Curved Irregular

Curved Irregular
Chapter 19 : Senjata Terakhir


__ADS_3

"Apa ini?"


Sesaat sebelum melangkah keluar, Light menemukan sesuatu yang menarik minatnya. Light mengambil silinder itu, memperhatikannya dengan seksama dan beberapa kali membolak-balik benda itu agar dapat mengetahui detailnya lebih baik.


Tabung itu berbentuk silindris segi enam, memiliki warna keabu-abuan dengan sisi-sisi bergaris hitam. Terukir di salah satu sisi tulisan kuno yang tidak sedikitpun dapat Light mengerti.


"Pernahkah kamu mendengar cerita tentang bagaimana perang besar pada masa lalu terjadi, Nak?"


Tatapan nenek tua tersorot tajam, bagaimanapun saat ini dia terlihat tidak bermain-main.


"Ya, meski itu hanya berasal dari buku." Light merasakan keanehan yang tidak pada tempatnya. Perlahan, dia mengembalikan silinder itu di atas tumpukan buku dimana sebelumnya benda itu terselip.


"Ada berbagai cerita mitos yang tidak masuk akal di dalamnya. Termasuk tentang 6 senjata ilahi yang diceritakan secara turun-temurun."


"6? Bukankah itu hanya 5?" Kerutan tampak di atas kening Light, "Aku sudah membaca banyak literatur, semua dari bahan yang kubaca hanya menyebutkan 4 pedang dan satu tombak. Excalibur, Clarent, Claiomh Solais, Durandal, dan Holy Spear of Longinus."


"Namun, semua senjata itu sudah hancur pada saat terjadinya perang besar ratusan tahun yang lalu."


Light melengkapi kata-katanya, dia sangat yakin apa yang dia yakini adalah hal yang benar. Namun, nenek di depannya kembali tersenyum, seolah menunjukkan bahwa pengetahuan yang Light miliki sangat pendek.


"Dari semua senjata ilahi itu, bagaimana mereka semua bisa dihancurkan?"


Mulut Light membisu. Ada hal penting yang lolos dari nalar cara berpikirnya. Pertanyaan nenek pemilik toko di depannya membuat Light kembali merenung.


"Senjata ilahi hanya dapat dihancurkan oleh senjata ilahi yang lain. Itulah alasan mengapa terdapat enam senjata legendaris di dunia ini. Akan tetapi, sama sekali tidak ada yang mengetahui keberadaan senjata terakhir serta bagaimana cara senjata-senjata ilahi lain dihancurkan. Bukti historis hanya mencatat jika orang-orang pada saat itu hanya melihat kelima pecahan senjata tersebut dan masing-masing telah kehilangan keilahiannya."


"Apa alasanmu mengatakan semua itu kepadaku, Nek?" Ada ketidakwajaran yang dirasakan Light. Sesaat setelah ia menemukan dan mengamati tabung silindris yang dia temukan, entah mengapa nenek itu secara tiba-tiba mengubah sikapnya secara drastis.


Nenek itu hanya tersenyum, entah bagaimana senyuman yang dia tampakkan membuat Light semakin merasa jengkel.


"Anggaplah cerita ini sebagai bentuk pelayananku terhadap pelanggan. Lagipula, kita mungkin tidak akan pernah bertemu lagi."


"Oh..." Light memasang senyuman keterpaksaan, kerutan besar juga terlihat di wajahnya, "Setelah berhasil memerasku, ternyata kau berani juga mengatakan omong kosong seperti itu."


Light pun beranjak pergi, namun sesaat sebelum dia memegang kenop pintu—


"Bawalah silinder itu jika kamu tertarik, Nak."


"Ya! Aku akan mengambilnya! Terima kasih banyak!" Silinder yang telah Light letakkan di atas tumpukan buku dengan cepat disambar, Light memasukkannya ke dalam kantung bajunya dan bergegas meninggalkan toko.

__ADS_1


BRAK!


Light menutup pintu dengan keras, membunyikan lonceng dengan sangat keras karena terdorong dengan kekuatan yang berlebih.


Nenek misterius itu kembali tersenyum. Perlahan, kulit putihnya yang keriput kembali menjadi kencang. Bau busuk menyengat dari tubuhnya perlahan memudar, terganti oleh semerbak bau harum yang bahkan dapat memenuhi ruangan.


Rambut putih yang dibalut tudung kembali menghitam. Kain hitam penghalang yang menutupi kedua matanya perlahan juga terlepas, menampakkan mata merah yang memancarkan sebuah garis putih berupa mana yang terkonsentrasi tinggi yang bahkan dapat dilihat oleh mata telanjang.


"Sungguh menyenangkan menggoda anak keturunan kita sendiri, bukankah begitu, Sayang?"


Nenek tua—yang telah berubah menjadi wanita dewasa dengan kisaran usia pertengahan 30 tahunan seolah mengatakan sesuatu kepada peti mati bertanda salib yang berada tepat di sampingnya.


Memandang pintu dimana Light menutupnya dengan sangat kasar, wanita dewasa yang dikenal sebagai salah satu pendiri serta permaisuri pertama kekaisaran tersebut mengharap, "Manfaatkanlah senjata ilahi ke-6 itu dengan baik, Light. Karena apabila kau salah dalam menggunakannya, silinder itu mungkin dapat menghancurkan dunia."


Suasana begitu sunyi. Light telah menjauh beberapa ratus meter dari gang dimana toko misterius itu berada, namun dia tidak bertemu dengan siapapun.


