Crazy Eros

Crazy Eros
Perubahan Eros


__ADS_3

Hari ini Jingga datang ke sekolahnya lebih awal, tidak seperti hari-hari sebelumnya, dan juga hari ini dia tidak datang ke sekolahnya menggunakan mobilnya sendiri, melainkan di antar oleh sang papa. Entalah, mengingat masalah yang menimpa keluarganya, dia jadi tidak bersemangat melakukan apapun sekarang.


Suasana sekolah masih sepi, hanya beberapa murid yang sudah berada di sekolah. Wajar saja, ini masih terlalu pagi, maka dari itu belum banyak murid yang datang.


"Jingga." Panggil seseorang di ambang pintu.


Kemudian orang tersebut pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kelas. "Lo beneran Jingga kan?" Tanyanya memastikan.


"Iya, ini gue, Ca." Jawab Jingga kepada lawan bicara, yang tak lain adalah Aca.


Aca pun menghela napas lega. "Gue kira setan." Jawabnya sembari mendaratkan pantatnya ke kursi sebelah Jingga.


"Sembarangan lo."


"Btw, kok tumben lo datang sepagi ini?" Tanya Aca heran.


"Lagi pengen aja." Jawab Jingga.


Sadar akan sikap temannya yang berbeda, Aca pun bertanya kembali kepada Jingga. "Lo lagi ada masalah ya?" Tanya Aca penuh selidik.


Mendengar pertanyaan Aca, Jingga pun terdiam sebentar sebelum menjawab. "Enggak kok."


"Lo gak bisa bohong sama gue, Jingga. Gue tau pasti lo lagi ada masalah. Biasanya lo pecicilan, tapi sekarang, lo diam aja, mata lo juga sembab kayak abis nangis." Tutur Aca. "Cerita sama gue! Lo lagi ada masalah apa? Siapa tau gue bisa bantu lo." Sambungnya.


"Gue gapapa kok, Ca. Mata gue sembab karena tadi malam gue maraton drakor." Ucapnya sembari pura-pura tersenyum.


"Gak! Gue yakin lo bohong, kalau lo gak mau cerita, gue gak mau temenan sama lo."


Jingga menghela napas pelan. "Gue beneran gapapa, Ca. Serius deh." Ucapnya berharap temannya percaya.


"Yaudah terserah lo deh, kalau lo belum mau cerita sekarang. Tapi ingat ya! Kalau lo udah siap buat cerita, gue selalu siap buat jadi pendengar lo, dan gue bakal coba buat ngebantu lo selagi gue bisa." Jelas Aca sembari mengelus bahu temannya.


"Iya, Ca. Makasih ya." Jawabnya dengan tersenyum manis. "Gue beruntung banget, punya sahabat kayak lo, sama Abel." Sambungnya.


"Gue sama Abel lebih beruntung kali, punya sahabat kayak lo" balas Aca dengan senyumannya.


"Intinya kita sama-sama beruntung, deh." Kata Jingga meluruskan.


"Btw, Abel mana? Kok gak bareng lo? Biasanya kan kalian bareng." Tanya Jingga.


"Oh, dia tadi telat bangun, terus dia nyuruh gue pergi duluan aja, yaudah deh gue duluan." Jawab Aca.


"Oh gitu." Seru Jingga, dan di jawab anggukan oleh Aca.


***


"Lo gak bawa mobil, Jing?" Tanya Abel.


"Enggak, gue tadi di antar sama papa." Jawab Jingga.


"Terus lo pulangnya gimana?" Kini giliran Aca yang bertanya.


"Di jemput sama papa." Jawab Jingga.

__ADS_1


"Papa lo gak kerja?"


"Enggak."


"Mau bareng kita aja gimana?" Tawar Aca.


"Gak usah, kalian pulang duluan aja." Tolak Jingga halus.


"Beneran ni gapapa? Sekolah udah sunyi lho, nanti kalau lo di culik gimana?" Ujar Abel menakut-nakuti temannya itu.


"Lo lupa ya, Bel. Gue itu pemberani, gak kayak lo." Sinis Jingga.


"Dih, gaya banget lo." Balas Abel tak kalah sinis.


"Udah, gak usah mulai!" Lerai Aca. "Beneran lo gak mau bareng kita aja?" Tawar Aca sekali lagi.


Jingga menggeleng. "Kalian duluan aja." Katanya.


"Yaudah kalau gitu kita balik dulu ya, lo hati-hati! Kalau ada apa-apa langsung kabarin gue, atau Abel." Pesan Aca sebelum pergi.


"Iya, Ca."


Kemudian Aca dan Abel pun masuk ke dalam mobil mereka yang kebetulan sudah mereka ambil dari parkiran.


