
Pagi hari.
Pagi ini cerah, mentari bersinar tanpa sungkan, cahayanya menembus mataku yang terpejam.
" Panas. " Lirihku saat terbangun.
Aku membuka mataku secara perlahan-lahan, sesekali aku mengerutkan kening dan menyipitkan mataku.
Cahaya mentari di pagi hari sangat berbeda rasanya dengan di siang hari ataupun di sore hari.
" Eh? sudah pagi. Ken mana yah? " Lirihku kala ingin mengganti posisi.
Baru saja aku ingin mengganti posisi duduk, mendadak terhenti karena sesuatu terasa sedang menimpa tanganku. Sepeti ada yang tidur di sana sambil menggenggam erat.
Aku mengalihkan wajahku menurun pada tanganku.
" Ken? " Lirihku melihat wajah lembut itu kala terkena sinar mentari di pagi ini.
" Wah.... Wajahnya glowing!! " Ucapku mngangumi tanpa sadar.
" Kok aku baru tahu yah, dia setampan ini.. " Aku menyadarinya.
Tak lama kemudian, Dokter pun datang dengan kedua susternya. Pemeriksaan rutinku masih harus sering di lakukan demi mengontrol cedera di kepalaku. Ini yang kedua kalinya tengkorakku retak, untung saja aku tidak mengalami amnesia.
" Ssssttt.. " Aku memberi kode pada sang dokter dan juga kedua suster.
Mereka terkekeh melihat Ken yang masih tertidur lelap sambil menggenggam tanganku.
" Selamat pagi Nona Afika? Bagaimana? apa ada keluhan? apa kepala anda masih sakit? apa anda mengalami sesuatu yang anda tidak bisa ingat? " Tanya sang Dokter dengan suara sedikit berbisik.
" Em!! " Aku menggeleng kepalaku dengan tersenyum manis.
" Pukul 09 : 30 nanti harus di ronsen yah? Ini vitamin dan beberapa obat yang harus diminum. Kalau tidak ada keluhan apapun saya permisi dulu, Yah? Selamat pagi. " Kata sang dokter yang ikut tersenyum bersama kedua susternya.
" Terima kasih. " Aku membuat fokal ucapannya tanpa suara.
Sang Dokter hanya mengangguk dengan senyumannya yang hangat, serta pada suster itu tampak terkekeh karena melihat kondisi yang ada di ruangan ku.
" Ken? Apa kau begadang semalaman? " Bisikku Lalu mendekatkan wajahku padanya.
" Hei, Ken? Apa kau ingin terus tidur. " Tanya berbisik saat ingin membangunkannya.
" Hemm. " Ia mengangguk dalam tidur.
" Apa kau tidak kerja? " Lagiku bertanya.
" Kerja. " Jawabnya.
" mengapa belum bangun? " Lagiku bertanya.
" Aku suka seperti ini. " Laginya dalam mata yang masih terpejam.
" Apa kau tidak takut akan di pecat?!! " Aku rada kesal ia tak kunjung ingin bangun.
" Tidak akan. " Laginya.
Aku menarik kembali wajahku, aku kehabisan kata-kata untuk membangunnya. Ken tetap tertidur meski sudah ku ajak berbicara, entah dia sadar akan hal ini atau tidak, aku benar-benar tak tahu pastinya.
" Ken? Apa semalam kau menjagaku? " Lagiku kembali berbisik di depan wajahnya.
" Hm. " Ia mengangguk.
" Apa kau kesulitan saat menjagaku. " Lagiku terus mengintrogasi nya.
" Tidak mungkin. " Lirihnya seperti sedang mengigau.
__ADS_1
" Mengapa? " Aku semakin di buat penasaran.
" Karena kau spesial. " Jawabnya.
" Mengapa kau bilang aku spesial? " Aku tidak begitu kaget mendengar jawabannya.
" Karena kau darah kecantikan terkutuk. " Pungkasnya.
" Cih?! Aku pikir, aku akan lebih dari itu. " Ucapku tersenyum walau sedikit kecewa.
" Ken? " Aku kembali memanggilnya.
" Hm? " Ia merespon meski dalam tidur
" Kapan kau akan bangun? " Lagiku karena merasa tanganku mulai terasa keram dan pegal.
" Tidak mau bangun. " Ken berguman.
" Eh? Apa tanganku sekarang jadi milikmu? " Aku merasa itu lucu.
" Karena Aku suka Angela. " Laginya.
" Hahaha... kau jujur Skali Ken saat sedang tertidur. " Ucapnya dan menertawakan tingkah Ken yang seperti anak kecil.
