
Setelah puas menikmati teriknya mentari, kami pun berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan kembali ke ruanganku untuk melakukan pemeriksaan.
" Ken? Kita kembali, yuk!!? " Ucapku lalu tersenyum ceria.
" Baiklah. " Ia membalas senyumanku untuk kesekian kalinya.
Di tengah jalan menuju ruanganku, aku mengumpulkan semua keberanian ku untuk bertanya secara langsung pada Ken. Dan aku mendapatkan segala keberanian itu demi mempersingkat waktu sebelum akhirnya aku akan menyesal.
" Ken? Apa boleh aku bertanya? " Tanyaku menatap wajah yang lembut itu dengan tersenyum manis.
" Hm. Boleh saja. " Singkatnya terus menatap lurus ke depan.
" Mengapa kau melakukannya. " Ujarku lalu mengubah suasana hangat kami menjadi suasana yang hampa.
" !? " Mata Ken membesar dan seketika ia terhenti tanpa bergerak. Wajah yang lembut itu berubah menjadi tegang setelah pertanyaan yang ku lontarkan untuknya.
Mataku menatap dalam kala melihat reaksi yang di berikannya, aku menyadari kejanggalan selama bersamanya sejak aku sadar dari koma.
" Jika aku bertanya, maka kau harus menjawabnya. " Tegasku menahan rasa geram.
Tanganku mengepal dengan kuat, hatiku rasanya sakit saat mengetahui tentang perbuatannya. Aku seakan ingin membunuhnya, namun aku ingat bahwa aku yang saat ini adalah Afika di dunia ini, sosok yang berperilaku polos, ceria, Jujur, pemaaf, dan sabar. Bukan sosok Angela yang tegas, arogan, tempramen, dan tak berperasaan.
" Aku tak mengerti, apa maksudmu. Heheh" Jawabnya lalu memalingkan wajah ke arahku sambil tertawa kecil.
" Ken? Apa kau tahu kalau aku selama ini terus mengawasi gerak-gerik kalian semua? " Aku berusaha menahan emosi.
Ia tak menjawabku selain menatap mataku dengan tatapan yang aneh, seperti ada perasaan lega, takut, dan sedih.
Aurah perasaannya sangat jelas ku lihat, dia bahkan tak perna berbicara lewat batinnya jika di depanku. Apa yang ingin ia sembunyikan? Apa yang ingin ia lakukan di belakangku sebenarnya?! Apa maksudnya dengan mengorbankan itu semua??!!!
" Kenn!!!!!!!! " Aku berteriak sekuat tenagaku.
Semua orang melihat kami dengan terkejut, mereka bahkan membisikkan tebakan yang secara keliru.
Ken terpaku menatap wajahku yang mungkin saat ini sudah sangat terlihat memerah karena emosi yang telah ku luapkan. Aku tak bisa mengatur nafasku karena menahan emosi ini, rasanya ingin meledak serta rasa sakit hatiku yang terus menusuk tanpa sungkan, semakin mendorongku untuk terus mendesaknya, namun lagi-lagi aku seakan tak bisa memaksakan dirinya untuk menjawab.
" Jawab Ken!!!!!!! ... " Lagiku berteriak sekuat teganaku.
Tanpa sadar aku malah menangis, air mataku tak berhenti membasahi pipiku. Aku tak perduli lagi apa yang akan orang-orang katakan saat ini, sebab yang ingin aku perdulikan hanya * Maksud tujuan Ken melakukan itu semua untukku *
" Hiksss... Ken? Aku mohon jawab, Hiksss jawab aku Ken, jawab... Hiks.. " Suaraku bergetar seiring tangis yang tak bisa lagi ku bendungkan.
__ADS_1
Aku menutup mataku, berharap agar air mata ini tidak akan terus keluar karenanya. Namun entah mengapa, air mataku masih saja terus membanjiri pipiku, bahkan aku sampai terisak-isak di depannya.
Tanganku masih mengepal dengan kuat, namun Ken tak bersuara sedikit pun selain hanya menatapku dalam diam.
" Aku benci kau!!! " Teriakku lalu berlari secepat kilat meninggalkannya.
