
Sepanjang perjalanan wajah Ken tampak kusut, bagaikan baju yang tidak di setrika sama sekali.
" Apa yang akan terjadi setelah ini? " Batinku
" Eh? Ken??? Apa kau ingin makan sesuatu setelah pulang nanti? " Tanya menciba mencari suasana baru.
" Tidak tau! " Kesalnya.
" Haik! " Kegetku saat mendengar jawaban itu.
" Ken??? Apa kau marah padaku?? " Lagiku bertanya dengan ragu.
" Tidak tau! " Masih ketus.
" Kenapa hari ini Dia seperti anjing kecil? " Gumanku pada diri sendiri.
" Anjing kecil?? " Lirihnya.
Seketika ia menambah kecepatan mobilnya, hampir semua kendaraan terus diselipnya dengan kecepatan. Aku ketakutan, berpikir jika nanti Ken malah menabrak seseorang yang tak bersalah.
" Ken?!! Kau gila, yah?!!! " Teriakku kini memegang tempat dudukku dengan erat.
" Gilaaa?!!! " Nadanya semakin menarik seiring dengan kecepatannya.
" Ahhh!!!!! Baiklah!! Maafkan aku!!! Maafkan Aku!! Tolong pelankan kecepatan mu, kau bisa menabrak seseorang nanti!!! " Teriakku sembari menutup kedua mataku.
" Tidak akan! " Singkat Ken lagi yang masih ketus padaku.
" Cepat!! Turunkan kecepatannya!!! Atau aku akan melompat keluar dari sini!! " Aku mengancamnya.
" Lompat saja! Kau takan bisa mati, karena kau dasarnya memang tak bernyawa. Jika terluka aku akan membawamu ke rumah sakit lagi. " Pungkas Ken dengan kesalnya.
" Aaaahh!!!! Kalo begitu aku akan berteriak dan mengatakan pada semua orang bahwa kau menculiku!!! " Lagiku dengan ancaman lainnya.
" Aku telah mengunci jendelanya, percuma saja kau tekan tombolnya. " Lagi Ken.
" Ihhh.. Spikopat!! Aku akan berteriak agar semua orang bisa dengar!!! Aaaaaa!! Tolong aku!!!! Tolong!!!! " Lagiku tetap berteriak sesuka hatiku.
" Percuma saja! Mobilku kedap suara! Kau hanya akan merusak pita suaramu saja!! " Lagi Ken.
Dalam sekejab otakku buntuh dalam memikirkan cara untuk membuat Ken berhenti.
Aku membuka mataku dan mengintip sedikit kondisi jalan di depan kami, aku kaget saat melihat ada sedikit kemacetan di sana, namun Ken tak kunjung menurunkan kecepatannya. Aku bingung harus bagaimana.
" Keen!! Di depan macet!! Kau harus menurunkan kecepatannya!!! Sekarang!!!!! " Lagiku berteriak lalu menutup mataku kembali.
" Aku bisa membayar kerugiannya nanti! " Lagi Ken masih tetap ketus padaku.
" Ahh kau menyebalkan!!!.. " Teriakku.
" Baiklah!! Kalau semua tidak bisa, bagaiaman jika aku mengikuti semua kemauanmu!!! Apa kau stuju!?!? " Spontan ku karena merasa Ken sangat keras kepala hari ini.
" Apa kau yakin? Apapun itu?! " Tanya Ken.
" Ya!!!! Ya!!! Apapun kemauanmu!! Apapun itu!!! Cepat hentikan mobilmu ini!!! Sebelum kita mengalami kecelakaan " Ucapku dengan cepat karena sudah merasa sangat panik.
" Baiklah!! " Singkatnya
Lalu,
Ccciiiiiitttt!!!!
Suara ban mobil kala Ken menginjak rem di saat mobil tengah melaju.
Bam!
Mobil bagian belakang sedikit terangkan dan terjatuh kembali.
" Haah....huh...hah...huh..hah..huh!! " Aku mendadak menjadi sesak nafas.
" Tunggu sampai di rumah maka kau harus menepati janjimu. " Ken tersenyum licik sembari menatap ke depan.
" Ken Spikopat!! " Teriakku kesal.
Aku masih mengatur nafasku, sedangkan Ken malah tersenyum licik di tempatnya. Kami masih terjebak dalam kemacetan, suara klakson semua kendaraan terus bersaut-sautan, bahkan ada juga beberapa motor yang nekap meyelip di antar kendaraan lainnya meski terbilang sempit dan berbahaya.
" Hahhhhh... Baru kali ini aku terjebak di kemacetan? Apa kota ini memang macet? " Ucapku pada diriku sendiri.
" Tidak! Ini kali pertama. Biasanya tak pernah terjadi kemacetan di sini, tapi karena sudah terjadi, yah sudah! " Pungkas Ken.
