Darah Kecantikan Terkutuk

Darah Kecantikan Terkutuk
Episode. 22 (ANDIPATIH)


__ADS_3

Hari mulai semakin larut, semua orang tenggelam dalam keramaian pesta. Kesempatan tidak akan datang kedua kali, tentu tidak boleh ku sia-siakan begitu saja. Aku sudah menyusun hal ini sejak pertama kali aku tersadarkan di kamar itu.


" Virgo, Segera panggil tetua Bangsa Jinry kemari. Aku akan menunggu kalian di belakang istana, Hutan terlarang Astrolo. " Pungkasku memblakangi pengikut setiaku.


" ... Virgo, mengerti. " Seru batinnya padaku.


Aku tengah menikmati indahnya malam di kamar ini, semoga saja Allah mendukung niatku disini. Walaupun aku tau dunia ini adalah dunia lain, sungguh mengecewakan karena aku terlahir dari dua alam. Ini suatu hal yang dapat kuanggap anugrah Skaligus bencana bagiku.


" Pelayan!!! " Teriakku.


" Njeh, Putri Ayu. " Serunya.


" Sampaikan pada Ayahanda, Bahwa Putri Ayu akan membawakan ia Darah Terkutuk malam ini. Dan jangan lupa, katakan juga padanya aku telah menyiapkan sebuah kejutan kecil Un-tuk-Nya! " Pungkasku tersenyum licik.


" Njeh, Putri Ayu. " Balas singkatnya.


Aku langsung membalikan badanku dengan cepat untuk mengatakan akan satu hal lagi.


" Tunggu!! " Seruku.


" Njeh, Putri Ayu. " Ia berbalik dan menunduk padaku.


" Taruh ini di kolam Ayahanda, jika ayah menanyakannya maka bilang saja ini adalah bubuk kayu Pandu Astrolo di hutan Terlarang belakang istana, Dia mesti tau kegunaan ini. " Pintaku seraya menyodorkan sebuah botol kecil yang berisi bubuk Coklat pekat.


" Baik, Putri Ayu, akan saya jalankan. " Jawabnya lalu berjalan pergi.


" Hahahha.... Sekarang siapa yang bodoh, dan siapa yang pandai? Ini baru dinamakan Senjata makan Tuan. Haha.. Sudah ku bilang aku memiliki otak cerdas, salahmu telah menculik ku hingga kemari. Sungguh kasihan sekali. " Ucapku tertawa puas.


" Baiklah, sudah saatnya aku menyambut Rakyatku. kita liat bagaimana reaksi mereka yah ketika tahu bahwa aku adalah Darah terkutuk itu? " Gumanku mulai memikirkan rencana licik lainnya.


" Ya, Allah? Ijinkan aku untuk kali ini saja! " Seru Batinku kala mulai meninggalkan kamarku.


Aula Istana-


" Putri Ayu telah tiba di Aula Istana!!!!!! " Seru keras salah satu pengawal di Aula.


" Salam abadi kepada Sinar Negeri Prinfasiuz Putri Ayu!!! " Sorak semua orang beberapa kali.


Aku melangkah masuk, menginjakkan kakiku pada karpet hijau sepanjang singgasanaku. Semua orang bersorak gembira hingga aku menduduki kursi Maharani ku.


" Terima kasih atas kebaikan kalian, Saya begitu senang karena telah mendapat sebuah kehangatan dari kalian. Hari ini adalah hari pertama kedatangan saya ke Negri Prinfasiuz, semua hal begitu kosong tadinya namun sekarang semua itu telah hilang setelah mendapat sapaan dari kalian padaku. Sungguh saya sangat terkesan dengan kehormatan kalian padaku. Malam ini, silahkan kalian nikmati kemeriahan di istana ini!! Kami keluarga kerjaan ingin menyambut Rakyat kami dengan tangan terbuka, siapa saja boleh ikut memeriahkan!!! " Seru kerasku dengan semangat.


" Salam abadi kepada Sinar Negeri Prinfasiuz, Putri Ayu!!! Salam abadi kepada Sinar Negeri Prinfasiuz, Putri Ayu!!! " Sorak semua orang di Aula istana.


