Darah Kecantikan Terkutuk

Darah Kecantikan Terkutuk
Episode. 30 Dua Sejoli.


__ADS_3

Malam ini, dibawah hujannya sinar bulan yang terang, kami berdua terdiam dalam pelukan hangat. Tak peduli lagi sedingin apa malam ini, tak peduli segelap apa tempat ini, yang terpenting kami bisa saling menyadari rasa sayang kami satu sama lain.


" Hikss... Angela?? Maafkan aku...Hiks... Huhuh... aku sudah tak dapat melindungi mu lagi ..... aku tak bisa bersamamu lagi... aku sekarang hanyalah manusia biasa tanpa memiliki kekuatan apapun.... aku adalah sosok teman yang lemah... aku bahkan tak bisa melindungi mu sampai akhir hayat ku .... aku tak bisa melihatmu tersenyum lagi.... aku tak bisa melihatmu tertawa lagi... aku tak bisa melihatmu seperti sekarang ini..... Aku.... Aku ....Hikksss.. " Ken kini pecah dalam tangisnya.


Pelukannya semakin erat, aku tak ingin mendengar sahabatku senangis seperti ini, aku sangat menyayanginya.


" Ken?? Terima kasih karena selama ini kau terus menungguku untuk bangun, terima kasih karena selama ini kau terus menjagaku, terima kasih karena selama ini kau masih setia menemaniku, terima kasih karena selama ini kau tetap bersamaku, terima kasih karena selama ini kau mau menjadi sahabatku, terima kasih karena selama ini kau....selama ini kau menjadi sandaranku. Kalian semua adalah sahabatku yang terbaik, aku tak perna menjalani hariku yang seindah bersama kalian. Dahulu aku menemukan teman-teman yang baik, namun tak perna selama pertemana kita berlima!! Aku sangat mencintai ikatan ini... Ken? kau tidak akan ku izinkan mati dengan sia-sia... Hiksss ..hiksss... Jangan pergi Ken... Aku tak bisa kehilangan dirimu lagi!! " Pungkasku ikut membalas pelukannya dan ikut pecah dalam tangis kami.


" Angela? aku masih ingin menikmati masaku bersama kalian, aku begitu lemah sehingga begitu mudah untuk mati. Aku bukan lagi sosok pelindungmu, Aku...Aku yang sekarang tidak lain hanyalah beban bagi kalian. Angela? Jika hari kematianku tiba, apa kau akan tetap menunggu aku berenkarnasi? Jika hari kematianku tiba mungkin kah kau akan merasa kehilangan? Jika hari kematianku tiba apa kau akan menangisi ku? Jika hari kematianku tiba apa kau akan menjaga dirimu? Jika hari kematianku tiba apa kau akan makan dengan teratur? " Ucap Ken semakin mengada-ngada.


" Cukup Ken!! Cukup! Aku takan membiarkanmu mati!!! ingat itu!!! Aku akan melakukan segala cara agar kau tetap hidup!!! " Teriakku.


Hatiku semakin sakit karena terus mendengar perkataan Ken yang tidak-tidak. Siapa yang ingin meninggalkan siapa?!


Aku mendorong tubuh Ken dengan pelan, kami melepaskan pelukan kami meski tarikan isakan tangis masih tersisa.


" Ken? percaya padaku, kau takan mati secepat itu jika aku masih ada. Percayalah!! Yah?!! " Ucapku meyakinkannya.


" Baiklah, Aku percaya padamu. " Ujarnya lalu tersenyum menatapku.


Kami berdua menyisihkan kegelisahan di hati, kami tersenyum karena telah saling menunjukkan rasa kepedulian kami.


" Sekarang kau harus pulang. Dokter terus mencarimu, apa kepalamu masih terasa sakit? " Ucapnya lalu menyentuh kepalaku dengan hati-hati.


" Em!.. " Aku menggeleng pasti.


" Oh, kalo begitu. Tuan putri? Ijinkan hamba menemanimu pulang. " Ujarnya berlagak layaknya seorang pangeran yang ingin mengajak sang putri untuk menari di sebuah pesta dansa impian semua orang.


Ia menekuk lututnya dan menyodorkan kan tangannya.


" Hahha... " Mendadak aku malah tersipu.


Aku membungkuk sambil memegang ujung pakaianku, layaknya seorang putri yang memberi hormat dengan keanggunannya.


" Dengan senang hati. " Anggunku menunduk.


" Hahahhahaha... " Tawa kami bergema di tengah kesunyian menyelimuti kami.


Kami berdua berjalan dengan suasana yang begitu nyaman, canda tawa kami terlukis tanpa karangan buatan. Senyuman yang bertebar setiap kali kami saling mengejek satu sama lain, bahkan malam ini Ken kini lebih terbuka dari pada 7 tahun yang lalu.


