
JRASH!
BLAR!
BLAR!
BLAR!
Light menghindari puluhan serangan sihir yang tertuju kepadanya secara langsung sembari menebas beberapa musuh yang ia lewati.
Light berbeda dengan para bangsawan lain. Kekuatan sihirnya terlampau kecil, kapasitas mana yang ia miliki juga tidak sebesar para bangsawan seusianya.
Light sadar apabila dirinya lemah. Fakta bahwa ia dikalahkan dalam aktivasi sihir berskala besar oleh adiknya yang berusia dua tahun lebih muda tentu sangat memalukan dan membuatnya frustasi pada awalnya.
Di tengah kesibukannya saat menghadiri kelas akademi, Light memiliki banyak waktu kosong karena pengucilannya. Tempat-tempat yang tidak terlalu ramai seperti perpustakaan serta ruang-ruang kosong akademi menjadi tujuan pelariannya saat dia tidak memiliki jadwal kelas.
Light menghabiskan waktunya untuk mencari solusi atas kelemahannya. Sangat mustahil apabila ia memaksakan diri untuk memperkuat sihir atau bahkan menambah kuantitas mananya. Sudah menjadi suatu ketetapan apabila sihir hanya ditentukan oleh faktor genetik serta perkembangan tubuhnya.
Sebagian kecil guru akademi memberi rasa iba kepada Light, bahkan beberapa diantara mereka telah mencari penyebab serta solusi atas permasalahan yang Light hadapi secara sembunyi-sembunyi karena mereka tidak ingin menarik kemarahan para royalti. Tetap saja, hasilnya berakhir nol.
Light harus puas dengan kemampuannya yang berada jauh di bawah anak-anak bangsawan lain.
Akan tetapi, sebuah buku kuno yang dia temukan di sudut rak lusuh di salah satu toko buku tua ibukota kekaisaran telah menarik minatnya. Sebuah logika yang tidak pernah terpikirkan olehnya telah mencerahkan kembali pemahamannya tentang sihir.
"Jika kamu hanya memiliki sihir dalam jumlah kecil, dibandingkan dengan mencari kuantitas yang mustahil untuk diraih, lantas mengapa kamu tidak memaksimalkan kualitas sihir yang telah kamu miliki saat ini?" atau gambaran seperti itulah yang memperbaharui pemikiran Light mengenai pelatihan sihir.
Dengan bilah pedang yang teraliri oleh mana yang berwarna kebiruan, Light menerjang penuh kepercayaan diri.
"Heaaa!"
Beberapa tembakan sihir terarah secara pasti. Light melompat dari kuda sembari mengangkat tangan kirinya seolah ingin menghalau sihir-sihir yang tertuju langsung kepadanya.
Tangan kiri Light seketika diselimuti aura kebiruan. Kumpulan mana itu seketika menyebar, menghalau dan menangkap tembakan yang mustahil untuk Light hindari.
BLAR!
BLAR!
__ADS_1
BLAR!
Beberapa tembakan yang terarah kepadanya terpantul, seketika menghancurkan area sekitar tanah yang baru saja Light lewati. Beberapa yang lain seketika pupus, seperti dimakan oleh mana yang Light sebarkan.
Para penyihir serta para prajurit Arcadia sejenak terdiam karena keterkejutan yang luar biasa atas apa yang terjadi tepat di hadapan mereka, mereka benar-benar meragukan apa yang ditangkap oleh indera penglihatan yang masing-masing mereka miliki.
Aliran mana yang melayang di sekeliling Light seketika menyebarkan bulatan-bulatan hitam yang sangat aneh. Tentara Arcadia merasa asing terhadap pemandangan yang tidak pernah mereka temui.
Sangat terlambat, bulatan-bulatan hitam yang mengambang di dalam aliran mana itu seketika terproyeksi menjadi mana yang terkompresi sangat padat. Masing-masing melesat menuju barisan Tentara Arcadia bak serangan proyektil.
Sheesshh!
Sheesshh!
Terdengar seperti suara angin yang membelah. Hampir kurang dari satu persekian detik, tubuh musuh-musuh Light seketika dipenuhi lubang-lubang aneh.
Kulit mereka terbakar, hati dan ginjal mereka seketika terhenti. Demikian dengan jantung-jantung para prajurit Arcadia yang malang, berlubang akibat tembakan-tembakan mana terkompresi yang bahkan dapat menembus bersih zirah-zirah yang mereka kenakan.
"Gyaaaa!"
"Aaaaaa!"
Beberapa prajurit masih hidup, meronta akan pertolongan dari rekan di dekatnya. Beberapa yang lain terpanggang, kulit mereka terkoyak oleh api yang melalap.
Tidak ada seorangpun yang mempedulikan nasib para prajurit Arcadia yang tidak mampu menggunakan sihir. Rekan-rekan mereka berlarian, pergi demi nyawanya yang paling berharga.
