
" Kalian bisa ngak diem? " Nada kak Nadiya kembali di normalkan.
" Kalian itu harusnya malu Sama Anak kecil disini... mereka juga ikutembanyu tapi tidak ada kayak kita yang saling menyalahkan... malah mereka membuka suara agar kita bisa ambil keputusan bersama-sama... Firaa Lo juga!! Jangan mentang mentang Lo anak Kepala Yayasan trus Lo mau nindas semua orang dengan jabatan Ayah Lo.. ingat Fiiirrr.. Lo itu cuman Anaknya... sedangkan yang menjabat adalah Ayah Lo... Gue heran deh... kok kalian semua bisa ngasih contoh yang jelek ke Adek Adek disini... kalian nggak malu apah?!!! " Pungkas Kak Nadiya dengan suara yang pelan pelan.
Semua wajah wajah yang sedari tadi nampak tegang akan kegaduhan yang terjadi kini tertunduk sedih setelahendengar perkataan Kak Nadiya, teman teman kelasku pun ikut menundukkan kepala, kami semua sadar akan kesalahan kami. Jelas sekali saat ini Kak Nadiya sangat marah, namun ia tetap mencoba untuk berbicara secara baik baik.
" Tadi Aku dapat Kabar dari KepSek. katanya Anak itu saat ini pingsan... hikss.. " Seru kak Nadiya lalu menangis.
" Kalian tahu!!!! Anak itu pasti trauma karna kelalaian kita semua di sini!!!.. untung saja tadi Kevin dengan cepat menolongnya, Kalau tidak?!!!... Kalian disini seharusnya malu!!! Kalian tanpa sadar sudah membawa pengaruh buruk pada adik kelas kita!!! Hikkss... kalian.. hikss.. Kalian seharusnya kompak... Kita sama sama buat semua ini... jadi kita harus bersama-sama pula untuk mengambil tanggung jawab ini.... Hikss.. hikss... " Pungkas Kak Nadiya yang hanyut dalam tangisnya.
" Nad... Lo? Lo jangan nangiss dong... gu-gue kelepasan tadi... " Suara Kak Fira bergetar.
" Iyah gue tau kok " Jawab kak Nadiya berusaha untuk memberi senyumnya dalam tangis.
" Kak... Afika minta maaf.. Seharusnya Afika ngak usah berpikir begitu untuk kolamnya... " Sautku di belakang kak Nadiya.
" Ngak kok dek... ini kan ide kepsek kita.. dan kamu hanya menuangkan ide kreatif kamu... " Jawab kak Nadiya memegang pundakku.
" Iyah Ika... kamu malah pintar loh.. karna mau berekreasi sekreatif itu... di tambah lagi ide Putri soal papan di atasnya.. jadi seharusnya itu sudah cukup aman untuk anak-anak kecil... hanya saja kita kurang bertanggung jawab... " Saut kak Kiki di sampingku.
" Guys... gue minta maaf... Gue cuman kaget aja tiba tiba di tuduh... tadi itu gua mendadak lagi dapet jadi gue buru buru ganti Rok gue di kamar mandi.. maafin yah.. " Pungkas Kak Fira menatap wajah kami semua dengan tulus.
Permintaan maaf kak Fira terlihat tulus di matanya, namun tak ada satu pun yang menjawab pernyataan itu. Kami semua enggan dalam berucap, keheningan kbali terjadi di antara kami.
" Puut...maafin gue.. gue ngak nyangka bakalan semarah itu.. " Ucap kak Fira sambil memegang tangan Kak Putri.
" ...Em. ngk PP kok. " singkat Kak Putri lalu tersenyum.
" Set.. maafin Gue... gue salah... dan gue ngak mau lagi berkata kasar sama orang... pliss margin gue yah?.. " Lagu kak Fira yang kini tengah berdiri di depan kak Seto.
" Em!. " Dengung kak Seto dengan menganggukkan kepalanya sekali.
" Afika... maafin kak Fira yah.. Kaka juga ngak sadar kalo Kaka udah ngasih contoh yang buruk sama kamu.. dan juga Kaka minta maaf sama teman teman kamu.. karena Kaka sudah ngasih contoh yang jelek... " Lagi Kak Fira di depan kami.