" Oh yah?! Kalau sekarang ada masa depan 7 tahunku yang sebelumnya, kira-kira umurku sekarang berapa yah? .. " Ujarku lalu mulai menghitung.


" 12...13..14.. " Hitungku dengan menunjuk satu persatu jari-jemariku.


" 19 tahun. " Ucap Ken dengan cepat.


" Ah, masa sih?? " Raguku.


" Kelas 4 itu sekitar usia 12 tahunan jadi kalo di tambah 7 tahun, jadinya 19 tahun. Apa koma itu telah membuat otakmu ikut koma? " Pungkasnya lalu mendorong jidatku dengan pelan.


" Aihsss.... Ken?!!! " Wajahku cemberut.


" Hahhaha... mukanya kenapa tuh kek gitu? mau niru wajahnya Dakocan?? " Candanya lalu kembali tertawa.


" Ih.. masa di samain sama Dakocan, Sihh .... Ken reseh ahh. " Kesalku.


" Hahhaha.. lah fakta kok!! Hahah " Laginya terus menggodaku.


" Ngak papa.. kalo gitu kamu jadi popai! Hahhaha ... " Balasku meledeknya sambil memberikan otot lenganku yang kecil.

__ADS_1


" Ihh biarin, Popai kan kuat, ototnya gede lagi! " Jawabnya ikut memamerkan otot lengannya padaku.


" Yehh .. tapikan kita ngak produksi bayam kaleng, Hahhaha.. " Lagiku terus meledeknya.


" Ikan kaleng kan banyak! Hahha .. " Laginya tak mau kalah.


" Apaan ikan kaleng, Hahhaha. " Aku mulai terbiasa bercanda dengan Ken pada malam ini.


" Hahhaha... " Ken ikut tertawa lepas bersamaku.


Ken merangkulku sambil mengacak rambutku dengan sedikit kasar. Sepanjangan jalan menuju rumah sakit, kami tiada henti saling berdebat hingga salah satu dari kami ada yang sampai marah, setelah itu hanya beberapa detik saja kami sudah baikan lagi.


Tiba di rumah sakit.


" Ken kamu ngak kerja apa? seharian ini kayaknya kamu sama aku? " Tanyaku.


" Dasar, ini hari Minggu tau...... " katanya.


" Yeh mana tahu ini hari Senen, kan? " Gurauku.


" Iyah, Iyah. Terserah kamu sajalah. " Ujarnya mengalah.


" Hahha.. Oh, Yah! Selama aku di Koma, kamu tidur di rumah sakit, Yah ken? " Lagiku.


" itu sudah pasti. Asal kamu tahu yah, tujuh tahun lalu, aku itu bener-bener syok banget pas kamu kecelakaan waktu itu. " Ucapnya sambil menarik gagang pintu.


Kami berdua masuk ke ruang rawatku.


" Ih, aku kepo. Pas aku kecelakaan selain syok kamu ngerasain apa lagi? " Ucapku lalu duduk di ranjang .


" Gimana yah? aku sendiri susah jelasinnya kayak gimana. " Katanya seraya menggaruk kepalanya.


" Ayo dong, reaksi Nazume, Kak Feby, Kak Putri? Aku mau tau reaksi kalian berempat! Ayo dong .... " Lagiku memaksanya.


Wajahnya seketika berubah menjadi sedih, keningnya mengerut, sorotan matanya jadi layu.


" Ken? sepertinya aku tahu mereka di mana. Saat ini pasti Prinfasiuz telah membawa mereka semua, cepat atau lambat ia pasti akan menjemputku juga. Aku ingat, saat itu pak guru bilang, bahwa aku sempat koma kan di RS selama semingguan karena sakit atau apalah gitu. Lalu karena batasan biaya ekonomi kami, jadi mama terpaksa membawaku pulang. Hanya saja ada yang aneh, aku kok merasa sepertinya aku sudah siuman saat aku belum lama berada dirumah? Soalnya waktu aku sadar, mama sepertinya tidak kaget sama Skali, atau terdengar senang sewaktu aku bangun, jadi aku simpulin kalo aku sudha bangun lebih awal sebelum aku bener-bener sadar. Ken? Kamu percayakan?!! karna aku sangat yakin bahwa, hari dimana aku bersekolah dan mengerjakan ulanganku hari itu... itu adalah hari dimana aku bener-bener baru aja bangun setelah tidur yang panjang, aku yakin 100% kalau aku baru saja bangun setelah aku mimpi aneh soal masa laluku. " Jelasku dengan sangat serius.


" Hah!!! Pantas saja hari itu kau tampak aneh. " Ucap Ken menanggapi.


