
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Langit memerah, awan-awan hitam menutup luasnya angkasa. Tidak hanya Light, Eld dan Gennes juga meyakini apabila Arcadia telah menggunakan sihir dalam skala luar biasa.
Gemuruh hentakan ribuan prajurit terdengar semakin keras. Eld dan Gennes sedikit terintimidasi dengan kehadiran musuh yang semakin mendekat.
"Bukankah ini terlihat seperti kiamat, Tuan Muda?" Eld mengutarakan pendapatnya terhadap suasana, tapi ia tidak mendapat reaksi apapun yang membuatnya sedikit kecewa.
Percakapan itu berakhir kosong, perhatian ketiganya hanya terfokus pada musuh di depan mereka.
Seketika hening, Tentara Arcadia menghentikan gerakannya. Light, yang tidak pernah berada di medan perang sebelumnya, hanya dapat mengira-ngira keadaan dari buku teks yang dia pelajari.
"Apakah ini adalah saat dimana para jenderal tertinggi dari dua pasukan bertemu?" Light menilai keadaan yang terjadi menurut apa yang ia ketahui.
"Itu benar. Namun, Anda tidak perlu khawatir, Tuan Muda. Ini sudah merupakan tradisi turun temurun, penyerangan adalah hal terlarang sampai kedua jenderal kembali ke pasukannya masing-masing. Dan juga, apabila Anda berkenan, saya akan menyertai Anda sebagai pengawal." Eld mencoba menentramkan hati Light, yang merupakan seekor anak ayam di medan peperangan.
"Jika seperti itu, dengan rendah hati, aku akan menolak tawaranmu." Light berbalik, meninggalkan tempatnya.
"Tapi..." ungkap Eld keberatan.
"Jika aku terus seperti ini, aku akan terus berada di balik bayang-bayang ayahku."
"Begitu, mohon maaf karena telah meragukan Anda." Eld menunduk dalam, meluapkan rasa penyesalannya sembari menunjukkan senyum penuh kebanggaan.
Demikian dengan Light, senyuman cerah terlukis di atas ekspresinya. Langkah kakinya terlihat tegap, terasa penuh kepercayaan diri.
Gerbang kembar benteng perbatasan perlahan terbuka semakin lebar. Kehadiran Light terasa penuh kewibawaan karena didukung pakaian militer hitamnya yang bercorak emas. Tidak hanya itu, tunggangannya berupa kuda perang berkelir hitam seolah membuatnya terlihat menakutkan. Berbekal sebuah pedang yang tersarung di pinggul kanannya, Light maju seorang diri.
__ADS_1
Di sisi lain, sosok jenderal perkasa dengan rusa raksasa sebagai tunggangannya keluar dari barisan Tentara Arcadia.
Zirah perak yang ia kenakan membentuk tubuh. Tombak panjang dengan bilah yang menyerupai pedang berada di punggungnya. Akan tetapi, dia mengangkat tangan sembari tersenyum masam saat melihat Light yang maju seorang diri.
"Kembalilah, tinggalkan aku sendiri."
"Namun, kami—" Salah satu pengawalnya berteriak keberatan.
"Apakah kalian ingin melumuri wajahku dengan kotoran?!" Jenderal Tertinggi Arcadia berteriak kesal, ia menunjuk ke arah Light yang datang seorang diri tanpa kenal takut, "Jika dia datang tanpa pengawalan, akupun juga demikian! Kembalilah, Sialan!"
"Ya, Tuan!" Dua pengawal kembali dengan rasa berat, mereka tetap tidak dapat menolak perintah jenderal mereka terlebih jika itu berkaitan dengan harga diri.
Jenderal Arrend Leucs, tidak ada seorangpun veteran perang yang tidak mengenalnya. Namanya telah tersebar luas, salah satu bukti jika dia memiliki pengalaman mengacak-acak musuh.
Tentara Kekaisaran Corthia juga tak luput menjadi korban keganasan Arrend. Meski Corthia memiliki kekuatan luar biasa, bukan berarti mereka tidak pernah mengalami kekalahan dalam sebuah peperangan.
Masing-masing pemimpin tertinggi kedua pasukan saling berjalan mendekat. Namun terlihat jelas perbedaan diantara keduanya. Arrend sama sekali tidak menunjukkan celah, berbeda dengan Light yang tidak memiliki pengalaman sama sekali.
"Siapa kamu? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, Bocah." Arrend membawa perang psikologis, dia berniat untuk menjatuhkan mental Light sebelum perang dimulai.
