
" Kak Feby? Apa yang membuat kalian takut pada Ken? " Tanya penuh antusias.
" Wahh... dia itu kan Direktur di perusahaan MgN. Itu salah satu bentuk kerja kerasnya, Aku, Putri, dan Nadiya hanya ikut membantu segala perintahnya saja, hingga kami pun akhirnya suskes bersama-sama!!! " Semangat kak Feby.
" Wah... kalian hebat!!! Pasti seru yah bisa mengembangkan bisnis bersama. Andai Afika bisa ikutan... sayang banget yah kak! " Pungkasku sedih.
" Oh tentu saja tidak! Justru karena kami ingat kalau Afika sedang berjuang di sini, jadi kami pun tak mau kalah dengan Afika, ini semua adalah hadiah kecil kami untuk Afika, kami ingin agar ketika Afika bangun, maka Afika bisa ikut bersama kami dalam menjalankan bisnis ini. Bagaimana? Afika mau??? " Kak Feby sangat bersemangat.
" Em!! Tentu saja! Mohon bantuannya, Yah kak! " Senangku.
Hari ini kami lewati dengan banyak cerita menarik dari pengalaman kak Feby, ia bercerita bahwa ia telah memiliki kekasih yang sangat sayang padanya, dan sebentar lagi ia akan segera menikah. Wajahnya begitu bersinar kala menceritakan kisah asmaranya, bahkan ia menunjukkan foto kekasihnya padaku.
" Wah!!! Seorang Perwirah, yah Kak!! " Kagumku kala melihat foto yang berseragam itu.
" Em!! " Angguknya dengan senang.
" Apa kalian sudah yakin dengan hubungan ini? " Tanyaku penasaran.
" Dasar bodoh! Tentu saja! jika tidak mana mungkin ia akan menikahi ku. Hahaha. " Tawanya menyelimuti kami.
" Kakak sangat mencintainya, Yah! Kalian berdua ini sangat serasi. " Pujiku.
" Wahh!! Banarkah?!! Ahhh.. aku jadi malu, nih!! " Ia menutup wajahnya yang sudah memerah.
" Hahhaha, tak sangkah kak Feby bisa Semerah itu... Hahha " Godaku kini kami tertawa bersama.
" Oh yah kak?!.. Selama koma apa benar hanya Ken yang menjagaku selama ini? " Tanya kini mulai serius.
" Yah! Dia sangat khawatir saat kau koma, dia hampir tak ingin berbicara dengan kami, lalu setelah tahu orang tuamu hilang dia seakan semakin frustasi, matanya terlihat banyak beban, berbeda dengan Nadiya yang masih bisa membantu menghibur kami. Aku dan Putri tak tahu harus apa, orang tua kami juga sudah melakukan sebisa mereka untuk mencari keberadaan orang tuamu, Ayah Nadiya juga begitu. Selama 7 tahun dia hanya akan berada di ruangan ini, lalu mendadak mengajak kami merintis usaha, ia banyak mengalami kesulitan saat kau koma, aku pikir dia sangat mencintaimu. Bagaimana? Apa kau juga menyukai Ken, Afika? " Jelas Kak Feby lalu berbalik menggodaku.
" Eh?!! Afika sendiri tak tahu. Hehehe " Bimbangku.
" Yah. Sayang sekali kalau kau tidak suka padanya, dia itu sangat setia di dekatmu. Aku sampai iri padamu karena bisa membuat pria mampu mengorbankan apapun demi wanitanya. Haaaahh... seperti di dalam Novel percintaan, sangat idaman. " Ia mulai menghayal.
" Heheh... Afika juga sepertinya tidak mengerti dengan perasaan Afika kak.... " Lagiku bimbang.
" Katakan saja apa yang kau rasakan, dan biarkan dia menilainya dengan padangannya sendiri. " Usulnya padaku.
Singkat cerita.
" Afika? maaf, Yah? Aku harus pergi, soalnya pacarku hari ini baru turun. Jadi kau akan sendiri sampai Ken datang menemuimu. Oke? " Ia bergegas mengambil tasnya dan ingin segera pergi.
" Ahh ... Sayang sekali, kalau begitu jangan lupa kenalkan langsung pada Afika yah kak! " Seruku mengijinkannya.
