Darah Kecantikan Terkutuk

Darah Kecantikan Terkutuk
Episode. 33 Menemukan Bocah malah berakhir susah.


__ADS_3

" Ken? Apa kau ijin lagi hari ini? Inikan masih hari Selasa, apa kau tidak takut sesuatu terjadi di kantormu? " Sautku saat membersihkan tempat ranjang yang ku pakai semalam.


" Tenang Nazume dan lainnya sangat lihai dalam menangani bisnis, apa kau lupa? Nazume itu bisa membaca niat seseorang meski jaraknya jauh, bisa di katakan ia dapat memprediksi masa depan. " Jawab Ken yang sedang memasukan beberapa barang ke dalam tas.


" Aku sudah membersihkan ruanganku, Ayok! " Ucapku lalu menggandengnya.


Ceklek!


Pintu mendadak terbuka.


" Maaf, Saya bertugas membersihkan ruangan disini. " Tutur ibu paruh baya sembari membawa peralatan kebersihan.


" Eh?.. Hehheheh.. " Aku terkekeh karena merasa bersalah.


" Tapi Bu, apakah ini masih perlu di bersihkan? " Seru Ken bertanya pada ibu tersebut.


Ibu itu lalu melihat ke sekeliling, ia sedikit terkejut karena tempat yang akan kami tinggalkan telah rapi.


" Eh? Sudah bersih seperti semula yah? " Guman Ibu itu tertegun.


" Hehehehe.. Bu sebenarnya, ibu bisa mengepel lantainya, saya hanya menyapunya saja. " Usulku tersenyum.


" Ah, Benar. Baiklah. Terima kasih karena sudah membantu, Yah? " Ia tersenyum manis pada kami.


" Sama-sama, Bu. Kami pamit dahulu. " Kami pergi meninggalkan rumah sakit.


Tiba di mobil Ken.


" Ha-ah.... " Aku meregangkan otot badanku.


" Senangnya.... Kata dokter kepalaku sudah sembuh total! Ia bahkan sampai kagum padaku kenapa tidak ada masalah setelah siuman. Hahaha Padahalkan aku koma selama 7 tahun, sudah pasti sembuh. Hahah " Pungkasku terkekeh karena mengingat pujian sang dokter di runag ronsen pagi ini.


" Bodoh! Kau kepalamu itu sudah sembuh sejak 2 Minggu di rumah sakit, dan mengaoa dokter memujimu. Itu karena semua orang yang koma apa lagi terbilang tahunan, pasti akan mengalami masalah pada kinerja saraf otak, karena itu kau terus di ronsen demi menjaga kesehatan mu. Apa sudah paham. " Jelas Ken kala mengendarai mobilnya sembari mengelus ku.


" Ohh.. begitu. " Aku mengangguk-angguk.


Tak lama kemudian.


Sesuatu datang diberbisik.


" Belok kanan! " Suara itu milik Virgo.


" Ken, Belok Kanan! " Ucapku serius.


Ken mendadak mengikuti permintaan ku.


" Belok kanan! " Lagi suara Virgo.


" Kanan! " Singkatku tegas.


" Mata jalan ke Empat, Dan lihat. " Lagi Suara Virgo.


" Mata jalan ke empat. Berhenti. " Seruku menatap serius ke depan.


Ken mengikuti arahanku, kami berhenti sesuai suara yang dikirim Virgo. Sewaktu kami berhenti, kami melihat ada lima kedai makanan yang sedang ramai.


" Apa yang ada di sana? " Ucapku khusus pada Virgo.


" Seragam Coklat kotak-kotak. " Ucapnya.


Aku mencari seseorang yang memakai seragam coklat kotak-kotak, di tengah keramaian itu sedikit sulit menemukan sosok yang di maksudkan Virgo padaku.


" Apa yang kau cari? " Seru Ken padaku yang kini juga ikut menlihat apa yang ku lihat.


" Ketemu! " Ucapku sedikit terkejut.


" Ken? Itu seragam sekolah kan? " Tanya lalu menunjuk sosok Anak lelaki yang sedang melayani beberapa pelanggan.


" Hm! Seragam ini berasal dari School Internasional Vofz. Ada apa memangnya? " Lagi Ken.


" Ken? Kita menemukannya? " Suara terdengar datar sembari menatap wajah ceria anak tersebut.


" Hah?!! Jangan-jangan!.. " Ken terdengar terkejut.