Tidak lagi terpikirkan banyaknya harta benda, rampasan perang yang telah secara nyata dijanjikan kepada mereka. Masing-masing hanya peduli atas keselamatan diri di tengah serangan yang mustahil untuk mereka lihat.
JRASH!
JRASH!
Light tidak lagi peduli, baik itu hukum ataupun kejahatan perang, baik itu musuh yang berada dalam keadaan baik maupun yang sedang sekarat, serta hewan-hewan yang menjadi tunggangan mereka, semua ditebas tanpa pandang bulu. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, memberikan serangan kilat kepada Arrend dan segera bertolak untuk mundur. Hanya itu yang menjadi kunci kesuksesan operasinya.
Sebesar itulah perbedaan kekuatan seorang bangsawan sejati dan para penyihir dari kalangan ksatria serta para rakyat jelata yang sama sekali tidak dapat menggunakan sihir.
Termasuk Arrend, para perwira yang berasal dari kalangan bangsawan Kerajaan Arcadia telah memberi atensi kepada Light. Tidak pernah terpikirkan oleh satupun perwira dari pasukan Arcadia jika Corthia memiliki sekelompok orang gila dan barbar yang tidak peduli dengan nyawa mereka sendiri.
__ADS_1
"Siapa? Apakah dia berasal dari Corthia?" Kegelapan malam yang diliputi suasana kemerahan dari angkasa menyebabkan Arrend tidak menyadari bila penyerang adalah Kelompok Light.
Para perwira bawahannya ragu, "Kami tidak yakin, Komandan. Situasi terlalu kacau sehingga kami tidak dapat mengidentifikasi penyerang."
Saat memeriksa kondisi medan peperangan, Arrend merasakan beberapa keganjilan. Arrend memiliki ingatan yang baik jika itu menyangkut medan perbatasan.
Namun, keberadaan sungai yang berada di balik benteng telah menghilang. Meski bertahun-tahun terakhir Arrend tidaklah menginjakkan kaki di daerah perbatasan Arcadia dan Corthia, dia tidak berpikir jika Sungai Rhine akan surut dan menghilang.
Bahkan jika Sungai Rhine telah surut, seharusnya masih terdapat cekungan lebar dimana air melewatinya. Terlebih, saat dia mengirimkan pasukan pengintai untuk memeriksa kondisi sekitar, tidak ada satupun diantara kelompok tersebut yang telah kembali.
Hal ini membuat Arrend ragu untuk melakukan penyerangan dalam skala penuh. Meski emosi Arrend telah tersulut, namun dia tetaplah seorang jenderal yang bertanggung jawab penuh atas seluruh pasukannya.
Bukanlah merupakan suatu kerugian jika Arrend bermain aman dengan memutuskan untuk menembakkan serangan jarak jauh sembari menunggu mereka menyerah karena persediaan makanan yang tidak lagi cukup untuk memenuhi perut-perut tentara Corthia.
Arrend merasakan ketidakwajaran terhadap kelompok penyerang. Bahkan jika dilaporkan sebagai kelompok, Arrend hanya dapat merasakan sejumlah kecil sihir yang berasal dari satu orang saja.
"Menarik." Arrend mengangkat mulutnya untuk tersenyum, terkekeh karena sudah sangat lama tidak berjumpa dengan orang-orang gila di medan peperangan.
"Cartias, bukankah kau sedang mencari lawan yang kuat?!" Arrend memanggil perwira muda di belakangnya.
"Hah?!" Laki-laki berperawakan besar dengan rambut pirang yang tumbuh meninggi keluar dari barisan dengan menunggang kuda perang, "Apa yang baru saja kau katakan, Jenderal?!"
"Kalahkan orang gila itu! Aku akan mengakuimu sebagai penerusku hanya jika kau bisa mengalahkannya!"
Teriakan Arrend menggunggah api dalam benak Cartias. Diharapkan oleh banyak orang untuk menjadi penerus Arrend, Cartias adalah seorang jenderal berkemampuan khusus yang belum pernah dikalahkan selama dia berperang.
Cartias melompat turun dari kuda perangnya. Para perwira dan penyihir yang berada di sekitar seketika memberi ruang.
Pupil kuning kedua mata itu masing-masing mengerucut. Tubuh Cartias seketika membesar, melepaskan segala zirah yang menempel erat pada tubuh besarnya.
Saat kaki Cartias menapak tanah, itu tidaklah tampak seperti kaki manusia pada umumnya, melainkan tampak seperti binatang kasta teratas yang menguasai hutan pedalaman.
Krraahh!
"Jangan pernah menarik kembali kata-kata yang sudah kau ucapkan, Pak Tua."
......................
__ADS_1