Curved Irregular

Curved Irregular
Chapter 10 : Wadah


__ADS_3

Krraahh!


Udara bergetar atas raungan itu. Intimidasi luar biasa yang tidak pernah Light rasakan tengah tertuju kepadanya.


Ratusan mulut berbuih, banyak diantara kesadaran mereka yang terenggut dengan ekspresi wajah penuh ketakutan.


Tidak hanya berefek secara khusus kepada Light seorang. Banyak diantara prajurit Arcadia yang berada di sekeliling Light pingsan karena tidak mampu menahan intimidasi Cartias. Apabila mereka kembali tersadar, mungkin beberapa diantara mereka tidak akan memiliki mental yang sama seperti sedia kala.


Banyak orang di sekeliling Light telah jatuh terkapar. Light yang masih berdiri seorang diri seolah menjadi titik pusat menunjukkan bahwa dialah orang dengan mental terkuat.


Tatapan Cartias menjadi tajam, dia tahu jika anak laki-laki berseragam hitam tanpa armor yang masih berdiri itu tidak boleh sedikitpun dia remehkan. Hanya dengan itu, Light terbukti merupakan sosok bangsawan sejati dengan mana yang terkandung di dalam darahnya.


CRASSHH!


Ruang udara tepat di hadapan keduanya tercakar oleh tangan kanan Cartias. Meski tidak sekalipun dapat dipahami, akan tetapi dari cakaran tersebut, tiga tebasan muncul dari kekosongan. Melesat menargetkan Light seolah memotong ruang diantara mereka.


Dengan refleks luar biasa, Light menggunakan kekuatan penuhnya untuk menghindar dari serangan, "Kuh!"


BLAAR!


BLAAR!


Tanah dimana Light baru saja berpijak hancur berkeping-keping. Cartias kagum, dia tidak pernah melihat seseorang yang mampu untuk selamat saat menghindari serangannya.


Stamina serta durasi penggunaan.


Light memiliki batasan dalam menggunakan kemampuannya. Konversi mana untuk mengaktifkan sebuah sihir memiliki perbedaan yang sangat besar jika dibandingkan dengan penggunaan mana secara langsung seperti kemampuan yang Light miliki.


Aktivasi suatu sihir membutuhkan mana yang cukup banyak karena proses konversi tersebut sangatlah boros dan tidak efisien. Akan tetapi, itu sebanding dengan stamina yang dapat tetap terjaga karena beban tubuh yang tidak begitu berat serta besarnya output yang dihasilkan.


Bangsawan berdarah murni sejatinya dapat mengeluarkan sihir dengan kekuatan luar biasa. Sebagai contoh untuk sihir api, dia dapat menciptakan lautan api atau bola api raksasa yang kekuatannya sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan output yang dihasilkan darah campuran, seperti darah seseorang dari keluarga cabang, keluarga ksatria, atau rakyat jelata yang terlahir dengan ayah yang memiliki kekuatan sihir.


Akan tetapi, itu berbeda dengan apa yang Light gunakan. Meski terlahir sebagai seorang keturunan murni karena ayahnya adalah bangsawan tulen serta ibunya yang merupakan keturunan yang memiliki darah paling murni Keluarga Renesse, salah satu keluarga pendiri kekaisaran, Light tidak memiliki keahlian yang layak seperti para bangsawan pada umumnya.


Kuantitas mananya terlampau kecil, mustahil baginya untuk mengaktivasi suatu sihir ataupun mantra. Untuk itu, Light belajar untuk menggunakan mananya secara langsung dan mengkompresnya hingga berbentuk sangat padat.


Proses ini memiliki beberapa kekurangan. Stamina tubuh akan cepat terkuras karena beban tubuh saat menggunakan skill tersebut sangatlah berat. Tidak sebanding dengan beban yang ditanggung saat menggunakan sihir seperti pada umumnya.


Karena hal tersebut, Light tidak mungkin bertarung dengan lawan yang sepadan atau yang lebih kuat darinya dalam waktu lama. Tubuhnya hanya akan menjerit karena rasa sakit luar biasa saat dia memaksakan dirinya untuk terus bertarung.


Light menyerap kembali mana yang ia keluarkan. Kondisi kemenangannya hanya akan tercapai disaat dia mampu untuk mengulur-ulur waktu sembari menunggu untuk menggunakan skillnya pada saat yang tepat.


Memandang Light yang compang-camping, Cartias tersenyum sumringah. Kewaspadaannya sedikit mengendur karena ia menilai bahwa Light bukanlah sosok dengan kekuatan luar biasa seperti apa yang dia bayangkan.


"Tidak menyerang?" Light memilih diam atas provokasi Cartias, "Jika itu yang kau inginkan, aku akan datang kepadamu!"


Cartias melompat. Kecepatannya hampir tidak dapat dilihat oleh indera.


CRASH!


"Hah?!" Seketika, tangan Cartias telah berada tepat di depan Light. Pisau angin yang timbul akibat serangan Cartias hampir menyentuh kening.


BLAR!