Kemeriahan terasa begitu riuh, tawa mereka menimbulkan kesan hangat bagi diriku. Mereka terus melompat, berlari, mengikuti iringan musik istana. Setelah puas melihat kesenangan ini, aku pun bergegas menemui Virgo dan Tetua Bangsa Jinry di Hutan terlarang Astrolo.


" Sudah waktunya, bulan semakin bersinar dengan terang. Aku harus segera menemui Virgo sekarang. " Gumanku lalu melewati desakan didepanku.


" Maaf, permisi, maaf, maaf, maaf, saya ingin lewat, tolong. " Ucapku ingin melewati desakan ini.


" Ah!! Ini sangat sulit! bagaimana aku bisa sampai tepat waktu?!! " Batinku mulai kebingungan.


Aku mencoba melewati keramaian di depanku, menerobos tiap himpitan yang menyesakkan. Berdesak-desakan seperti ini terlalu sulit bagi tubuh kecilku, mereka cukup dewasa untukku yang bertubuh remaja.


" Maaf, pak, Bu, ijinkan saya lewat yah?! " Pintaku di selah kerasnya musik berlangsung.


" Hahahh..bsaoowtxfbdmamaoxhzghs! " Suara riuh ditengah-tengah pesta.


Aku terus mencoba menerobos tubuh-tubuh besar didepanku, hingga tiba-tiba saja sesuatu mengait pergelangan tanganku.


" ?! " Kejut ku ketika merasa sesuatu tengah mengait tanganku di antara desakan orang-orang.


" A?!!! " Seru kagetku kala tertarik menerobos segala desakan didepanku.


Aku terkejut karena mendadak telah tertarik menerobos melewati tubuh-tubuh besar di depanku, ku alihkan pandangan ku pada tangan yang telah tertarik. Aku melihat seseorang dengan jubah merah dan juga hiasan bulu putih di tiap tepi kain jubah tersebut, beserta mahkota aneh yang juga terbuat dari logam dan beberapa kayu yang melingkar di sana. Sungguh dandanan yang aneh untukku.


" Hei!! Siapa kau?! Lancang sekali !! Apa hakmu telah menarik tanganku seperti ini. Lepaskan aku!! Cepat lepaskan aku!!! " Aku memberontak.


Sudah berbagai kata yang telah aku lontarkan khusus untuknya, namun ia tetap enggan menoleh ataupun melepas genggamannya. Semakin aku meronta, genggamannya semakin ia eratkan.


" Kurang Ajar!! Siapa kau sebenarnya!! Lepaskan aku!! Kau ingin membawaku kemana!! disini sudah tak ada siapa-siapa, Kau boleh melepaskan ku dan aku akan memberimu hadiah karena telah membantuku tadi, meskipun caramu agak kasar saat ini. Hei?!!! Apa kau tuli??!!!! Cepat hentikan langkah kakimu atau aku akan membuatmu kesakitan!! " Pungkasku terus mengancamnya.


"... " Ia sedikit melirik dengan tajam.


Hawa manakutkan tiba-tiba menyelimuti suasana ini, namun mengapa aku merasa bahwa aku sangat merindukannya?


" Mengapa lirikan itu sangat. " Batinku mencoba mengingat kejadian yang lalu


" Tidak mungkin!! aku lahir dan besar di Dunia manusia, mana mungkin aku perna kesini? " Aku menyangkalnya.


" Ta-tapi? aku seperti menantikan hari ini? apa aku.. apa aku.. " Lagi batinku kini merasa canggung.


Ia terus manarikku melewati beberapa lorong yang sepi.


" Apa aku? sedang Merindukannya?! " Lanjut batinku menerka perasaan aneh di dalam diri.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, sosok didepanku mendadak berhenti berjalan setelah aku mengucapkan kata Rindu di batinku.


Tangan ku masih digenggam olehnya, namun ia juga masih tetap enggan tuk membalikkan badannya padaku. Beberapa saat aku pun ikut terpaku bersama suasan canggung di depanku. Perasaan mengenalnya semakin nyata, namun mengetahui sosoknya bahwa apakah ia perna ada dalam hidupku? Aku tidak tau apapun tentang hal ini.