Aku tertawa kecil, rasanya begitu bahagia bisa berbicara dengan Ken saat ia sesmag tertidur. Namun belum lama aku menertawakannya, ia mendadak berguman.
" Angela? Aku sungguh menyukaimu. " Ken menganggakat wajahnya dengan mata yang sangat sayup.
" E?!! " Aku kaget dan mendadak berhenti tertawa, " Hahhaha.. Kau ngelantur! hahaha.. " Jawabku lalu tertawa lepas.
Bagiku jawaban Ken tidak akan ku ambil hati, karena sejauh ini aku tidak perna merasa sedang menyukai seseorang, atau pun merasa seseorang sedang menyukaiku. Jadi aku bisa tertawa meski itu terdengar tulus.
" Angela? Aku bersungguh-sungguh. " Saur Ken masih dengan sorotan mata yang layu.
" Ken? Aku juga bersungguh-sungguh, kau saat ini sedang ngelantur tau. Hahaha. " pungkasku merasa geli dengan sikap Ken.
" Ken? Sebaiknya kau cepat bergegas bekerja, aku tak ingin bermain suka-menyuka denganmu. Hihihi. " Ucapku lalu menutup mulutku yang kembali tertawa kecil.
Ken tak menjawab apapun, namun ia malah menurunkan wajahnya.
" Muachh.. Aku sungguh menyukaimu. " Ia mencium keningku.
Mendapat perlakuan seperti itu, aku malah merasa satu badanku membeku. Seluruh pikiranku menjadi kosong tanpa bayang, namun jantungku malah berpacu dengan begitu cepat.
Tak lama setelah ia mencium keningku, dengan kondisinya yang terlihat sedang mengigau, kini secara tiba-tiba malah mendekapku dalam pelukannya.
" Tetaplah hidup untuk semua orang yang menyayangimu, terutama Ibu, Bapakmu, serta Mama, Papa angkatmu, Rakyatmu, Alammu, Lalu Aku, Nazume, Putri, dan Feby. Hidup sangat penting untuk mengimbangi kondisi alam yang buruk. Jangan biarkan Ras Darah terkutuk bertempat di dunia manusia. Bawa mereka pulang agar tidak ada masalah yang akan membuatmu menanggung kesalahan mereka. " Panjang Lebar Ken yang masih memelukku.
" Ken? " Lirihku.
" Baiklah, Aku ingin pulang mandi. Kau mau makan sesuatu? semalam aku tanya dokter, dia bilang kau boleh kok makan sesuatu yang ingin kau makan, asalkan jangan Junk food yah. " Lagi Ken kini telah melepaskan pelukannya.
Aku bingung, mengapa saat ini aku malah membatu? Apakah tubuhku sedang dimantrai oleh Ken, ataukah aku mengidap penyakit berbahaya?
" Ken? " Lirihku padanya.
" Hem? " Ia merespons.
" Mengapa aku tidak bisa bergerak? Apa ini efek dari koma sehingga aku lupa cara bergerak? Tapi kemarin akau kan bisa bergerak bebas. Lalu Mangapa Jantungku berdetak sangat cepat? Apakah aku mendapat gejala penyakit jantung? " Tanyaku pada Ken karena merasa bingung dengan semua reaksi aneh pada tubuhku.
" Hihih.... Aku tahu itu apa? " Ken terkekeh.
" A-apah?? " Gumanku penasaran.
" Cari tahu sendiri, intinya saat aku pergi, tubuhmu akan kembali bisa bergerak, kok! Kalau soal jantungmu, itu akan sedikit lama baru bisa berdetak normal. Sudah yah, Aku mau pulang mandi dulu, di laci ada Handphone. Kau bisa memberi tahukan aku jika kau ingin makan sesuatu , aku akan membelikannya untukmu. Sebentar lagi Feby datang merawatmu. Minumlah obatnya. " Lagi Ken terus berbicara dan akhirnya pergi meninggalkanku begitu saja sambil memberi senyuman aneh padaku.
__ADS_1
Senyumannya sangat cerah meski matanya terlihat sedang menahan ras kantuknya.
" Apa maksudnya? " Gumanku pada diriku sendiri.
Sungguh Ajaib! Tak lama setelah Ken pergi, seluruh tubuhku dapat bergerak seperti semula dan detak jantungku perlahan-lahan mulai berdetak normal.
" Loh?!! Loh?!! " Aku menggerakkan kedua bahuku dengan bingung.
Aku melompat turun dari ranjang dan melakukan banyak gerakan karena kebingungan.
" Eh?!! Kok bisa gerak lagi?!!! " Suaraku sedikit terdengar berteriak.
