
"Mendukung pangeran pertama... kah?"
Light memandangi tangannya yang terangkat, menutupi sebagian kecil langit-langit kamar penginapannya. Dalam beberapa kesempatan, fokus Light terpecah karena terbesit ajakan tersebut.
Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuannya dengan Selene di perpustakaan. Jauh dari harapan, Selene memperlakukan Light seperti biasanya pada saat keduanya mengikuti kelas.
Sejak awal, sikap Selene memang dingin. Terlebih dengan keberadaan gadis-gadis pengikutnya yang begitu menyebalkan, Selene sendiri dijauhi oleh para siswa lain, sangat berbeda dengan bayangan yang dimiliki orang-orang terhadap figur seorang putri dalam kisah-kisah dongeng.
Namun, karena Selene memiliki kemampuan yang luar biasa, bahkan mengalahkan Pangeran Kedua Arthur, semua siswa hanya dapat membisu. Tidak ada satupun yang mampu mengejek dan merendahkan Selene secara terang-terangan tepat di hadapannya.
"Meski tindakan ayahku sendiri menyalahi aturan pewarisan dalam hukum kekaisaran, aku tidak berpikir jika aku bisa menang melawan ayah di pengadilan."
Ada rasa pesimis. Para bangsawan pemegang kekuasaan peradilan merupakan kelompok yang membuat Keluarga Renesse dijatuhi hukuman mati dalam 5 generasi. Tidak hanya itu, kekuasaan peradilan tertinggi kekaisaran dipegang oleh kaisar, tidak mungkin Light dapat memenangkan gugatan jika para hakim sendiri berada di posisi yang berseberangan dengannya.
Tapi, jika aku menerima tawaran Putri Selene... bukankah keputusanku secara otomatis membuatku bermusuhan dengan Pangeran Arthur yang juga merupakan teman sekelasku sendiri?
"Aaarrghh!" Light mengacak-acak rambutnya. Semua pilihan membawanya menuju jalan kematian.
Light bangkit, terduduk di atas tempat tidur dengan cahaya yang tertembus masuk melalui tirai penginapan. Tatapannya tertuju kepada silinder kecil yang dia dapatkan dari nenek menyebalkan pemilik toko misterius yang merampok uangnya.
Teringat kembali akan malam itu, setelah membunuh para preman yang menyerang, Light satu persatu membawa jasad ke dalam gang dimana toko misterius itu berada.
Akan tetapi, keberadaan toko itu seketika menghilang seperti hembusan angin. Light tidak lagi mendapati keberadaan toko misterius itu di dalam gang.
Bagaimanapun, Light tidak menganggap toko itu sebagai toko biasa. Nenek menyebalkan itu pasti menyimpan banyak rahasia yang tidak biasa.
Light menghapus ingatan kelam tersebut. Dia pada akhirnya hanya dapat bersyukur karena pengalaman menyebalkan itu memberinya pengalaman yang sangat luar biasa.
Silindris itu sejak awal memiliki sebuah lubang kecil yang menembus kedua sisi yang berhadapan. Mengetahui itu, Light memasangkan benang kecil yang dialiri sihir dan membuatnya menjadi kalung.
Entah mengapa, saat menggunakannya dalam keadaan seperti ini, ada kedekatan yang dapat Light rasakan dengan silinder tersebut, terasa seperti Light akan sangat menyesal jika dia kehilangannya.
__ADS_1
"Sekarang... haruskah aku berjalan-jalan di sekitar sini?"
Tanpa pertimbangan lebih lanjut, Light meninggalkan kamarnya dan berjalan tanpa tujuan di dalam distrik perdagangan ibukota. Sebisa mungkin, Light menghindar dari jalan-jalan yang membawanya menuju distrik kumuh seperti kemarin.
Beberapa waktu telah berlalu, sinar mentari semakin meredup. Kini, langit menunjukkan sinar kemerahan, tanda bahwa pemandangan langit akan menjadi gelap.
Lampu-lampu jalanan telah menyala terang, penggunaan alat-alat sihir yang ditujukan bagi kepentingan umum menjadikan ibukota kekaisaran sebagai kota yang memiliki peradaban paling maju di seluruh dunia.
Pada akhirnya, Light tidak mendapatkan apapun. Ia menyesal karena hanya menghabiskan waktu sembari membelanjakan uangnya yang hanya tersisa beberapa keping koin perak besar sedikit demi sedikit.
"Ini salah..." Light memegang kepalanya dengan kedua tangan, dia duduk di salah satu sudut taman kota yang tidak terlihat ramai dengan adanya aktivitas manusia, "Aku... tidak seharusnya melakukan ini..."