" Hmpt.. Kau benar Ken. Besok daftarkan aku pada sekolah itu, kita harus secepatnya mendapatkan kerja sama sebelum bulan purnama merah. " Pungkasku kini tersenyum licik.


" Baiklah, sekarang apa kau mau kesana? " Tanya Ken menunjuk kedai anak lelaki itu berada.


" Ide bagus!!! " Aku berpaling melihat wajah Ken dengan bahagia.


" Ok, Ayo jalankan sedikit drama kecil. " Ucap Ken lalu menjalankan mobilnya dan mendekati kedai anak itu berada.


Tiba di depan kedai.


" Wahhhh.. Ramai sekali.... " Senangku saat turun dari mobil.

__ADS_1


Kami berdua segera mencari tempat yang kosong, dan mulai menjalankan sedikit drama kecil.


" Eh, permisi!! " Seruku pada Anak lelaki yang berseragam.


" .... " Ia melambai dengan ceria.


Anak itu segera menghampiri kami, sambil membawa buku catatan kecil dan pena.


" Kakak? Mau pesan apa? " Wajah itu sangat ceria.


" Aku baru saja datang kesini, apa menu terbaik di sini? " Pungkasku ikut tersenyum lebar.


" Kami punya banyak Menu terbaik, kalian bisa melihatnya di buku ini. " Ia berseru dengan semangat.


Ia memberikan aku dan Ken masing-masing satu buku menu berwarna hitam.


" Ken? Kau mau apa? Aku bingung nih! Semuanya terlihat enak semua. " Ujarku pada Ken yang terlihat serius saat memilih.


" Emmm... Kau mau Eskrim semalam, jadi ... Tolong Ice Double Fresh-Nya 2, Sapi panggang nya kasih satu porsi. Ayam madunya juga satu porsi, serta 2 lemon Jus. " Ken terlihat elegan saat memesan.


" Baiklah, tunggu 30 menit, Yah? Silahkan di nikmati. " Ia meninggalkan kami dengan senyuman paling lebar.


Ia pergi membawa buku menunya dan juga pesanan kami, selama menunggu aku dan Ken sedikit berbincang tentang Bocah yang kami cari.


" Angela? Apa ini bocah itu? " Bisik Ken padaku.


" Yah! Tidak salah lagi. Kita harus mendekatinya. " Balas Bisikku padanya.


" Bagaimana kau bisa tahu itu dia dan sedang disini? " Lagi Ken mencoba mendekatkan kursinya padaku.


" Tadi di jalan, Virgo mendadak berbisik padaku, Tumben sekali ia berbisik di telingaku, biasanya dia akan berkontak batin saja, makanya saat ia bilang kesini aku langsung bilang padamu. Lalu dia bilang perhatikan anak yang berseragam coklat Kotak-kotak. Jadi aku memperhatikannya, dan itu benar anak yang kita cari. " Jelasku pada Ken kini kami sedang berhadapan.


" Bagaimana caramu melihatnya? " Lagi Ken masih sedikit bingung.


" Sekarang kau lihat dia, dan coba rasakan aurahnya. " Tuntunku lalu menujuk anak itu secara sembunyi-sembunyi.


" Yah sudah ku lihat... Tapi aurah sepeti apa? Aku sedikit kesulitan menangkapnya. " Lagi Ken kini telah memusatkan perhatiannya pada anak itu.


" Aurahnya sangat kental, dan tajam. Kau juga akan merasa ada sosok lain yang akan menyambutmu nanti. " Lagiku ikut menatap Anak tersebut.


Selama semenit Ken mencoba mencari hal yang ku maksudkan.


" Ah!! Kau benar! Dia ternyata Dua sosok dalam Satu tubuh!! " Seru Ken yang kini telah menyadari apa yang telah kurasakan.


" Hebat! Apakah ia sadar tentang kita? Apa akan jadi penghalang nanti? " Pertanyaan Ken kena sasaran.


" Tenang saja, Ia tahu aku adalah Ratu Astrolo, jadi Sosok yang sedang menyapa kita itu adalah pendudukku. dan itu tidak berpengaruh pada jiwa anak itu, tapi tentu akan sedikit sulit, karena sosok itu adalah Ras setengah Darah Suci Astrolo. Mereka seharusnya sudah di musnakan oleh Prinfazius saat itu, beruntung sekali dia bisa sama lolosnya dengan kita pada saat Medan perang di tanah Astrolo. " Lagi menjelaskan semua yang aku ketahui.