" Hehe... jangan sungkan kak.. Afika ngakpp kok.. Afika bisa maklumin... " Pungkasku tersenyum manis agar suasana tidak semakin tegang.
Kak Fira akhirnya membalas dengan senyuman lalu berterima kasih pada kami semua yang sudah memaafkan.
" Udah sekarang kita kumpulin uang buat adik itu... hari ini kan kita ngak jajan... jadi bisa dong sisipin sedikit uang kalian buat adik ini.. " Usul Kak Putri dengan suara pelan.
" .... " Semua hening.
" Hm... " Kak Putri kembali tertunduk sedih.
" Gue adanya goban nih!!... " Saut salah satu OSIS lelaki di belakang sambil mengangkat uang.
Mendengar itu, kak Putri menganggakat wajahnya sambil tersenyum.
" Gue juga golek ceng... Gue adanya Goban doang yehh soalnya gue cuman bawa duit 100rebu... Kalo gue 20rebu yeh... nih...nih...nih...nih... " Saut-sautan seluruh teman teman sambil menyodorkan uang pada Kak Putri.
" Ini kak Afika adanya 10ribu... kalo Acha adanya 15ribu... Latifa juga! Latifa juga adanya 50ribu nih kak..nih kak.. nih kak.. nih kak... " Lagi saut kami lalu memberi sebagian uang kami pada Kak Putri.
Terlihat jelas senyum lebar dari wajah kak Putri, ia tampak senang dengan kekompakan kami, akhirnya insiden ini dapat kami lewati dengan baik meskipun sempat terjadi perdebatan di antara kami. Akan tetapi itulah yang mengajarkan kami untuk lebih dewasa dalam bertindak bukan?! 😊.
Intinya jika itu adalah tugas kelompok, maka apapun frekuensinya, apapun resikonya, mau tak mau tetap akan menjadi tanggung jawab bersama, bukan tanggung jawab secara individu.
3 hari kemudian....
Kini Uang yang telah terkumpul sudah mencapai Rp. 2.895.000,-. Jumlah itu kami kumpulkan dalam waktu 3 hari ini, dan sudah saatnya akan kami hantarkan ke rumah sakit. Sebab dari berita yang kami dengar, bahwa adik kecil itu masih di rawat rumah sakit untuk memulihkan tenaganya, juga sekalian memeriksa mentalnya, jangan sampai terjadi trauma mendalam akibat insiden itu.
Di Halaman sekolah...
" Baiklah... Ibu dan Bapak guru telah memutuskan.. bahwa perwakilan dari kalian ibu akan berikan pada Ketua OSIS, Wakil OSIS, Afika kelas 4a2, Latifa kelas 4a2, dan Juga ketua seksi keamanan... Lainnya tolong bereskan halaman belakang sekolah.. beri makan ikan... dll...setelah itu akan ada kejutan untuk kalian.. " Pungkas Bu KepSek di depan kami.
" Baikk buuuuu..... " Koor kami dibawah teriknya mentari.
" Untuk kalian berlima! selesai dari rumah sakit langsung saja datang ke sekolah! mengerti !!? " Lagi Bu Kepsek pada kami.
" Baik buuu... " Lagi koor kami.
Singkat cerita.
__ADS_1
Kami pun di hantarkan ke rumah sakit dengan menggunakan mobil salah satu Guru yang ikut menemani kunjungan kami. Tibanya di Rumah sakit, pertama-tama, Bu Werry akan meminta ijin pada resepsionis perawat di yang berjaga di depan. Setelah mendapatkan ijin untuk berkunjung, kami semua segera berjalan menuju kamar Melati biru.
" Itu Bu! itu ruangannya!! " Seru Kak Nadiya menunjuk papan di atas pintu.
Melati biru.
" Assalammualaikum.. permisi Bu... pak.... " Salam Bu Werry pada kedua orang tua tersebut.
Kedua orang itu tengah duduk di samping anaknya yang juga tengah bersenda gurau bersama mereka.
" Waalaikumsalam. Ehh Buu... mari masuk Bu... " Sapa hangat Ibu dari adik tersebut.
" Makasih Bu..anak anak sini masuk! " Pungkas Bu Werry lalu memanggil kami.
