Curved Irregular

Curved Irregular
Chapter 11 : Bencana


__ADS_3

Apakah Tuhan itu ada?


Jika mendapat pertanyaan demikian, Light dengan mantap akan menjawab, "Ya."


Bukti atas jawaban itu berasal dari sebuah latar historis, Perang Besar Ragnarok. Sebuah peperangan yang melibatkan manusia, iblis, demihuman, serta para malaikat ribuan tahun yang lalu.


Banyak luka yang timbul atas perang tersebut. Darah, air mata, tidak lagi dapat terhitung berapa banyak korban jiwa yang timbul dari peperangan tersebut. Namun, satu hal yang pasti, murka Tuhan adalah sesuatu hal yang nyata.


Akibat perang yang tidak kunjung berakhir, Tuhan mengirim makhluk-makhluk bencana yang bahkan dapat mengubah tatanan dunia, hingga menyebabkan arah peperangan yang telah berlangsung ratusan tahun lamanya seketika berubah.


Bahkan bagi ras naga yang telah memiliki hegemoni serta terikat kontrak dengan Tuhan untuk tidak mengganggu kehidupan di alam fana, harus bersikap waspada karena besarnya kekuatan yang dimiliki oleh makhluk-makhluk tersebut.


Satu persatu kepala keluar dari balik kabut. Tubuh monster itu bersisik, besarnya hampir dapat dikatakan setengah dari ukuran Pegunungan Rhine yang menjulang tepat di belakangnya.


GRAAAOOOOO!


Raungan itu memekakkan telinga, menghempaskan sekitarnya dengan tekanan angin yang luar biasa. Hutan dalam sekejap gundul, monster-monster yang sebelumnya memangsa para prajurit Arcadia juga tidak luput menjadi korban.


Hydra, makhluk bencana berkepala sembilan yang menyerupai naga.


Kematian Light telah diputuskan, tidak mungkin baginya untuk mengalahkan makhluk yang memiliki kekuatan setara dengan seekor naga. Dia hanya dapat duduk dan terdiam, memandangi mahakarya yang Tuhan ciptakan dengan mata yang telah kehilangan harapan.


Meskipun Light berusaha untuk melarikan diri, namun usaha itu hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Bahkan serangan napas dari satu kepala hydra dapat dengan mudah menghancurkan Pegunungan Rhine yang ada di belakangnya.


"Tuanku." Light mendengar panggilan dengan suara yang sangat dikenalnya.


"Abigail... kah?" Light dengan kagum terus memandang Hydra, tidak sekalipun terusik dengan kedatangan Abigail.


"Benar, Tuanku." Abigail berlutut, kepalanya tertunduk pada Tuannya.


"Kenapa kamu datang kemari?" Kata-kata Light bernada datar, "Ah, apakah kamu mengkhawatirkan apa yang aku janjikan kepadamu?"


"Tidak, Tuan... saya telah memastikan keselamatan keluarga saya di tempat yang aman setelah melaksanakan perintah Anda," jawab Abigail.


Light tersenyum masam, "Pada akhirnya, bukankah rencana yang kususun berakhir sia-sia?"


"..." Abigail terdiam, dia tidak bisa tidak karena apa yang dikatakan Light merupakan kenyataan yang tidak terbantahkan.


Rencana Light untuk menenggelamkan para prajurit Arcadia saat mereka melakukan pengejaran setelah Light melancarkan serangan kilat pada akhirnya hanya berakhir dengan sia-sia.


Meski air sungai yang telah dibendung dengan deras mengalir dan menghanyutkan apapun yang ia lewati, paling banyak arus itu hanya dapat menangkap para goblin, orc, serta demon wolf. Itu sama sekali tidak dapat menghentikan amukan Hydra yang memiliki tubuh sebesar gunung.


"Nah, kenapa kamu tidak melarikan diri?" tanya Light.

__ADS_1


Abigail mengangkat kepalanya, "Karena itu hanya akan berakhir sia-sia?"


"Ah, benar. Aku akan mengganti pertanyaanku, mengapa kamu datang menemuiku?" Light menoleh kepada Abigail dengan heran.


"Aku... tidak tahu..." Abigail kesulitan menjawab, "Aku hanya mengira Anda telah tewas tertimbun reruntuhan benteng."


Light melirik benteng perbatasan yang telah rata oleh tanah, "Benar juga, aku baru saja menyadarinya." Sejenak, dia terkikik karena geli, "Nah... terlepas dari tanggapan yang sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, apakah semuanya dapat melarikan diri dengan aman?"


"Tentu saja, Tuanku." Abigail duduk tepat di samping Light, memandangi alasan atas kematiannya yang akan terjadi tidak lama lagi.


Keheningan menyelimuti interaksi keduanya. Detik demi detik, mereka telah rela, duduk menunggu ajal menjemput.


GRAAAOO!


Saat itu, dua kepala Hydra membuka lebar mulutnya. Masing-masing membentuk kumpulan energi pada ujungnya. Melihat itu, Light terpikirkan suatu ide yang sangat aneh.


"Menurutmu, kemana kepala Hydra itu akan menembak? Jika kamu benar, aku akan memberimu 100 koin emas." Light setengah bercanda.