" Ahh kau benar! Mahkotamu itu masih tertancap disana, entahlah kau merasa lelah karena selama ini memakainya. " Ken tampak memaklumi diriku.


" Diamlah! Tugasku tidak akan mudah meski aku adalah seorang Ratu. Dia mempunyai aura hitam dan merah di sekitarnya, ini akan sedikit sulit untuk membujuknya pulang. " Lagiku sedang khawatir.


" Aku akan membantu sebisa kami, Kau jangan takut. " Ken berusaha menyemangati ku.


Tiba-tiba...


" Maaf!! Menunggu lama!!! Ini pesanan kalian berdua!! " Ia membawa semua pesanan kami dengan wajah yang sangat ceria.


" Ahh Terima kasih! " Koor ku dan Ken.


" Silahkan di nikmati, Yah!! " Ucapnya lalu mulai berjalan.


" Ah Tunggu!! " Ken menahan langkahnya.


" Ada apa, Kak? " Ia berbalik sambil tetap tersenyum.


" Bisa kah kau menemani kami berbicara sebentar? Kami baru disini jadi kami sangat butuh seseorang untuk bisa kami tanyai. Tenang saja!! Aku akan membayar Semua ini 3 kali lipat dari harga aslinya, dan memberimu uang tips sebagai hadiahnya. Bagaimana? Apa kau bisa membantu kami? " Ken bertindak dengan kekayaannya.


" Hm.... " Ia tampak sedang berpikir.


" Baiklah!! Tapi aku akan ijin dulu dengan Bosku. Tunggu sebentar. " Ia berlari kedalam kedai.


" Uangmu berguna juga, Yah! " Pujiku.


" Kekuatan Uang, Siapa yang tahu nantinya? " Guman Ken agak melemas.


Tak lama, sang bocah itu berlari menghampiri keduanya.


" Baiklah! Jadi apa yang bisa aku bantu? " Ia tersenyum sambil mengambil tempat untuk duduk di depan kami.


" Hanya temani kami mengobrol saja. Oh, Yah! apa ini seragam kalian? itu terlihat bagus. " Ken memulai pembicaraan.


" Ah?! Ini seragam sekolahku, School Internasional Vofz. " Semangatnya saat menjawab.


" Benarkah!!! Kakak! Itu tempat aku bersekolah besok!! Waahh... Kita akan jadi teman satu sekolah!!! " Aku langsung menimbalnya dengan kesenangan.

__ADS_1


" Oh, itu Sangat bagus. Tapi sekolah itu sangat kejam, apa kalian yakin? " Seketika ia senang, seketika ia serius.


" Benarkah? Apa sekejam itu? Sampai kau meragukan aku? Kakak? Apa itu sekolah yang menakutkan? " Aku berekting sebagai adik yang sangat manja di depannya.


" Kata paman, itu tidak buruk. Hanya saja kau perlu mental yang kuat. " Timbal Ken berpura-pura sedang menenangkan ku.


" Apa itu benar? " Aku bersuara kecil pada Anak itu.


" Yah. Tapi jika kau pintar kau akan jadi bunga di sekolah kami!!! " ia terlihat bangga dan sangat senang.


" Wahh!! Itu sangat menarik! Tapi aku bukan siswa yang pandai, Apakah aku akan di benci? " Aku berekting murung.


" Tidak!! Kau akan menjadi temanku disana, kita akan bermain bersama sepanjang waktu, Aku akan mengajakmu berjalan-jalan nanti, Apa kau mau!?? " Itu terdengar menyenangkan bagiku.


" Terima kasih!! Aku tentu saja mau!! " Jawabku penuh antusias padanya.


Aku dan bocah itu saling tersenyum dengan lebar, sepertinya kami akan cocok nantinya, meski ia terlihat waspada dengan kehadiran sosokku disini.


" Oh? Ada lagi! Jadi kau kelas berapa sekarang? dan siapa namamu? " Aku mencoba mengorek lebih dalam.


" Ah maaf!! Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Mixel! Aku kelas 3. Ini adalah kedai kenalanku, aku bekerja di sini sembari mencari uang sekolahku. " Ia sekejab berdiri tegak dan sopan.


