
Sesampainya di rumah, Jingga langsung masuk ke kamarnya tanpa lebih dulu menyapa kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang keluarga. Kelakuannya itu hingga membuat kedua orang tuanya mengernyit bingung karena melihat kelakuan tak biasa putrinya.
"Jingga kenapa ya, pa? Kok tumben gak nyapa kita?" Tanya Rachel bingung.
"Papa juga gak tau, ma." Jawab Evan.
"Atau jangan-jangan Jingga lagi berantem sama Eros? Mama harus tanya sama Jingga." Belum sempat Rachel berdiri, lengannya lebih dulu di cekal oleh Evan.
"Jangan sekarang, ma. Biarin dia sendiri dulu sekarang." Cegah Evan. Yang langsung di jawab anggukan oleh Rachel.
"Okey lah, pa."
***
Sedangkan di kamar Jingga, kini gadis itu sedang emosi sehingga mengobrak-abrik seluruh isi kamarnya.
"Dasar cowo bajingan, gila, gak tau diri." Teriak Jingga dengan marah.
"Bisa-bisanya lo bohongin gue, sialan!"
Masih dengan napas memburu, gadis itupun mulai mendudukkan dirinya di atas kasur.
"Bentar, kenapa gue sekecewa ini ya sama Eros. Iyasih emang gue wajib kecewa, tapi kenapa gue rasa, rasa kecewa gue ini kayak besar banget." Ujarnya yang sudah mulai sedikit tenang. "Lagian harusnya gue senang kan? Karena akhirnya semuanya terbongkar dan gue bisa lepas dari Eros." Lanjutnya lagi.
"Arghhhhh! Sebenarnya lo kenapa si, Jingga." Ujarnya kesal sembari mengacak-acak rambutnya sendiri.
Ting
Bunyi pesan masuk dari handphone Jingga, membuat Jingga dengan malas melihat isi pesan tersebut. Yang ternyata pengirimnya adalah Raka.
Raka🖤:
Sayang, udah pulang dari rumah Eros?
Bukannya membalasnya, Jingga justru memilih menelepon laki-laki itu, dia ingin mengadukan semua kejadian hari ini kepada Raka.
Tak lama, telepon pun di angkat oleh Raka.
"Haloo, sayang." Sahut Raka di seberang sana.
"Halo, Rak." Ujar Jingga dengan suara yang serak karena terlalu banyak berteriak.
"Suara kamu kenapa?"
"Aku mau cerita sama kamu, bisa kita ketemuan sekarang?" Bukannya menjawab pertanyaan Raka, justru Jingga balik bertanya kepada Raka.
Sedangkan di sebrang sana, Raka mengernyit bingung. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kekasihnya? Mengapa Raka rasa ada sesuatu hal besar yang terjadi kepada Jingga. Dan lagi, apa yang akan Jingga mau ceritakan kepadanya? Sungguh itu membuat Raka menjadi sangat penasaran.
"Bisa dong. Mau ketemuan di mana? Btw emangnya kamu udah pulang dari rumah Eros?"
"Di taman dekat rumah aku. Iya aku udah pulang."
__ADS_1
"Oke, aku siap-siap dulu ya, sayang." Ujar Raka
Setelah itu telepon pun berakhir. Sama hal nya dengan Raka, Jingga pun akan bersiap-siap juga. Tidak mungkin kan, dia akan pergi dengan keadaan penampilan kacau seperti ini?
15 menit berlalu, Jingga pun akhirnya sudah rapih kembali. Tanpa menunggu lama, gadis itupun segera keluar dari kamarnya untuk pergi bertemu dengan Raka.
Akan tetapi, sebelum pergi, Jingga lebih dulu akan meminta izin kepada orang tuanya.
"Ma, pa. Jingga izin untuk pergi keluar sebentar ya." Pamitnya ketika sudah sampai di hadapan kedua orang tuanya.
"Mau kemana, sayang?" Tanya sang papa.
"Ke supermarket, pa. Boleh ya." Ujar Jingga berbohong.
"Tapi kan ini udah malam." Sahut Rachel.
"Sebentar aja kok, ma. Soalnya stok snack Jingga udah habis, ntar nge-drakornya jadi gak seru deh kalau gak ada snacknya."Â
"Kan bisa besok, sayang." Ujar sang mama kembali.
"Udalah, ma. Gapapa, biarin Jingga pergi." Sela Evan, yang membuat Jingga tersenyum senang.
"Tapi di antar sama pak Roy, ya!" Lanjut Evan.
Mendengar itu, senyum yang tadi merekah di wajah Jingga, kini pun luntur.
"Gak deh, pa. Jingga sendiri aja, lagian supermarketnya kan dekat dari rumah kita." Tolak Jingga.
"Siap, kapten!" Kata Jingga sembari tersenyum.
***
Sesampainya di taman, Jingga pun mencari bangku kosong agar bisa dia dudukin. Dan yap, akhirnya dia pun mendapatkannya. Tanpa menunggu lama, Jingga pun segera melangkahkan kakinya menuju bangku tersebut.
Setelah sampai di bangku tersebut, Jingga pun langsung mendudukkan dirinya.