" Mengapa? apa yang aneh? " Aku sekali di buat penasaran.


" Jadi kami semua mendapat berita bahwa setelah kamu bertengkar dengan mamamu di malam itu, mendadak kamu jatuh pingsan. Kami dengar dari mamamu sendiri sebab ia menghubungi Nazume untuk mengabari kabarmu. Lalu selama seminggu kami terus bergantian manjagamu, tapi setiap habis menjagamu kau terus berguman sesuatu yang tidak dapat kami ketahui, Mamamu sempat bertanya pada dokter, Mengapa kau berguman di saat kondisimu di nyatakan koma? Dan apa kau tau Angela, dokternya hanya bilang bahwa kami semua itu pasti berhalusinasi saja, efek dari kelehan menjagamu. Selama 7 hari kau di rawat di RS, lalu hari ke 8 kau di paksa pulangkan karena uang perawatan yang tidak mampu di bayar, kami pun telah menghabiskan uang saku kami untuk membantumu agar tetap di rawat di RS, akan tetapi itu hanya bertahan selam 7 hari. Selama dirumahmu kamu mendadak demam, dan bersuara seperti tercekik, kami sangat ketakutan, bahwa kamu mungkin akan mati. " Panjang lebar Ken.


Ia menceritakan dengan penuh kesedihan, terlihat jelas bahwa saat itu mereka pasti ketakutan dengan kondisi anehku. Ia terhenti untuk sesaat sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan ceritanya.


" Kamu demam selama 3 hari setelah di pulangkan. Kata mamamu, kau terus menggerutu tak jelas pada waktu tertentu seperti, dari jam 12 malam hingga jam 3 pagi. Setelah 3 hari kau deman, keesokan harinya kau sudah siuman dari koma dan sembuh total dari demanmu. Tentu kami semua sangat senang, mamamu juga segera menghubungi kami, lalu kami pun datang untuk menjenguk, akan tetapi tatapanmu saat itu sangat kosong bahkan kau terlalu pendiam untuk sosok yang kami kenali, selama berhari-hari kau hanya duduk di atas ranjang tanpa bergerak sedikitpun, matamu juga tak perna berkedip. Mengetahui ada yang tidak beres, aku dan Nazume melakukan ritual Jaring agar kami dapat terhubung pada jiwamu. Tapi kami ketika kami sedang berusaha untuk fokus, tiba-tiba ada titik merah yang mengacaukan titik fokus kami, itu terus berulang selama 3 hari. Hari esoknya Aku dan Nezume kembali berniat untuk mencoba melakukan mantra Jaring, akan tetapi kami berdua sangat terkejut saat melihat sosokmu tengah tersenyum sembari berjalan menuju kelasmu. Kami begitu kaget, jadi kami semua berlarian menemuimu, namun Nazume memperingati kami untuk tidak memberi tahukan keanehan yang terjadi padamu selama 2 Minggu yang lalu. Begitulah ceritanya. Sekarang apa pendapatmu mengenai ini? " Ken mengerutkan keningnya.


Ia duduk dengan pose yang sangat serius, matanya rada membesar karena memikirkan keanehan-keanehan yang perna terjadi.


" Ken? Sebenarnya aku berkelahi dengan Mama karena aku menyadari masa lalu yang disembunyikannya. Setelah melihat darah waktu itu, aku menerima ada banyak gambaran menyeramkan, bahkan dirimu dan Nazume juga ada, dan lagi ada Ayahmu disana, ia sengaja meledakan diri demi melindungi kami, setelah itu aku melupakan segalanya. Makanya aku marah dan berdebat dengan mamaku. " Aku berusaha mengingat kejadian yang terjadi.


" Aku membuat mamaku menangis, aku merasa ada sesuatu yang menguasai diriku saat itu. Begitu besar sehingga aku merasa seluruh tubuhku kesakitan bahkan kepalaku serasa mau pecah, mataku ingin keluar, gendang telingaku juga seakan mau pecah, dan sejak saat itulah aku tak sadarkan diri. Bangun-bangun pun, aku sangat kaget karena tubuhku sudah berada di suatu kamar yang sangat identik dengan ciri khas kerajaan adat kraton namun ada ciri khas batik-batik Jawa lain. Lalu saat aku bangkit aku di sapa oleh Seorang pelayan yang saaaaaangat cantik. " Lagiku bercerita sambil menyantap makan malam.


Aku menceritakan segalanya pada Ken, ia pun juga menceritakan banyak hal yang perna terjadi selama 7 tahun terakhir di masa komaku berlangsung.


Kami menggabungkan semua sisi dari cerita ini, rupanya kejadian yang kami alami itu sangatlah berkaitan dengan Diriku.