Aku berlari tanpa memperdulikan sosok di belakangku, Aku hanya akan terus berlari hingga aku merasa semua emosiku akan meluap karena lelah. Aku tak tahu mengapa harus sesakit ini saat mengetahuinya, dan aku tak tahu mengapa ia mau melakukannya. Apa demi aku? Atau demi kepentingan sendiri? Sebab yang aku tahu, aku tak rela untuk segala yang ia lakukan padaku.
" Aku benci Ken!!! Aku benci dia!!! " Teriakku dalam batin.
Aku terus berlari keluar rumah sakit, aku tak perduli lagi tentang pemeriksaan rutinku. Aku hanya butuh waktu sendiri untuk meluapkan segala kekesalanku.
Flasback saat di taman rumah sakit.
Sewaktu aku menikmati teriknya mentari dengan Ken, tiba-tiba sosok Virgo yang lain datang dan membisikkan sesuatu dari kejauhan padaku.
" Putri? Ken telah membunuhku yang asli. " Suara itu milik Virgo.
" Apa maksudmu? Jelaskan secara keseluruhannya padaku. " Balasku.
" Maafkan Virgo Putri. ini semua, Karena aku yang sebenarnya telah di kendalikan oleh Prinfazius melalui mantra ZUIT legendaris, pada hari dimana Putri di bawa Ken ke rumah sakit. Dan demi membuat sosokku yang lain, dia mengorbankan sisa umurnya agar aku senantiasa menemanimu. Saat itu aku tengah menjalankan perintahmu untuk terus mengawasi seluruh musuh kita termasuk wanita yang menyamar menjadi gurumu. Namun Prinfasiuz menyadari Aurah darahku, jadi dia menyerang ku saat itu aku dapat mengendalikan segelanya namun Prinfasiuz malah membacakan mantra ZUIT padaku, sehingga jiwaku tertukar oleh utusannya. Ia membunuh utusannya yang dimana itu adalah jiwaku, sedangkan tubuhku yang berisi jiwa utusan Prinfasiuz akan menjalani tugas yakni membunuhmu di saat kau koma. Selama 3 hari Ken terus menjagamu, dan akan meninggalkanmu kala waktu bersekolah, ia juga memasang mantra peredup yang dimana sebenarnya harus mengorbankan darahnya, akan tetapi karena ia bukan darah suci terkutuk jadi itu akan mengambil kekuatannya sebagai pelindungmu. Di hari ke 7 tepatnya pada malam Jum'at, utusan Prinfasiuz datang ke rumah sakit dan menghentikan waktu, namun berkat mantra peredup ia tidak terukur dalam mantra tersebut. " Jelas Virgo II padaku.
" ...... " Aku tak dapat berkata-kata.
" Aku datang tepat pada pukul 11:00 malam. Namun tak di sangka ternyata Ken telah bersiap di balik pintu, ia tahu bahwa utusan Prinfasiuz akan datang. Ia pun bertanya pada utusan Prinfasiuz tujuan ia membunuhmu, dan utusan Prinfasiuz pun menjawab bahwa ia ingin darah suci terkutuk mati agar Prinfasiuz dapat melakukan Mantra itu. Ken pun marah lalu mereka berdua bertarung, akan tetapi Ken sadar bahwa mereka berada di rumah sakit jadi ia membawa tubuhku ke dimensi lain, untuk manusia biasa mengeluarkan mantra Portal waktu akan mengurangi 20 kali sisa umurnya, dan saat itu ia masih memiliki waktu hingga usia 40 tahun. Mereka bertarung habis-habisan, dan Ken akhirnya bisa mengalahkan utusan Prinfasiuz meski telah menghilangkan banyak kekuatannya dan menumbalkan sisa usianya dalam waktu tertentu dalam sekali pemakaian, Ia mengalahkan utusan Prinfasiuz dengan mantra janji darah terukuk keramat sehingga ia lagi-lagi harus memberi tumbal. Tumbalnya adalah anugrah yang perna Sang Raden perna berikan padanya, Yakni mantra hidup abadi, dengan kata lain ia telah kehilangan kekuatannya secara keseluruhannya. walaupun ia bisa mengalahkan utusan Prinfasiuz, akan tetapi ada banyak mantra yang terpasang pada tubuh Ken termasuk mantra peledak yang akan aktif pada bulan purnama merah. Lalu karena ia tahu bahwa seluruh anugrahnya telah ia tumbalkan, jadi dengan terpaksa ia menjalankan ritual untuk menukar sisa hidupnya dengan membangkitkan jiwaku yang lain selama 1 tahun kedepan. Tujuannya karena aku bisa melindungi Putri hingga setahun kedepan, tepatnya kebangkitan Darah Suci terkutuk mu. Setelah itu baik Ken, maupun aku, kami berdua akan mati dan meninggalkan Putri bersama Nezume seorang. Putri? Aku hanya bisa menyampaikan berita ini. Mohon maafkan Virgo. " Panjang lebar Virgo menjelaskan segala yang terjadi.
