Curved Irregular

Curved Irregular
Chapter 12 : Makhluk Mitologi


__ADS_3

"Bocah, coba kalahkan makhluk itu." Sang Naga melontarkan sesuatu tanpa beban.


Kedua bola mata Light dan Abigail membulat. Terbesit di dalam benak mereka bila naga di depan mereka sebenarnya adalah makhluk dengan kepala yang cukup miring, meski keduanya tetap tidak membiarkan hal tersebut keluar dari mulut mereka.


"Ah, benar. Aku akan memberi tahu cara agar kau dapat mengalahkannya." Sang Naga mengoreksi perkataannya.


"Mengapa bukan kamu saja yang mengalahkannya?" Light terlihat enggan.


"Kami terikat perjanjian dengan Tuhan, kau tahu? Jika kami menundukkannya, itu sudah dapat dikatakan lebih dari cukup bahwa ras naga telah ikut campur atas urusan dunia." Sang Naga menjelaskan keengganannya, "Kami menghindari hal itu karena kami tidak ingin terlalu banyak berurusan dengan Gabriel."


"Keberadaan Tuhan ternyata merupakan sebuah kebenaran..." Abigail menggumamkan sesuatu saat pikirannya berlarian ke arah hal-hal yang aneh.


"Apa keuntunganku?" Light berusaha untuk menolak.


"Bocah, aku tidak menyangka kau berani berbisnis dengan kami." Sang Naga sedikit kesal.


"Benar, aku dapat menggunakan kekuatan itu kapanpun aku menginginkannya," tambah Light.


"Kau tidak mendengarkan, bukan?" Sang Naga tersenyum menyembunyikan kekesalannya. Menyerah, dia merasa kelelahan berbicara dengan orang bebal seperti Light, "Hah... baiklah. Aku tidak akan menanggung resikonya."


"Perhatikan dengan seksama saat para bawahanku akan menembakkan napas mereka." Dengan instruksi Sang Naga, Light melihat dengan cermat apapun yang terjadi dengan pertarungan di depannya.


"Napas yang kami—para naga—tembakkan sebenarnya adalah kumpulan mana, teknik itu cukup mirip dengan kemampuan tidak normal yang kamu miliki," jelas Sang Naga.


"Ah, sejak kapan kamu memperhatikan?" Light mempertanyakan waktu kehadiran Sang Naga.


"Gah, lupakan itu. Jika kamu memperhatikannya dengan baik, mana yang terkumpul tidaklah berwarna, lalu berubah menjadi keemasan dan berakhir dengan warna merah atau hitam sesuai dengan afinitas yang naga tersebut miliki," tambah Sang Naga.


"Jika tidak salah, warna emas menunjukkan atribut divine, bukan?" Light memeriksa kebenaran pengetahuan yang ia miliki.


"Nah, kau benar." Entah mengapa, Sang Naga terlihat sedikit bangga, "Lalu, mengapa mana yang dikumpulkan tidak memiliki warna pada awalnya?"


"Mengapa kau malah bertanya kepadaku? Bukankah kau seharusnya mengajariku?" Light sedikit jengkel.


"Ck." Sang Naga mendecakkan lidah, "Itu adalah mana dengan atribut netral, mana yang belum terpengaruh oleh spirit ataupun makhluk hidup. Jenis mana ini tersebar di alam bebas bahkan di tengah-tengah area nol sihir sekalipun."


"Begitu, itu menjawab mengapa Magic Area Nihility sama sekali tidak berpengaruh kepada para naga..." Light terkagum.


"Benar, bukankah kami sangat luar biasa?" Sang Naga membusungkan dadanya, merasa bangga atas kelebihan yang dimiliki oleh rasnya.

__ADS_1


"Lalu, apa kelebihan dan kekurangan saat aku menggunakan mana tipe netral? Dan juga, bagaimana aku dapat menggunakan itu?" Light sama sekali tidak mempedulikan Sang Naga, yang sedikit membuatnya kecewa.


"Hah..." Sang Naga menghela napas, "Disamping keharusan untuk memiliki sirkuit mana khusus, kau hanya harus merasakan keberadaannya."


"Heh? Semudah itu?" Light terkekeh.


"..." Sang Naga tidak berkomentar. Karena dia mengerti kemampuan yang Light miliki saat melihat pertempurannya melawan Cartias, dia tidak perlu mengajarkan cara agar Light dapat merasakan keberadaan mana, "Baiklah... buka kedua matamu dengan lebar."


Sang Naga mendekatkan ibu jarinya setelah Light membuka lebar kedua matanya. Ibu jari itu menempel tepat di tengah-tengah antara kedua alisnya.


Saat itu, kedua mata hitam Light berubah merah, darah murni Keluarga Renesse beresonansi dengan sirkuit yang Sang Naga baru saja berikan.