" Ada apa Bu? kok repot repot datang kemari? " Tanya Seorang bapak itu dengan sopan.
" Eh... begini Bu.. mohon maaf Karen kami secara mendadak datang kesini.. sebetulnya kedatangan saya disini.. hanya sekedar menemani anak anak murid saya Bu.. " Nada sopan itu terdengar sangat lantang.
" Oh begitu... Iyah ndk pp Bu.. Adek-adek? Ada apa nih repot repot kemari? Hahaha.. " Tanya Ibu itu dengan tertawa kecil.
" Eh gini Bu, Saya Nadiya, Ini Putri, ini Kevin Ini Afika, dan juga Latifa.. kami semua ini perwakilan dari anggota OSIS, Kami ingin bertanggung jawab atas kelalaian kami, jadi kami berinisiatif untuk mengumpulkan sedikit dana.. juga sedikit buah tangan yang sempat kami belikan buat adik disana.. " Pungkas Kak Nadiya dengan penuh hati hati.
Setelah mendengar itu, kedua wajah orang tua itu malah tertegun sambil sesekali saling bertatapan.
" Eh ini Bu... mohon di terima yah .. heheheh... aduh beratt banget... Latifa ngak kuat... tolong Bu di ambill... " Ucap Latifa dengan polos sambil membawa bingkisan itu pada kedua orang tua adik tersebut.
" Oh Iyah nak... hehhe.. kasihan berat yah... " Saut Ibunya sambil membelai wajah Latifa.
" Hehe Iyah.. Latifa ngak kuat... hehheh " Jawab Latifa dengan jujur.
" Haha .. kasihan.. makasih yah sayang... " Lagi ucap ibu tersebut.
" Eh ini juga Bu... mohon jangan di tolak Bu... kami semua hanya mampu memberi segini Bu.. kami ingin meminta maaf sebesar besarnya atas kelalaian kami.. lain kali kami akan lebih berhati-hati dalam tanggung jawab yang diberikan pada kami. Mohon Bu diterima... " Lanjut Kak Putri sembari menyodorkan amplop coklat persegi panjang.
" Aduh... jangan dek... ini hanya musiba..anak saya memang ceroboh.. sejak dulu sudah melakukan hal ceroboh kok.. jangan dek... kunjungan Adek Adek di sini saja sudah sangat membuat hati kami senang kok " Tolak Ibu tersebut.
Wajahnya tampak sekali ada rasa sungkan pada kami. Namun kami tetap meyakinkan mereka untuk tetap menerima bantuan kecil kami.
" Iyah Bu... mohon jangan di tolak.. mungkin isinya tidak seberapa tapi, hanya ini yang dapat anak anak kami kumpulkan Bu... mohon maaf atas kesalahan kami juga sebagi guru karena telah melalaikan kewaspadaan kami terhadap anak ibu.. " Lanjut Bu Werry bersuara.
Seketika suasananya mendadak hening dalam beberapa detik. Akhirnya Kedua ornag tua tersebut mau menerima bawaan kami untuk mereka.
" Mohon jangan dilihat dari isinya Bu...kami sungguh hanya mampu segitu saja.. " Lagi kak Putri menambahkan.
" Terima kasih banyak Adek-adek... makasih banyak anak-anak " Ucap Ibu itu dengan mata yang berkaca.
Entah apa yang telah di alami mereka sekeluarga, Aku yang menyaksikan moment ini hanya terpaku melihat kesedihan yang tidak terucapkan. Sedangkan anak kecil tersebut hanya terbaring tenang dengan selang oksigen yang masih terpasang di kedua lubang hidungnya. Selang infus yang panjang tengah menjulur menusuk tangan kecilnya, matanya begitu sayup saat menyaksikan kedatangan kami.
" Eh?.. Tante?.. A-Afika mau ke dedeknya boleh??? " Tanyaku ragu.
" Eh? " Kagetnya lalu tak lama kembali tersenyum.
" Tentu saja .. sini sayang... " Jawab ibu itu lalu menepuk sisi ranjang tempat anaknya terbaring.
Aku melompat dari tempat ku duduk, lalu berjalan pelan ke arah sisi ranjang yang ti tunjuk ibunya.
