
"Um... mo—mohon maafkan aku, Tuan..." Gadis beastman kucing, Selka, menyajikan beberapa mangkuk berisi sup hangat dan roti kepada Light dengan gelagat ketakutan.
"Ya, apa itu?" Sebisa mungkin, Light tidak ingin menyebabkan masalah yang tidak perlu. Dia menanggapi Selka dengan ramah, senyuman pun selalu tampak di atas wajah saat dia berinteraksi dengan Selka serta pasangan pemilik penginapan.
"Apakah kamu... benar-benar seorang siswa Akademi kekaisaran?"
"Selka! Apa yang sedang kamu lakukan?!" Wanita paruh baya sekitar pertengahan empat puluhan panik saat melangkah masuk dari dapur penginapan yang berada tepat di ujung aula makan.
Wanita itu menekan kepala Selka hingga membuatnya tertunduk, demikian persis dengan yang wanita itu lakukan karena takut bila sikap Selka tidak sopan.
"Mo—mohon maafkan kami, Tuan Muda. Sepertinya hamba memiliki kekurangan dalam mendidiknya."
Light kembali melukiskan senyuman ramah, "Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak terganggu."
"Te—terima kasih, Tuan Muda. Mohon permisi!" Wanita paruh baya pemilik penginapan menarik Selka kembali ke dalam dapur untuk memarahinya.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Light mengambil tas kulit dan bergegas menuju akademi. Distrik perdagangan dimana Penginapan Cresent Moon berada memiliki jarak yang cukup jauh, mungkin hampir 40 menit berjalan kaki dengan kecepatan rata-rata masyarakat ibukota yang mayoritas tangkas dalam bergerak.
Matahari telah meninggi, sinar mentari pagi terasa hangat menyengat. Beberapa saat telah berlalu, sedikit demi sedikit para siswa akademi terlihat di sekitar, semakin banyak saat Light telah berada dekat dengan gerbang akademi.
Masing-masing dari mereka menatap Light penuh keingintahuan. Mengingat kehidupan akademi Light sebelum mendapat prestasi militer dipenuhi oleh hari-hari suram, tidak ada satupun diantara mereka yang memiliki keberanian untuk bertegur sapa.
Selain alasan hubungan senioritas dimana Light merupakan siswa tahun terakhir, tidak ada diantara mereka yang memiliki rumah asal yang dekat dengan rumah Allain.
Light sendiri menyadari hal itu. Kebiasaan menyendiri yang telah dia lakukan selama bertahun-tahun membuatnya tidak nyaman saat diperhatikan oleh orang banyak.
Uh... aku ingin ini cepat berakhir.
Light mempercepat langkah kakinya secara wajar, dia memasuki lobi dan menuju kelasnya yang berada sedikit jauh dari gerbang sekolah.
"Lama tidak berjumpa, Light! Bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
"Ceritakan kisahmu saat memimpin pasukan kecil melawan ratusan ribu tentara Arcadia, Light!"
"Light, apakah kamu ditarik salah satu ordo ksatria untuk menjadi salah satu dari mereka setelah perang kemarin?!"
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini, Light? Apakah kamu tetap akan mewarisi gelar ayahmu?"
Satu demi satu, siswa kelas S mendatangi Light seperti semut. Tidak hanya karena sebuah ucapan tulus, banyak dari mereka yang berusaha menjilat Light demi keuntungan diri mereka sendiri.
Itu tidak dapat dipungkiri. Bagaimanapun, nama Light melejit setelah tersiar rumor bila dia mengalahkan puluhan ribu tentara Arcadia hanya dengan sebuah pasukan kecil. Terlebih, rumor tersebut sama sekali tidak disangkal oleh jenderal tertinggi kekaisaran, Gilbert Lawrence, meski dia juga tidak membenarkannya.
"Uh..." Light terlihat kesulitan. Dia tidak begitu pandai bersosialisasi karena sejak awal dia telah dijauhi oleh teman sekelasnya.
"Menyedihkan." Hanya dengan sebuah kata tajam yang diungkap oleh seorang gadis, suasana kelas seakan membeku, "Aku tidak berpikir martabat bangsawan kekaisaran telah jatuh sampai serendah ini."
Gadis itu tetap duduk di kursinya, dikelilingi oleh gadis-gadis bangsawan yang merupakan pengikut langsungnya.
Seragam putih yang gadis itu kenakan ketat, tapi sama sekali tidak membentuk dada, jauh berbeda dengan para gadis lain yang terlihat menonjol. Rambut putih panjangnya disisir lurus, sebagian dikepang di dekat telinga kanannya.
Perangainya penuh wibawa. Gerakannya begitu anggun, sangat mendukung parasnya yang luar biasa cantik.