"Bye, Jing." Teriak Abel. Dan di jawab senyuman terpaksa oleh Jingga. Bukan apa, dia masih tidak terima di panggil Jing oleh Abel, ya walau kenyataan memang panggilan itu memang pantas.


Setelah itu mobil yang di naikin oleh Aca dan Abel pun pergi meninggalkan kawasan sekolah.


"Papa udah jalan belum ya? Telpon, ah." Ucapnya pada diri sendiri.


"Kok handphone gue gak ada?" Tanyanya sembari mengobrak-abrik tasnya.


"Perasaan gue taruh di tas deh, tadi."


"Apa jangan-jangan ketinggalan ya di dalam kelas."


"Ah, gak mungkin. Perasaan udah gue taruh di tas kok."


Tanyanya beruntun pada dirinya sendiri.


Seketika dirinya pun dilanda panik.


"Cari ini?" Tanya seseorang di hadapannya sembari menyodorkan sebuah handphone kepadanya.


"Ya ampun, iya gue cari ini. Makasih bang-" ucapannya terputus karena mendengar suara orang tersebut yang tak asing baginya.


Jingga pun mendongakkan wajahnya ke atas untuk melihat siapa orang itu.


"Eros." Ujarnya lirih.


"Kalau gitu gue duluan." Tanpa menunggu balasan dari Jingga, Eros pun melenggang pergi.


"Dia beneran udah lupain gue?" Ucapnya sembari menatap punggung tegap Eros yang perlahan menjauh.

__ADS_1


Kemudian akan sadar dari ucapannya barusan, Jingga pun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Eh, ngapain di pikirin. Bukannya itu bagus?"


"Mending sekarang gue telpon papa."


Tin tin


Tapi belum sempat menelpon sang papa, Evan terlebih dahulu sampai untuk menjemput putrinya.


Tanpa menunggu lama, Jingga pun segera masuk kedalam mobil. Dan mendudukkan dirinya di kursi sebelah pengemudi.


"Maaf ya sayang, papa lama jemputnya." Ucap Evan merasa bersalah.


"Gapapa, pa. Cuman telat beberapa menit doang kok." Katanya sembari tersenyum.


"Yaudah, kita berangkat sekarang ya." Ujar Evan sembari menancapkan gas mobilnya untuk meninggalkan perkarangan sekolah Daisy.


***


"Gimana pelajaran hari ini, sayang?" Tanya Evan sembari menyetir mobilnya.


"Lumayan susah, pa." Jawab Jingga.


"Gapapa, kamu gak boleh nyerah, oke! Tetap semangat belajarnya walaupun pelajarannya susah." Peringat Evan.


"Siap, pa. Jingga janji gak bakal kecewain papa, sama mama." Ujarnya antusias.


"Good girl." Ucap Evan sembari mengelus surai rambut putrinya.


"Ohiya sayang, tadi papa jumpa Eros di gerbang, dan dia negur papa." Ujar Evan.


"Eros negur papa?" Batin Jingga.


"Ternyata dia gak berubah ya, papa pikir setelah putus dari kamu, dia gak sudi untuk negur papa." Tutur Evan. Yang hanya di jawab senyuman oleh Jingga.


"Tapi syukurlah kamu udah putus sama dia, sayang." Ucap Evan. Membuat perhatian Jingga yang tadinya lurus ke depan, kini menatap sang papa.


"Kok gitu, pa?" Tanya Jingga bingung.


Evan pun memberhentikan mobilnya, kemudian menepikannya di pinggir jalan.


"Soalnya kamu udah gak pantas sayang, buat bersanding sama Eros. Kamu kan tau sendiri keluarga Eros itu se-kaya apa, terkenal di mana-mana. Gak kayak kita, yang udah jatuh miskin." Jelas Evan sendu.


"Pa, gak boleh ngomong gitu! Kita pasti bisa kok kayak dulu lagi." Ucap Jingga menyakinkan.


"Gak akan bisa, sayang. Papa udah cari bantuan kesana kemari, tapi gak ada yang mau ngebantu perusahaan kita. Bahkan teman dekat papa pun gak mau bantu."


"Gimana ini? Gue gak tega lihat papa kayak gini. Tuhan, tolong bantu gue!" Batinnya menjerit.


"Pa, udah ya. Gak boleh berpikir yang enggak-enggak, aku yakin suatu saat nanti kita pasti bisa kayak dulu lagi." Ujar Jingga kepada Evan.


"Ya, semoga aja sayang." Kata Evan dengan senyumannya.


Jingga tau, senyuman yang Evan berikan itu palsu.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ada satu cara terlintas di pikirannya untuk membantu keluarganya.


"Eros. Ya, gue harus minta bantuan Eros. Tapi gimana kalau dia gak mau bantu, dan malah malu-maluin gue." Batinnya. "Gak, gue gak boleh minta bantuan ke dia. Gue malu, gue udah nyakitin dia kemarin."


__ADS_2