
Hari itu mereka berdua makan dengan lahap, meski Ken sempat kesal karena Angela tak mau mendengarkan perkataannya untuk beristirahat, tapi ia tak tega jika harus terus merasa kesal pada gadis manis di depannya. Sampai saat dimana semua makanan yang di masak oleh gadis manis tersebut telah tandas di makan oleh mereka.
" Ken? Aku akan berusaha untuk menjadi teman bocah itu. Tapi sosok di dalam dirinya sangat waspada padaku. Kau lihat bukan tadi itu dia seperti sedang memaksakan diri untuk tenang di hadapan kita? " Angelaina menimbal setelah lolucon mereka telah habis terbahas.
" Masa sih?! Aku melihatnya dia tampak natural. " Santainya karena Ken memang benar merasa seperti biasa saja, Angela menggeleng kepalanya.
" Tidak. Kau tidak cukup jeli saat melihat reaksinya tadi. Kau tak lihat apa jika tadi itu dia tak berani melihat ke arahku saat berbicara padanya, atau sekedar menjawab pertanyaanku. Dia terus saja mengalihkan pandangannya ke arah dirimu, ini menjelaskan bahwa dia sedang waspada terhadap sosok ku. Meski aku seorang ratu, tapi aku sama sekali belum pernaenggunakan kekuatanku untuk melawan siapapun. " Pungkas gadis tersebut dengan wajah yang sangat serius, Ken tampak mencoba mengingat kejadian tadi, cukup lama ia mengingat semua itu, hingga tak lama ia pun sadar.
Brak!!!
Ia memukul meja sembari berdiri tegak, tindakannya membuat gadis itu berkedip karena kaget.
" Ada apa?! " kini ia ikut berdiri.
" Tadi itu sosok di yang kau lihat di cermin waktu itu, dia telah mengeluarkan aurah membunuh! " Kalimat itu membuat si gadis menjadi kebingungan.
" Apa maksudmu?! " Ia mengangkat kedua telapak tangannya.
" Yah! Saat kau menatap bocah tadi ketika ia sedang membicarakan sesuatu dengan pria di dalam kedai. Samar-samar aku merasakan perasaan takut saat itu, lalu ketika kau menatapku setelah kau menatap bocah itu, seluruh tubuhku sedikit membatu. Oleh karena itu aku hanya membantu berbicara beberapa kata saja untuk menutup identitasmu. " Jawab ini membuat Angela menggeleng kepalanya dengan sejumlah perasaan khawatir.
" Ken!! Kita harus segera ke tempat tadi!! Secepatnya!!! Kita salah memperkirakan sosok di dalam dirinya!! Ayok!! " Gadis itu begitu panik dan langsung berlarian menuruni tangga yang juga segera di ikuti oleh sosok pria di belakangnya.
" Apa?! Apa yang terjadi?! " Seru Ken ketika ia berusaha mengejar gadis itu.
" Pokoknya kita harus segera kesana!! Jangan sampai!! Jangan sampai!!! Tidak! Aku tak ingin! " Serunya tak jelas.
Mereka berlari memasuki mobil, melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, membela jalur jalan raya yang sudah semakin padat.
Tiiiittt!!! Tiiiittt!!
Suara klakson yang terus berbunyi ketika mereka mulai mendekati kendaraan lain di depan.
" Ken!! Cepat Ken!! Cepat!! " Seru Angela yang malah membuat Pria di sampingnya menjadi sangat panik.
" Iyah! Kau tolong tenang dulu! Aku saat ini sedang berusaha untuk tepat waktu. " Jawabnya dengan suara yang lantang dan tegas.
Gadis itu membungkam mulutnya dalam diam, namun hati serta pikirannya terus saja tersorot pada keselamatan semua orang yang mengunjungi kedai tersebut. Kira-kira, apa yang sedang di pikirankan oleh gadis itu mengenai bocah lelaki yang mereka temui?? Apakah akan terjadi sesuatu yang tidak begitu baik? Ataukah ada rahasia besar yang telah di sadari olehnya Mengenai bocah tadi?
Tibanya mereka di sana.
" Apa ini?!! " Ken bersuara, jantungnya seketika berdegup kecang, matanya tak berhenti menatap ke luar sana, bahkan Angela yang telah tau akan ada sesuatu pun terlihat sangat kaget, syok, kesal, serta rasa bersalah yang semakin membesar.