"Ah, benar. Aku baru menyadari jika aku berada di tempat seperti ini." Lingkungan kumuh, dalam perjalanan kemari, Light mendapati beberapa anak jalanan serta para gelandangan tidak bertempat tinggal.


Sangat wajar apabila daerah ini merupakan daerah dengan kriminalitas yang sangat tinggi.


"Apa kau tersesat, Nak?" Beberapa preman datang dan melihat Light sebagai mangsa.


Helaan napas berat itu keluar. Bagaimanapun, Light tidak berpikir jika para berandalan akan mendatanginya tepat setelah dia teringat dengan adanya kemungkinan pertemuan dengan mereka.


Jika mereka telah menandai Light sejak dia masuk ke distrik kumuh ini, itu wajar apabila mereka langsung menyerang tepat setelah Light keluar dari gang tersebut. Selain karena Light yang datang tanpa pengawalan, dia juga tidak terlihat kuat seperti bangsawan pada umumnya.


Beberapa alasan tersebut sangat cukup untuk mendasari mereka melancarkan serangan.


"Sebelum itu, aku ingin bertanya kepada kalian." Light sama sekali tidak terlihat terintimidasi, gelagat tubuhnya juga tidak menampakkan tanda-tanda takut ataupun gemetaran.


"Hah?" Salah satu preman mengangkat alisnya.


"Berani juga kau, Nak."


Keenam preman sejenak menjaga jarak, niat mereka yang sebelumnya hanya menghajar Light hingga babak belur dan merampas semua yang dia miliki, berubah menjadi pembunuhan bagi Light. Bagi mereka, itu sepadan sebagai kompensasi jawaban atas pertanyaan yang Light ajukan.


Light menunjuk gang kumuh yang gelap dimana dia baru saja keluar, "Siapa pemilik toko kumuh yang ada di dalam gang itu?"


"Hm?" Beberapa preman saling memandang, tidak ada yang mengetahui adanya toko kumuh yang buka di dalam gang tersebut.

__ADS_1


"Apa yang kau maksud, Nak? Sama sekali tidak ada apapun di sana."


"Jika kau ingin tahu, ujung gang itu adalah tempat kami bersenang-senang."


Para preman mengeluarkan senjata yang mereka miliki. Pedang pendek, pisau, sabit, semua dari mereka membentuk formasi untuk mengelilingi Light dari segala arah.


"Begitu." Light menghela napas berat, bagaimanapun kelelahan tubuhnya yang terakumulasi meminta kedua matanya untuk segera terlelap, "Jika kalian menarik senjata kalian kembali, aku akan menganggap jika kejadian ini tidak pernah terjadi."


Para preman saling memandang, mereka hanya menghargai ucapan Light sebagai bahan candaan.


"Dalam mimpimu, Nak!"


Semua orang dari segala sisi menerjang. Masing-masing menodongkan bilah tajam senjata mereka. Keinginan terpendam masing-masing dari mereka menjerit, semuanya berhasrat untuk melihat bagaimana anak laki-laki di depannya tunduk patuh dan memohon ampun.


"Eh?"


Akan tetapi, hal itu tidak akan pernah terjadi. Dua bandit yang saling berseberangan merasakan keanehan pada tubuh mereka. Kecepatan Light tidak dapat mereka ikuti, pandangan dua kepala bandit seketika telah menjauh dari letak dimana leher mereka sebelumnya berada.


Sebesar itulah perbedaan kekuatan seorang bangsawan berdarah murni dengan beberapa orang biasa yang cukup terlatih. Meski Light tidak mampu untuk merapal sihir dengan kekuatan aslinya, bagaimanapun Light tetaplah seorang bangsawan yang memiliki mana.


Keempat preman lain mundur dan menjaga jarak. Gerakan Light sama sekali tidak dapat mereka lihat. Satu hal yang pasti, hanya kurang dari sepersekian detik, secara tiba-tiba Light telah menghunuskan pedang lusuh yang memiliki aliran sihir pada bilahnya yang berkarat.


"Ah, benar. Bukankah salah satu dari kalian tadi berteriak bila gang yang baru saja aku masuki adalah tempat kalian bersenang-senang?"


Light melangkah mendekat sedikit demi sedikit, bersamaan dengan itu para preman juga melangkah mundur.


"Ti—tidak! Aku tidak pernah mengatakan—eh?"


Hanya satu orang tersisa, Light telah menandai preman dengan kesombongan terbesar.


"Tunggu! Tolong! Tungg—Aaaaarrrgghh!"


Kaki yang melangkah mundur itu tertebas. Aliran mana Light membuat bilah pedang menjadi semakin tajam. Tetap saja, kaki tersebut tidaklah terpotong secara bersih, pada potongan tebasannya terdapat bekas-bekas kehitaman yang merupakan serpihan karat.


"Ti—tidak... tunggu... tolong jangan lakukan... Aaaaarrgghh!"


Mata coklat preman terpantul bayangan biru. Tepat di depan matanya, sebuah pedang berkarat segera menghujam langsung menuju kepalanya.


Light mengambil kerah jasad preman tercongkak itu dan menyeretnya ke dalam gang. Teriakan keras preman tersebut sama sekali tidak sedikitpun memberinya manfaat. Ajal segera menjemput, preman tersebut menyesali tindakannya dimana dia melihat target buruannya hanya dari penampilan yang dia miliki.

__ADS_1


......................


__ADS_2