" Oh, ini juga kesalahan kami. Namaku Ren, dan ini Atika. Ia juga kelas 3, ia adalah murid pindahan dari luar kota. " Jelas Ken memperkenalkan kami dengan santai.


" Ohh? Kalau begitu salam kenal! " Ia menunduk sopan.


" Baiklah, kau bisa duduk sekarang, Coba ceritakan tentang sekolah itu padaku, aku penasaran dengan suasananya. Apakah menyenangkan? " Aku menantikan ceritanya dengan gembira.


" Ahh... Kau jangan terlalu berharap, meski kami adalah sekolah dengan lulusan terbaik sepanjang negri, tapi siswa didalamnya penuh dengan kekerasan. Jika kau pintar membawa diri maka kau akan di hormati, berbeda dengan siswa yang biasa-biasa saja, apa lagi kalau ketahuan dari kalangan rendah. Kalian pasti akan mati di sana. " Ia bercerita dengan serius.


" Wah!! Sepertinya sangat menakutkan.. " Aku mengekspresikan wajah ketakutan.


" Tapi kau tak perlu takut! Sebab kau anak orang kaya, mereka akan mencium kakimu. " Ia lagi-lagi memberi senyuman itu.


" Ah.. Syukurlah... Lalu bagaiman denganmu selama di sekolah itu? " Kini Ken mulai bertanya.


" Aku hebat dalam olahraga bela diri, jadi tak ada yang berani mengolokku. Jika aku mau, para orang kaya itu pasti mau membiayai sekolahku, tapi itu sangat curang jika memanfaatkan kekuatan. Hehehe.. Apa aku terdengar sedang menyombongkan diri? Ahh maafkan aku... " Ia terkekeh sembari menggaruk kepalanya.


" Tidak! Tidak! itu tentu luar biasa! Kalau begitu besok bisakah aku menemuimu di sekolah? Aku mau kau menjadi teman pertamaku di sana? Dan kau bisa mengajakku berkeliling di sekolah. Apa boleh? " Pungkasku dengan antusias.


" Tentu saja!! Segera cari aku di kelas 3 a 3!! Dan kita bisa pergi bersama-sama! " Katanya meladeniku dengan baik.


" Mixel sangat perhatian!!! Tolong, Yah!! " Lagiku kini memberi senyuman palsuku yang lebar.


Lagi-lagi aku dan Mixel saling tersenyum saat melihat satu sama lain, hingga beberapa saat kemudian.


" Baiklah, kami sudah selesai. Ini bayaran untuk makanan ini, dan ini untukmu, jangan boros, yah?! Terima kasih banyak Mixel! kedepannya mohon bantuannya yah? Kami ada sedikit keperluan jadi buru-buru. " Ken beranjak berdiri dari tempatnya.


" Ahh!! Terima kasih!! Silahkan datang lagi, Yah!!! Dadah.. Ren!! Dadah... Atika!! " Ia melambai tangan pada kami.


" Dadah, Mixel!!! Hihihihi.. " Aku membalas lambaiannya sembari tertawa kecil.


Saat kami berada di dalam Mobil.


" Baiklah, ini belum apa-apa. Besok kita bisa melihatnya! " Aku bersemangat.


Aku begitu bersemangat, sampai malah melupakan atmosfer yang terus berganti di sekitarku. Seketika aku melihat sosok di sebelahku, Wajahnya tidak begitu terlihat senang saat pertama kali turun di kedai itu, bahkan ini lebih terlihat dingin dari pada Ken di masa kecil.


" Apa aku salah bicara? " Aku tersenyum pahit melihatnya.


Matanya mendadak melihatku dengan tajam.


" Ken?.. Apa kau sedang marah? " Aku ragu mengatakannya tapi aku harus mengatakannya.


" Menurutmu? " Datarnya.


" Aduh Ken.... Apa kau cemburu pada bocah kecil itu?? Dia hanyalah seorang anak kecil yang imut, kau tidak perlu secemburu itu kan? " Aku mencari alasan yang bagus bagiku.


" I. Imuuuttt!???.. " Ada percikan api Neraka di matanya.


" Sebaiknya tadi aku pura-pura bodoh saja. Hikss... matilah aku.. " Keluhku dalam batin karena memaklumi nasib setelah ini.


Aku mencoba mengubah atmosfer di sekitar ku, tapi nyatanya gagal total. Ken Semakin marah hingga kami tiba di rumahnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2