
Keesokan harinya.
Pagi ini aku tengah duduk sambil memangku kakiku dengan anggun, layaknya putri dari keluarga terhormat.
" Afika?! PLAAK!!! Ini sapu!!! kamu kan harus piket sekarang!! " Bentak salah satu siswi di kelasku.
Lemparannya hampir saja mengenai wajahku, untunglah mataku begitu cepat memperkirakan datangnya sebuah benda itu.
" Waow! Nyaris Skali loh tadi itu " Pungkasku tersenyum remeh padanya.
" Hei.. Anak kecil sepertimu ini apa tidak apa-apa berbuat kasar padaku? Sopanlah sedikit pada yang lebih tua, dek. " lagiku mencoba memancing amarahnya.
Setelah kesadaranku yang sesungguhnya. Setiap harinya, aku malah mendapatkan perlakuan tidak adil terhadap diriku sendiri, apa mungkin diriku yang dulu perna ditindas oleh wanita murahan seperti mereka? Bukankah mereka baru menjadi anak beranjak remaja?
" Bodoh!... Aku tidak peduli! sekarang segera kerjakan!! " Kasarnya lalu berjalan menuju ambang pintu kelas.
Ia hampir benar-benar pergi, namun entah mengapa mendadak berhenti, rupanya ia hanya ingin mengatakan sesuatu padaku.
" Mengapa berhenti? apa ada yang tertinggal? hihih " Pungkasku tertawa kecil.
" Dasar tidak tau diri!! Kau ini sama denganku! hanya seorang anak SD kelas 4, dan jika benar kau lebih tua dariku, pasti kau tinggal kelas kan?! Cih! Kasihan sekali, ternyata hanya anak bodoh yang carmuk pada guru, baguslah! setidaknya aku tau kau itu bukan tandinganku. " kalimat terakhirnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan kelas ini.
Mendengar perkataan tadi, malah membuatku tertawa kecil.
" Haha.. andai saja bukan karena balas dendam pada tuan Kalijati, mana mungkin aku bersembunyi di balik identitas palsu ini. Hahahah.. sayang Skali. " Ucapku saat sendiri di dalam kelas.
" Bersihkan ini? hpm! mudah bagiku! dasar manusia bodoh! TCIK!! " Geramku lalu menjentikkan jari.
Kediaman Yuga.
Sepulang sekolah, aku langsung mengunjungi rumah Tuan Yuga, yakni orang kepercayaan orang tuaku.
" Nona Darah, ada apa anda berkunjung kemari? " Seru salah satu kepala pelayan di kediaman Yuga yang menyambutku di pintu utama.
" Segera panggil Tuan Yuga untukku. " Pintaku lalu segera duduk disofa.
" Baik, Nona. " lalu pamit.
" Hebat! Dia menyembunyikan identitas ku, dengan sengaja membiarkan aku hidup penuh keterbatasan, kesengsaraan, ketidak nyamanan. Akan tetapi dia malah hidup berfoya-foya di istana ini? Hpm. Luar biasa. " Ucapku kagum.
" Jangan berkata begitu Nona. Darah. Saya hanya menjalankan perintah Ayah anda. " Suara Yuga muncul dari anak tangga yang akan ia pijak turun.
__ADS_1
" !? " Aku terkejut ketika mendengar bahwa kehidupan ini adalah perintah Ayahku.
" Jelaskan baik-baik!! " Teriakku seraya mengepalkan kedua tanganku.
" Mohon, anda jangan salah paham terhadap saya. " lagi Yuga yang kini telah berdiri di hadapanku.
" Kalau begitu, Jelaskan padaku! apa yang kalian lakukan padaku setelah aku mengalami kejadian itu!!!? mengapa aku sampai bisa lupa ingatan, sedangkan Ken juga Nazume tidak mengalaminya sama Skali?!!! " Tingkat emosiku meningkat dalam sekejab.
Perasaan amarah ini, sangat menyiksaku. Aku tidak bisa menahan rasa penasaran, juga rasa kekesalanku saat ini.
" Maaf Nona Darah. Saya tidak punya hak untuk bercerita pada anda sekarang, mengingat anda saat ini belum cukup aman. Saya telah mengirim beberapa bawahan saya untuk mengawasi gerak gerik musuh kita, dan sekarang musuh kita sedang bertindak untuk menangkap Nona. Identitas Nona sudah mulai bocor dikalangan musuh. Saya harap Nona mau bekerja sama dengan kami, agar keselamatan nona bisa terjamin untuk beberapa tahun kedepan. " Jelasnya dengan tegas.
" Ck! Baiklah! Segera atur kelasku! aku tahu aku bukan anak SD saat ini, tingkat pemahaman ku jauh lebih baik dari anak SMP sekalipun. Dan tempatkan aku di kelas Ken juga Nazume juga. Aku tak mau tau harus memakai cara apa? tapi intinya kau tetap harus menuruti perintahku! " Kutekankan sedikit kalimatku.
" Baik, Nona Darah. " Singkatnya lalu Mengangguk.
" Baik. Aku akan pulang sekarang. Dan mengenai orang tuaku, aku akan mencari tahu sendiri. kau tidak bisa ku percaya mengenai hal ini lagi. kedepannya aku akan jarang mengunjungi mu Tuan Yuga. " Lagi pungkasku sambil meninggalkan kediamannya.
" Saya mengerti Nona. Sopir akan mengantarkan Nona. " Sautnya di belakangku.
" Oh terima kasih, tapi tentu kau tak ingin musuh kita taukan bahwa Nona Darah ada di sini? jadi sebaiknya kau tak perlu repot-repot begini. " Jawabku dengan santai sambil melambai tangan.
" Mohon berhati-hati. " Serunya.
