Curved Irregular

Curved Irregular
Chapter 14 : Terpendam


__ADS_3

BLAAR!


Batu besar dengan tinggi hampir dua kali lipat rata-rata manusia seketika hancur lebur. Tidak hanya Light, bahkan Abigail juga memiliki mata yang membulat, terkejut karena tidak menyangka apabila kekuatan baru yang Light miliki memiliki dampak hingga sebesar itu.


Lebih dari sepuluh pekan telah berlalu semenjak Light kembali tersadar. Salju putih telah menguap, menghilang bersamaan dengan udara yang memanas dalam beberapa hari terakhir.


Hampir tiga bulan lamanya Light telah mengeksplorasi kemampuan yang ia dapatkan. Pada awalnya, tidaklah mudah untuk berlatih karena Light akan jatuh pingsan setiap kali dia menggunakan sirkuit yang Jormungand berikan.


Karena memiliki kendala dalam hal itu, Light memperbaiki kesalahan pelatihannya. Dia tidak serta merta langsung menggunakan kemampuan tersebut, akan tetapi Light mengawalinya dari proses merasakan mana terlebih dahulu.


Light juga meminta bantuan pengawasan kepada Abigail jika saja sesuatu terjadi kepadanya karena dia merupakan satu-satunya saksi mata yang telah melihat kemampuannya. Dia mengurungkan niat untuk mengatakan kebenarannya kepada siapapun—termasuk Eld dan Gennes—karena Light tidak menginginkan keberadaan mereka dalam bahaya jika saja bala bantuan kekaisaran yang akan tiba dalam beberapa hari ke depan merasakan sebuah kejanggalan.


Menjalani pelatihan dengan Abigail sebagai pengawas, keduanya berakhir di tempat kejadian mereka bertarung melawan Arcadia beberapa bulan yang lalu.


Light memiliki perbedaan persepsi dengan para naga jika itu menyangkut jenis mana yang digunakan. Berbeda dengan para naga yang menganggap apabila mana yang tersebar merupakan mana netral, Light berpendapat jika mana yang sebenarnya mereka gunakan adalah "Eternal Mana," jenis mana yang menjadi asal muasal segala jenis mana yang mengalir dalam nadi bersamaan dengan darah makhluk hidup.


Tentu saja, mana itu bersifat netral seperti apa yang dikatakan oleh para naga.


Jika seseorang menggunakan banyak sihir dalam waktu singkat, orang itu mungkin akan menderita gejala kehabisan mana atau Mana Exhausted, gejala yang pada umumnya ditandai dengan jatuh pingsannya seorang pengguna sihir.


Pada saat pengguna sihir beristirahat, tubuhnya akan menyerap Eternal Mana dari sekitarnya dan mempengaruhi mana tersebut sehingga memiliki "warna" seperti pemiliknya.


Teori sihir pada zaman ini bahkan belum dapat menjelaskan alasan pemulihan jumlah mana jika seorang penyihir beristirahat.


"Tuanku." Sedikit pulih dari keterkejutannya, Abigail hendak memeriksa keadaan Light tepat setelah menggunakan kemampuan barunya.


"Tidak apa-apa, tubuhku tidak terlalu lelah seperti pada saat pertama kali aku menggunakan kemampuan ini." Light tersenyum masam kepada Abigail, dia berpikir pengetahuannya selangkah lebih maju bila dibandingkan dengan para professor sihir sebuah universitas.


"Begitu, aku turut senang mendengarnya." Abigail mengungkap kelegaannya, "Namun, seberapa jauh Anda dapat menggunakan kemampuan itu?"


"Hmm, ayo kita lihat." Mana menyebar dari telapak tangan Light, terbang meninggi dan menyatu dengan sekitar.


Ratusan lingkaran sihir terbentuk, berada tepat di atas Light hingga terlihat memenuhi langit.


Abigail, yang melihat pemandangan itu, sangat panik dan berusaha untuk menghentikan tindakan Light, "Tolong hentikan, Tuank—"


Peringatan itu datang terlambat. Hanya berlangsung kurang dari tiga detik, ratusan eternal mana telah terkonsentrasi, melesat menuju puing-puing benteng perbatasan yang kini hampir rata dengan tanah.


BLAR!

__ADS_1


BLAR!


BLAR!


Langit diwarnai merah, ledakan yang sangat dahsyat mengguncang bumi. Mungkin, para bawahan Light yang tinggal di pedalaman hutan merasakan gempa kecil yang disebabkan oleh Light.


Abigail menutup matanya, takut untuk mengetahui dampak yang akan terjadi.


Deru ledakan sudah tidak lagi terdengar. Perlahan namun pasti, Abigail dengan takut-takut melihat pemandangan di hadapannya, "Gila..."


Itu sudah diharapkan, kini tanah telah berlubang sangat dalam, jauh bertambah parah apabila dibandingkan keadaannya yang sebelumnya.


Abigail sangat yakin bila serangan eternal mana sangat mungkin untuk menghancurkan kapal terbesar yang dimiliki kekaisaran hanya dengan satu tembakan.


Bruk!


Light ambruk. Menoleh dan mendapati Light terbaring terlungkup, Abigail hanya dapat menghela napas seolah telah mengharapkannya, "Mengapa Anda mengerahkan seluruh kemampuan Anda, Tuanku?"


"Bukankah kamu ingin melihat seluruh kemampuanku?" Light terkekeh.