"Hmm, ke kaki pegunungan, Tuanku." Melihat moncong salah satu kepala Hydra yang hendak menembak, Abigail menebak secara asal-asalan.


"Jika begitu, aku akan menebak tembakan itu akan menghacurkan puncak pegunungan." Light menebak secara asal.


Hawa panas sangat terasa hingga membuat Light bercucuran keringat dalam beberapa saat. Keduanya tidak lagi memiliki rasa bahaya.


BLAAARR!


CLASH!


BLAAARR!


Light dan Abigail, masing-masing mata mereka terbuka lebar. Tembakan yang mereka prediksi untuk menghantam puncak pegunungan, entah bagaimana tergeser dan menghantam kaki gunung.


Tap.


"Mustahil..."


Tap.


"Mustahil..."


Tap.


"Uangku..."

__ADS_1


Mendengar kehadiran yang mendekat, Abigail meningkatkan penuh kewaspadaannya dan melompat sembari mengambil sikap bertarung.


Abigail mengerti apabila sosok yang datang kepadanya memiliki kekuatan luar biasa yang mustahil untuk dia kalahkan. Di sisi lain, Light tidak sedikitpun mempedulikan sekitar dan hanya dapat tertunduk lesu karena tebakannya berakhir salah.


"Tuanku! Ini berbahaya, Tuanku!" Disadarkan oleh Abigail, Light berbalik, menemukan seorang pria tampan berambut merah yang mengenakan jas kasual berjalan anggun ke arah mereka.


Namun, penampilannya yang sangat kontras hanyalah sepasang tanduk yang ada di kepala mereka. Meski Light mengetahui naga absolut datang kepada mereka, ia tidak lagi dapat merasakan bahaya akan kematian karena keberadaan Hydra di belakangnya.


"Dengan keberadaan makhluk mitos di hadapan kalian, tidak ada seorangpun diantara kalian yang merasakan ketakutan atas kematian. Aku benar-benar terkesan dengan jenis kalian, Manusia!" Naga itu berwajah kagum, sarkastik terhadap manusia yang sangat lemah di mata para naga.


"Tapi dia kadal, kau tahu?" Light menunjuk Abigail.


"Ap—apa yang Anda katakan, Tuanku?!" Abigail panik. Memohon kematian tanpa rasa sakit adalah hukuman teringan saat bersikap tidak sopan saat berhadapan melawan seekor naga.


"Yah... kau benar." Naga itu memperhatikan Abigail, mau tidak mau setuju dengan apa yang Light ungkapkan.


"Dan... bukankah kamu juga berasal dari jenis yang sama?" tambah Light heran.


"Apa yang sebenarnya kamu ingin katakan, Bocah?" Naga itu tersenyum dan menahan kekesalannya, "Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya hanya untuk kali ini."


"Tidak ada yang peduli dengan itu, kamu tahu?" timpal Light.


Naga itu tersenyum menahan kekesalannya, mengubah wajahnya menjadi serius sehingga membuat Light tidak lagi dapat mengatakan apapun yang dia inginkan, "Mari kita menuju ke topik utama."


Saat itu, tekanan terpancar dari sang naga, tidak mengizinkan satupun diantara mereka untuk bungkam, "Siapa penyebab makhluk bencana itu dapat turun ke dunia?"


"Vampir... dan mungkin saja raja iblis berada di belakangnya." Light berterus terang tanpa menyembunyikan satupun kebenaran.


"Hmm." Naga berpikir sembari memegang dagunya. Dia melangkah, melewati Light serta Abigail dan mengamati pertarungan antara Hydra serta beberapa naga bawahannya.


"Aku tidak terlalu mengetahui tentang detail klan-klan para vampir... jadi aku tidak dapat berasumsi apapun atas hal itu," tambah Light, ia dan Abigail menoleh mengikuti kemana Naga itu melangkah. Sejenak, keduanya kagum dengan pertarungan yang terjadi diantara Hydra dan para naga.


Sang Naga juga tidak meragukan kata-kata Light. Terbukti jika Light tidaklah menunjukkan tanda-tanda seseorang yang berbohong, terlebih dengan aliran mananya yang tetap stabil mendukung kejujurannya.


Saat melirik dua orang di belakangnya, Sang Naga juga tidak berpikir Light dan Abigail merupakan pelaku sebenarnya, lemahnya kekuatan yang keduanya miliki sudah cukup untuk menjadi bukti.


Sudah kuduga, vampir dan para iblis telah bermain-main dengan apa yang seharusnya tidak mereka sentuh...


Jika ini dibiarkan berlanjut, keadaan di masa depan mungkin tidak akan dapat dikendalikan lagi.


Tapi, karena perjanjian itu, kami seharusnya tidak boleh ikut campur dengan apapun yang terjadi di dunia fana... Jika tidak, Gabriel akan protes dan melakukan apapun yang dia inginkan.


Tetap saja, mustahil aku akan melepaskan makhluk mitos di hadapanku begitu saja. Kami juga tidak menginginkan kehancuran dunia.

__ADS_1


Baiklah, perubahan rencana.


......................


__ADS_2