" Ken? Berarti tubuh yang ku gunakan sekarang ini, bukanlah tubuh asliku kan?? Lalu siapa pemilik tubuh ini?? " Tabakku setelah menyimpulkan semua cerita kami.

__ADS_1


" Bukan hanya kau saja, Aku juga Nazume. Tubuh yang kami pakai saat ini adalah tubuh orang lain yang sengaja ditumbalkan untuk kami. Dari cerita yang ku dengar saat berkunjung ke rumah paman Dara, ia bilang bahwa tubuh kita adalah anak para manusia yang menyembah Sang Raden demi kekayaan, yakni Bapakmu. Namun karena aku juga Nazume bukanlah darah terkutuk seutuhnya, jadi kami ada peluang untuk menjadi manusia sepenuhnya. Berbeda denganmu yang berasal dari keturunan


asli sang Dewi Darah Kecantikan Terkutuk. Jadi kamu bisa memiliki identitas keduanya tanpa harus memilih. " Jelas Ken padaku kala berjalan ke menatap jendela.



" Lalu apa kalian sekarang telah menjadi manusia seutuhnya? " Tanyaku penasaran.


" Sudah pasti! " Ia menoleh sambil tersenyum padaku.


" Sepertinya aku mulai paham akan, masa laluku. Selanjutnya kita harus bagaimana? " Pahamku lalu kembali bertanya.


" Membunuh Prinfasiuz. " Mata Ken menajam.


" Bagaimana caranya? " Lagiku.


" Temukan Bocah itu. Bocah yang bisa merusak segala perisal dan Mantra Prinfazius, serta mampu menutup bau darahmu. Kita harus mencarinya agar dalam menyelinap ke dunia 100 juta tahun yang lalu. Maka dunia ini akan seimbang dengan kepergian darah terkutuk, mulai dari tingkat terendah sampai dengan tingkat sang Dewi, yakni kamu. Kita semua harus pergi demi Keseimbangan Alam. Ini melawan alam, dan ini akan merusak alam. " Pungkas Ken.


Sesaat aku terdiam memikirkan 2 orang kawanku, yakni kak Feby dan Kak Putri.


" Aku akan mencari bocah itu, tapi bagaimana dengan Putri dan Feby? " Lagiku bertanya ketika mengingat wajah kedua orang tersebut.


" Jika mereka tulus menjaga rahasia mengenai keberadaan kita, maka alam sendiri yang akan membiarkan mereka untuk terus mengingat kebersamaan kita, akan tetapi jika mereka ada yang berkhianat, atau ingin melakukan hal buruk tentang keberadaan kita, maka alam juga yang akan membuat mereka mendapat konsekuensinya. " Ken ikut duduk di atas ranjang ku.


Aku menyaring semua cerita yang telah ku dapatkan, semua penjelasan Ken telah ku rangkum dalam Otaku. Namun Ken tak tahu bahwa ada yang sedang mengawasi kita dari dekat.


" Ken? Apa kau perna merasa ada yang berkhianat di dalam lingkaran pertemanan kita? " Tanyaku kini merasa sedih.


" Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya tahu, tugasku adalah melindungi seluruh rakyat Astrolo dan Juga dirimu. " Mata itu kembali membangkitkan sesuatu yang seakan menyemangati ku.


" Baiklah, ngomong-ngomong, Kamu ngak pulang? " Tanyaku mengubah topik.


" Tidak. " Singkatnya.


" Hehhh??!!! Emang kamu ngak kerja?? " Kagetku.


" Kerjalah, bego. Kalo ngak kerja, nih rumah sakit siapa yang mau bayarin? " Celotehnya.


" Iyah, yah. Siapa yang mau bayarin. " Gumanku tanpa sadar, " Truss kenapa kamu ngak pulang, siapin baju buat di pake besok, sepatu, atau apa gitu. " Lagiku menambahkan.


" Tidak perlu, pekerjaanku itu bisa di kerjakan dimana saja. " Katanya lalu tersenyum kecil.


" Kerja apa?? " Heranku.


" Hemmm.. " Ia tersenyum sambil mengacak rambutku, " Tidurlah, aku akan tidur di ranjang sebelah sana. " Ia menunjuk ranjang lain.


" Hooaaammm.. " Aku mendadak Menguap, " Iyah deh. Minggir sana!!! Aku mau tidur. " Ucapku menendangnya.


" Ihh kurang ajar banget, orang tua di tendang. " Ujar Ken.


" Idihh udah nyadar kalo emang dah tua kan!. Hahha udah ah, ngantuk. selamat malam. Cengeng!! " Ledekku lalu menarik selimut.


" Iyah. Tidurlah. " Gumannya tersenyum padaku.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2