Curved Irregular

Curved Irregular
Chapter 13 : Mimpi


__ADS_3

"Light, tolong berjanjilah. Apapun yang akan terjadi di masa yang akan datang, tetaplah tersenyum, baik?"


Tangan wanita itu mengusap kepala Light dengan lembut, pembawaannya saat menghadapi Light begitu terasa penuh akan kasih sayang.


Light, yang terbaring tepat di sisi wanita tersebut hanya dapat kebingungan saat memandangnya. Ia tidak mengerti mengapa wanita itu mengatakan sesuatu yang sulit untuk dipahami.


Akan tetapi, demi menyenangkan hati wanita itu, Light pada akhirnya tersenyum, menuruti sesuatu yang diinginkan oleh wanita tersebut, "Baik, Bu!"


"Anak baik." Elena Allain, atau lebih dikenal dengan Elena Renesse, sekali lagi mengusap lembut kepala putranya, memeluk Light dengan erat hingga Light tertidur dengan nyaman.


Suasana ruangan itu gelap, tidak terdapat sumber pencahayaan apapun di dalamnya. Hanya karena kehangatan yang ia rasakan telah menghilang, Light terbangun dari tidurnya, tidak mendapati sosok yang ia sangat cintai berada tepat di sampingnya.


Light bangkit untuk duduk, namun dia tidak mendapati keberadaan Elena di dalam ruangan. Rasa takut yang teramat sangat bersemayam dalam hati, Light mengerti Elena akan berada di meja pribadinya yang berada di sudut ruangan jika ibunya tidak tidur bersamanya.


Dengan terburu-buru, Light meninggalkan kamar, melewati lorong dan dan melihat sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.


Bercak-bercak darah memenuhi setiap sudut dinding lorong besar. Light melihat beberapa sosok di sudut-sudut lorong terduduk lemah dengan beberapa pisau yang menancap tepat di sekujur tubuh mereka serta Elena yang telah jatuh terkapar penuh darah dengan napas yang tersengal-sengal.


"Ibu! Ibu!" Light berlari, mendekati ibunya yang hanya memiliki sedikit kesadaran yang masih tersisa.


Elena tersenyum, kelegaan hati sejenak menghampiri benak, meski hanya tangisan putranya yang menjadi hal terakhir yang dapat dirinya lihat.


"Light, pergi... pergilah..." Terhadap kata-kata lemah itu, Light menggelengkan kepalanya untuk menolak.


"Ibu!"


"Pergilah... sebelum mereka... tiba..." Elena terbaring semakin lemah.


Sebelum berhasil mengangkat tubuh ibunya, suara-suara keras tanda kehadiran semakin mendekat. Light tidak mengerti apa yang harus dia lakukan.


Namun, Elena menenangkannya, mengusap salah satu sisi wajahnya sembari memberikan senyum perpisahan, "Pergilah... berjanjilah untuk selalu memaafkan dan tersenyum apapun keaadan yang kamu sedang lalui..."


Isak tangis itu terdengar semakin keras, pengejaran dari beberapa pasukan juga semakin mendekati keduanya. Elena berusaha mengangkat tangannya yang lemah, mengusap lembut kepala putranya hingga berlumur darah yang menempel pada tangannya, "Dimanapun kamu berada... Apapun yang akan kamu hadapi di masa depan nanti... Jangan khawatir..."

__ADS_1


"Karena ibu... akan selalu berada di sisimu."


"Hoaahh!"


Light terbangun dari tidurnya dan segera duduk karena terkaget dengan mimpi yang baru saja ia alami. Napas Light tersengal-sengal, namun dia dapat menenangkan dirinya kembali setelah mengatur napasnya dalam beberapa saat.


"Hah... hah..." Light memeriksa sekelilingnya, dia menemukan dirinya berada di dalam ruangan yang terasa sangat asing baginya, "Dimana..."


"Akh!" Saat dia bangkit, Light merasakan sakit luar biasa disertai tubuhnya yang dipenuhi perban.


Bukan tidak mungkin Light untuk bangkit dari tempat tidurnya. Meski merasakan rasa sakit yang luar biasa, Light menahannya untuk tetap bangkit dan menyeret tubuhnya yang lemah menuju pintu ruangan.


Kriieet.


Pintu kayu berdecit, Eld—yang sedang menghisap tembakau—seketika membuang cerutunya dan mendekati Light untuk menolongnya, "Tuan Muda?! Mengapa Anda tidak meminta bantuan dari dalam kamar?!"


"Ugh." Salah satu sisi tubuh Light dipapah Eld, keduanya berjalan menuju sofa yang berada di tengah ruangan dengan sangat berhati-hati.


"Mengapa Anda tidak memanggil seseorang terlebih dahulu, Tuan Muda?" Eld mendudukan Light dengan khawatir.


