
Aku terdiam di depan cermin tersebut, akan tetapi gambaran yang tadi ku lihat kini telah menghilang dan pantulannya kembali seperti cermin pada umumnya.
" .... " Sosok setiaku datang padaku.
" Bagaimana? apa kau tahu siapa pelaku yang telah menjebak ku? " Tanyaku tanpa melihat ke arahnya.
" .... " Mengontak batin dengan ku.
" Kurang Ajar!!!!! Siapa sebenarnya mereka itu!!! Mengapa selalu ingin membuatku semakin marah!!!?? " Teriakku dengan Amarah yang tak tertahankan.
" .... " Kembali mengontak batin dengan ku.
" Lelaki busuk itu! " Lirihku menyadari.
" Baiklah, kau bisa pergi. Sekarang pergilah ke rumah untuk mengetahui siapa yang sedang mengawasiku selama ini. Cari hingga ketemu, Aku perlu tahu siapa diriku sebenarnya, dan apa maksud dari ketukan di dalam diriku ini. " Pungkasku memerintahnya.
"...." Ia kembali menghilang bersama angin yang entah datang dari mana.
Setelah menemukan sosok dibalik kejadian hari ini, Akhirnya aku memutuskan untuk menemui langsung sosok tersebut di kediamannya.
" Afika?!! Eh, maksudku, Angela?! Kamu mau kemana, Dek? " Seru kak Putri kala melihatku akan bergegas pergi.
" Eh?! Hehehe. Afika aja kak. Afika mau ke rumah paman Afika dulu, Kak. Afika pergi dulu yah?! Dadah. " Ucapku menyeringai dan pergi.
" Sekarang? " Lagi Kak Feby memastikan.
" Iyah, Kak. Sekarang. " Ucapku bergegas.
" Oh, Yaudah. Hati-hati yah?! " koor Kak Putri dan Kak Feby.
" A-FI-KA?! Kamu jangan coba-coba untuk terus melakukan hal yang tidak boleh dilakukan! Sebaiknya kau tetap disini. " Pungkas Nazume dengan tajam.
" Aku! bukan! budakmu! Sebaliknya, kau yang harus menghindari hal yang tidak bisa kau hindari. " Ucapku sama seriusnya dengan Nazume.
"!?" Kak Putri dan Kak Feby tampak membeku melihat ekspresi ku yang mendadak serius.
Menyadari bahwa, dua temanku tidak tahu kebenarannya, jadinya aku terpaksa langsung mengganti suasana dengan tersenyum manis.
" Hehehe, Becanda! Okehdeh! Dadah! " lagiku Tersenyum manis dan segera pergi dari situasi canggung.
Aku berjalan cepat meninggalkan kediaman Ken dengan suasana hati yang menggebu-gebu. Entah mengapa? Rasanya slalu ingin meledakkan emosi pada siapa saja yang tidak ingin mendengarku, atau sedang memerintahku.
" Angela!!!!??? " Suara itu dari belakangku.
Aku spontan berbalik badan pada arah suara itu.
" Ken?! " Gumanku kala melihat Ken tengah berlari mengejar ku.
" Ken? ada apa? Kau tak perlu memperingati ku lagi, aku tahu apa yang ingin ku lakukan. " Ucapku lalu melanjutkan langkahku yang terhenti.
Ken ikut berjalan bersamaku.
__ADS_1
" Bodoh! Aku hanya ingin menemanimu. " Jawabnya dengan santai.
" Eh? " Tertegun.
" Tidak biasanya.. " Lirihku mencurigai sesuatu darinya.
" Katakan! Apa maumu? Aku bisa mengabulkannya untukmu. " Ucapku dengan percaya diri.
" Bodoh! Kau tidak akan mengerti. Diam dan terus jalankan keinginanmu, aku tidak yakin akan berapa lama aku bisa bersamamu. " Ucapnya tanpa beban.
" Ken? " Lirihku berhenti berjalan.
Aku menghadapkan diriku pada sosok tinggi di sampingku.
" Ken? Apa maksudmu? Kau akan pergi kemana? " Gumanku mulai merasa sesuatu akan pergi jauh.
" ?! " Ia tertegun melihat reaksiku.
" Bodoh! Aku tidak akan kemana-mana! Jalanlah!! " Jawabnya lalu melangkah sedikit menjauh dariku.
" Ken? " Lirihku merasa ada yang aneh pada reaksi Ken.
Aku masih terdiam di tempatku berdiri, ku tatap punggung yang semakin menjauh dariku. Aku seakan merasa bahwa jarak kami akan semakin menjauh suatu saat nanti.
" Ken? Apa kau akan pergi meninggalkanku? " Lirihku kala menatap sedih punggung di depanku.
Singkat Cerita.
Bukk!!.
"!?" Aku terkejut dengan kejadian ini.
" Hei!! Apa matamu buta?!!! " Teriak Ken pada pria tua berbaju hitam itu.
" Ma-maafkan saya! Saya tidak sengaja, sungguh!! " Pungkasnya sambil menyatukan kedua telapaknya di depan wajahnya.
