
"Diamlah dan jangan lakukan apapun."
Kalimat tersebut menancap erat dalam benak. Light tahu bahwa ayahnya tidak menginginkan dirinya mendapat sedikitpun apresiasi. Light memilih untuk bungkam dan menurut, tidak menguntungkan untuk melawan ayah dan saudara tirinya yang berjalan tepat di depannya untuk saat ini.
Dipimpin oleh Gilbert Lawrence, Jenderal Tertinggi Kekaisaran Corthia, empat orang menapaki karpet merah tebal menuju singgasana yang masih kosong tanpa seorangpun yang mendudukinya. Aula yang digunakan untuk audiensi sangatlah megah, dinding-dinding serta bingkai lukisan tidak ada yang luput dari balutan karat emas.
Para menteri, jenderal-jenderal kekaisaran, semua mata kelas berat negara tertuju kepada Keluarga Allain, pihak yang memiliki andil besar dalam peperangan.
Penunjukkan Count Allain sebagai penjaga sementara perbatasan utara dipastikan adalah langkah yang tepat setelah pemberontakan Renesse pada masa lampau, meski semua orang tahu jika Jade dan putra dari istri keduanya, Colin, hanya duduk manis menunggu kedatangan bala bantuan kekaisaran dimana pasukan utama berada.
Kaki Gilbert terhenti, begitupula ketiga orang di belakangnya. Serempak, masing-masing dari mereka berlutut, menarik kaki kanannya di depan serta menundukkan dalam kepala mereka.
Tap.
Tap.
Ksatria protokoler memberi tanda, tapak langkah beberapa orang terdengar dari salah satu sisi panggung singgasana. Karena ruangan yang begitu sunyi dalam suasana khidmat, suara sekecil apapun pasti akan dapat terdengar.
Ini dia.
Laki-laki paruh baya dengan rambut putih memasuki audiensi. Tubuhnya tinggi tegap, kulit wajahnya memiliki sebuah garis bekas luka yang berada di pipi kanannya. Sangat mengingatkan pada bangsawan agung yang memimpin sebuah perang dalam skala besar. Janggut tipisnya sangat menambah kewibawaan Sang Kaisar yang mengenakan jubah merah yang menyeret lantai.
Tepat satu langkah di belakang Sang Kaisar, wanita yang tampak berada dalam usia pertengahan tiga puluhan berjalan anggun, perangainya tidak dapat disandingkan sedikitpun bahkan kepada para wanita bangsawan tingkat atas.
Rambut merah panjang yang digerai, mata merah yang memancarkan aura intimidasi, senyum serta tatapan yang dia tampakkan benar-benar menganggap rendah semua orang yang berada di bawah panggung.
Kaisar Louis, Permaisuri Maria, pasangan yang dikatakan memegang kekuasaan lebih dari setengah dunia.
__ADS_1
Begitu kuatnya kekuatan yang dimiliki oleh Nouvelle, tidak ada seorangpun yang memiliki rencana bodoh untuk menjadikan keduanya sebagai boneka mereka.
"Angkat kepala kalian." Didampingi Maria yang berdiri di belakangnya, Louis telah duduk di atas singgasana, kepalanya mengadah dengan tatapan mata yang tertuju ke bawah.
Gilbert yang pertama, diikuti para anggota Allain. Berhadapan langsung dengan sang kaisar tidak memberikan satupun kesempatan untuk mengucap bahkan hanya satu patah kata. Telah diwariskan sedari zaman kaisar pada era terdahulu, setiap orang yang berlutut di hadapan Sang Kaisar hanya akan membuka mulutnya jika mereka telah diminta.
"Keberanian serta kerja keras Gilbert Lawrence sebagai komandan tertinggi serta Count Allain menahan serangan orang-orang barbar Arcadia telah memberikan kontribusi besar kepada keutuhan wilayah kekaisaran." Ksatria protokoler membaca lembaran perkamen bertinta khusus yang ia genggam dengan kedua tangannya, "Karena kontribusi serta hasil yang luar biasa sebagai ksatria yang ditunjuk untuk menumpas pasukan musuh, Yang Mulia begitu tersentuh atas loyalitas dan dedikasi yang telah kalian berikan kepada kekaisaran."
Kata-kata ksatria protokoler menggetarkan hati, beberapa kali kulit para pendengar gemetar menanggapinya. Akan tetapi, Light mengerti jika itu hanyalah sebuah kalimat tanpa isi.
"Untuk itu, kekaisaran akan memberi kompensasi sepadan dengan kontribusi yang telah kalian berikan."
Light tidak sedikitpun menghiraukan kalimat yang diucapkan oleh ksatria protokoler. Sorot matanya hanya tertuju kepada mata Louis yang memandangnya tanpa emosi.
Ada ketakutan yang hadir dalam benak, Light tidak dapat menyangkal keberadaan itu. Ekspresi Louis yang tidak sedikitpun dapat dibaca benar-benar membuat Light ingin menyudahi audiensi ini.