"Hah... Bukan itu yang aku maksudkan..." Abigail mengangkat Light dan menempatkannya di punggungnya, tidak lagi terhitung berapa banyak Abigail telah menggendong Light yang telah mendorong kemampuannya jauh melebihi batas.


"Kapan kalian akan pergi? Eld telah mengatakan kepadaku jika tentara kekaisaran akan tiba dalam dua atau tiga hari lagi." Dengan suara lemah, Light berkata dengan kepala yang tersandar tepat di atas bahu Abigail.


"Apakah kamu yakin dengan ini, Tuanku? Jika itu para bangsawan lain, mereka akan menggunakan para budak mereka sampai mati." Abigail terkekeh.


"Yah, aku sudah berjanji kepada kalian, bukan? Daripada itu, mengapa kau masih memanggilku dengan panggilan menggelikan itu?" Light merasa jijik.


"Karena Anda adalah satu-satunya tuan yang pernah memperlakukan kami, para budak, dengan baik," timpal Abigail.


Light tidak menjawab. Keduanya berada dalam keheningan untuk sementara waktu.


Hingga melewati pintu masuk hutan, Light memecah keheningan dengan nada yang terdengar sedikit berat, "Hei, kadal."


"Ya, Tuanku?" Abigail tidak menganggap itu sebagai hinaan. Baginya, panggilan rasis tersebut adalah bukti kedekatannya dengan Light.


"Kemana kalian akan berlabuh?" Light tahu jika Abigail, keluarganya, serta para budak yang hampir keseluruhan dari mereka adalah demi human, pasti akan meninggalkan benua.


Karena pengaruh kekaisaran yang menganut supermasi manusia begitu besar di benua ini, bukan tidak mungkin Abigail akan pergi ke Mothien, sebuah negara di benua lain yang tidak melihat demi human dan ras selain manusia dengan sebelah mata.

__ADS_1


"Kami masih belum mengetahuinya." Abigail menggeleng pelan, "Namun, kami pasti tidak akan memasukkan kerajaan iblis sebagai pertimbangan, meski kami tahu di negara tersebut ras kami dapat diterima dengan mudah."


"Ah, benar. Aku baru menyadari jika Lizardman termasuk salah satu dari famili iblis." Light teringat kembali dengan pengetahuan yang dia dapatkan di perpustakaan akademi.


"Haha." Abigail tertawa ringan sebagai tanggapan, "Mungkin saja, kami akan memilih untuk pergi menuju Mothien terlebih dahulu. Di sana, kami akan mempertimbangkan kembali apakah kami harus menetap atau pergi ke daerah lain."


"Begitu." Light tersenyum lega, "Aku senang mendengarnya."


Keduanya bercakap-cakap ringan hingga melihat desa yang kini menjadi tempat tinggal mereka penuh oleh asap yang mengepul. Para prajurit dan bawahan Light yang masih tersisa entah bagaimana telah menerima keberadaan mantan budak Light secara terbuka.


Mempersiapkan pesta untuk kepergian para mantan budak, suasana desa itu menjadi hidup. Demikian dengan perayaan musim semi, mereka memutuskan pesta itu harus berlangsung sangat meriah.


Abigail yang merasakan Light telah tertidur di punggungnya, hanya berpikir jika guncangan yang Light sebabkan beberapa waktu lalu mungkin tidak mencapai desa. Akan tetapi, mengingat kejadian tersebut, Abigail mengerti jika Light adalah sosok yang berbahaya.


Apa jadinya jika Light bergabung dengan Corthia dan bergerak untuk menguasai dunia?


Abigail bukan tidak mungkin untuk menangkat senjata melawannya. Terlebih lagi, jika mengingat kejadian hari itu, hanya kengerian yang hanya dapat Abigail bayangkan.


Entah apa yang telah dilakukan, baik itu membatasi atau mengunci sebagian kemampuannya, Abigail mengerti jika Light belum mengerahkan seluruh kemampuannya. Sangat berbeda jauh dengan hari itu dimana Light sedikit menunjukkan tanda-tanda keilaihan saat matanya memancarkan aura merah.


Sekujur tubuhnya gemetar, Abigail tidak akan pernah melupakan sosok itu, kehadiran yang muncul di balik retakan dimensi yang bahkan dewa naga sangat mewaspadainya.


Abigail mengepalkan erat tangan kanannya, yang masih bebas karena tidak menahan tubuh Light yang sedikit berat di punggungnya. Dia benar-benar berharap, seandainya dia terpaksa harus berhadapan melawan Corthia, dia tidak menginginkan jika di tengah-tengah mereka terdapat keberadaan Light yang hadir sebagai musuh.


Tidak hanya karena sebuah hutang budi, namun juga akibat ketakutan terpendam yang sebenarnya telah dia sadari sejak saat itu, saat dimana para naga menanam sesuatu yang dapat mengguncang dunia.


Terima kasih, Tuanku.


Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu, bahkan jika aku berbeda haluan denganmu.


Sungguh jika bukan karena hutang budi ini, aku pasti telah membunuhmu disaat kau lengah sejak rantai perbudakan terlepas dari leherku.


Aku yakin, bahkan untuk sebaik-baik individu, kamu adalah keberadaan yang tidak mereka inginkan.


*Karena sebenarnya...


Kamu sangat berbahaya untuk tetap dibiarkan hidup*.


......................

__ADS_1


__ADS_2