" Tenang saja! Aku banyak cerita tentangmu padanya. " Gayanya sangat dapat di percaya.
" Baiklah,.. " Sautku.
" Dadah, Afika!!! Love you! " Teriaknya saat meraih gagang pintu.
" Love you more!! " Jawabku penuh bahagia.
Setelah Kak Feby pergi, aku malah mendadak merasa ruangan ini sangat sepi.
" Huhfff.. Kok jadi sedih, Yah.. " Gumanku lalu berjalan ke jendela.
Tak lama kemudian.
" Siapa yang membuatmu sedih? " Suara itu mendadak muncul dibelakangku.
" Hah!!!! " Kejutku karena mendapati satu wajah di belakangku.
" Ken!!! " Kesalku.
" Hahahaa.. Maaf, maaf. " Serunya tergelak tawa.
" Aku sangat kaget tau! " Lagiku kesal.
" Apa yang kau lihat? " Kini ia memelukku dari belakang dan ikut melihat apa yang ku lihat.
" Bukan apa-apa, aku hanya merasa kesepian lalu melihat langit sore. Kau lihat, mentarinya sangat indah! " Jawabku tanpa mempermasalahkan posisi kami.
" Apa kau tidak merasa dingin? " Laginya tepat di dekat telingaku.
" Tadinya. Tapi sekarang kau sudah menjadi obat rasa dinginku. " Godaku padanya.
Aku melihat wajahnya yang juga sedang melihatku.
" Ohh.. udah pinter gombal yah sekarang. Hahahha.. " Ia menyentuh ujung hidungku.
" Hehehehe.. kan biar kek orang-orang, Yah,kan? " Jawabku ngasal.
" Yah, sudah kalo gitu..... " Ia membalikkan tubuhku.
__ADS_1
Aku mengikuti arahannya dengan jantung yang berdetak cepat. Mataku sulit berkedip karena jarak kami yang sangat dekat.
" Angela? Aku tahu kalo selama ini aku ngak perna becus menjagamu. Aku tahu bahwa selama ini aku ngak perna Selalu ada di dekatmu. Aku tahu bahwa selama ini jarang memperhatikanmu. Dan aku atahu bahwa aku masih banyak memiliki kekurangan. Tapi, Aku ngak tahu sejak kapan aku memulai menyukaimu, selama ini hanya aku dan Nazume yang terus melewati banyak rintangan saat melindungimu dari kejauhan, meski kami tahu kau selalu di rundungi, tapi kami tak perna mampu melawan karena kami takut akan identitasmu, jadi kami berpikir ini adalah salah satu cara agar kau melatih emosimu. " Pungkasnya menatapku.
" Angela? Aku sangat senang saat tahu bahwa kau adalah siswa pindahan yang dibicarakan oleh beberapa guru saat aku dan Nazume melewati ruang kepala sekola SMP kami. Lalu kami menunggu kedatanganmu, setelah kau datang kami berdua sangat bahagia, meski aku sebenarnya menyembunyikan perasaan senangku dari Nazume dan lainnya. " Lagi nya sambil tersenyum.
" Angela, Kini kau sudah dalam genggamanku untuk selama sebulan, apa kau akan merasa kehilangan jika aku tak lagi berada di sisimu? Apa kau akan sedih saat aku meninggalkanmu? Apa kau akan menangis jika melihat jasadku? Apa kau akan mencari pengganti ku saat hilangnya diriku? Semua itu adalah pertanyaan yang terus menghantuiku selama ini. " Pungkasnya sembari memberikan ekspresi yang terlihat tertekan.
" Ken??... " Aku merasa mataku berkaca saat ini.
" Angela? Apa aku berhak mendapatkan dirimu? " Tanyanya dengan serius.
Untuk beberapa saat aku terdiam menatapnya, aku sendiri bingung harus menjawab apa? Sebab baru pagi ini ia menyatakan perasaannya padaku, dan aku belum tahu bagaimana perasaanku padanya. Aku takut bahwa aku mencintainya karena merasa kasihan padanya, dan bukan karena benar mencintainya.
" Ken?!! Hikss.. Hiks.. " Aku langsung memeluknya karena aku masih bimbang.
" Angela? " Lirihnya.