Pembagian hadiah sebagai bentuk apresiasi telah diumumkan. Gilbert sebagai komandan tertinggi mendapat hadiah paling besar, disusul oleh para perwira di bawahnya serta Count Allain sebagai penjaga perbatasan. Namun, karena sejak awal kekaisaran menganggap remeh perang ini, hadiah yang diumumkan tidak begitu besar seperti hadiah peperangan pada umumnya.
"Orang besar harus memahami kapasitas yang dia miliki agar dia tidak dianggap sebagai orang bodoh." Kalimat Louis merupakan hal yang luas, isinya begitu berbobot sebagai sebuah nasihat. Namun, semua orang tahu kata-kata itu ditujukan kepada Light Allain yang memiliki darah Renesse yang mengalir dalam nadinya, "Ingatlah hal ini jika kalian tidak ingin sejarah kelam kembali terulang di masa depan."
Hanya sepatah kalimat singkat, aura intimidasi luar biasa seketika menghantam Light hingga membuatnya terperosok jatuh dari sikap berlututnya. Intimidasi tersebut juga dirasakan oleh Jade dan Colin meski keduanya tidak berada pada tingkat yang sama dengan Light.
Louis memutuskan untuk menahan diri. Meski tidak menyenangkan tujuannya tidak berakhir sesuai apa yang telah dia prediksi, namun menyentuh Light yang saat ini memiliki nilai di tengah kalangan bangsawan sangatlah riskan.
Terlebih, Light sendiri bukanlah prioritas utama bagi Louis. Darah Renesse yang mengalir dalam nadi Light tidak lebih penting dari kepentingan lain yang diprioritaskan oleh kekaisaran.
Kaisar Louis adalah orang yang realistis. Benar bahwa Louis tidak menyukai Light karena dia merupakan keturunan Renesse, salah satu keluarga pendiri Corthia yang memberontak beberapa tahun lalu. Namun, Louis sendiri bukanlah orang bodoh yang akan mengerahkan banyak biaya dan usaha hanya untuk dendam pribadinya semata.
__ADS_1
Audiensi yang melelahkan berakhir dengan kepergian sang kaisar dan permaisurinya. Empat orang yang berlutut kini kembali tegak berdiri. Berduyun-duyun, para bangsawan dengan kepentingan mulai bergerak mendekati Jade dan Colin. Meski tidak resmi, titel bergengsi sebagai penyapu bersih Arcadia yang dimiliki oleh Keluarga Allain akan semakin menambah pengaruh kelompok yang berhasil merekrut Jade ke dalam barisan mereka.
"Apakah kau dendam kepadaku, Nak?" Bermaksud untuk melindungi dari serbuan para bangsawan, Gilbert menarik Light menjauh ke sudut aula dengan terkekeh.
"Tidak. Sejak awal, saya sama sekali tidak memiliki ambisi atas hadiah itu, Jenderal." Light menjawab sopan.
"Hou... begitukah?" Gilbert menyipitkan mata, menilai apakah Light mengatakan isi hatinya. Menemukan Light tetap tersenyum tulus, Gilbert pada akhirnya menyerah, "Jadi, apa yang akan kamu lakukan setelah ini, Nak?"
"Mungkin, saya akan kembali ke rutinitas harian saya. Belajar dan membaca buku di sudut perpustakaan Akademi." Light merendah.
"Hm? Apakah kamu belum lulus?" Gilbert heran.
Seharusnya, di samping telah menginjak usia dewasa, komandan perang juga diharuskan untuk menyelesaikan studinya. Meski itu hanyalah sebuah formalitas, akan tetapi detail-detail kecil seperti itu sangat penting bagi penampilan rumah bangsawan.
Jika Light mati dan perbatasan dirampas oleh Arcadia, adalah hal yang pasti jika Count Allain akan disalahkan oleh para bangsawan lain karena ketidakbecusannya dalam menjaga wilayah dan mengirim komandan perang tanpa pengalaman yang bahkan belum lulus dari akademi.
Ini seperti dua sisi koin yang masing-masing memiliki akibat buruk bagi Jade karena dirinya mendapat perintah tersembunyi dari Kaisar untuk mengirim Light sebagai komandan perang.
"Belum, tapi saya akan." Light tersenyum ramah, berusaha sebisa mungkin untuk menghindari Gilbert. Bagaimanapun, Lawrence adalah rumah yang loyal kepada kekaisaran serta salah satu pendiri negara.
Kedekatannya dengan Gilbert memiliki resiko yang begitu besar untuk Light di masa depan.
"Begitu, semoga beruntung, Nak."
Gilbert pergi meninggalkan Light seorang diri. Melihat kepergian Gilbert, ada keinginan untuk memanggilnya kembali dan memintanya untuk menceritakan hal-hal mengenai sisi yang tidak diketahui Light tentang paman dan ibunya yang sebelumnya tidak pernah dia ungkapkan.
Akan tetapi, Light pada akhirnya mengurungkan niatnya. Dia berbalik, meninggalkan ruangan audiensi melewati pintu lain dan mengeksekusi rencana yang dia telah buat selama beberapa hari terakhir perjalanannya menuju ibukota.
__ADS_1
"Kau juga, Jenderal."
......................