Semua siswa sepakat, Selene merupakan siswa terbaik yang dimiliki akademi pada tahun ini dalam bidang apapun. Ahli berpedang, bela diri, sihir, hingga strategi, tidak ada satupun siswa yang mampu bersaing dengan kemampuannya, bahkan jika disandingkan dengan saudara tirinya sendiri, Pangeran Kedua Kekaisaran Corthia, Arthur Rapha Nouvelle.
Pangeran berambut merah dengan sebuah anting salib di telinga kanannya yang berada di sudut lain kelas tidak mengatakan sepatah kata apapun, seolah tidak sedikitpun peduli terhadap keberadaan Light yang kini memiliki sedikit pengaruh politik.
"Itu sangat disayangkan, Yang Mulia."
"Kuharap, anak-anak itu kembali ke rumahnya dan mengulangi pelajaran tata krama mereka."
Dua gadis pengikut Selene yang duduk berdampingan menambahkan bara ke dalam api yang menyala. Akan tetapi, pujian para siswa kepada Light tidak lagi berlanjut. Masing-masing memilih untuk kembali ke tempat duduknya dan mempersiapkan kelas.
Light sejenak bingung, namun dia mendapat tanda dari salah satu pengikut Selene agar mendekat.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Yang Mulia Putri." Light menunduk dalam, para pengikut Selene yang melihat tersenyum puas.
Tidak hanya mereka berpuas diri karena berhasil menginjak-injak anak-anak bangsawan yang berasal dari rumah yang tidak menyukai Keluarga Nouvelle dan faksinya, kepuasan itu juga berasal dari Light yang merendahkan diri di hadapan mereka.
Di sisi lain, Selene tidak memberikan tanggapan. Dia tidak sekalipun mengacuhkan Light dan tetap membaca bukunya.
"Mohon permisi." Light sekali lagi menunduk, menuju bangkunya yang berada di ujung ruangan.
Kelas hari ini berlangsung membosankan. Tidak ada satupun materi yang dapat Light ambil manfaat darinya. Cukup wajar mengingat ujian kelulusan telah dilangsungkan sesaat sebelum Light dikirim kembali ke rumahnya untuk berperang.
Tanda waktu telah berbunyi, kelas yang cukup membosankan pada akhirnya telah berakhir. Light mengambil tas kulitnya, dia bergegas meninggalkan ruangan sebelum para siswa sekelasnya kembali mendekatinya.
Light menuju perpustakaan yang menjadi tempat favoritnya di akademi untuk menyendiri. Berbeda dengan perpustakaan sekolah-sekolah lain yang juga dinaungi di bawah kekuasaan kekaisaran, perpustakaan akademi ini terletak di sebuah gedung khusus, bangunan bernilai sejarah yang bahkan telah berdiri sebelum perang besar ratusan tahun yang lalu.
Gedung bercat emas yang telah memudar itu memiliki suasana gothic. Banyak patung-patung iblis dan berbagai ras lain yang menunjukkan sejarah berdiri tepat di sudut-sudut bangunan dan atap.
Orang-orang dari bumi mungkin akan melihatnya sebagai peninggalan khas eropa timur. Pintu kembarnya yang telah direvitalisasi serta ditambahkan teknologi sihir terbuka saat Light hendak memasukinya.
"Kukira, kamu sudah mati di medan perang, Light." Kalimat setengah candaan yang berasal dari wanita paruh baya penjaga perpustakaan menyambut kedatangan Light yang merupakan pengunjung tetap perpustakaan.
Amelia, atau begitulah orang-orang memanggil nama wanita penjaga perpustakaan yang merupakan putri seorang bangsawan jatuh. Rambut raminya digerai panjang, terdapat kacamata berlensa kotak yang dia kenakan di wajahnya.
Akan tetapi, sebagian besar para laki-laki yang mengunjungi perpustakaan datang bukan karena mereka memang membutuhkan informasi di dalam buku, namun karena dada bulat Amelia yang menyembul keluar dari celah kecil jubah hitam yang menjadi seragam penjaga perpustakaan.
Terhadap Light yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri, Amelia menampakkan senyuman yang terlihat menggairahkan bagi laki-laki lain.
"Aku ingin buku terakhirku yang belum sempat kuselesaikan." Light tidak menggubris godaan Amelia, matanya pun tertuju ke arah lain untuk menghindari dadanya.
Amelia memberi buku dengan sebuah pembatas khusus yang berada di tengah-tengah isinya, "Ini, aku menjaganya untukmu."
"Terima kasih..." Light hampir saja jatuh oleh senyuman Amelia, dia bergegas pergi menuju meja baca lantai kedua yang sangat minim kebisingan.
__ADS_1
Bagaimanapun, Light mengharapkan setidaknya Amelia menyadari jika penampilannya sangat mengganggu para laki-laki.
......................