Suasan hening seperti ini sangat membuatku canggung, aku begitu ragu kala mengucapkan kata "Siapa kau?" . Lidahku serasa berkelok untuk mengeluarkan 2 kata itu.


Akhirnya aku pun mulai bertanya padanya.


" Si-.. " Kalimatku terputus kala mendapati perlakuan mengejutkan darinya.


Setelah sekian lamanya aku berusaha untuk mengucapkan sesuatu. Tanpa aba-aba darinya, kalimatku menadadak hilang bersama tindakannya padaku yang secara terang-terangan.


Ia menarik tanganku hingga aku terjerat dalam pelukannya, beberapa saat aku mencoba melepaskan diri, namun dengan cepat ia berkata padaku.


" Tolong, biarkan aku memelukmu lebih lama lagi. Jangan mengucapkan apapun lagi. Aku telah menunggu selama 200 abad untuk hari ini. Aku begitu merindukanmu, bahkan ruang waktu begitu sulit bagiku untuk menemukannya. Aku menderita ketika tahu bahwa kau telah tiada, aku begitu terpukul saat menerima kabar jika kau sudah terbunuh oleh pasukan Raja Prinfasiuz, aku begitu hilang akal karena mengetahui semua berita buruk ini. Ku mohon jangan pernah untuk pergi lagi dariku. Tolong, tolong, tolong. " Panjang lebarnya saat memelukku.


Pelukkannya begitu erat, aku pun ikut merasakan detak jantungnya yang begitu cepat didalam sana. Ia mengira bahwa aku adalah orang yang ia cari selama ini, namun ia tak tahu bahwa aku sebenarnya hanya manusia biasa yang memiliki sebuah anugrah dari Allah SWT. Tanpa sadar aku gemetar dalam pelukannya, aku sedikit ketakutan karena selama ini belum perna ada yang memelukku selain keluargaku di dunia manusia. Dan ini kali pertama bagiku di dalam pelukan orang asing.


" Setakut itukah kau saat berada di pelukanku? " Ia melepasku dengan pelan sambil memasang wajah kecewa.


Melihatnya aku merasa bersalah, seperti aku ikut terbawa dalam suasana kesedihannya. Namun aku sendiri tidak begitu tahu sosok didepanku ini, tentu aku tekakutan bila bersamanya.


Wajahnya begitu bersinar ketika berada di bawah sinar Bulan Purnama, tatapan matanya sangat lembut. Aku seperti tidak ingin membuatnya merasa kecewa, akan tetapi aku sendiri tak ingin membohonginya.


" Mengapa kau begitu gemetar saat bersamaku? apa aku begitu buruk bagimu? " Suaranya begitu lembut kala menembus gendang telingaku.


Aku masih diam membisu, semua ini sangat sulit bagiku untuk dicerna. Mengapa ia begitu yakin bahwa aku adalah orang yang ia cari selama ini? apakah aku perna memiliki kehidupan sebelumnya?.


" Mengapa?! mengapa?! aku begitu merasa ia tidak asing bagiku? " Lagiku dalam batin.


" Tentu saja!! Karna kau adalah Tunangan ku Angela!!! " Pungkasnya dengan lantang.


" !? " Aku tersentak mendengarnya.


" K-Kau bisa mendengar batinku?! " Kalimat pertama setelah aku terlepas dari pelukannya.


" Da-dan bagaiman kau, kau tahu namaku Angela?! Semua orang mengetahui namaku adalah Ayu disini, tak ada yang tahu nama asliku. " Aku terus melontarkan banyak pertanyaan padanya.


Ia tidak menjawabku, melainkan terus menatapku dengan mimik yang tidak bisa ku hiraukan begitu saja.


" Andipatih! ingatlah namaku. Andipatih! " Tegasnya.


Seketika sesuatu menyambar isi otakku, ada banyak gambaran yang menyerang ruang memori di otakku.


" Akh!!!! " Keluhku karena merasa sesuatu begitu menyengat kepalaku.


