Curved Irregular

Curved Irregular
Chapter 6 : Wise


__ADS_3

"Tuan Muda, tidak ada satupun regu pengintai yang kembali."


Suasana ruangan seketika hening. Tidak ada yang tidak terkejut dengan kedatangan Arcadia yang lebih awal daripada yang telah diperkirakan.


Light menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya dari kepanikan. Beruntung, semua persiapan untuk perang pertahanan telah selesai dilakukan. Namun, Light mengerti, hanya dengan persiapan itu tidaklah cukup untuk memenangkan perang melawan puluhan ribu Tentara Arcadia.


"Mereka tiba." Light bangkit dari kursi meja kerjanya. Tatapannya lurus, tanda apabila Light tidak bermain-main dengan perkataannya, "Gennes, pergilah ke barak dan persiapkan pasukan. Eld, seluruh kompi konstruksi berada di bawah koordinasimu, perintahkan mereka semua untuk bersiap di tempatnya masing-masing dan laporkan kepadaku jika mereka memiliki kendala yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri."


"Ya, Tuan!" Kedua perwira tua itu bersikap hormat dengan mengangkat tangan kanannya dan menempelkannya di pelipis. Segera, keduanya meninggalkan ruangan dengan langkah cepat.


"Sekarang..." Light tersenyum ramah kepada kedua pelayan wanita yang berdiri di dekat jendela, duduk kembali dengan nyaman seolah suasanya sebelumnya adalah kebohongan.


Light mengambil secangkir teh dan menyesapnya dengan elegan. Sembari kerongkongannya dilewati oleh teh yang masih terasa hangat, pandangannya tidak terlepas dari kedua pelayan yang masing-masing tidak memiliki ekspresi.


"Ah, ini benar-benar enak. Apalagi jika tidak ada 'tambahan' di dalamnya." Bulu kuduk satu diantara kedua pelayan itu berdiri.


Pelayan berambut pirang panjang seketika berkeringat deras. Dia bingung, apakah Light mengetahui kebenaran apabila dia menuangkan racun pada tehnya?


Tidak, tidak mungkin.


Sesuai yang dikatakan, racun itu tidak menimbulkan bau dan aroma pada teh atau makanan yang ditambahkan. Dia bahkan memeriksanya dengan hidungnya sendiri. Terlebih, tidak ada saksi mata saat dia menuangkan "tambahan" pada set teh yang disajikan kepada Light beberapa saat lalu.


Pelayan itu seketika bersikap tenang. Dia yakin kejahatannya tidak diketahui. Untuk itu, ekspresinya kembali seperti semula, menunggu reaksi yang akan terjadi pada Light yang tengah duduk di kursinya sembari mengurus beberapa dokumen.


Lima, sepuluh... dua puluh menit telah berlalu. Light tidak mengalami keanehan apapun, sedikit menyimpang dari apa yang telah direncanakan. Jaminan keselamatan Garnet bagi pelayan itu adalah eksekutor dapat segera melarikan diri tepat setelah memastikan Light jatuh, karena itu merupakan titik kepastian dimana kematian Light terjadi.


Hingga mencapai tiga puluh menit, keringat mulai bercucuran dari sekujur tubuh pelayan wanita itu. Melihat tingkah lakunya, pelayan lain yang berdiri di sebelahnya khawatir.


"Apakah kamu tidak apa-apa, Rie?" Pelayan di sampingnya menatap khawatir, dia berbisik karena merasakan keadaan rekan kerjanya yang tidak wajar, "Aku akan meminta izin kepada Tuan untuk beristirahat sebentar."


"Ti—tidak apa-apa... Tolong jangan lakukan itu." Pelayan wanita berambut pirang itu memberi senyum ketenangan, "Yakinlah, sebenarnya aku baik-baik saja..."


"Jika kamu butuh bantuanku, beri saja aku tanda. Aku akan meminta izin pada Tuan," balas pelayan di sampingnya.


"Terima kasih atas perhatianmu, Ena."

__ADS_1


Satu jam telah berlalu semenjak Light menyesap tehnya. Tidak terjadi apapun kepadanya, itulah alasan Rie saat ini sangat ketakutan.


Tentu, Garnet akan memberi hukuman tidak manusiawi kepadanya. Sebuah akibat dari tugasnya yang tidak terselesaikan. Terlebih, kekhawatirannya juga berasal dari kemungkinan Light mengetahui bahwa dia adalah pelaku yang menuangkan racun pada tehnya.


"Apa yang terjadi denganmu? Aku melihat kamu bertingkah aneh... Rie?" Light mengalihkan tatapannya seolah khawatir, akan tetapi salah satu sudut bibirnya samar meninggi, seolah dia sedang mengejek Rie.


"Terima kasih karena telah mengkhawatirkan dan mengingat nama kami, Tuan." Ena membungkuk dan segera diikuti Rie dengan panik, "Saya juga sependapat dengan Anda."


"Ti—tidak, tidak! Saya sungguh baik-baik saja!" Rie menyanggah dengan panik.