BLAR!


Light tidak berhenti melompat untuk menghindar. Cartias yang memiliki stamina luar biasa menyerang tanpa jeda. Bilah-bilah angin menghancurkan area sekitar, Cartias seolah tidak lagi peduli terhadap prajurit Arcadia di sekitar yang terlambat untuk melarikan diri dari medan pertempuran.


BWOSSH!


Satu pisau angin bertekanan luar biasa datang secara pasti. Tidak mungkin Light menghindarinya karena bentuknya yang sangat besar dibandingkan dengan serangan Cartias yang lain.


Terlebih lagi, ada kemungkinan Light tidak mampu menghindari serangan susulan Cartias jika dia mencari celah untuk menghindar.


Sekali lagi, pedang perak beraura biru yang dialiri mana itu terhunus. Light menebas ruang kosong di depannya, berniat untuk membelah pisau angin yang datang kepadanya.


CLASH!

__ADS_1


BLAARR!


Serangan Cartias secara rapi dapat terbelah menjadi dua. Area di samping Light hancur tidak berbentuk karena tidak mampu menahan dampak pisau angin Cartias.


Light memutuskan untuk menyerang. Mana mengalir di sekujur tubuh, memperkuat fisik Light untuk beberapa detik selanjutnya.


CRASH!


Light muncul tepat di belakang Cartias. Refleks yang sedikit terlambat, pedang kebiruan itu menebas punggung kekar werelion.


BLAR!


BLAR!


Cartias terpental jauh. Menabrak pepohonan dan bebatuan yang ada di dalam hutan. Sebuah garis lurus pun terbentuk sebagai dampak kuatnya serangan yang Light berikan kepada Cartias.


Krraaahh!


TRANG!


Cartias segera muncul tepat di hadapan Light, menyerang dengan cakarnya secara langsung untuk mengenai musuhnya.


Hanya dengan tangkisan, kekuatan Cartias dikalahkan oleh momentum. Cartias menggunakan kedua tangannya secara bergantian demi melancarkan serangan beruntun kepada Light.


Kenapa?!


Kenapa?!


Kenapa?!


Kenapa dia bisa dengan mudah menghindari setiap seranganku?!


Terlebih lagi, dia hanya beberapa kali menggunakan aura aneh itu!


Apakah kau sebenarnya meremehkanku?!


Kelemahan terbesar Cartias adalah gerakannya yang sangat kasar dan mudah ditebak setelah mengalami beberapa serangannya secara langsung. Light tahu dan merasakan itu, dia hanya menghindar untuk menghemat tenaganya dan sesekali menyerang.


Namun, berbeda dengan Cartias, apapun gerakan yang Light lakukan selalu mampu untuk menggores tubuh Cartias.


Gerakan Light yang terkesan meremehkan itu disalahpahami oleh Cartias. Rasa frustasi Cartias semakin memuncak setiap kali dia melancarkan serangan.


"Apakah kau tahu mengapa ini bisa terjadi?" Light memprovokasi kemarahan Cartias saat mereka bertukar serangan.


"Hah?!" Cartias masih belum mengerti.


Light menampakkan senyuman meremehkan, "Apakah kau tahu alasan orang yang sebenarnya lebih lemah darimu memiliki kekuatan yang sebanding saat bertarung denganmu?"


Rasa frustasi itu memuncak, Cartias tidak dapat menahan dirinya dan menyerang dengan semakin membabi buta.


"Jangan meremehkanku, Sialaaan!"


BLAAR!


Serangan terakhir yang begitu brutal baru saja dilancarkan, Light dapat menghindarinya dengan gerakan minimal yang semakin membuat emosi Cartias tersulut. Light menapak pada tanah yang hancur dan bersiap untuk menghindari serangan berikutnya.


Akan tetapi, Cartias berhenti untuk menyerang. Hanya berdiri di tengah dataran yang tidak lagi berbentuk, Cartias mengucapkan mantra yang sama sekali tidak Light ketahui.


"Hentikan, Idiot! Apa yang ingin kau lakukan?!" Arrend bergerak mendekat, namun kata-katanya sama sekali tidak terdengar oleh Cartias.


Tanah sekali lagi bergetar, udara terdampak tekanan aneh yang Cartias keluarkan. Saat itu, lingkaran sihir muncul, membesar di bawah telapak kaki Cartias diikuti oleh aura kemerahan aneh yang turun dari langit, seolah memberkahi Cartias yang sedang merapal mantra.


Arrend mendekati Cartias dengan wajah panik. Dia tidak menyangka Cartias akan tersulut emosinya dan menggunakan sihir terlarang.


Meski Arrend berjuang untuk mendekat, aura merah yang menyelimuti bawahannya seolah menghalanginya untuk mendekat.


"Bocah! Tempat ini akan hancur! Pergilah dari sini demi keselamatanmu sendiri!" Arrend berteriak, seolah tidak lagi mempedulikan teman ataupun musuh.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya dia lakukan?" tanya Light.