" Aku sendiri tidak tahu, hikss.. tapi saat tahu kau mengorbankan segalanya untukku, aku malah membenci diriku, dan malah ingin memarahiku. Aku juga sangat takut kau akan pergi meninggalkanku, aku takut kau pergi jauh dariku, aku tak ingin kau mati karena ku, aku tak ingin kau berkorban karena ku. Aku mau kau hidup bersamaku, aku mau kau tetap disisiku. Aku mohon, Ken! Aku mohon. Jangan pergi.. Hikss.. jangan pergi.. Hikss.. Aku tidak tahu apa ini perasaan cinta atau kasihan... tapi inilah yang aku rasakan... Hikss... Hikkss.. " Aku mencurahkan seluruh perasaan ku padanya sambil menagis di dalam pelukan.
" Angela? Apa bisa aku menganggap itu Cinta? dan bukan rasa iba? " Ia kembali bertanya.
" Em!.. Hiks..hiks... hiks.. " Aku mengangguk pasti meski tangisku belum kunjung reda.
" Terima kasih, Angela. Terima kasih. " Ia membalas pelukanku.
Dalam sekejab, kami pun saling menuangkan perasaan kami dengan saling berpelukan. Rasanya nyaman, dan hangat, ada perasaan lega yang bisa ku nikmati untuk saat ini.
" Apa kau makan dengan baik hari ini? " Tanya Ken saat memelukku.
Aku mendongak ke atas untuk melihatnya.
" Em! " Senangku menjawabnya.
" Apa Feby menyusahkanmu? " Laginya bertanya.
" Tidak, justru dia sangat membantu. Aku sangat terhibur saat kau pergi, dan aku juga jadi tahu bahwa kalian selama ini merintis usaha hingga kalian menempati pasaran no.3 sedunia kan? Kalian sangat hebat, aku jadi iri dengan mereka yang bisa menemanimu saat susah dan senang. Kau pasti telah banyak mengalami kesulitan selama aku koma kan? " Pungkasku.
" Yah, aku memang mengajak mereka untuk merintis usahaku. Dan aku juga mengalami begitu banyak cobaan saat merintis usaha kami, ada banyak rintingan yang selalu membuatku hampir hilang akal untuk menanganinya. Belum lagi saat dimana kami mendapat berita bahwa orang tuamu menghilang, kami bingung harus bagaimana untuk membayar biayamu, hingga Om dara sendiri yang turun tangan membantu kami semua, ia mengajariku cara meraih omset di dalam pasaran, dan akhirnya aku berhasil bersama lainnya. " Jelas Ken sembari tersenyum padaku.
" Maaf kan aku, aku sangat menyusahkan kalian. " Sedihku kini aku menundukkan wajahku.
" ... " Ia menarik wajahku untuk menatap wajahnya.
" Benarkah? " Lirihku.
" Muaach. " Ia mencium keningku.
" Tentu saja, jadi semangatlah. Setelah kau sehat, kita akan mencari bocah itu. Oke? " Ujarnya.
Seketika semua ini malah membuatku semakin tenang, suatu keajaiban karena bisa setenang ini setelah Mamaku dan Papaku.
Tok tok tok.
Pintu yang di ketuk.
Sang dokter masuk bersama beberapa susternya.
" Selamat Malam. " Seru sang Dokter sambil tersenyum bersamaan dengan para susternya.
" Malam, Dok, Sus. " Jawab kami berdua.
Aku segera duduk di atas ranjangku.
" Permisi, yah. " Ia memeriksa nadiku.
" Hmm.. Kondisinya bisa secepat ini pulih? Luar biasa! Padahal pasien lain hanya koma bulanan saja harus di anjurkan menginap beberapa hari lagi, tapi Nona. Afika sudah bisa pulang mulai besok. Tubuhnya telah mengalami banyak kemajuan untuk 2 hari siuamannya. Selamat Nona. Afika, Kau memang wanita muda yang hebat. Besok pagi saya akan melakukan ronsen terakhir sebelum Anda pergi. " Jelasnya dengan senang.
" Benarkah?!! " Ken kegirangan.
" Yah! Kalau begitu ini tolong diminum yah vitaminnya. Saya mau lanjut berkeliling dulu. Selamat malam. " Merek semua pergi meninggalkan kami berdua.