Ken menoleh ke sampingnya, menadapati si gadis manis yang tengah terdiam pada ekspresi tak terbaca.
" Angela? Apa yang telah terjadi di kota ini? Mengapa semuanya hilang dalam sekejab? " Pertanyaan itu tak bisa di jawab langsung oleh gadis yang tengah keluar mobil sembari terus menatap tak percaya dengan apa yang telah mereka lihat.
Wiuu, wiuu, wiuu, wiuu.
Suara sirene mobil polisi yang telah mengelilingi semua kedai.
Tebak, apa yang telah terjadi di sana sehingga ada banyak polisi yang mengelilingi area tersebut?
Bukk!
Angela menjatuhkan dirinya ke bawah.
__ADS_1
" Hikss... hiks... Seharusnya aku tak usah menemuinya di sana.. Hikss... " Seru Angela yang malah membuat Ken semakin terkejut.
" Angela?! Ada apa?! Kenapa kau menangis?! " Ken memegangi kedua lengan gadis tersebut, ia menatap Ken dengan bola mata yang sudah sangat merah.
" Ken?! Mereka semua terbunuh pasti karena aku!! Pasti anak buah pamanku sedang mengawasiku sekarang! Kau tak lihat?!! Di sana menjadi lautan darah!! Mereka semua terbunuh!! Kau lihat!!?? Kau lihat?!! " Seakan depresi, gadis itu terus menunjukkan ke arah kedai di depan mereka, menyalahkan diri karena telah mengunjungi kedai makan Yanga ada di sana.
" Aku tahu di sana terjadi banyak pembunuhan. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?! Mengapa kau bisa tahu bahwa
telah terjadi sesuatu di sini?! Dan bagaimana kau bisa yakin kalau Pamanmu itu sedang mengawasimu?!! "
" Paman pasti tahu bahwa kita akan menemui bocah yang bisa menolong kita nantinya, jadi dia pasti menyuruh seseorang untuk mengawasiku, tapi tentunya bukan dari bangsa darah terkutuk atau yang berhubungan dengan itu. Pasti dia memaksa seorang manusia untuk mengawasiku, makanya saat kita berada di sana, bocah tadi tak ingin melihatku karena ia tak ingin seseorang yang mengawasi kami membunuh ia di tempat itu. Ken?? Kita harus bagaimana sekarang?! " Jawaban itu mampu memelakkan bola mata Ken yang terlihat masih mengendalikan emosinya.
" Lalu apa hubungannya dengan semua orang yang ada di sana?!! " Ken menunjuk tempat kejadian.
" Tentu saja ada! Beberapa dari mereka adalah utusan Virgo yang juga mengawasiku secara diam-diam. Semua itu telah ku ketahui ketika pertama kali kita keluar dari mobil, ada beberapa pasang mata serta mulut yang seakan mengarah padaku. Tidak mungkin utusan paman sampai berani muncul di depanku, hanya utusan Virgo saja yang mampu melakukan itu. Bahkan bau tubuh Virgo tetap bisa ku cium pada semua orang suruhannya. " Kini gadis itu mencoba untuk mendekati halaman kedai yang sudah mendapat tanda di larang masuk.
Ken melihat tubuh gadis itu kala berjalan, kedua kakinya terus bergerak dengan langkah yang tertatih-tatih.
" Mohon maaf, Mbak! Tempat ini di larang masuk oleh yang bukan bersangkutan. Anda bisa mendapat maslaah jika melanggarnya. " Seru Bapak polisi yang menahan tubuh Angela.
" Pak, maaf. Adikku ini adalah sahabat dari salah satu korban yang ada di sana. Apakah kami bisa melihat jasad Sahabat adik saya? " Suara Ken membuat sang polisi harus menoleh padanya.
" Tentu bisa. Tapi setelah kami memeriksa TKP. Dan bisakah anda berikan saya ciri-ciri dari adik anda berdua? " Ia merogok sebuah buku kecil juga sebuah pena yang telah terjepit rapi.
" Sahabat adik saya itu tingginya sekitar 160 cm, dia tadi memakai baju seragam dari school internasional Vofz, tepatnya baju coklat kotak-kotak. Ia satu-satunya yang berpakaian seperti itu. " Ken menggerakkan kedua tangannya kala ia mencoba menjelaskan beberapa ciri-ciri yang mendominasi pada bocah bernama Mixel tersebut.