" Ck! " Decakku.
Kemacetan terus berlangsung selama lebih dari sejam lamanya, sedangkan kami akan tiba di rumah dalam waktu 20 menit lagi dari kemacetan di sini.
__ADS_1
" Apa?!! Kita terjebak macet selama ini?!!! " Teriakku kala melihat jam di tv layar kecil di mobil.
" Hehehmm.. " Ken terkekeh sembari melirik padaku.
" Apa senyum-senyum!!? Awas kalo permintaanya aneh-aneh?!! " Ancamku kesal.
Aku begitu kesal karena pantatku saat ini sudah sangat keram, aku tak bisa bergerak selama satu jam lebih sejak tadi, dan kini masih harus menunggu sekitar 18 menit untuk sampai di rumah Ken.
" Keram, Yah?! Heheh.. "Ledek Ken padaku.
" Diam! " Ketusku.
" Cup, cup, cup. Sayang..... " Lagi Ken meraih daguku.
" Ihh! Apaan sih?!! " Tebasku pada jari jemari Ken.
Ken hanya tertawa kecil melihat wajah cemberutku, jelas saja! Aku begitu senang tadi karena bisa pulang, lalu di perjalanan aku telah bertemu dengan bocah penghubung waktu itu, tapi semua jadi tak bersujma karena Ken yang mendadak ngambek, dan jalanan yang mendadak macet.
" Oh my God!!!!!! " Teriakku dengan kencang.
" Hahaha.. sabar... itu dah mau nyampe. " Ken mengelus kepalaku.
Aku sangat kelelahan, ternyata duduk di mobil seperti tadi dan terjebak dalam kemacetan sungguh melelahkan. Aku jadi teringat sama beberapa orang yang mengendarai motor, mereka pasti lelah menahan teriknya panas.
Sampainya di rumah Ken.
" Haaaaaahhhhh... " Aku mengeluh lelah sambari menadah diriku di atas sofa yang empuk.
Tubuhku terpantul beberapa kali, Ken masuk dengan barang bawaan ku.
" Ken? Kau mau makan apa? " Ucapku kala menatap plafon.
" Kau lelah, istirahat saja di situ. Biar aku yang memasak untuk kita. " Ujar Ken lalu naik ke lantai atas.
" Ken? Kamarku di atas? " Lagiku kini mengubah posisiku menjadi tengkurap semabari melihat Ken yang tengah berjalan di tangga.
" Hm! " Angguknya tersenyum.
" Kamarmu juga? " Lagiku.
" Itu sudah pasti. " Ken tersenyum.
" Baiklah. Aku sudha tahu. " Gumanku tanpa memikirkan hal aneh.
Ken berjalan menuju lantai atas, sedangkan aku kembali mengubah posisiku dengan duduk tenang dan memandangi seluruh ruangan yang dapat di jangkau oleh penglihatan ku.
Aku berdiri dan mulai berjalan. Aku berniat untuk mencari suatu ruangan yang akan mengusir sepiku, yakni dapur.
" Dapur Ken dimana, yah? " Lagiku pada diri sendiri, saat berdiri menatap ke segala arah.
Hingga tak lama kemudian, aku menemukan tempat yang ku cari. Dapur Ken berada di sisi lain dari tangga di depanku, kali pertama ku yakin itu adalah dapur karena aku melihat ada kulkas besar di sana.
" Haduh.... Ken ini tinggal sama siapa saja sih?!! Prasaan nih rumah gede banget!? Yah Allah. " Keluhku saat mendekati dapur.
Tiba di sana.
" Tuh, kan!!!! Bener dapur!! " Senangku saat menebak dengan benar.
" Ok. mari kita lihat isi kulkas Ken, lalu isi rak lemari-lemari semua itu. " Aku menunjuk kulkas dan rak lemarinya.
Aku kembali berjalan mendekati kulkas, ketika di buka, rupanya isi kulkas Ken begitu banyak bahan pangannya, bahkan cemilan serta buah pun ada di sana dan semuanya tertatah dengan rapi. Di pintu kulkas ada banyak minuman soda juga yugort, sereal dan susu.
" Baiklah, aku tau harus masak apa. " Aku menggosokkan kedua tanganku dengan kesenangan.
Semua bahan yang ku pilih, telah ku keluarkan dan menatahnya di atas meja. Setelah itu aku beralih ke rak lemari untuk mengecek bahan lainnya yang dapat ku pakai untuk memasak.
" Haaah... Ternyata isi lemarinya sebagian besarnya adalah mie instan dna sereal, juga prabot dapur yang masih baru. " Lagi gumanku pada diri sendiri setelah mengecek semuanya.
Aku memutar badanku dan melihat ke ruang tamu, tempat ku melepas lelah tadi.
