
Tap.
Tap.
Tap.
Berada di tengah bacaan, Light sedikit terganggu dengan tapak langkah yang berasal dari anak tangga yang berada tidak jauh dari meja baca yang dia tempati.
Tidak ada seorangpun yang berada di sekitarnya. Kebanyakan para pengunjung yang ingin meminjam atau hanya sekedar membaca memilih untuk mengambil tempat duduk di lantai pertama.
Lantai pertama sangatlah luas, tidak hanya rak buku yang memiliki isi sangat beragam, namun meja-meja bacaan juga lebih banyak tersedia di lantai dasar. Jauh berbeda dengan lantai kedua dan ketiga yang masing-masing ditujukan untuk buku-buku khusus dan hanya memiliki meja baca yang terbatas.
Itu sebabnya, paling banyak Light hanya ditemani oleh satu atau dua orang saat ia membaca, meski itu juga sangat jarang terjadi. Kebanyakan, orang-orang yang memiliki kebutuhan di lantai kedua lebih memilih untuk meminjam bukunya karena mereka membutuhkannya dalam jangka waktu yang relatif lama.
"Oh..." Selene sedikit terkejut dengan keberadaan Light di sudut ruangan tepat di samping jendela, "Aku tidak mengira kamu ada di sini, Light."
Selene membawa buku yang lumayan tebal, mungkin ketebalannya hampir dua kali lipat buku sejarah yang sedang berada dalam pangkuan Light.
"Begitu juga dengan saya, Yang Mulia." Light hendak berdiri untuk menunjukkan penghormatannya, namun urung karena Selene mengangkat tangan agar dia tidak melakukannya.
Percakapan itu terputus. Suasana lantai kedua kembali hening, hanya beberapa kali terdengar suara balikan halaman yang sedikit keras karena ketebalan bahan kertas.
Selene memilih meja baca yang tidak jauh dari Light. Gadis itu menahan pipinya dengan tangan kirinya. Gerakan Selene begitu anggun saat Light sesekali mencuri pandang kepadanya karena perasaannya yang tidak tenang.
Bukan karena rasa gugup, itu wajar mengingat posisi Selene yang merupakan salah satu petinggi kerajaan serta orang dengan pengaruh besar.
Matahari telah tergelincir dari puncak, suasana terik di balik jendela berangsur-angsur memudar dengan munculnya bayangan di sisi timur bangunan.
Baik Selene maupun Light, keduanya membaca dalam ketenangan. Kegugupan yang Light rasakan sebelumnya perlahan menghilang setelah dia terbiasa dengan keberadaan Selene di dekatnya.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus dari tempat ini, Light?" Selene memecah kesunyian, namun matanya tetap tertuju kepada buku seolah menunjukkan bila dia hanya berbasa-basi.
__ADS_1
Ada sedikit keterkejutan yang tampak, Light berpikir bila kepribadian Selene yang dikenal dingin dan tak tersentuh di kelas tidak akan membuatnya mengajak Light berbicara.
"Saya... tidak tahu, Yang Mulia." Light teringat dengan kata-kata ayahnya, dia tidak berpikir untuk berkarir sebagai penerus rumah Allain, "Mungkin... saya akan melamar pekerjaan di beberapa posisi kosong yang tersedia di satu atau dua lembaga yang dimiliki oleh kekaisaran..."
"Bukankah kamu sendiri adalah pewaris rumah?" Selene berpaling kepada Light dan memiliki tatapan aneh.
"Ya... dan ayah saya lebih menyukai saudara tiri saya."
"Begitu."
Perhatian Selene kembali teralihkan kepada bukunya. Tidak seperti pembatas buku Light yang masih tetap berada di tengah-tengah, kecepatan membaca Selene telah membuatnya berada di bagian akhir buku, walaupun Light sendiri tidak mengetahui apakah Selene membaca buku itu secara keseluruhan atau hanya mencari bagian tertentu yang dia butuhkan.
Keheningan kembali datang, satu, dua, beberapa menit keduanya tidak kunjung untuk melanjutkan obrolan, sampai pada akhirnya Light tidak merasa tahan dan memutuskan untuk memecah kesunyian, "Bolehkah saya... bertanya mengenai sesuatu, Yang Mulia?"
"Tentu saja." Selene menjawab acuh tak acuh.
"Apakah Anda... juga tidak menyukai saya seperti kedua saudara laki-laki Anda yang lain?"
Buk.
Light bingung, sangat gugup akibat Selene yang tidak memberi jawaban yang dia harapkan.
"Tidak... hanya saja... terdapat rumor yang mengatakan apabila keluarga Yang Mulia tidak menyukai saya karena saya merupakan keturunan pemberontak..."
