
BWOSSH!
BWOSSH!
BWOSSH!
Puluhan ketapel melempar batu api raksasa sekaligus, target untuk menembus dinding pertahanan benteng yang sama sekali belum tertembus.
Para prajurit garnisun menggunakan cara yang sama untuk menghalau batu-batu berapi yang menargetkan dinding. Batu-batu raksasa ditembakkan, dengan menggunakan sudut-sudut yang telah dihitung dengan baik, satu tembakan penghalau dapat mengenai dua batu sekaligus.
BLAR!
BLAR!
BLAR!
Tanah sekali lagi luluh lantak. Rerumputan yang sebelumnya datar kini harus berlubang akibat terhantam oleh pecahan dari bagian-bagian batu yang saling bertabrakan.
Light terkesan dengan Arrend yang tetap menggunakan rasionalitasnya dalam peperangan. Ini masih sesuai harapan karena Light tahu jika Arrend adalah jenderal veteran, sebanding dengan nama besarnya yang ia capai dengan usahanya sendiri. Dia tidak akan melakukan sebuah gerakan sebelum semua kondisinya terpenuhi.
Di sisi lain, Arrend juga memiliki kesan yang baik untuk Light karena dia mampu bertahan hingga sejauh ini dalam peperangan pertamanya.
Meski matahari tidak dapat terlihat, kedua jenderal mengetahui apabila langit berada dalam keadaan normal, maka saat ini merupakan saat matahari akan terbenam.
"Eld." Light memanggil.
"Apakah ada sesuatu yang mengganggu Anda, Tuan Muda?" timpal Eld.
"Berapa lama?" Pertanyaan Light tidak dipahami oleh Eld, ia memiringkan kepalanya karena tidak mengerti, "Berapa lama lagi mereka akan terus menyerang kita seperti ini?"
"Tiga hari secara terus menerus, prajurit Arcadia akan saling bergantian untuk beristirahat. Ini adalah kemungkinan terburuk yang dapat saya pikirkan, Tuan Muda." Wajah Eld muram. Tidak hanya Eld, semua orang tahu apabila benteng ini sudah berada pada ambang batasnya.
Tidak hanya melemparkan batu berapi, namun panah-panah berapi juga tertuju kepada mereka. Sedikit kesalahan prakiraan, Light tidak menyangka jika Arrend akan melakukan hal ini.
Jika mereka menembakkan panah biasa, pasukan Light dapat mengumpulkan kembali panah-panah itu sebagai persediaan amunisi. Namun, itu adalah masalah yang berbeda jika panah-panah itu terbakar.
__ADS_1
Light tidak dapat menggunakannya kembali untuk pasukannya. Cepat atau lambat, persediaan senjatanya akan semakin terkikis tanpa bisa diperbaharui kembali.
Satu hal yang ada di dalam benaknya, Light bingung mengapa Arrend belum mengerahkan korps penyihirnya. Light sejatinya telah bertaruh apabila Arrend mengerahkan penyihirnya untuk melakukan serangan pertama. Jika itu terjadi, Light akan mengerahkan serangan kilat yang menargetkan para penyihir.
Singkatnya, Light akan mengirim pasukan bunuh diri dari sebagian budaknya untuk menyerang para penyihir karena mereka merupakan kelompok paling vital dari sebuah pasukan.
Kemenangan dan kekalahan pasukan sangat bergantung dari penyihirnya.
Namun, tindakan itu terlalu gegabah. Light tidak mampu menggunakan strategi tersebut jika keberadaan pasukan penyihir belum ditemukan. Selain itu, mereka tidak dapat menuju ke strategi berikutnya jika Arcadia belum mengerahkan pasukan infanterinya.
Awan gelap dengan langit yang berwarna kemerahan masih berada di angkasa. Light dipaksa untuk mengambil langkah insiatif, pasukannya tidak mungkin bersikap pasif secara terus-menerus dan menerima serangan tanpa melakukan apapun jika bebatuan besar yang mereka miliki tidak lagi bersisa.
"Perubahan rencana, kita akan melakukan serangan kilat dan segera kembali ke benteng." Light mengenakan seragam militer hitamnya, jubah di belakang pakaiannya melayang terhembus angin saat ia mengenakan topi seragamnya.
"Tuan Muda! Mohon untuk memikirkan—"
"Eld." Light mengangkat tangan untuk menghentikan Eld yang berbicara. Dengan senyuman yang tidak terbebani oleh apapun, Light mengeluarkan semua yang ada dalam benaknya, "Sejak awal, kematianku adalah hal yang diinginkan. Sejujurnya, aku hanya ingin kalian dapat kembali dengan selamat dan meninggalkan Wilayah Allain yang sudah tidak lagi memiliki harapan."