" Loh?! Ken belum turun, yah? " Ucapku menyadari.
" Yah, sudah selagi dia tidka ada, aku mau masak cepat-cepat deh!!? " Pungkasku melompat kesenangan.
Aku melompat sambil memegang pisau di tangan kananku, lalu aku mengambil beberapa wadah untuk menampung bahan-bahan yang telah ku bersihkan.
Satu jam kemudian.
" Angelaa???!!! Angela??!!! " Ken berteriak memanggil namaku.
" Aku di dapur!! " Teriakku senang.
Ken terdengar sedang berlari menuju tempatku.
__ADS_1
" Apa yang kau La-Ku-Kan?. " Ia tampak terkejut melihatku sedang menata seluruh masakanku.
" Tadaaaa!!! " Aku membuka kedua tanganku di atas semua menu masakanku.
" Angela?! Kan sudah ku bilang, biar aku saja yang masak. Kau ini! " Ken tampak marah.
" Bleee!! " Aku menjulurkan lidahku.
" Lihat jam berapa sekarang? Jam 12 siang! Kita sejak pagi hanya makan di kedai itu. Yah walaupun tadi itu, termasuk makanan berat semua. " Ucapku lalu mengingat makanan di kedai tadi.
" Haaaah.. maafkan aku, tadi aku mengatur barang-barangmu dan setelah itu aku langsung mandi, jadi perlu sejam lebih. " Ken tertunduk.
" Apa?!! Ka-kau mengatur barang-barangku?!! Semuanya?!! " Aku berjalan ragu mendekati Ken.
" Iyah. " Ia Mengangguk-angguk.
" Aahhh.... Kenn.... " Aku langsung terjatuh ke lantai.
" Angela?!! Kau tak apa-apa?!! " Ken menunduk kearah dengan kaget.
" Kau ini, harga diriku sudah tiada lagi sekarang! Hikss.. " Aku berlagak lebay di depan Ken.
" Maafkan aku?! Tapi aku merasa tidak melakukan apapun padamu, katakan apa yang telah ku lakukan. " Ken tampak panik.
" Kau pasti telah melihat semua dalamanmu kan? " Aku mendongak sedih.
" Eh! Eh? Kali ituu.... " Ken menggaruk kepalanya.
" Harga diriku jatuh. " Aku mutar badanku dan membelakangi Ken.
" Eh?! Angela? Aku tidak bermaksud seeprti itu. " Suaranya bergetar.
" Tidak mau!! " Teriakku sembari meringkuk dan menenggelamkan wajahku.
" Ahh? Jangan menangis.. Baiklah sekarang kau ingin aku bagaimana? Agar kau jangan menangis lagi... " Ken lagi-lagi terdengar panik.
" Huhuhu... Ken jahat... Huhuhu. " Tangis palsuku untuk menjailinya.
" Aduhh... Afikaaa? jangan nangiss dong.. Coba bilang, kau mau aku lakukan apa? Aku pasti turuti. Okey?! Diam, yah?! Diam... " Ia kini berada di depanku.
" Hihihi. " Aku diam-diam tertawa kecil.
" Beneran, yah??? Apapun. Janji? " Lagiku membuat suaraku seakan bergetar.
" Iyah-iyah. Aku janji! Apapun. "
Seketika aku mendongak secara mendadak, dan langsung berdiri dengan tegak lalu berjalan menuju belakang meja tempat ku memasak tadi.
" Angela??? " Ken melipat kedua tangannya dengan kesal.
" Iyaaaahh??? " Aku membalas dengan tersenyum saat sedang mengatur lauk pauk yang ku buat.
" Apa kau mengerjaiku? " Nadanya sangat terdengar dingin dan menusuk.
" Ken? Aku benar-benar serius tadi. Dan kau telah berjanji. " Mataku menajam melihatnya.
Ken lalu menghela nafas dengan berat, lalu berjalan mendekatiku.
" Baiklah. Jadi kau mau aku lakukan apa? " Ia bertanya lembut di sampingku.
" Tidak ada?! Karna kita impas?! " Langsung berkata dengan senang.
" Impas? " Ken kebingungan.
" Tadikan aku berjanji seperti itu padamu, dan sekarang kau juga sudah berjanji padaku. Jadi kita impas! " Jawabku.
" Baiklah, tak perlu kita pikirkan itu. Sekarang ini mau makan di mana? " Aku tersenyum padanya.
" Di atap mau? " Tanya Ken.
" Atap?.... " Aku memikirkan atap yang berbentuk segi tiga dan kami duduk di sana.
" Hahahha.. bukan seperti yang kau pikirkan. Ayok taruh masakanmu di sini. " Ken terkekeh lalu membawa meja lipat.
" Hah? Oh? Ok. " Aku masih bingung.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.