yang ada di rumah sakit itu.
Jingga sendiri sedang menunggu di sebuah bangku yang ada di luar ruang UGD tersebut dengan perasaan gelisah, air matanya tidak berhenti sedari tadi.
Gadis itu juga tadi sudah menghubungi kedua orang tua Eros dan juga kedua orang tuanya untuk datang kesini. Jujur saja, dia sangat takut sekarang, dia takut di cap pembunuh dan di laporkan ke polisi oleh kedua orang tua Eros.
Tap tap tap
Suara langkah kaki membuatnya semakin gelisah, dia takut itu adalah langkah kaki kedua orang tua Eros. Apa mungkin nanti dia akan di tampar? Di tunjang? Seperti yang ada di film-film. Oh no! Jingga benar-benar takut sekarang.
"Sayang!" Tebakannya salah, ternyata suara langkah kaki tadi adalah suara langkah kaki kedua orang tuanya.
"Mama, papa." Ujarnya sembari berhambur ke pelukan sang mama.
"Jingga takut, ma, pa, hiks." Adunya.
"Tenang sayang! Papa yakin Eros pasti baik-baik aja." Ujar Evan menyakinkan putrinya bahwa semuanya akan baik-baik saja, ya walaupun kenyataannya Evan juga gelisah sekarang.
"Iya sayang, tenang ya! Eros pasti bisa ngelewatin ini semua." Sahut Rachel.
"Kita duduk dulu, oke." Ucap Evan sembari menggandeng tangan putrinya agar duduk di bangku yang tadi Jingga duduki.
"Sebenarnya gimana kronologinya, sayang? Kenapa bisa Eros ketabrak?" Tanya Evan ketika mereka bertiga sudah duduk.
"Ini salah Jingga, pa, ma. Jingga yang udah buat Eros kayak gini. Harusnya Jingga yang ada di posisi Eros sekarang! Kalau aja Eros gak nolongin Jingga yang hampir ketabrak sama mobil, Eros pasti baik-baik aja." Jelasnya.
"Stt, sudah ya! Ini bukan salah kamu, jangan meyalahkan diri kamu sendiri, kamu sebenarnya kan juga gak bakal tau kalau kejadiannya bakal kayak gini." Ucap Evan sembari menyenderkan kepala Jingga ke bahunya. Kemudian papa dari Jingga tersebut pun mengelus lembut rambut Jingga.
"Jingga gak boleh ngomong kayak gitu, ini bukan kesalahan Jingga." Tutur Rachel menimpali.
"Tapi Jingga takut, Jingga takut masuk penjara, Jingga takut di cap pembunuh, ma, pa." Ujarnya sembari menangis.
"Kami yakin, kedua orang tua Eros pasti akan mengerti ini, sayang. Udah, Jingga gak boleh berpikiran kayak gitu lagi, oke!" Kata Evan seraya menghapus air mata putrinya. "Percaya sama kami." Sambungnya yang di jawab anggukan pasrah oleh Jingga.
"Maafin gue, Eros." Batinnya sedih.
***
"Di mana Eros? Dan gimana keadaannya?" Tanya mama dari Eros yang baru saja tiba di rumah sakit dengan wajah yang sudah di banjiri oleh air mata.
"Sayang, tenang dulu ya!" Seru Kenan sembari mendekap tubuh istrinya.
"Mbak, yang sabar ya! Eros lagi di tanganin di dalam sana. Kita berdoa aja semoga Eros gak kenapa-kenapa." Jawab Rachel mencoba untuk menenangkan Dara.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Rachel, Dara pun membalas ucapan mama dari Jingga tersebut. Tapi sebelum itu, dia lebih dulu melepaskan pelukan dirinya dan juga Kenan.
"Gimana saya mau tenang, kalau putra saya di dalam sana lagi kenapa-kenapa." Ucap Dara sembari terisak.
Rachel maju mendekati Dara, lalu ia pun mengelus bahu Dara. "Saya tau kok, mbak. Apa yang mbak rasain sekarang, karena kita juga sama-sama seorang ibu. Tapi kita gak boleh berpikiran yang enggak-enggak dulu, saya yakin Eros pasti bisa melewati ini semua, dan saya yakin Eros itu anak yang kuat." Tutur Rachel, dan di jawab anggukan oleh Dara.
"Iya, kamu benar. Eros itu anak yang kuat." Seru Dara.
"Sekarang, mendingan kita tunggu aja dulu di kursi sana, sampai dokter keluar dan ngasih kabar ke kita." Kata Evan yang di setujui mereka semua, kecuali Jingga yang masih bergeming di tempatnya.
'Ya Allah, tolong selamatkan Eros. Walaupun aku benci sama dia, tapi aku tetap gak mau Eros kenapa-kenapa.' Batin Jingga cemas sembari memandangin pintu UGD tersebut.
"Jingga, kemari sayang! Ada yang mau tante Dara tanyakan sama kamu." Panggil Rachel, yang di jawab anggukan kepala oleh Jingga.
"Hal apa yang mau tante tanyain?" Tanya Jingga dengan gugup sembari meremas jari-jari tangannya sendiri.
"Tante mau nanya sama kamu. Kenapa Eros bisa kecelakaan? bukannya kalian tadi kata Eros mau ketemuan di cafe?"
Deg!
Mendengar pertanyaan dari Dara, Jingga pun menelan ludahnya dengan susah payah.
'Gue harus jawab apa? Nanti kalau gue jujur gue di masukin penjara sama kedua orang tua Eros.' batin Jingga.
"Jujur saja! Om sama tante gak akan marah kok." Sahut Kenan sembari tersenyum tipis.
"Ini semua salah Jingga, om, tante. Eros kayak gini karena dia nyelamatin Jingga yang hampir ketabrak. Seharusnya Jingga yang ada di dalam sana, bukan Eros. Maafin Jingga om, tante." Kata Jingga yang akhirnya jujur, tidak peduli bagaimana akhirnya nanti.
"Ini bukan salah kamu, ini takdir," Ujar Kenan.
"Dan mungkin, kalau Eros gagal nyelamatin kamu, justru Eros bakalan gila. Kamu tau betul kan, secinta apa Eros sama kamu." Sahut Dara yang sudah sedikit tenang.
Jingga diam, tidak membalas ucapan Kenan dan juga Dara. Benar apa kata kedua orang tua dari Eros itu. Eros secinta itu sama dia, tetapi Jingga justru malah selalu menyakiti Eros. Andai saja dari awal Jingga tidak menuruti dare dari teman-temannya itu, pasti tidak akan ada kejadian seperti ini. Sungguh, Jingga menyesal sekarang.
Ketika Jingga ingin kembali menjawab, dokter lebih dulu keluar.
"Apa di sini ada keluarga pasien?" Tanya dokter tersebut.
"Kami dok, kami orang tua Eros." Jawab Kenan dan Dara.
"Gimana keadaan anak saya, dok? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Dara beruntun.
"Sayang, tenang!" Tegur Kenan kepada sang istri.
"Begini, pak, bu. Benturan keras di kepala pasien, menyebabkan pasien kehilangan sebagian memori ingatannya." Jelas dokter tersebut.
Mendengar ucapan dokter, membuat perasaan Jingga antara sedih dan senang. Sedih karena penyebab Eros seperti ini adalah dirinya, dan senang karena tentunya Eros tidak akan mengejar-ngejarnya lagi, dan tidak akan mengingatnya lagi.
"Maksud dokter, putra saya amnesia?" Tanya Dara panik, tak lupa pula kini air matanya sudah keluar kembali.
__ADS_1