Curved Irregular

Curved Irregular
Chapter 18 : Toko Misterius


__ADS_3

"Sial."


Malam telah semakin larut. Light hingga kini belum kunjung menemukan toko perlengkapan senjata yang masih tersedia untuk menerima pelanggan.


Mengunjungi guild petualang tentu bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Selain posisinya yang masih merupakan siswa Akademi, akan sangat mencurigakan bagi seorang anak laki-laki untuk membeli sebuah senjata pada malam hari.


Ini lebih untuk menjaga nama baik serta martabat yang Light miliki. Sebenarnya, semua tindakan Light memiliki dampak yang sangat besar kepada nama rumahnya. Karena itu, Light benar-benar menjaga sikap dan berusaha untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak perlu.


"Hmm?"


Beberapa saat mencari, Light menemukan cahaya aneh yang berasal dari gang kumuh di salah satu sudut distrik. Situasi sangat sepi, kewaspadaan Light meningkat karena dia berpikir jika dia telah memasuki kawasan dengan angka kriminalitas tinggi.


Bertentangan dengan harapan, pencahayaan itu berasal dari lentera sihir yang menyala tepat di atas toko kecil dalam gang. Tidak hanya terlihat mencurigakan, namun orang-orang akan berpikir jika toko tersebut menjual barang-barang ilegal.


Light sudah menyerah kepada toko senjata, dia tidak berpikir melakukan pencarian lebih lanjut akan membuahkan hasil.


Krring!


Bunyi lonceng menyambut datangnya Light ke dalam toko. Interior sangat berantakan, barang-barang seperti buku-buku serta beberapa guci ditempatkan secara asal-asalan.


Bau dupa yang khas juga sejenak membuat Light menyumbat hidungnya. Perubahan drastis udara luar dan bau dupa sama sekali tidak membuat Light nyaman.


Light memiliki keinginan untuk segera menyelesaikan bisnisnya. Namun, toko itu kosong, sama sekali tidak terlihat keberadaan orang yang bertanggung jawab.


"Apa ini?" Light menuju sudut ruangan, terletak sebuah guci besar yang di dalamnya diletakkan beberapa pedang dan tombak lusuh.


Light mengambil salah satu pedang yang terkesan paling lusuh dan memeriksanya dengan seksama.


"10 perak, akan kujual itu kepadamu."


"Gyaaaa!"


Sama sekali tidak memiliki tanda kehadiran, kata-kata nenek tua penjaga toko menyebabkan Light melompat kaget.


"J—jangan mengagetkanku!" Light tanpa sadar berteriak.


Di balik tumpukan buku yang memiliki ketinggian setengah badan manusia, nenek tua bertudung muncul dan memperhatikan Light.


Matanya ditutup kain, kulitnya terlihat begitu keriput seperti telah menginjak usia lebih dari 100 tahun. Akan tetapi, terdapat aroma busuk yang tercium darinya. Jika Light tidak mampu menahan dirinya, mungkin dia akan memuntahkan isi perutnya.


Nenek tua itu sama sekali mengabaikan kata-kata Light, "Lagipula, apa yang sedang kau butuhkan sekarang? Aku tahu kamu mendatangi tempat ini pasti dalam keadaan terpojok."

__ADS_1


Senyuman nenek itu terasa sedikit menyebalkan bagi Light, "Aku membutuhkan pedang, tidak masalah jika kualitasnya biasa saja."


Nenek tua itu menunjuk ke arah dimana guci besar dimana Light baru saja mengambil pedang beberapa saat lalu dengan dagunya, "Aku tidak memiliki senjata yang bagus, jadi pilihlah sendiri di guci itu. Semua itu adalah senjata yang kumiliki."


"Hmm." Hanya sekilas Light memeriksa berbagai senjata yang ditempatkan dalam guci, akan tetapi karena tidak merasa semua dari senjata itu memiliki perbedaan, Light pada akhirnya memilih pedang lusuh yang saat ini sedang dia genggam, "Kalau begitu, aku ambil ini."


"Aku berubah pikiran. Aku akan menjual pedang itu jika kau membeli beberapa ramuanku yang lain."


"Tunggu!" Keterkejutan terlukis di atas wajah Light, "Bukankah kamu tadi hanya menawarkan pedang ini saja?!"


"Aku tetap berubah pikiran, Nak. Jika kau tidak menginginkannya, letakkan kembali pedang itu dan carilah toko lain."


Tingkah nenek itu membuat Light menjadi kesal. Tidak hanya bau busuknya yang menyengat, suasana interior toko benar-benar sangat tidak sehat dan tidak menyenangkan untuk ditinggali.


"Kalau begitu, aku akan mengambil pedang—" Light kembali meletakkan pedang yang dia genggam ke dalam guci dan berniat untuk memilih pedang lain.


Dia menyangka jika nenek itu mungkin berubah pikiran apabila dia membeli pedang yang lain... atau tidak.