"Kok tumben tamannya masih rame ya? Mungkin karena ini minggu malam Senin kali ya." Monolog Jingga sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
Udara malam kali ini entah mengapaa sangat terasa dingin menurut Jingga. Sehingga membuat gadis cantik itu sesekali meringis karena kedinginan.
Masih asik menggosok-gosokkan telapak tangannya, tiba-tiba saja dari arah belakang, ada seseorang yang memakaikan sebuah Jaket ke tubuhnya.
Jingga terkejut, sehingga membuat gadis itu menolehkan kepalanya ke belakang. Dan ternyata pelakunya adalah Raka. Setelah mengetahui bahwa pelakunya adalah kekasihnya, Jingga pun tersenyum ke arah Raka.
Kemudian Raka pun ikut mendudukkan dirinya di samping Jingga.
"Aku pikir siapa tadi." Ujar Jingga.
"Kamu kedinginan banget ya?" Tanya Raka, dan di jawab anggukan oleh Jingga.
Raka pun menggenggan kedua tangan Jingga. Setelah itu laki-laki itupun menyatukan kedua telapak tangannya dan juga telapak tangan Jingga, kemudian Raka menggosok-gosoknya.
__ADS_1
Jingga semakin tersenyum karena melihat kelakuan Raka yang menurutnya sangat manis. Dia merasa sangat beruntung bisa mempunyai pacar seperti Raka.
Menurutnya, Raka adalah laki-laki lembut, pengertian, dan gentle. Itulah alasan mengapa dia menerima Raka menjadi kekasihnya.
"Gimana, masih dingin atau udah lebih mendingan?" Tanya Raka.
"Udah lebih baik, dan jadi lebih hangat. Makasih, babe." Jawab Jingga tanpa melunturkan senyumnya.
"It's okey, no problem." Ujar Raka sembari mengusap puncak kepala Jingga.
"Ohiya, kata kamu tadi ada yang mau kamu omongin sama aku, soal apa tu rupanya?" Tanya Raka.
Mendengar itu, mood Jingga yang tadinya menjadi lebih baik kinipun berubah menjadi hancur karena pertanyaan Raka yang mengingatkannya dengan kejadian buruk beberapa jam yang lalu.
"Ini tentang laki-laki bajingan itu." Ujar Jingga tanpa mau menyebutkan nama Eros.
"Maksud kamu Eros?" Tebak Raka.
Jingga mengangguk. "Siapa lagi kalau bukan dia? Dan ohiya, aku minta tolong ya sama kamu, tolong jangan pernah lagi sebut nama dia di depan aku!" Perintah Jingga.
"Sebenarnya ini ada apasih, sayang? Kamu kenapa sama Eros?" Tanya Raka yang semakin penasaran.
"Rak, please!"
"Okey, sorry. Maksud aku laki-laki itu."
Jingga menghela nafas berat. "Kamu tau, si brengsek itu udah bohongin aku."
"Bohongin gimana?"
Kemudian Jingga pun mulai menceritakan semua kelakuan Eros kepada Raka.
Setelah selesai mendengarkan penjelasan dari Jingga, Raka pun mengepalkan tangannya.
"Brengsek ya dia, aku gak suka kamu di giniin. Aku bakalan datangin dia sekarang." Ujar Raka sembari ingin bangun dari duduknya.
Melihat itu, dengan cepat Jingga menahan Raka, dan menyuruh Raka duduk kembali. "Gak perlu. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Lagian sekarang aku udah nyelesain semuanya, dan mulai sekarang aku juga udah mutusin buat gak mau berurusan lagi sama dia." Tutur Jingga.
"Tapi gimana kalau seandainya dia tetap masih ngejar kamu? Asal kamu tau, Jingga. Orang kayak gitu sampai kapanpun gak akan pernah berubah. Dia itu ibaratkan orang yang kalau mau milikin sesuatu, itu pokoknya harus dia dapatin. Dia gak akan peduli mau gimanapun caranya, itu termasuk obsesi, Jingga. Itu bisa ngebahayain kamu." Kata Raka sembari menatap Jingga dengan raut wajah khawatir.
"I know, tapi aku yakin, dengan aku yang jaga jarak sama dia, pasti lama kelamaan dia gak akan ngejarin aku lagi, dan aku bisa bebas dari dia." Ucap Jingga sembari menggenggam tangan Raka, seakan memberi keyakinan kepada kekasihnya itu. "Rak, orang kayak gitu juga pasti punya rasa lelah, aku yakin kok, aku pasti bisa bebas dari rasa obsesi dia." Lanjutnya.
"Aku gak yakin." Gumam Raka.
"Kamu harus yakin!" Perintah Jingga sembari menatap dalam Raka.
Raka menghela nafas pelan. "Okey, terserah kamu. Yang penting asal kamu tau, aku bakalan selalu ada buat kamu, aku bakalan terus jagain kamu semampu aku." Ujar Raka.
Jingga yang mendengar itu pun tersenyum. Kemudian tanpa aba-aba gadis itupun langsung memeluk Raka dengan erat. "I love you, Raka." Ujarnya lirih.
Raka pun membalas pelukan Jingga. "I love you to, Jingga." Balas Raka.
__ADS_1