Seketika aku melihat wajah ceria Ken yang seperti sedang mengabadikan moment bersamaku. Aku bertanya-tanya, mengapa ia sampai ingin melakukan semua itu demiku? Mengapa ia mendadak jadi begitu perhatian padaku? Mengapa ia mendadak bisa tersenyum selebar itu? dan mengapa hari ini ia begitu banyak bicara padaku? Dan akhirnya aku hanya tahu satu hal, Yakni hidupnya tidak akan lama.
**Back to the present.
" Hikss ..... Kalian semua kenapa?!!! Kalian kenapa ingin mati demi diriku**!!! " Teriakku saat berada di tepi danau dekat rumah sakit.
Aku menghukum diriku untuk tetap berdiam diri disini, berharap agar tak ada yang mampu menemukanku selain utusan Prinfasiuz, dan aku juga berharap semoga aku mati dengan segera tanpa harus melibatkan orang lain lagi.
Pagi menjelang siang, siang menjelang malam. Tubuhku masih ku tatah dalam posisi meringkuk, perasaan ini kembali ku rasakan lagi setelah sekian lama. Belum lama malam menjemputku, tiba-tiba ada sosok yang kini terdengar olehku sedang berlarian tepat ke arahku.
" Hah....huh....hah....huh.... " Suara nafas yang terengah-engah berasal dari belakang tubuhku.
Aku berbalik.
" ?! " Terkejut.
__ADS_1
" K-ken? " Lirihku.
Sosok itu menunduk karena kelelahan, ia bermandikan banyak keringat yang keluar dari seluruh wajahnya, baju itu sampai basah karena keringatnya. Nafasnya terengah-engah, ia melihatku sambil menutup mata sebelah dan seraya mengatur nafas. Entah sejak kapan ia berlarian, entah untuk siapa ia berlarian, entah untuk apa ia berlarian.
Aku berdiri dengan cepat karena melihat sosoknya telah kelelahan di sana. Malam ini udaranya sangat dingin, bahkan di sekitar sini tak ada pencahayaan sama Skali selain sinar bulan. Aku terus duduk di tepi danau selama seharian penuh sejak kejadian tadi, tapi aku tak menyangka bahwa ia kan berlarian hingga kemari pada malam hari.
" Ken? " Lirihku yang ingin menyentuhnya namun aku ragu.
Seketika tanpa waktu lama ia berdiri tegak dan melangkah pelan mendekatiku.
" Ken? apa kau.... " Aku ingin menyentuh pundaknya karena takut ia akan jatuh.
" ?!!!!! " Aku terkejut.
Ken tiba-tiba menarik tanganku sehingga tubuhku masuk dalam pelukannya.
" Huhh....hah...huh...hah.. " Suara nafas yang masih terengah-engah di telingaku.
Ia memelukku dengan erat, namun aku malah membeku dalam diam, aku sangat di buat terkejut dengan reaksi baru dari Ken padaku.
" Ken?.. " Lirihku lagi.
Dalam pelukannya aku merasa hangat meski angin meniup dengan kencang. Bajuku yang kering ikut menyerap keringat yang membasahi seluruh tubuhnya, aroma keringat ini tidak seperti aroma keringatku yang tak sedap baunya kala berolahraga. Meski pun ia bermandikan keringat, namun aroma tubuhnya tetap sama.
" Afika? Hah...huh... Maafkan aku... " Ucapnya lalu ia menenggelamkan wajahnya dalam pelukan.
" Khenn....." Lirihku.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1