" Hap! Hap! Hap! " Aku melompat layaknya sedang berolahraga.
" Ken benar!! setelah dia pergi, aku bisa bergerak!!! Wah..... mantranya ajaib sekali!!! Apa ini mantra yang ia pelajari?! " Aku merasa senang karena Ken bisa mempelajari mantra membekukan tubuh seseorang.
Walaupun sebenarnya itu pasti bukanlah jawaban yang masuk akal, selepas kejadian yang terjadi di antara kami.
Pada saat itu, aku sangat bodoh mengenai perasaan. Ini kali pertama aku merasakan sesuatu yang membahagiakan, namun juga tidak mengenakkan di dalam diri.
Ceklek! Pintu terbuka.
" Assalammualaikum, Afikaaa!!!! " Suara itu membuatku sangat bahagia.
" Waalaikumsalam!! Kak Feby!!!!? " Senangku lalu berlari kecil padanya.
" Eh? Afika!! Afika!! Kau masih sakit!!! Jangan bergerak terlalu banyak!! " Wajah khawatir Kak Feby terkesan lebay.
" Haha.. Kakak lebay sekali!! Apa Kaka sedang libur?? " Tanyaku dengan girang.
" Yah!!! Ken memberiku Libur hari ini!! Karena dia ada rapat penting jadi aku harus menggantikan posisinya dalam menjagamu! " Pungkas Kak Feby dengan penuh semangat.
" Heh? Apa dia Bos Kakak sekarang?? " Tanyaku keheranan.
" Tentu saja!!!! Meskipun dia sangat galak saat berada di kantor, tapi kalo di luar jam kerja dia sangat baik pada kami. Tapi itu bagus!!! Tandanya dia konsisten kan???!! Hihihihi.... " Lagi Kak Feby dengan sangat senang.
" Ahh.... begitu yah?? " Aku mengangguk tanda telah paham dengan cerita Kak Feby, " Kak Feby?!! Kita ke taman, Yuk!!! " Ajakku lalu menyeretnya mengikutiku.
" Hei? Apa kau tak ingin mengganti baju dulu, adik manis? Apa kau tak lagi punya rasa malu? Seluruh badanmu itu sangat bau obat tau. Pergilah membasuh badanmu dahalu, lalu ganti dengan pakaian yang suster berikan ini. " Protesnya sambil menutup hidungnya dan memberi pakaian khusus orang yang di rawat inap.
" Waw!! Pakaian baru! Semoga ini bukan bekas pasien lain, itu akan menjijikan jika benar-benar bekas mereka. " Ucapku kala melihat pakaian itu masih dalam kondisi terbungkus plastik.
" Hati-hati... Kau bisa saja terkena virus mematikan!!! " Goda Kak Feby yang mencoba menakutiku.
" Hahhaha... Tak apa! Kan ada kak Feby!!! Jadi aku akan menjangkitkannya padamu, hohohoh.. " Balasku menggodanya.
Seketika kami pun tertawa bersama-sama. Sudah lama sekali rasanya untuk bisa merasakan hal ini lagi dengan kakak kelas jaman ku sekolahan dahulu. Tapi aku tak boleh bermalas-malasan, sebab aku masih harus menemukan bocah itu sebelum rencana Prinfasiuz benar-benar telah selesai.
Caranya sangat licik, ia tahu bahwa aku telah keluar dari dunia asalku, dan dengan cepat ia kembali menyusun rencana baru untuk mencelakai ku. Untung saja aku adalah Putri Darah Kecantikan Terkutuk, jadi aku tidak akan mudah mati hanya karena dua mobil yang menabrak ku secara bersamaan. Andaikan saja aku hanya manusia biasa, entah apa yang akan terjadi pada bumi yang indah ini.
" Ya, Allah.. meski pun aku hanya salah satu mahklukmu yang terkutuk, tapi ijinkan aku melepas identitasmu ini demi melindungi alam yang kau sediakan untuk ciptaan sempurnamu yang ada di bumi ini. " Doaku dalam batin.
Ada banyak penyesalan karena terlahir dari salah satu bangsa jin yang terkutuk, akau sangat ingin menjadi manusia normal seperti yang lainnya. Tapi inilah takdirku, yakni melindungi bumi dari para Dukun-dukun yang rakus akan kekuatan dari bangsa jin.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*Note★ Author tidak ingin memperlibatkan segala sesuatu yang berbentuk tindakan menghina, menduakan, mengucilkan, atau tindakan lainnya mengenai Agama.
Mohon bacalah dengan bijak yah, terima kasih😍*.