"Aakkhh!" Light berteriak kesakitan.


Abigail dengan panik berusaha menolong, namun ia tertahan oleh tangan Sang Naga yang tidak membolehkannya untuk mendekat.


"Aku tidak pernah berpikir kau merupakan keturunan langsung dari para pendiri kekaisaran, Bocah." Naga itu tersenyum masam, nostalgia terhadap kenangan lama sejenak memenuhi pikirannya.


Gelap.


Meski Light telah membuka kedua mata, ia tetap tidak dapat melihat apapun, terasa seperti dia telah mengalami kebutaan.


Kedua mata Light memancarkan sinar merah redup. Pada kedua tangannya berkumpul mana dengan aura keemasan yang baru saja dia ubah.


"Bagus, bayangkan sebuah sihir yang mampu untuk membunuh dan menyegel kekuatan Hydra lalu seranglah."


Tangan kanan Light terangkat, mana yang berada di tangannya meninggi hingga menembus tebalnya awan hitam. Pemandangan itu membuat Sang Naga sedikit khawatir. Ia tidak berpikir penyegelan Hydra membutuhkan mana netral sebanyak yang Light gunakan.


GLAARR!


Langit menjatuhkan kilat. Pusaran awan hitam seketika hancur dan diliputi oleh aura merah yang sangat kental, mungkin hampir dapat disamakan oleh aliran darah yang sangat pekat.


Krak.


Krak.


"Bocah, apa yang sebenarnya telah kamu lakukan?" Sang Naga khawatir, ia tidak mengetahui apa yang Light gunakan dengan mana netralnya.


"Tuanku!" Saat Abigail melirik Light, kedua mata merah Light menitikkan darah. Namun, Sang Naga menendangnya saat dia hendak menganggu aktivitas Light.

__ADS_1


Krak.


Dimensi retak. Darinya, keluar jari jemari yang ingin membuka dengan paksa retakan tersebut.


"Ck, ini tidak bisa dibiarkan lebih jauh lagi." Namun, tindakan Sang Naga pun terhenti.


Dari dalam retakan tersebut, muncul kedua mata merah dan perlahan menitikkan darah tepat di atas keberadaan Hydra. Detik demi detik telah berlalu, tetesan darah itu terlihat semakin deras, menenggelamkan dan melelehkan Hydra hingga tidak lagi bersisa.


Keberadaan Hydra pun lenyap, retakan dimensi di angkasa perlahan kembali menjadi normal. Akan tetapi, hanya Sang Naga yang mengetahui kebenarannya, sosok tersebut tersenyum dan berbisik jika dia menunggu untuk sekali lagi dipanggil kembali ke alam dunia.


BRUK!


Sekujur tubuh tubuh naga itu samar bergetar, dia melirik keadaan Light yang jatuh tertahan oleh Abigail yang berlari memampahnya.


Aku sama sekali tidak mengerti...


Meskipun Sang Naga merupakan saksi hidup Perang Besar Ragnarok ribuan tahun lalu, namun dia belum pernah sekalipun melihat keberadaan makhluk tersebut.


Sang Naga menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Terbesit pikiran untuk mengakhiri hidup Light sekarang juga, namun dia tidak yakin apakah itu adalah hal yang tepat untuk dilakukan.


Dan juga... aku terikat perjanjian. Tidak seharusnya aku terlalu mengkhawatirkan dunia yang aku tidak memiliki kuasa di atasnya.


Abigail membaringkan Light di atas tanah yang rata. Sang Naga bergerak mendekat, memberi tahu hal apa yang harus dirinya lakukan, "Dengarkan aku, Kadal."


"Y—ya, Yang Mulia!" Abigail sangat gugup, takut memancing kemarahannya.


"Hah?" Sang Naga sedikit terkejut. Sangat lelah berinteraksi dengan Light serta kejadian beberapa saat lalu, Sang Naga memutuskan untuk membuatnya mudah, "Cukup panggil aku Jormungandr."


"Ba—baik, Yang Mulia Jormungandr!"


"Hah..." Jormungandr menghela napas lelah, "Pergilah dari tempat ini sesegera mungkin dan rawat anak itu. Dia akan berada dalam keadaan ini untuk sementara waktu. Kami para naga akan mengurus sisanya."


"Ba—baik, Tuan! Mohon maaf dan sampai jumpa!" Abigail dengan cepat menggendong Light dan meninggalkan Sang Naga hingga terbirit-birit ketakutan.


Jormungandr memiliki mata aneh, dia tidak mengerti mengapa Abigail begitu takut kepadanya disaat Light bersikap seperti orang bebal.


"Yah, terserahlah, mari bersihkan tempat ini sebelum masalah merepotkan datang mengganggu."


......................

__ADS_1


__ADS_2