Curved Irregular

Curved Irregular
Chapter 15 : The Founding Fathers


__ADS_3

Seven Sins, atau begitulah orang-orang menyebut tujuh keluarga pendiri Kekaisaran Corthia.


Pada era kekacauan, tujuh keluarga tersebut termasuk klan yang memiliki pengaruh terbesar hingga dikatakan dapat mengendalikan arah kekacauan yang terjadi di seluruh dunia.


Nouvelle, Schwarz, Renesse, Lawrence, Avarie, Osborne, serta Leinster. Masing-masing dari keluarga tersebut mewakili satu dari tujuh dosa besar.


Nouvelle, kesombongan; Avarie, keserakahan; Lawrence, kemarahan; serta Osborne, kerakusan; hanya empat dari tujuh keluarga agung kekaisaran yang masih tersisa. Berbagai sebab menjadi alasan kehancuran dari beberapa keluarga para pendiri kekaisaran tersebut pada masa lampau.


KLANG!


Dua pedang saling beradu. Masing-masing digenggam dengan pancaran sihir yang luar biasa dari para penggunanya.


Mata kuning gadis itu menyala, tampak rambut putih panjangnya berkibar, dampak dari refleksnya menghindar dari serangan yang ditujukan langsung ke punggungnya.


TRANG!


Dua bilah pedang kembali saling menyentuh. Laki-laki berjanggut tipis yang menjadi pasangan latihan gadis itu tersenyum masam, merasa sedikit kagum dengan pertumbuhan gadis tersebut.


Perawakannya tinggi, wajah tampannya menunjukkan bahwa dia masih berada dalam usia segar. Dari penampilannya, dia memiliki karakteristik yang hampir serupa dengan gadis lawan latihannya, rambut putih dengan mata berwarna kekuningan.


Leon dan Selene, pemegang gelar "Rapha" di tengah nama mereka, menunjukkan keduanya merupakan anggota keluarga paling berpengaruh di kekaisaran.


"Kau tumbuh, Selene." Leon melemaskan sikap, memuji tulus adiknya yang berasal dari ibu yang sama dengannya.


"Terima kasih, Kakak." Membungkuk hormat, Selene tanpa ekspresi menunjukkan rasa syukurnya. Baginya, latihan rutin ini tidak lebih hanya untuk menunjukkan bila hubungan keduanya berada dalam keadaan yang "baik-baik saja."


Leon berbalik, meninggalkan tempat pelatihan diikuti oleh para pengawalnya. Namun, langkahnya terhenti saat seorang ksatria berlutut tepat di luar pintu aula pelatihan.

__ADS_1


"Ada apa?" Kerutan muncul, ketidakwajaran telah terjadi apabila ksatria mata-matanya bergegas menemuinya hingga di tempat latihan.


"Mo—mohon maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia! Kami mendapat transmisi sihir yang mengabarkan bahwa Pasukan Arcadia telah dimusnahkan seluruhnya!" Ksatria yang berlutut menahan dirinya yang gemetar, dia sendiri tidak mempercayai informasi yang telah ia terima.


"Lalu?" Leon terlihat tenang, prediksi jika pasukan utama kekaisaran yang datang sebagai bala bantuan seharusnya dapat menyapu habis keberadaan tentara Arcadia, "Aku sendiri sudah memperkirakan jika pasukan utama dapat menyelesaikan masalah perbatasan."


"Na—namun!"


"Apa?" Reaksi prajurit yang memiliki gelagat aneh membuat Leon sadar jika prediksinya tidak berakhir tepat, kerutan di keningnya tumbuh semakin besar, "Katakan kepadaku."


"Itu—itu bukan dilakukan oleh pasukan utama... na—namun... oleh Light sendiri..." Jawaban ksatria tersebut merubah tatapan Leon, kini raut wajahnya benar-benar menunjukkan kegelapan pekat.


Ksatria yang melapor menutup mata, sekujur tubuhnya gemetaran. Takut, dia tahu jika ajalnya mungkin telah berada di depan mata.


Tap.


Tap.


Akan tetapi, Leon tidak menyadari keberadaan sebuah senyuman menakutkan yang terlukis di belakangnya. Selene benar-benar menikmati pertunjukkan keluarganya yang akan kacau setelah mereka mengetahui jika Light telah gagal terbunuh.


Jauh di perbatasan kerajaan, pria paruh baya kekar dengan rambut pirangnya yang terangkat ke atas menatap pemandangan di hadapannya dengan tatapan penuh keniscayaan.