Srakk!
"Jika begi—"
"Aku membutuhkanmu dan Gennes untuk membimbing dan menjaga orang-orang pergi ke tempat yang aman. Terlepas dari para tentara, ada banyak warga sipil seperti para pelayan dan pejabat sipil yang masih menetap di benteng ini dengan keberanian mereka." Saat Light sejenak menghentikan kata-katanya, suasana pos itu hening. Tidak ada satupun yang berniat untuk membantah ataupun membuat suatu keberatan.
"Aku bahkan telah membebaskan para budak sehingga mereka dapat memiliki kehidupan mereka sendiri. Jadi... jika aku tidak dapat kembali, tolong berilah aku kepergian yang nyaman. Karena aku... tidak ingin meninggalkan dunia ini dengan sebuah penyesalan."
Pintu pun tertutup dengan kepergian Light, kedekatan para perwira dengan Light mungkin terlihat seperti hubungan dengan cucu mereka sendiri. Namun, perintah tetaplah perintah.
Terlebih lagi, jika mereka memikirkannya dengan seksama, tidak ada jalan keluar yang lebih baik daripada apa yang Light ucapkan sebelumnya. Jika Light selamat dengan kekalahan, mungkin hanya sebuah eksekusi penuh penghinaan yang akan menunggunya.
Light menuju kandang dimana kuda-kuda perang ditempatkan. Saat itu, terlihat beberapa sosok yang tak asing.
Benar, mereka adalah para prajurit yang menjadi bawahan Garnet dalam melancarkan pembunuhan Light beberapa hari yang lalu. Terkecuali Rie, Light telah membunuh para perwira yang bersekongkol dan memperbudak prajurit bawahan mereka.
Sejak awal, Light tidak memiliki siapapun yang berada di sisinya. Karena itu, Light juga tidak menginginkan orang-orang yang memiliki hubungan baik dengannya harus meregang nyawa bersamanya.
__ADS_1
Sangat nyaman bagi Light Allain yang tidak memiliki siapapun sebelumnya, ini juga membebaskan Light dari perasaan bersalah jika dia menarik orang-orang yang seharusnya tidak mati bersamanya.
"Ayo." Segel-segel budak berwarna hitam yang terpatri pada masing-masing leher mereka seketika menyala redup, menanggapi perintah Light dengan memberikan rasa sakit luar biasa kepada para prajurit yang menolak untuk menuruti perintahnya.
Dua puluh lima kuda, termasuk Light sendiri, diberangkatkan melalui pintu tersembunyi benteng yang tidak dapat diakses oleh rakyat sipil sebelumnya.
Kelompok tersebut dengan cepat mendekat kepada barisan Tentara Arcadia. Tentu, mengendalikan orang-orang secara langsung seperti yang Light lakukan saat ini membuat Light tidak bisa menyembunyikan kekuatan sihirnya. Sebagai akibatnya, musuh telah mengonfirmasi kelompok kecil yang menuju ke arah mereka.
"Serang!"
BWOSSHH!
BWOSSHH!
Ratusan tembakan sihir tertuju kepada Light dan kelompoknya. Kecepatan masing-masing tembakan bahkan melebihi dua kali lipat kecepatan dari pendekatan kelompok Light.
BLAR!
BLAR!
BLAR!
"Gyaaa!"
"Aaaghh!"
Beberapa prajurit kelompok Light terpental jatuh, tubuh mereka dilalap oleh sihir api yang menembak tubuh dan kuda-kuda perang yang mereka tunggangi. Beberapa yang lain seketika hilang, pupus keberadaan mereka karena tubuh mereka hancur bersamaan dengan sihir-sihir yang mengenai anggota tubuh mereka.
Tanah-tanah di sekitar Light hancur. Suara ledakan serta hantaman-hantaman serangan sihir di sekelilingnya tidak menggoyahkan Light untuk terus menyerang.
Light telah menanggalkan nama "Allain," bertarung sebagai seorang "Rennese" karena hanya darah yang mengalir dalam nadi serta nama tersebut yang ibunya tinggalkan untuknya.
Mata hitam Light hanya tertuju kepada musuh. Dia dengan sigap menarik pedang peraknya dan melesat untuk menghadapi ratusan sihir serangan secara langsung.
"Heaaa!"
__ADS_1
......................