Punggungnya terebah pada sandaran, rasa sakit yang ia alami sedikit berkurang saat tubuhnya kembali rileks, "Dan juga... kau bau, Eld."


"Ah..." Eld membisu, dia sadar atas kesalahannya karena berada dekat dengan Light yang tidak memiliki kebiasaan menghisap cerutu. "Mohon maaf, saya akan berganti sebentar."


Eld pergi meninggalkan ruangan. Berakhir dalam kesendirian, Light mau tidak mau terpaksa memperhatikan sekelilingnya. Ruangan yang Light tempati kini terlihat cukup besar, mungkin berukuran seperti ruang tamu yang terdapat pada rumah biasa di pedesaan terpencil. Lantainya berupa kayu-kayu panjang yang disusun rapi, dinding keabu-abuanya cukup lapuk meski masih dapat dikatakan layak untuk ditinggali.


"Mohon maaf karena telah membawa sesuatu yang tidak nyaman, Tuan Muda." Eld masuk sembari membawa nampan berisi sup dan segelas air, dia sejenak membungkuk sebelum mengambil kursi yang berhadapan dengan tempat Light berada.


"Tidak apa-apa, aku hanya tidak terbiasa dengan itu..." Pandangan Light tertuju pada mangkuk sup yang dihidangkan tepat di hadapannya.


"Silakan, Tuan Muda." Eld menyodorkan sup kepada Light setelah melihat gelagat kemana dia melihat.


"Uh... terima kasih... maaf telah merepotkanmu." Light mengambil sup dan memakannya dengan sangat lahap.

__ADS_1


Begitu lahapnya dia makan, Eld memandang Light dengan sebuah senyuman hangat, mungkin terlihat seperti hubungan antara seorang ayah dan putranya, meski usia Eld sendiri hampir menginjak kepala enam.


Tak.


Light meletakkan mangkuk dan mengambil gelas di sampingnya. Karena perutnya yang telah terisi di samping memiliki pengalaman tersedak, Light meminum air dengan perlahan.


"Dimana kita? Dan juga, apa yang terjadi denganku hingga saat ini?" Light membuka pertanyaan atas situasi yang benar-benar ingin dia ketahui.


"Apakah Anda yakin? Saya rasa, Anda harus beristirahat satu atau dua hari ke depan sebelum Anda memikirkan langkah lebih lanjut." Eld tidak yakin, kondisi Light yang baru tersadar belum pulih secara total sehingga membuatnya sangat khawatir.


"Tidak apa-apa," balas Light acuh tak acuh.


Eld menarik napas, duduk tegap sembari mengubah wajahnya menjadi serius, "Setelah kejadian itu, Anda tidak sadarkan diri selama lebih dari 5 hari. Saat ini, kita berada di desa kosong yang berada di perbatasan. Para ksatria, pejabat sipil, dan pelayan serta para mantan budak yang mengikuti kita telah mengambil beberapa rumah yang masih layak untuk dihuni. Kami berpikir untuk berdiam diri di desa ini hingga musim dingin berakhir."


"Begitu... bagaimana cadangan makanan untuk musim dingin nanti?" tanggap Light.


"Saya dapat mengatakan itu akan baik-baik saja, Tuan Muda. Semua orang—termasuk para mantan budak—bekerja sama untuk sedikit membangun desa ini dan mengumpulkan bahan makanan kembali. Yah, setidaknya, saya bersyukur jika semua orang dapat bekerja sama tanpa masalah..." jawab Eld.


"Apakah Abigail mengatakan sesuatu kepadamu, Eld?" Entah mengapa, Eld merasakan tekanan yang terpancar dari Light. Dia merasa bahwa tidak seharusnya mengambil sisi buruk Light dengan mengatakan kebohongan.


"Tidak, dia tidak mengatakan apapun kepada kami." Eld menatap Light tanpa menunjukkan tanda kebohongan, "Kami hanya terkejut saat melihat Anda tidak sadarkan diri di punggungnya."


"Terima kasih, aku bersyukur kamu menjadi salah satu bawahanku, Eld." Light tersenyum lega, dia bersyukur bahwa keberadaannya telah diterima, tidak seperti masa lalunya yang kelam.


Light memutuskan untuk memakan beberapa mangkuk sup dan kembali beristirahat di dalam kamarnya selama beberapa hari ke depan.


Akan tetapi, Light merasakan hal yang aneh, mimpi yang telah berhasil dia lupakan kini kembali muncul dalam ingatan.


Jika ini merupakan akibat atas tindakanku karena telah menerima pemberian naga itu...


Benar... aku tidak boleh mengedepankan emosiku dan bertindak gegabah.


Dalam tiga bulan sampai musim dingin berakhir, bala bantuan kekaisaran akan tiba. Maka, aku harus menguasai pemberian naga itu sebelum mereka mengambil alih kendali wilayah perbatasan dariku.

__ADS_1


......................


__ADS_2