'' Baiklah, anda bisa menemui kami setelah 3 jam kedepan. Atau anda bisa kembali menemui kami di rumah sakit XXX, sebab jasad-jasad ini akan kami otopsi setelah mendapat persetujuan dari pihak keluarganya. "
" Kenapa harus di otopsi? Apakah luka mereka tidak terdeteksi? " Tanya Angela yang membuat sang polisi harus menjawabnya.
" Pak?! Ini kartu nama saya, saya akan membantu untuk pekerjaan kalian untuk menemukan penyebabnya. Adik saya sangat tertekan ketika sampai di sini dan malah melihat kejadian ini, belum lagi ketika kami mendengar pernyataan bapak pada kami, saya jadi semakin geram dengan pembunuhan berantai ini. Dan saya harap semoga saja, Sabahat adik saya selamat dari tragedi ini. " Pinta Ken dengan menunjukkan ekspresi kekecewaan, sang polisi mengambil kartu tersebut lalu mengubah ekspresinya yang seakan terkejut.
" Anda adalah tokoh utama dalam peran ekonomi negara?! Tentu saja kami akan sangat terbantu dengan adanya relawan seperti anda yang ingin menyelidiki kasus ini bersama kami. " Polisi itu tersenyum kala menatap Ken serta Angela.
" Terima kasih banyak atas kepercayaan bapak. Apakah saya harus bertemu dengan atasan anda agar saya bisa mendapatkan ijin? " Tanya Ken yang membuat sang polisi tersenyum.
" Tidak perlu, saya adalah atasan mereka, nama saya Jeki Arisandi, Inspektur kepolisian. Karena jumlah korban yang jatuh sebanyak ini, yang membuat saya harus turun tangan dalam memecahkan kasus ini, awalnya saya berpikir akan sulit menemukan kuncinya jika tak mendapat banyak petunjuk setelah memeriksa sebagian dari TKP. Tapi kami beruntung karena telah mendapatkan relawan dari tokoh penting negara, saya merasa terhormat mendapat bantuan dari anda. " Pungkasnya yang membuat Ken serta Angela merasa sedikit tenang.
" Tidak seperti itu. Justru saya yang seharusnya merasa terhormat karena bisa membantu dalam kasus ini. " Mereka saling berjabat tangan.
" Baiklah, anda dapat ikut dengan saya untuk memeriksa TKP. Mari, ikut saya. " Ia memimpin jalan mereka.
Seperti yang telah di katakan oleh Inspektur Jeki, bahwa semua orang yang berada di kedai ini, telah bermandikan darah dari tubuh mereka sendiri serta beberapa darah korban di dekat mereka yang kini telah tercampur menjadi satu. Ken dan juga Angela melewati garis kuning polisi, membelah aliran darah yang kini mereka injak seperti genanagan air biasa, lengket dan baunya cukup segar. Angela yang mencium itu entah mengapa ia merasa sesuatu terasa aneh pada dirinya.
" Ken?!! " Angela menahan tubuh Ken.
" Ada apa, Angela?! " Ia melihat Angela yang tengah menahan kesakitan, serta terus mencengkram lehernya sendiri.
" Aku tak tahu. Tapi bau darah segar ini seperti membuatku merasa gila akan haus. Rasanya sangat sakit!!. " Bisiknya agar tak terdengar oleh sang polisi yang tengah berdiskusi di depan mereka bersama anak buahnya.
Ken menangkap tubuh Angela yang hampir ambruk karena lemah.
" Coba gunakan darahku, agar kau bisa menetralisir sifat aslimu. " Ucap Ken setelah menggigit jari telunjuknya yang kini telah mengeluarkan sejumlah darah yang lebih segar.
Dengan cepat Angela menghisap jari telunjuknya, meski hanya sedikit, namun itu sudah mampu membuat Angela untuk kembali normal.
__ADS_1
" Kenapa bisa? " Tanya gadis itu setelah ia usai mendapatkan apa yang ia inginkan.