" Kak Ken? Tidak apa-apa. Dia kan sudah tua juga, jadi wajar saja jika tanpa sengaja menabrak ku kan? " Ucapku memaklumi pria tua tersebut.
" Ah, maafkan saya, Nona. Saya benar-benar tidak begitu bisa melihat dengan jelas sejak tadi. " Alasannya pada kami.
" Eh? Bapak bilang, tidak begitu bisa melihat dengan jelas? Apakah anak bapak tidak memerhatikan kesehatan, Bapak? Tapi...... Kok saya melihat anda bisa berjalan normal tadi, dan mendadak malah goyah saat melewati ku, Apa hanya perasaanku saja yah? " Gumanku mencoba membuka kedotnya.
" Sayang sekali disini cukup ramai untuk satu pertunjukan kecil, tapi.... jika bapak mau aku bisa melakukannya tanpa jejak loh...... bagaimana? apa bapak berminat?! Tenang saja, Saya tidak akan sungkan-sungkan lagi pada bapak.. " Lagiku menatap tajam padanya.
Ia membeku setelah mendengar ucapanku padanya, mulutnya seakan kaku untuk mengucapkan sepatah kata padaku. Tak lama kemudian ia berlari kecil dengan ketakutan. Menjauhiku dan juga Ken, begitu ketakutan hingga ia tanpa sadar telah menabrak beberapa orang yang sedang berjalan di dekatnya.
" Hahaha!! Pria tua itu. dia sangat ketakutan yah!!! Hahaa.. " Gelak tawaku membuat beberapa pejalan kaki melihat ku dengan keheranan.
" Ken?! Apa kau melihatnya?? padahal aku hanya bercanda tadi loh!! Hahahha... " Lagiku tak bisa menahan tawaku.
" Diamlah, kau membuat kita di lihati banyak orang di sini.. " Seru Ken.
__ADS_1
" Hahha... Apa kau tidak lihat ekspresi pria tua itu? Hahaha, dia begitu percaya omongan anak kecil yah?!! Hahahha, Lucu Skali. Hahha " Ucapku terus mengingat wajah pria tua tadi.
" Diamlah!!! " Kesal Ken lalu menutup mulutku dan menarikku pergi bersamanya.
" Dia bodoh! dia pikir aku tidak melihat tingkahnya tadi, Aku tahu dia itu tadi sengaja menabrak ku, aku penasaran siapa yang telah menyuruhnya. Huh! Tapi tadi itu cukup lucu kan, Ken. Hahahaha.. Hahahha.. " Pungkasku lalu tak berhenti tertawa hingga Ken akhirnya bertindak.
" UMM!!! Ken kau gilaa!! " Ucapku Karena Ken telah membungkam mulutku dengan paksa.
" Diamlah! Kau membuatku malu, aku tak ingin mereka menganggap ku sebagai kakak dari wanita gila sepertimu. " Ucapnya terus menyeretku secara paksa.
" Kenn! Lepaskan!!! " Teriakku lalu melepaskan diri dari Ken.
Aku mendorong tubuh Ken dan akhirnya aku terlepas dari kekasaran Ken padaku.
" Kau kasar sekali, Ken!! " Kesalku seraya menggosok-gosok mulutku yang rada sakit.
" Terserah katamu. " Dingin Ken.
Kami berdiri di tepi jalan yang sangat ramai, Ken terlihat acuh tak acuh dengan diriku disini. Setelah beberapa saat, lagi-lagi seseorang dengan sengaja menabrak ku.
Buuk!!
" Piiiiiiiipppp....pip.pip.pip.piiiiiiiippp!!! " Suara Klakson mobil terus berbunyi.
" Hah?! " Semua orang terkejut.
" Angelaaaaaa!!!! " Teriak Ken padaku.
" Ciiittttttt... Buk!! " Rem mendadak dari mobil lalu menabrak sesuatu.
" Hei! Hati-hati ada kecelakaan!! " Suara teriak salah satu pejalan kaki di sekitar.
Aku melihat ekspresi Ken yang aneh, wajahnya begitu mengerut, seperti sedang ketakutan. Tubuhku melayang keluar dari jalur trotoar, aku juga sempat mendengar namaku yang diteriaki oleh Ken.
" Mungkin aku akan masuk rumah sakit lagi? Haiyah.. hidupku cukup ironis yah?! " Batinku pasrah.
Aku menutup mataku dengan berat hati, dan terpaksa aku hanya bisa pasrah pada takdirku saat ini. Mobil itu kehilangan kendali dan secara bersamaan, aku juga terdorong oleh seseorang yang malah mengarah pada mobil tersebut.
Ironis sekali kehidupanku, baru saja ingin mengetahui kejadian selama ini, malah sudah akan berakhir.
Kisah ini begitu tidak masuk akal dan tidka tepat, sangat mengganjal. Bahkan tidak beraturan, sangat berantakan, Kisah tentangku ini sangat tidak berirama. Namun inilah yang terjadi, semua terjadi tanpa harus kita ketahui isi jalan skenarionya.
.
.
.
.
.
__ADS_1