Meski dia telah yakin dengan kemenangannya, Arrend menginginkan sebuah rasa superioritas atas keberhasilannya menginjak-injak wibawa jenderal musuh yang akan menambah citarasa kemenangannya.
"Kamu tidak perlu mengatakan sesuatu yang sudah jelas, Pak Tua. Kau dan aku juga sama-sama mengetahui jika kau tidak pernah melihatku sebelumnya." Light menuangkan minyak tanah kepada api yang tengah membara.
"Apa yang sebenarnya kau bicarakan, Bocah?" Arrend menjaga wajahnya agar tetap tersenyum, meski kebanggaannya tercabik-cabik oleh kata-kata tanpa sopan santun yang Light berikan.
"Benar, mari kita menyingkat formalitas ini." Menanggapi itu, kedua mata Arrend terbuka lebar.
Dalam hidupnya, Arrend tidak pernah bertemu dengan seseorang yang terlalu berani seperti Light.
Apakah karena Light tidak pernah bertemu dengannya serta tidak pernah merasakan medan pertempuran yang sebenarnya sehingga dia tidak memiliki rasa segan kepadanya seperti jenderal-jenderal lain?
__ADS_1
Ataukah Light telah pasrah atas kekalahannya sehingga dia bersikap seperti ini?
Arrend tidak tahu dan dia tidak ingin mengetahuinya. Bagaimanapun, Light telah memantik amarahnya sebagai binatang buas.
"Light Allain, Putra Pertama dari Jade Allain, Count Allain saat ini."
"Guahahaha!" Arrend tertawa terbahak-bahak, "Sikapmu yang menyebalkan benar-benar mengingatkanku pada ayahmu yang naif dan penakut! Aku adalah Arrend Leucs, salah satu jenderal terbaik Kerajaan Arcadia! Bahkan, orang-orang Mothien telah menyematkan julukan "Red Devil" karena keganasanku di medan perang!"
"Lalu?" Light memiringkan kepalanya, dia sama sekali tidak terganggu saat ayah kandungnya diejek, "Apakah bagimu aku terlihat seperti seseorang yang peduli dengan itu?"
Arrend sejenak bingung bagaimana harus membalas ketidakpedulian Light, "Hei, Bocah. Apakah kekaisaran saat ini terlalu lemah sehingga mereka hanya bisa mengirimu untuk melawanku?"
"Tidak, Pak Tua. Kekaisaran sudah terlalu kuat sehingga mereka mengutusku—seorang ikan kecil yang belum lulus dari Akademi—untuk melawanmu, seorang jenderal terkuat dari kerajaan kecil yang bahkan belum dapat merebut wilayahnya kembali hingga saat ini." Light tersenyum mengejek.
"Sial! Sial! Sialan, Kau Bocah! Aku pasti akan membunuh dan mencincangmu nanti!" Arrend berbalik, kembali menuju pasukannya dengan kekesalan yang memuncak.
"Oh, Benar, Pak Tua!" Light memanggil dengan senyuman riang. Mau tidak mau, harga diri Arrend tidak mengizinkannya untuk terus bergerak sehingga dia sekali lagi memberi perhatian kepada Light.
"Kau seharusnya tahu apa yang akan terjadi jika kau membuatku kesal lebih dari ini, Bocah!"
"Jika kau ingin mencincang, tanggalkan tombakmu dan ambilah pisau! Apakah ibumu sama sekali tidak pernah mengajarimu hal itu?" Light menutup mulutnya yang terkikik karena geli dengan sikap yang Arrend tunjukkan.
"Gah! Kau akan menyesali ini, Bocah!" Arrend semakin kesal, dia kembali menuju pasukannya dan tidak mengizinkan seorangpun berbicara kepadanya untuk sementara.
Light melihatnya dengan senyuman cerah, berbanding terbalik dengan para prajuritnya yang gemetaran karena mereka samar-samar mendengar provokasi yang Light lakukan kepada Arrend.
Light kembali ke benteng dengan perasaan puas. Menginjak-injak harga diri lawan, mengacaukan otak yang menjadi pusat dari sebuah pasukan, membuat kepercayaan diri yang ia miliki naik secara signifikan, serta keyakinan apabila Arrend merupakan lawan pertamanya, sosok yang bukan tidak mungkin untuk Light kalahkan.
Strategi, mental, informasi.
Meskipun kamu memiliki ratusan ribu personil dan senjata berat, jika kau kurang dalam tiga aspek itu, pasukanmu hanyalah sebuah omong kosong bagiku.
__ADS_1
......................