" Mama? Apakah aku bukan anakmu? " Tanyaku kala melihat Mama angkatku sedang menjahit baju.
" !? .. " Ia terlihat mendadak berhentikan aktivitasnya.
" Afika? kamu ngomong apa sayang? kamu ini anak mama kok! " Jawabnya seraya membalikan badan dengan senyuman paksa.
" Mama? aku tau. bahwa Kau adalah salah satu sahabat Ibuku beberapa tahun lalu, kau pun yang merawatku setelah aku telah dinyatakan pulih oleh pihak rumah sakit. kalian bukan keluarga kandungku, tapi kelak aku akan membalas kebaikanmu. Mama? Aku sangat berterima kasih padamu, namun apa kau tahu resiko jika merawat Gadis Darah Kecantikan Terkutuk sepertiku? Hidupmu akan terus dikejar oleh Dukun-dukun loh.. Hpmmm, haha " Pungkasku menggodanya dengan kelicikan ku.
" Afika!! Kamu dengar Mama!! Kamu tidak berhak berkata kasar seperti ini pada Mama! Kamu..... " Ia mulai emosi padaku.
" Kamu?... Mama? Aku bukan Afika. Anakmu Afika telah tiada 12 tahun yang lalu. Dan Afika di hadapanmu saat ini adalah Angelina, anak dari Tuan Harto dan Nyonya Bellien. Anda sendiri adalah sahabat Ibuku, aku pun telah melihat foto kalian berempat. Jadi sejak saat itu, setiap malam aku terus memimpikan hal aneh. Aku tidak perna mau menceritakan padamu, selain bertanya pada Ken dan Nazume hari itu. Dan rupanya, tak disangka-sangka setelah melihat darah dari kaki mu ini, aku pun akhirnya teringat segalanya. Bagaimana? Apakah aku terlalu lancang karena tahu banyak hal yang seharusnya tidak boleh kuketahui? " Jelasku saraya melipatkan kedua tanganku dan duduk seperti Nona besar.
" Pakkkk!!! Afika!!! Jangan mengada-ngada kamu nak!! " Mama menamparku dengan wajah penuh kepanikan.
" Eh? Berani sekali kamu ini yah?! Heheh... Apa Mama lupa bahwa aku memiliki darah terkutuk? tentu Mama taukan bahwa aku memiliki beberapa kawanan tak kasat mata di sekelilingku. Lancang sekali loh.. hahah " Lagiku masih berbicara santai dengan sedikit mengancam.
" Afika..... kenapa kamu mulai berubah nak? apakah mama salah mendidikmu? atau karena darah kutukan di tubuhmu telah bereaksi? " Suara kelembutannya tidak hilang meski aku terus mencoba membuat ia emosi padaku.
__ADS_1
" Cih! Kelembutan seorang ibu yah?!. sayang Skali entah mengapa aku malah hanya merasakan emosi yang siap ku semburkan saat ini, bagai gunung berapi yang siap akan meletus sewaktu-waktu " Lagiku berucap jujur padanya.
" Afika?!!!.. Kamu harus dengar Mama nak! Kutukan itu tidak mudah hilang begitu saja!!! hikkss ..huhuhu.. " Tangisnya mulai pecah sedikit demi sedikit.
" Aku tidak takut apapun terhadap kutukan itu!!! " Bentakku menekan kalimatku.
" Afika!! " Teriaknya sambil mencengkram erat kedua lenganku.
" Aku bukan Afika!!!!! " Balasku membentaknya karena marah lalu melemparnya hingga terbentur dinding dengan kuat tanpa sadar.
"Bukk!!" Terpental dengan kuat.
" Ahkk!!! Uhukk uhukk.. " Keluhnya akibat ulahku.
Saat ini, emosiku sedang tidak bisa ku kontrol lagi. Semuanya meluap akibat nama yang membuatku merasa jijik setiap kali mendengarnya. Wanita di depanku kini kesakitan akibat kekuatan yang tanpa sengaja terlepas begitu saja.
" Angelina.. Uhuk.. beri Mama kesempatan sekali lagi nak, mama janji akan melindungi kamu dari para Dukun-dukun itu. Mama akan sembunyikan aurahmu sekali lagi, mama mohon padamu. Jangan membahayakan dirimu dengan melepas energi yang bisa terbaca oleh makhluk para dukun, nak. Uhuk Uhuk Uhuk.. " Pintanya.
" Se-ba-ik-nya kau je-laskan pa-da-ku, skarang jugaaa!!!! Ahhh!!!!!!!!!!!!!!! Ahhhh!!!!!!!!!!!! " Kalimat permintaan berakhirku dengan perasaan remuk yang kurasakan di sekujur tubuhku.
Seluruh isi dalam tubuhku seakan ingin hancur menjadi butiran pasir. Semuanya bergejolak dengan liar di sepanjang aliran darahku, suara teriakan demi teriakan terus bergema tanpa henti.
" Angelina!!! Kamu jangan paksa kan, nak!!!! Mama Mohon jangan seperti ini!! " Ucap Mama padaku yang tengah menahan kesakitannya.
" Ahhhh!!!!!!! Kenapa ini!!!!??? Kenapa sakit sekali!!!!!!!!!!!!!!! Aaaaa!!!!!!!! " Teriakku seiring rasa sakit di sekujur tubuhku.
Sesuatu telah membekukan seluruh sarafku, rasanya sangat sakit. Seperti ingin terbagi menjadi beribu bagian dan berpencar agar tak bisa di temukan.
Meledak! seakan sesuatu akan meledak di dalam peredaran darah ini, rasa panas pun mengisyaratkan ku bagai berada di neraka tempat para iblis terkutuk.
.
.
.
.
Apakah? Apakah?...
Aku akan mati akibat darah kecantikan yang terkutuk ini?
__ADS_1
.
.