"Sekarang, aku tidak ingin menjual senjata selain pedang yang baru saja kau pegang, Nak." Nenek penjual misterius tersenyum merendahkan.


"Hah... hah..." Menghirup napas dalam, Light berusaha untuk menenangkan hatinya dan membuat senyuman ramah, "Ya, baiklah. Aku akan membeli satu botol ramuan—"


"Hah... baiklah..." Light kembali menenangkan dirinya setelah amarahnya hampir memuncak, "Satu pedang dan tiga botol ramuan. Aku hanya akan membeli itu."


Sebuah senyuman pun terbentuk, nenek misterius itu mengambil beberapa botol transparan yang setiap dari mereka memiliki isi mengerikan. Masing-masing memiliki warna ungu pekat yang sangat kental, botol lainnya berisi cairan hijau encer, dan beberapa warna yang tidak menyenangkan lain.


Dari semua itu, mungkin yang paling aneh adalah botol yang menyimpan sesuatu berwarna putih.


"Apa itu?" Light menyipitkan matanya terhadap botol terakhir yang berisi serbuk putih di dalamnya.


"Narkotika."


"K—ka—kau—"


"Nak, peredaran barang ini di pasar gelap sangat lumrah. Apakah kau adalah seorang anak rumahan yang tidak pernah melihat barang-barang seperti ini?"


Nenek itu kembali menyudutkan Light, dia tersenyum mengejek yang membuat Light semakin kesal.


Tentu, kehilangan diri karena amarah di sini bukanlah hal yang menguntungkan. Light berusaha untuk tetap tenang, mengambil napas untuk mengembalikan ketenangan diri, "Baiklah, terserah. Beri aku rekomendasimu."


Nenek misterius itu kembali tersenyum, dia meletakkan botol berisi cairan ungu kental di depan Light. Secara terurut, nenek itu meletakkan dua botol lain yang masing-masing berisi cairan merah pekat serta cairan berwarna biru yang terlihat encer.

__ADS_1


"Masing-masing berisi miasma cair, darah hewan iblis yang diawetkan, dan katalis mana—"


"Cukup, aku sudah tahu kegunaan semua itu." Light mengadahkan tangan dan membuka kelima jarinya agar nenek itu berhenti.


"Betapa mengesankan." Bagaimanapun, nenek itu kagum dengan wawasan yang Light miliki. Sangat jarang seorang pemuda mengetahui dampak bahaya penggunaan barang-barang tersebut terkecuali dia adalah anggota salah satu keluarga bergengsi kekaisaran.


Nenek misterius kembali memasukkan botol-botol itu ke dalam lemari penyimpanan, meninggalkan botol-botol yang akan Light beli di atas tumpukan buku-buku lapuk.


"Berapa?"


"20 emas kiris."


"K—kau berniat merampokku, Nek?!"


"Hm? Apa yang kau katakan?" Nenek itu heran dengan keterkejutan Light. Itu wajar mengingat Light yang sama sekali tidak pernah berhubungan dengan barang-barang tersebut, "Harga yang kuberikan untukmu berada di bawah harga pasar, tahu."


"Aku hanya memiliki—" Sejenak, ucapan Light terhenti. Jika dia jujur mengenai jumlah uang yang dia miliki, nenek yang sedang tersenyum di hadapannya pasti akan menguras habis semua uang yang dia miliki.


Jadi, Light memutuskan untuk berbohong, "Lima emas kiris di kantongku."


"Jangan berbohong, Nak." Meski ditutupi oleh ban hitam, nenek itu menyipitkan kedua matanya, "Aku tahu kau sebenarnya memiliki lebih dari itu."


"Baik! Kau menang! Aku punya 7 emas kiris di kantongku! Jadi cepatlah berikan aku barang-barang yang senilai!"


"Orang miskin." Tidak sesuai dengan harapan, nenek penjual bergumam sebal sembari menunjukkan ekspresi tidak menyenangkan. Dia mengambil cairan berwarna ungu dan biru lalu meletakkan keduanya di dalam almari khusus.


Nenek itu mengambil kembali bubuk putih yang sebelumnya dia masukkan ke almari dan menyodorkannya kepada Light dengan botol berisi darah monster dan pedang lusuh yang ingin Light beli, "Tujuh emas kiris."


"Meskipun aku sudah tahu jika kau ingin membuatku bangkrut... aku tidak menyangka kau juga ingin aku mati, Nek..."


Salah satu kelopak mata Light berkedut. Dia kagum terhadap ketidakpedulian nenek laknat di depannya dengan seseorang yang memiliki usia yang terpaut jauh lebih muda darinya.


"Kuberikan sebuah nasihat untukmu, Nak."


"Apa... itu?"


"Tipulah orang lain sebelum mereka berhasil menipumu."


Kedua mata Light terbuka lebar, dia tidak pernah berpikir jika nenek tersebut akan memberinya nasihat seperti itu. Akan tetapi, Light merasa bahwa nasihat nenek tersebut bagaimanapun juga sedikit bermanfaat untuknya.


......................

__ADS_1


__ADS_2