"Gah! Aku sudah memperingatkanmu!" Menilai bahwa ritual Cartias tidak lagi dapat dihentikan, Arrend bertolak mundur dan menjauhi medan pertempuran antara Light dan Cartias.


Tap.


"Kemana kamu hendak pergi, Yang Mulia Jenderal Arrend Leucs?"


Saat itu, laki-laki bermata merah dengan telinga panjang muncul dari kegelapan tepat di belakang Arrend dan menahan bahunya.


"Sial!" Arrend melompat sembari menarik tombak panjangnya, dia menembakkan sihir api tingkat tinggi kepada laki-laki yang menahannya.


BLAR!


Akan tetapi, itu tidak berefek apapun. Laki-laki itu masih berdiri di tempatnya semula meski area di sekelilingnya hancur tak berbentuk.


Arrend terdiam, terkejut karena serangannya yang tidak berhasil. Di saat yang sama, laki-laki itu mengarahkan tangannya kepada Arrend.


Cairan merah muncul dari dasar tanah membentuk benang panjang dan mengikat tubuh Arrend. Seketika, kesadaran Arrend pun pudar. Banyak kelelawar mendatangi tubuhnya untuk menghisap semua darah yang dia miliki.


"Magic Cancellor, kah?"


"Oh, aku terkejut kamu mengetahuinya, Bocah." Laki-laki itu memberi pandang kepada Light dengan wajah riang.


"Sama denganku, aku tidak menyangka jika vampir berada di belakang Arcadia." Light memberi senyuman.


"Ah, mohon maaf atas kekasaran saya. Mohon perkenalkan, nama saya adalah Marc, Kepala Divisi Ketiga Tentara Raja Iblis." Marc membungkuk ringan, wajahnya tersenyum ramah seolah pemandangan mengerikan sebelumnya sama sekali tidak mengganggunya.


"Light Allain, Kepala Garnisun Perbatasan Utara Kekaisaran Corthia." Light memberi sikap yang sama dengan Marc.


"Mohon untuk tidak salah paham atas sesuatu. Kehadiran saya disini sama sekali tidak terkait dengan peperangan yang melibatkan kekaisaran serta Kerajaan Arcadia," balas Marc bernada menyesal.


"Tentu saja, itu karena kekaisaran dapat dengan mudah menghancurkan raja iblis jika Yang Mulia Kaisar menginginkannya." Light memberi provokasi.


Marc hanya tersenyum sebagai tanggapan, itu menunjukkan kebenaran atas kata-kata yang Light ungkapkan.


"Karena urusan saya di tempat ini telah selesai, mohon maaf, saya undur diri terlebih dahulu." Marc membungkuk hormat, menghilang dari tempatnya berpijak tanpa meninggalkan bekas apapun.


Bersamaan dengan kepergian Marc, teriakan keras seketika dapat terdengar dimana-mana. Light melihat keadaan seluruh dataran perbatasan.


Medan peperangan berakhir kacau. Suasana langit bertambah mencekam. Awan-awan gelap semakin menebal, menutupi luasnya angkasa dan bergerak berputar seperti pusaran.


Ribuan goblin, orc, serta demon wolf datang dari kedalaman hutan. Tidak membedakan orang-orang yang masih hidup ataupun para mayat, monster-monster itu hanya melihat puluhan ribu prajurit Arcadia sebagai makanan. Beberapa orge dan cyclops juga dapat terlihat. Mereka mengambil ratusan prajurit dan memakannya hidup-hidup.


Namun, masalah terbesar datang tepat di depan matanya. Segera, lingkaran sihir yang berada tepat di bawah kaki Cartias memunculkan kabut hitam, menyebar memenuhi area sekitar hingga membuat Light mundur menjaga jarak.


BWOOSSHH!


Bersamaan dengan sebaran kabut, aura merah seolah terangkat ke langit, membentuk jalur khusus kemerahan yang terhubung langsung dengan pusat pusaran awan.


Langit merah menitikkan setetes cairan seperti gumpalan darah. Itu jatuh tepat di atas mulut Cartias yang lebar menganga.


Tes.


BLAAAAARRRR!


Tanah sekali lagi hancur berkeping-keping. Light terhempas, terdorong mundur hingga menabrak beberapa bebatuan besar yang tercipta dari tanah yang tidak lagi terbentuk.


"Haha... hahaha!" Light merasakan sakit, namun tidak sempat untuk dia pikirkan. Karena tepat di depan matanya, meski masih tersembunyi di balik kabut hitam yang ketebalannya kian terkikis, Light mengerti apabila seekor makhluk bencana telah terpanggil dari neraka.


GRRAOOOOO!


"Meskipun aku sudah tahu jika aku tidak memiliki kesempatan untuk menang melawan Arrend setelah mengalahkan bawahannya, tapi tetap saja... kenapa... haha..."


Dengan ekspresi ketidakpercayaan, terdengar tawa yang dipaksakan, Light tidak menyangka jika Marc akan pergi dengan meninggalkan hal ekstra yang sangat merepotkan.


......................

__ADS_1


__ADS_2