" Apa aku bisa pulang? " Lirihku sembari tersenyum.
" Kau telah mendengarnya, bukan? " Jawab Ken ikut tersenyum.
" Kalau begitu kemana aku akan pulang? " Lagiku masih tersenyum.
" Tentu saja ke rumahku, orang tuamu kan menghilang. " Tegasnya.
" Sudah ku duga. kau memang pelit. " Pungkasku terkekeh.
" Kalo itu tentangmu, aku akan pelit! " Ketusnya.
__ADS_1
" Baiklah, baiklah. Kau rajanya. " Aku mengalah.
" Dan kau ratuku. " jawabnya.
" Tentu saja, aku kan Ratu Astrolo. " Ucapku percaya diri.
" Bukan! kau Ratu di hatiku, siapapun tak boleh mendekati Ratu ku dan singgahsana nya di hatiku. " Katanya lalu kembali memelukku.
Beberapa jam kemudian.
" Ken? bagaimana? " Seruku.
" Bagaimana, apa? " Ia balik bertanya.
" Apa aku boleh, makan eskrim malam ini? Plisssss... " Mataku mengedip.
" Tidak boleh. " Ucapnya.
" Kenn..... Aku lagi pengen makan Eksrim... " Rengekku.
" Hei, apa kau sedang hamil? " Tanyanya.
" Tentu saja tidak!! Aku kan baru saja siuman, dengan siapa aku akan melakukan hubungan itu?!! " Kesalku.
" Kalau begitu, tahan saja hingga besok. Jangan sampai kau batuk karena makan eskrim di malam hari. Tidurlah! " Ia terdengar marah.
" Apa kau marah padaku? " Aku berpura-pura sedih.
" Tidak. Hanya saja aku tak suka kau manja seperti ini. " Laginya dengan ketus menatapku.
" Ken Kejam!!! Hiks . " Aku menarik selimut menutupi satu badanku.
" Hei? Hei?? Jangan menangis hanya karena kau tak ku ijinkan memakannya. " Ia berusaha menarik selimutku.
" Tidak mau!! Ken jahat!! Hiks... " Aku berpura-pura sedang kesal.
" Hei? jangan bohong, kau sedang berpura-pura saat ini. Sekarang ayok tidur. " Ia ngelus kelapaku.
" Ken jahat....... " Aku menurunkan selimuku dan menatapnya sedih.
" Tidurlah, besok akan aku belikan. Oke? " Ia mengelus kepalaku dengan lembut.
" Tidak mau. " Marahku.
" Kenapa? Apa aku salah? " Tanyanya.
" Iya!! Kau salah! " Ketusku kini merajuk darinya.
" Baiklah, baiklah. Maafkan aku, Tolong maafkan aku, aku salah padamu, aku tak akan mengulanginya lagi. " Ia masih mengelusku dengan lembut.
" Permintaan maafmu, Aku terima!! Selamat malam!! " Pungkasku senang lalu segera tidur.
Ken masih mengelus kepalaku, ia sangat lembut terhadapku. Ia menjadi sosok yang lebih hangat di bandingkan sosoknya yang dahulu begitu dingin.
" Ken? maukah kau tidur denganku? " Seruku saat berbalik menatap wajah itu.
" Hem? Apa kau tidak takut aku melakukan hal aneh padamu? " Tanyanya tanpa ekspresi.
" Tidak. " Singkatku.
" Mengapa bisa begitu? " Laginya.
" Karena aku selalu percaya padamu. Kau bukan lelaki brengsek seperti lelaki lainnya. Kau spesial. " Jawabku dengan jujur.
Seketika ia berdiri mengarah daun pintu, aku melihat ia menekan tombol lampu untuk di padamkan. Setelah itu ia naik dan memelukku sambil tidur.
" Tidurlah, besok kita harus pulang kan? " Serunya kini telah memelukku.
" Iyah. " Singkat ku lalu membalas memeluknya.
Nyaman, ternyata ini sangat nyaman. Sepertinya aku tahu perasaanku pada Ken yang sebenarnya.
" Ken... " Lirihku kini mulai terlelap.
.
.
.
.
.
__ADS_1