"Begitu, katakan saja kepadaku apabila kamu memiliki masalah. Aku bukanlah tuan kejam yang sama sekali tidak mempedulikan kondisi para bawahannya." Light mengatakan itu seolah bersenang-senang melihat reaksi Rie.


"Kami merasa terhormat." Ena membungkuk dalam, Rie mengikutinya dengan sedikit penundaan.


Keramaian dapat terdengar dari balik jendela. Suasana kacau yang terjadi merupakan tanda apabila pasukan sedang mempersiapkan strategi pertahanan.


Mendengar itu, Light tersenyum. Sebelum dia beranjak dari tempatnya duduk, dia membuka brankas yang berada di bawah mejanya.


"Uhuk! Uhuk!"


Seketika, ruangan dipenuhi bau busuk. Berbeda dengan Rie, Ena sama sekali tidak dapat menahan baunya.


"Sudah saatnya, tolong bersihkan ruangan ini selagi aku pergi." Light bergerak menuju pintu keluar, kedua pelayan itu terpaku pada posisi awalnya. Mereka tidak dapat berpindah sebelum Light pergi meninggalkan ruangan.


Pintu terbuka, akan tetapi Light masih menahan langkahnya sebelum keluar dari ruangan, "Aku memahami posisimu yang hanya merupakan seorang pelayan dengan kasta rendah. Aku tahu kau tidak dapat menolak perintahnya, bukan?"


Kedua mata Rie terbuka lebar, menyisakan Ena yang masih kebingungan dengan situasi.


Rie segera paham, kalimat itu menujukkan bahwa Light memberikan uluran tangan. Satu kesempatan terakhir untuk satu kepercayaan yang telah rusak.


Rie tahu jika semua kebusukannya telah diketahui oleh Light.


Kedua sudut mata Rie menitikkan air, seketika ia jatuh berlutut dan meneriakkan permohonan ampunan, "Tuan! Mohon maafkan sa—"


Akan tetapi, Light tidak peduli. Ia bergerak meninggalkan ruangan acuh tak acuh.

__ADS_1


Ena, yang kebingungan dengan situasi, berniat untuk mengurus Rie yang berada dalam keadaan aneh. Akan tetapi, bau busuk dari meja kerja Light sangat tidak tertahankan baginya.


Ena mendekati meja kerja Light. Terdapat brankas yang mengeluarkan bau yang teramat busuk. Akan tetapi, kedua mata Ena seketika terbuka lebar, tanpa sadar dia melompat mundur karena sangat terkejut dengan isi dari brankas tersebut.


Ya, tidak hanya kepala Garnet, tapi juga semua kepala-kepala yang menjadi otak pembunuhan Light.


"Ri—Rie!" Ena berteriak panik, akan tetapi Rie tidaklah memberi tanggapan.


Rie bersujud dalam ketakutan. Semua inderanya seolah tumpul disaat Ena berteriak memanggilnya.


Berjalan menyusuri lorong tanpa hiasan khas bangunan dalam benteng pertahanan, Light menunjukkan wajah geli. Entah bagaimana, dia memiliki perasaan yang menyenangkan saat dia menggoda Rie beberapa saat yang lalu.


"Abigail."


Langkah Light terhenti. Sosok kadal yang berlutut seketika muncul di salah satu sisi lorong. Melihatnya, senyuman menakutkan sekali lagi terlukis pada wajah Light.


"Perintahmu, Tuanku."


Dalam kesendiriannya, Light membaca banyak buku sebanyak apa yang dia mampu. Tidak satupun seseorang yang mengawasinya, Light telah membaca buku di setiap sumber buku yang dapat dia temukan.


Perpustakaan Kastil Allain, perpustakaan akademi, hingga toko buku lusuh yang berada di gang sempit ibukota kekaisaran.


Light mengetahui kemampuan khusus Abigail setelah dia mengamati corak aneh yang ada pada tubuhnya.


Salah satu spesies lizardman yang memiliki gen resesif dimana dia memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh gen dominan lain, Mimikri.


Jika itu Light yang merupakan bangsawan tulen dengan darah penyihir yang mengalir dalam nadi, dia dapat dengan mudah menemukan Abigail yang tidak terlihat dengan melacak sihirnya, meski Light tidak memiliki banyak mana seperti para bangsawan pada umumnya.


Akan tetapi, itu tidak berlaku bagi rakyat jelata dan penyihir yang terlahir dari keluarga ksatria biasa. Sebesar itulah perbedaan antara rakyat jelata, kalangan ksatria, dan para bangsawan dalam sihir dan kemampuan khusus.


Abigail sedari awal tidak mampu menggunakan kekuatannya karena segel budak. Light menimpa segel budak dengan sebuah perjanjian khusus yang mampu membuat Abigail dapat mengerahkan semua kemampuannya. Tentu saja, Light memprioritaskan keselamatannya saat menimpa segel budaknya dengan perjanjian tersebut.


Aku berbeda dengan kalian, Ayah, Cole.


Aku tidak akan menumpahkan darah tanpa alasan.

__ADS_1


Lihat saja, aku pasti akan memenangkan perang ini.


......................


__ADS_2