" Apa kau baik-baik saja!!!? " Ucapnya dmegan khawatir.


Aku memegang kepalaku sambil tertopang olehnya, seketika aku melihat wajahnya dengan marah.


" Aku membencimu!! Minggir!! " Teriakku melepaskan diri lalu berjalan menjauh darinya.


" Angela!!? Tunggu!! " Teriaknya di belakangku.


Aku tidak memperdulikannya, aku mengingat bahwa kematianku rupanya adalah perbuatan dari dirinya sendiri. Aku mendadak merasakan hawa kebencian yang begitu besar terhadap dirinya. Aku berjalan dengan sesekali menghentakkan kakiku, hingga tanpa sadar aku telah sampai di tempat tujuanku, yakni di dekat Hutan Terlarang Astrolo.


" Virgo begitu lamban! " Gumanku kala melihat kesunyian di sekitar.


" Tak apalah, sebaiknya aku mencoba meresapi cahaya purnama malam ini, mungkin itu akan membuat sensi berbeda. " Gumanku lalu mulai memejamkan mata sambil mendongak keatas.


Saat memejamkan mataku, tiba-tiba aku malah melihat wajah Andipatih dalam kegelapan di dalam pejamanku.


" Andipatih?!! " Batinku kesal.


" Mengapa dia???!! " Kesalku lalu menghentikan kegiatan ini.


Karena masih merasa kesal dengan kejadian tadi, aku pun berjalan mondar mandir sambil menunggu kedatangan Virgo. Sampai di saat itu, tak lama kemudia Virgo pun datang.


" ... Virgo telah kembali. " Suara batin Virgo terdengar olehku.


" Akhirnya Ka!!!?? " Aku tadinya begitu senang, namun mendadak hilang ketika menemukan mahkluk aneh di sebelahnya.


" Mengapa kau membawanya!!!? " Tanyaku marah.


" ... " Virgo mulai memberi saksi padaku melalui suara batinnya.


" Andipatih?!!! Tetua Jinry?!!! Apa kau yakin?!! " Aku berusaha menyangkalnya.


" .... " Keduanya tampak diam membisu.


" Huh!! Batalkan saja!!! " Kesalku lalu beranjak pergi melewati keduanya.


" Tunggu dulu Angela! " Ia meraih tanganku dan terpaksa aku berhenti meski tidak menoleh padanya.


" Katakan, Mangapa? " Singkatku.

__ADS_1


" Aku membawa Darah Koronun, apa kau tidak membutuhkannya? Apa kau tidak tau, kesulitan apa saja yang kami berdua alami untuk sekantong darah ini? " Jelasnya dengan lembut.


" Baiklah! Berikan padaku!! " Ucapku lalu merampas pergi.


" Virgo?! Hantarkan Tuan Andipatih, jangan sampai ia menemui ku. " Lagiku sebelum meninggalkan keduanya.


" !? " Aku terkejut dengan sosok Virgo yang sudah berada di depanku dengan cepatnya.


" ... " Ia kembali menjelaskan padaku.


" Tradisi ini akan kembali membunuhku cepat atau lambat!! Baiklah!! Ia bisa tinggal sesuai tradisi disini! " Kesalku menyetujui tradisi yang katanya turun temurun.


Virgo menunduk sambil memberiku jalan. Aku berjalan meninggalkan mereka, kali ini benar-benar telah meninggal mereka. Aku benci dengan tradisi ini, mengapa harus membiarkan tamu yang diundang untuk tinggal selama sebulan penuh?! Apakah aku dikerjai oleh mereka?!


" Tidak, Tidak! Virgo akan selalu jujur terhadapku. Meski ia adalah sosok iblis di sini, namun ia telah membantuku selama ini. " Seru Batinku mencoba menepiskan pikiran buruk mengenai Virgo.


" Sekarang waktunya untuk menemui Ayahanda. Heheh.. " Gumanku.


Aku mulai kembali mengingat rencana awalku. Aku berjalan menuju kamar Ayahanda dengan langkah besar, sekantong darah Koronun telah ku pegang. Ini akan menjadi awal kecil bagi si Raja Iblis tersebut.