"Rumor itu benar." Jawaban Selene cepat, dia memberi Light senyuman penuh arti, "Tapi, aku sendiri bukanlah orang seperti itu."
"Uh..." Light kebingungan bagaimana harus merespon.
"Aku tahu cara berpikirku dalam memandang sesuatu berbeda dengan orang lain, tapi bukankah itu adalah hal yang menggelikan jika kamu menilai seseorang hanya dari sesuatu seperti itu, Light?"
"Itu... benar, Yang Mulia."
__ADS_1
Selene tersenyum puas dengan jawaban yang Light berikan, "Namun, aku sendiri tidak menganggap hukuman antar generasi sebagai sesuatu yang aneh karena aku memahami alasan mengapa hukum tersebut diciptakan."
Light dan Selene hidup pada era dimana kedekatan seorang anak dengan orang tuanya begitu dekat, sampai-sampai cukup wajar jika cara berpikir seorang anak identik dengan kedua orang tuanya dan bahkan hingga kakek neneknya.
Karena hal tersebut, identik dengan bumi pada abad pertengahan, hukuman antar generasi diberlakukan. Tidak hanya karena memiliki pandangan yang serupa, namun juga untuk memutus dendam dan peluang masalah yang memiliki kemungkinan tinggi untuk muncul pada masa yang datang.
Salah satu sebab kokohnya pondasi kekaisaran adalah istana tanpa pandang bulu akan melenyapkan kelompok-kelompok yang mengancam keutuhan negara, bahkan jika mereka adalah salah satu keluarga yang memiliki kontribusi tertinggi dalam pendirian kekaisaran.
Setelah keheningan singkat, Selene bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Light tanpa mengucap sepatah kata apapun dengan menggantung buku berat yang dia baca dengan lengan kanannya.
"Terima kasih banyak, Yang Mulia." Light bangkit dari tempat duduknya dan menunduk dalam kepada Selene. Bagaimanapun, Light menghargai Selene yang tidak membenci dirinya seperti Pangeran Arthur serta saudara kandung gadis tersebut, Pangeran Leon.
Namun, langkah Selene terhenti, dia berbalik untuk menghadap Light seolah teringat sesuatu, "Itu benar. Bukankah itu berarti kamu sendiri tidak memiliki pekerjaan setelah lulus dari sini, Light?"
Light mengadahkan kepalanya, terlihat bingung mengapa Selene bertanya mengenai hal tersebut, "Iya... Yang Mulia..."
Selene entah mengapa menampakkan senyuman, "Apakah kamu tertarik untuk bergabung ke dalam barisan kakakku, Light?"
"Mohon maafkan saya, Yang Mulia?" Light tidak ingin mempercayai apa yang baru saja Selene katakan. Bagi Light, tindakan tersebut seperti mendatangi habitat singa yang kelaparan.
"Apakah kamu tertarik untuk mendukung Pangeran Leon sebagai putra mahkota kekaisaran?" Kini, Selene mengatakannya secara gamblang.
Light membeku. Bukan hanya karena rasa segan, posisi Light sendiri tidak memungkinkannya untuk menjawab sesuatu yang tidak menyenangkan bagi Selene yang merupakan putri kekaisaran.
"Aku berpikir, jika kamu secara aktif mendukung kakakku untuk meraih gelar putra mahkota, kehidupanmu sendiri dipastikan aman meski itu hanya dari intaian faksi kakakku." Selene dengan ramah memberi pertimbangan yang baik bagi masa depan Light, "Jika kamu sendiri lebih memilih untuk menyendiri dan berakhir tanpa pengaruh atau kekuatan politik... aku tahu kamu pasti mengerti apa yang aku khawatirkan, Light."
Singkatnya, Light tidak akan pernah hidup dengan aman jika dia tetap berada di kekaisaran dan tidak memiliki pengaruh yang membuatnya bernilai di tengah kalangan bangsawan.
Selene secara tersirat mengatakan jika Light memiliki kemungkinan tinggi untuk terbunuh kapan saja karena dia sendiri telah masuk ke dalam radar intelejen kekaisaran sebagai pemberontak.
"... Mohon berikan saya sedikit waktu untu menjawab hal tersebut, Yang Mulia. Saya akan memikirkan kata-kata Anda dengan lebih matang." Sejenak penundaan, pada akhirnya Light memilih untuk mengulur waktu tanpa memberikan jawaban.
__ADS_1
Terhadap Light yang sekali lagi menundukkan kepalanya, Selene berbalik, menuruni anak tangga dengan sebuah senyuman yang terlihat seolah bersenang-senang.
......................