" Hup! " Duduk.
" Kamu ngak apa apa kan?? .. apakah kamu merasa takut sekarang? " Gumanku pada anak lelaki tersebut.
" Em.. " Ia mengangguk.
" Eh Bu, Pak... boleh bicara sebentar di luar... ini amanat dari KepSek kami.. " Seru Bu Werry pada kedua orang tuanya sambil tersenyum.
" Iyah boleh Bu.. mari " Jawab bapaknya.
Setelah itu ketiga orang dewasa itu berjalan keluar untuk berbicara, sedangkan kami semua mendekatkan diri pada anak lelaki yang terbaring lemah di atas ranjangnya.
" Hi? " Sapa Kak Kevin pada anak tersebut.
" Eh.... " Ia mengulurkan tangannya yang lemah.
__ADS_1
" Tenang.. kamu kan laki... harus brani yah!! " Lagi Kevin berusaha nyemangti.
" Ehmm. " Ia mengangguk beberapa kali.
" Oh yah nama kamu siapa?? " Tanya kak Putri.
" Auufaa....ll " serunya yang tidak begitu jelas.
Pengucapannya hanya terdengar seperti kata A dan U-L
" A siapa?? Latifa kagak ngarti nih... " Seru polos Latifa yang berusaha mencerna perkataannya.
Aku melihat kak Nadiya, Kak Putri, dan juga Latifa saling bertukar pandangan untuk berusaha memahami perkataannya.
" Oohh ..Naufal yah nama Adek... Naufal yah... " Sautku dengan sedikit menggelitiknya agar ia tidak merasa tegang.
" Hhehhe... I . A " Jawabnya.
" .... " Semua diam.
" Afika?.. " Bisik kak Putri di sampingku.
" Kamu suka makan apa? kapan kapan Kaka mau jenguk kamu lagi... " Saut Nadiya.
Ia seperti sengaja memberi pertanyaan pada anak itu untuk meyakinkan kedugaannya.
" Eh... Gao... Go.. " Jawabnya dengan susah payah.
" Naufal... kamu.... " Guman pelan Kak Nadiya lalu terdiam muram.
Kak Putri juga Latifa masih tidka juga mengerti apa yang terjadi. sedangkan Kak Kevin hanya terus diam membisu di sisi lain ranjang, ia terus menatap dalam wajah anak itu dengan tenang.
" Ohh... kalo gitu besok Kaka beliin yah... kenalkan Kaka Afika,, ini Kak Nadiya... ini kak Putri.. ini kaka Latifa, dan ini Kak Kevin.. " Seruku lalu memperkenalkan mereka.
" Aduh Latifa ngak ngerti nih... " Keluh Latifa lalu menggaruk kepalanya.
" Sama aku juga nih.. " Sambung Kak Putri.
" A. E. in? " Serunya.
Matanya tertuju pada Kaka Kevin yang tengah menatapnya dalam diam.
" A. A. hii.. " Laginya, lalu tersenyum manis di depan kami.
Anak itu terus tersenyum, namun kak Kevin hanya memberi wajah datar padanya. Semuanya tampak bingung dengan pengucapannya, sedangkan aku? Aku cukup mengerti karena dahulu temanku yang juga seperti itu. Ia adalah teman di sekolah lamaku, dan aku cukup lama bermain dengannya saat semua orang menjauhiku, dan lagi aku tidak menceritakannya karena aku hanya ingin menghargainya sebagai temanku yang juga punya kekurangan.
Tibanya kami di sekolah...
" Ah yang bener Lo!? " Seru keras Kak Fitri pada kak Putri.
" Iyah ...dia ngomong ngak jelas banget.. aku jadi kasihan.. Gimana dia komunikasi dengan teman-temannya... " Keluh kak Putri nampak murung.
Sejak kepulangan kami, kak Nadiya juga Kak Kevin hanya terdiam, mereka seperti sedang menyimpan sesuatu dari kami. Mungkin masa lalu?.
Intinya saat ini, aku hanya berharap semoga ia tidak mendapat pembulian sepertiku dan juga temanku itu.
.
.
.
.
Semoga saja ia mendapat teman yang banyak🙏🥺.
.
.
.
__ADS_1