" Ayahanda!!?? " Seru saat berada di depan kamarnya.


" Oh, Putriku tersayang!!! kau sungguh membawanya??! " Matanya bersinar saat melihat benda yang ku bawakan.


" Tentu saja!! Ini adalah campuran darah terkutuk milik putri Buyung di kerajaan Kemangis, juga beberapa cangkir dari darahku. Aku pikir itu akan membantumu agar kau terlihat gagah saat melawan pemberontak. " Pungkasku dengan percaya diri.


" Benarkah?!! " Ia menimbang-nimbang


Matanya terus melihat seluruh tubuhku, sampai akhirnya ia terhenti pada balutan di lenganku.


" Oh!! Baiklah!! Kau sungguh pengertian pada Ayahanda!!. " Ucapnya sambil meraih sekantong darah itu dengan cepat.


Ia begitu bergembira dengan itu, matanya terlihat sangat rakus akan darah.


" Cepatlah Ayahanda habiskan itu, dan segera mandi, aku sudah menyiapkan bubuk kayu istimewa buat ayah!! Sekarang sepertinya bulan purnama masih bersinar terang, manfaatkan waktu ini untung menambah kekuatan Ayahanda! " Saranku dengan terus memberi rasa semangatku padanya.


Ia menoleh dengan mata melotot senang.


" Baiklah!! Kau sangat pintar!! " Ucapnya lalu berjalan cepat meninggalkan ku disini.


Aku harus mengikutinya, agar aku tahu bahwa ia benar-benar harus melakukan semua kegiatan itu.


Aku melangkah melewati beberapa pilar, langkah Raja Iblis itu sangat lebar sehingga aku harus sedikit mengangkat naik rokku.


" Ia telah melewati ruang mandi?!! Kemana ia akan pergi membawa sekantung darah itu??!! " Suara batinku kala merasa terkejut dengan apa yang ku lihat.


" Hemp! Tidak sia-sia aku mengikutinya. " Berbangga diri.


Kami telah melewati beberapa ruangan yang sering ia gunakan, namun tetap sang Raja Iblis itu masih saja terus berjalan melewati lorong-lorong disini. Tanpa sadar ia berhenti pada Ujung lorong di istana ini, jalannya adalah jalan buntu.


" Jalan buntu!! " Kagetku.


Ia berhenti tepat di depan Lukisan besar, begitu lama ia berhenti bahkan sesekali ia menoleh kanan dan kirinya serta ke arah belakangnya dengan waktu yang lebih lama.


" Hap!! " Aku terkejut ia melihat kearah belakang.


" Hampir saja! " Bisikku.


Aku kembali mengintip dari balik Tirai Merah yang luar biasa besarnya. Ia mulai menyentuh lukisan tersebut, seakan sedang mencari sesuatu dari balik lukisannya. Hingga tepat pada bingkai permata berwana toska, lalu ia menyentuh dengan cukup lama.


" Hah!! " Aku terkejut sambil menutup mulutku.


Aku begitu terkejut saat mengetahui bahwa di istana ini ternyata memiliki ruang Rahasia. Lukisan itu berputar 35⁰, ukuran itu cukup muat untuk memasuki ruangan disana. Hanya perlu menunduk sedikit lalu ia bisa berdiri nomal namun pintunya belum kunjung tertutup sepenuhnya. Akan tetapi sewaktu sang Raja Iblis itu telah menunduk dan bersiap masuk, aku dengan ceroboh malah membuat kegaduhan kecil yang akan menjadi masalah besar bagiku.


" Aku harus pergi dari sini " Gumanku berbisik.


" Prangrangrang!!!! " Piring logam itu tanpa sengaja telah tersentuh oleh selendang ku.


Aku begitu ceroboh, tanpa sengaja telah menjatuhkan piring tersebut, sedangkan tubuhku telah sepenuhnya berada di luar tirai ini dan lagi sosok Raja Iblis itu juga belum menutup pintunya kan?!


.


.


.


.


Kematianku akan kembalu terjadi lagi, rencanaku untuk menjebak Prinfasiuz telah gagal Total.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2