Puluhan tahun pengalamannya mengenakan zirah ringan berwarna putih yang menandakan jika dia adalah pemimpin salah satu ordo tertinggi ksatria kekaisaran seolah tidak mampu memahami sesuatu yang terjadi di depannya.


Gilbert Lawrence, atau musuh kekaisaran akan menyebutnya sebagai "White Knight," tidak dapat berkata-kata. Satu-satunya penjelasan yang masuk akal untuk menjelaskan pemandangan di depannya adalah jawaban yang baru saja Light berikan.


"Kamu berkata jika semua ini disebabkan oleh Arcadia yang menggunakan sihir terlarang?" Gilbert meragukan apa yang disampaikan oleh Light. Tidak mungkin negara kecil seperti Arcadia akan melakukan sesuatu yang membuat Gereja menaruh perhatian kepada mereka.

__ADS_1


"Andaikan saya dapat merekam kejadian itu, maka saya benar-benar akan merekamnya dan memberikan bukti itu kepada Anda, Jenderal." Light bersikeras, dia tidak mampu untuk mencari alasan lain yang masuk akal, "Saya tidak akan dapat mengatakan apapun lagi jika Anda tidak mempercayai para saksi mata yang memiliki jawaban serupa dengan saya."


Light yang berdiri tepat di samping Gilbert terlihat seperti anak-anak yang berbicara dengan seorang veteran perang menakutkan yang memiliki tubuh penuh bekas luka. Setidaknya, itu adalah kesan para perwira di belakang mereka saat melihat keduanya berdiri berdampingan.


"Hmm..." Gilbert menuruni tanah hancur yang melandai. Ditemani beberapa perwira bawahannya, dia mendekati daerah dimana miasma dapat sedikit dirasakan.


"Jenderal." Bawahan dengan bintang di bahunya memanggil Gilbert yang berlutut untuk mengecek kondisi tanah, "Meskipun aku sedikit ragu, tidak ada penjelasan yang masuk akal selain apa yang baru saja anak itu katakan. Dan juga, jika Anda terus mempertahankan sikap tidak obyektif seperti ini setelah pengakuan para saksi mata, nama baik ordo kita akan tercoreng."


Ordo ksatria—termasuk Keluarga Lawrence—tentu tidak mengetahui rencana busuk Nouvelle yang berkeinginan untuk membunuh Light. Masa lalu dan rencana penghapusan seluruh keturunan Renesse benar-benar tertutup rapat di dalam istana.


"Kami juga merasa hal itu adalah hal yang benar untuk dilakukan saat ini, Jenderal. Selama kita belum mendapatkan kronologi dan bukti pendukung yang kuat, kita harus berpegang dengan penyataan itu untuk sementara dan melakukan analisis di daerah sekitar untuk mendapatkan kebenarannya."


Para bawahan memberi masukan. Tidak ada satupun diantara mereka yang mempercayai jika Arcadia akan mengerahkan sihir terlarang, namun tidak ada jawaban lain yang dapat menjelaskan bagaimana benteng besar yang berdiri kokoh serta dataran sekitarnya hancur lebur.


"Baik, aku akan berpegang dengan apa yang dikatakan bocah itu untuk sementara. Lalu, bagaimana dengan transmisi sihir ke istana?" Gilbert menyerah, dia bangkit dan menatap reruntuhan benteng.


"Unit intelejen telah melakukannya tepat setelah kita tiba di perbatasan," jawab salah satu perwira bawahan.


"Begitu." Gilbert kembali menaiki tanah landai dimana Light berdiri. Keduanya saling menatap dalam diam untuk beberapa saat.


Ada kerinduan yang terlukis dalam tatapan mata, rasa penyesalan yang muncul juga benar-benar berbekas dalam hati Gilbert saat melihat Light yang mengingatkannya pada salah satu rekannya yang merupakan mantan Kepala Keluarga Renesse sekaligus mendiang kakak dari ibu Light di masa lalu.


"Pamanmu... adalah orang hebat, Nak." Gilbert tersenyum sedih.


"Kakak dari ibuku?" Light sedikit memiringkan kepalanya.


"Benar... jika saja dia tidak memberontak..." Perhatian Gilbert beralih kepada Pegunungan Rhine. Tatapannya jauh, Light merasakan kerinduan Gilbert yang mendalam kepada pamannya, "Mungkin dia akan menemaniku minum malam ini dan menyombongkan keponakannya yang gagah berani saat melawan Arcadia."

__ADS_1


Gilbert tersenyum sedih saat dia menggosok kepala Light dengan kasar. Hanya satu hal pasti, Light tahu setidaknya terdapat seseorang yang tidak benar-benar memusuhi keluarga asal mendiang ibunya.


......................


__ADS_2