Masa depan yang tidak menentu, keuangan yang saat ini berada pada batas terendah. Light tidak mengira bahwa keadaannya saat ini begitu menyedihkan.
Sebenarnya, Light bisa saja mendapatkan jaminan hidup berupa makanan dan tempat tinggal jika dia kembali ke asrama yang disediakan bagi para siswa akademi hingga kelulusannya, namun Light urung untuk melakukan hal tersebut.
Tidak hanya kondisi ruangan yang sudah semestinya dikacaukan oleh para siswa lain selama kepergiannya, namun Light juga diharuskan untuk membayar ganti rugi terhadap kerusakan yang terjadi.
Aku benar-benar membutuhkan uang sekarang...
Suara perut berbunyi gemerincing. Terakhir kali dia makan, itu adalah sarapan yang disediakan oleh penginapannya.
"Haruskah aku kembali?" Light bergumam dengan penuh penyesalan.
Light pada akhirnya memutuskan untuk mengambil makan malamnya di penginapan.
"Hm?" Saat dia melewati pinggiran distrik dimana gudang-gudang berada, Light mencium bau besi yang tidak wajar hingga menyebabkan kedua kakinya berhenti melangkah.
Ada keinginan untuk mengabaikan masalah. Terlebih, daerah sepi seperti distrik pergudangan merupakan daerah paling rawan terjadinya kriminalitas jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di dalam distrik perdagangan ibukota.
"Ini... bau darah." Asal bau tidak tertuju dari gudang-gudang yang ada, namun dari saluran pembuangan yang terhubung langsung dengan sebuah bangunan yang terlihat seperti kantor.
__ADS_1
Meski diterangi oleh lampu-lampu sihir jalanan, itu tidak menyulitkan Light untuk menyatu dengan kegelapan malam. Dia menyelinap menuju bagian belakang bangunan dari sisi luar pagar kayu yang sangat tinggi.
Tubuhnya yang rata-rata sebesar anak laki-laki berusia hampir 16 tahun membuat Light dapat dengan mudah memasuki celah-celah sempit diantara pagar kayu kantor dengan gudang di sekelilingnya.
Bau darah tercium semakin kuat, Light yakin sumber bau berasal dari sisi lain dari pagar kayu dimana dia saat ini berpijak. Light menyebarkan mana ke sekujur tubuhnya secara halus, genggaman tangannya kepada gagang pedang juga terlihat samar dialiri aura biru.
BRAK!
Light melompat masuk. Akan tetapi serangan sihir angin segera datang menyambut kedatangannya.
Light jatuh dengan punggung menghantam pagar kayu. Namun itu tidak terasa terlalu sakit hingga membuatnya dapat bangkit kembali dengan cepat.
"Kamu memiliki keingintahuan yang teramat tinggi, bukan?"
Kaki yang cukup kerdil, bulu lebat merah khas dengan dua telinga besar yang menonjol ke atas, karakteristik yang dimiliki oleh salah satu spesies paling licik dari ras beastman.
Rubah merah, atau begitulah orang-orang di dunia ini menyebut jenis mereka.
Konon dalam sejarah, klan rubah merah telah menjadi penasihat kerajaan beastman selama ratusan tahun lamanya sebelum kerajaan itu hancur setelah kalah perang melawan Kekaisaran Corthia.
Perang telah berakhir, tidak ada satupun jenis dari spesies mereka yang ditemukan membaur dengan masyarakat luas. Beberapa kali terdengar rumor apabila seseorang melihat mereka, meski rumor itu terbantahkan dan dianggap sebagai pengakuan tak berdasar.
"Kalian... katakan apa tujuan kalian ada di sini?!" Light membuat sikap bertarung. Dia tidak bisa lengah karena kemungkinan terdapat beberapa rubah merah lain bukanlah nol.
"Mariabell, kenapa kau sangat lamban?" Secara tiba-tiba, sebuah suara muncul tepat di belakang Light.
Light mengadahkan kepalanya, dia melihat laki-laki rubah merah duduk di atas pagar kayu dimana Light baru saja melompatinya.
"Ya, ya. Kembalilah ke posisi awalmu, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat." Mariabell, gadis rubah merah berpostur pendek mengeluarkan dua pedang pendek dari masing-masing lubang lengan kimono putihnya.
"Lima menit, aku tidak akan menunggumu lebih dari itu."
__ADS_1
Dengan kata-kata tersebut, kehadiran rubah merah di belakang Light seketika menghilang.
Mariabell mengangkat kedua pedang pendeknya dan menerjang langsung ke arah Light sembari membuat ekspresi seolah bersenang-senang, "Cobalah untuk menghiburku, Nak."