" Apa kau lupa bahwa aku dan Nazume adalah pelindungmu, tentu karena darah kami yang tak biasa makanya kami harus terus bersamamu. Darah kami meski hanya setetes, itu sudah mampu membuatmu seperti menjadi seorang manusia. Apa kau lupa jika aku pernah bilang bahwa aku dan Nazumen tak lama lagi akan menjadi manusia seutuhnya? Hal inilah yang akan terjadi jika kami menjadi semakin kuat. Apa sekarang kau paham? " Ia menyentuh ujung hidung gadis tersebut yang malah membuat si gadis tersenyum lega, meski ia tahu bahwa Ken akan segera mati.
" Baiklah! Itu lebih baik dari pada aku tahu kau harus mati setelah bulan purnama merah. "
Usai dari itu, sang Inspektur pun memanggil mereka untuk sekedar di kenalkan oleh bawahannya, Jeki begitu ramah terhadap bawahannya, itu terlihat dari tangan yang selalu merangkul mereka tanpa harus memikirkan batas-batas tertentu.
" kenalkan, ini adalah anak buahku. Frengky, kalian bisa bertanya padanya jika aku tak ada di pada hari penyelidikan. " Seru Jeki sembari merangkul tubuh Frengky.
Mereka berlanjut pada ruang monitor yang berada di dalam mobil Van hitam kepolisian, mendapati seorang wanita cantik bersama 3 pria gagah dengan Earphone pada telinga mereka.
" Permisi. " Seru Jeki yang sontak membuat mereka berempat berdiri tegap sembari memberi hormat yang langsung di balas oleh inspektur tersebut.
" Kita kedatangan tamu serta relawan penting. Namanya adalah Ken dan Juga adiknya Atika. Saya ingin kamu menunjukkan hasil rekaman pada 2 jam yang lalu sebelum kejadian ini terjadi. " Permintaan itu segera di laksanakan oleh gadis cantik di sana.
Tangannya seperti terlihat mengetik sacara asal-asalan, meski kami tahu bahwa ia sangat alih dalam hal itu.
Tak!
Ia menekan tombol.
Seketika terlihat sebuah rekaman yang memang sangat janggal. Setelah kepergian mereka berdua, 2 menit setelahnya terjadi tragedi aneh ini. Tragedi ini terjadi sangat aneh dan sangat kebetulan, dimana semua orang secara bersamaan memercikan sejumlah darah pada beberapa bagian tubuh mereka tanpa harus di tebas oleh benda tajam.
" Hah!! " Angela yang melihat itu menarik nafasnya dengan sangat terkejut, termasuk Ken.
" Tunggu! Bukan kah pada awal Vidio itu adalah kalian berdua? " Wanita itu bersuara meski tak melihat ke arah kami.
Ia memundurkan rekaman lalu menyorotkan pada dua sosok yang sudah keluar dari jalur jangkauan CCTV.
" Ah, benar. Itu mereka. Berarti kalian sudah mengunjungi kedai ini sebelum kejadian itu? " Seru Jeki kini pandangannya teralih pada mereka berdua.
" Yah, kami memang dari sana untuk menemui sahabatnya, dia baru saja keluar dari rumah sakit pagi ini, anda bisa mengeceknya pada rumah sakit XXX. " Jelas Ken.
" baiklah, tapi kami perlu menanyakan beberapa pertanyaan pada kalian karena bertepatan waktu kepulangan kalian sangat mepet dengan kejadian setelah kalian berdua pergi dari sana. Kalian jangan tersinggung, sebab saya tidak ingin mengintrogasi, hanya ingin mengumpulkan beberapa pernyataan dari para saksi. " Pungkas Jeki pada Ken yang langsung di balas senyum oleh Angela.
" Tentu, saya juga sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu pada anda, Pak Inspektur. " Timbal gadis itu yang membuat Ken harus menoleh padanya.
" Baiklah, anda bisa ke kantor saya setelah kami melakukan penyelidikan disini, untuk itu kalian bisa ikut saya mengelilingi tempat ini sembari mencari jejak si pembunuh. " Segera ia mengajak keduanya keluar dari mobil Van Hitam Polisi.
.
.
.
.
.
.
Sampai sini dulu, yah. Maaf! Author banyak di minta buat cerita di tempat satunya, jadi harus satu-satu.
Jaga kesehatan🥰 jangan lupa olahraga dan makan teratur yah? Author bakal sedih kalau kalian sakit.
__ADS_1
Have Fun!!!🥰☺️