
" Ap-apa yang terjadi?!! Mengapa rasa haus ini sangat kuat!!? " Suara batinku.
Aku mencengkram leherku dengan kedua tanganku sendiri, rasanya ingin sekali mencekik diri ini. Tubuhku sangat kaku seiring dengan rasa haus yang tajam.
" Arggkk. Haus!!! Akhrrr! " Rasa nyeri di tenggorokan ku.
" Mengapa suaraku tidak bisa keluar?!! " Lagi batinku semakin tersiksa.
Beberapa saat kemudian...
" U-uh... " Lirihku saat merasakan tubuhku yang remuk.
Aku milirik ke segala arah meski tidak begitu jelas, ada begitu banyak tubuh yang mengelilingiku.
" Putri??!! Anakku sayang!! Kau sudah sadar!!?? " Suara Raja Prinfasiuz.
" Afika?!! Kau- Kau? Syukurlah!! " Saut suara Kak Rizky.
" Di. Dimana ini? kenapa tubuhku begitu letih? Argg.. " Tanyaku sambil mencoba menggerakkan tubuhku yang seperti kehilangan tenaga.
" Tenanglah!! Tetap berbaring disana, kau hanya mengalami kolasi darah. " Pungkas Raja Prinfasiuz.
" Ko-kolasi? " Gumanku kalabmasih mencari kejernihan dari penglihatan ku
" Itu adalah efek dari bulan purnama, jika kau berdiam diri di bawah sinar bulan kala purnama, maka kau akan mengalami rasa haus yang bisa membuatmu gila bahkan tercekik tanpa di cekik. " jelas lembut Kak Rizky.
" A-apa?, La-lalu. Su-araku. Ke-ke. Kenap.Ah bi-sah. Su-sah beg-beg. ginihh! " Ucapku dengan susah payah.
Saking terasa keringnya tenggorokan ini, sampai-sampai aku pun ikut susah saat ingin berucap.
" Hanya bisa jika kau meminum darah segar saja, maka semua akan baik-baik seperti sebelumnya. " Saut Rizky disebelah ku
" Da-Darah?!! " Batinku.
" Ti- tci gal kan akh u sen dci lliihh. " Lagiku berusaha bersuara sambil memegang tenggorokan ku yang begitu sakit.
Dalam sesaat semua orang terdiam, dan akhirnya mereka pun mulai meninggalkan diriku sendirian.
Dalam kesunyian, aku memiringkan wajahku pada sinar mentari di pagi hari, begitu hangat saat menyambar wajahku. Perlahan-lahan aku memejamkan mataku.
" Afika?? Nak?. Afika sayang? ayo bangun kamu sudah mau terlambat ke sekolah, loh. " Suara itu terdengar seperti milik Mama yang setiap pagi membangunkan ku.
" Ha? " Lirihku seraya menggosok mataku.
" Loh.. Kok masih gosok-gosok matanya sih? Ayok cepat bangun sayang. Emangnya kamu mau, nanti di suruh hormat bendera sama gurunya? " Seru Mama yang kini duduk di samping ranjang ku.
" I-iyah, Iyah. " Gumanku lalu mulai berjalan sempoyongan.
" Inih handukmu! Mama mau jualan, kamu mandi cepat!! " Laginya lalu mengalungi handukku.
" Cuman mimpi yah tadi itu? " Lirihku saat telah berada di dalam kamar mandi.
Seperti biasanya, aku akan meluangkan waktu untuk melamun sebentar di kamar mandi, dengan kata lain Kumpul nyawa.
" Kok kayak nyata yah? Di mimpi itu Afika, kayak lagi berantem Ama mama? trus mama nangis karna Afika, tiba-tiba Afika sudah ada di istana aneh dengan orang orang aneh, juga ingatan aneh! Tapi?? Kok kak Rizky malah muncul dan ngaku soal Darah terkutuk itu? Apa hubungannya dengan Afika? " Gumanku tanpa sadar terlarut dalam pikiranku.
" Afika?!! Telur Fuyung-Hao nya udah di atas meja yah?? jangan lupa dimakan!!! " Seru mama di luar.
" Iyah!!! " jawabku.
beberapa menit kemudia.
" NyamNyamNyam.... " menyantap sarapanku.
Usai sarapan, aku bergegas memakai sepatu di depan rumahku, lalu berjalan menuju pangkalan ojek untuk segera ke sekolah.
Sepanjang perjalanan, aku masih terus memikirkan mimpi itu. Apa tidak aneh jika itu serasa nyata?
" Apa yang Afika mimpiin itu yah?? kenapa Afika jadi begitu? Ah. Yah, sudahlah. " Guman yang ku tepiskan.
" Oh Iyah?! Entarkan ulangan. " Ingatku lirih.
Tiba di kelas.
Sesi ulangan.
" Afika? Ini adalah ulangan susulan mu, beberapa hari itukan kamu sakit jadi tidak bisa ikut bersama teman teman yang lain. ini bapak kasih kamu semua lembar ulangannya, terserah kamu mau kerjainnya kapan? intinya sore ini sudah harus selesai yah?! Soalnya lusa sudah pencatatan raport kenaikan kelas. Bapak tidak bisa kasih kamu waktu, selain satu hari ini dan kamu bisa pakai ruang seni budaya. Akan bapak kasih tau bahwa ruangan itu kamu sedang memakainya untuk ujian susulan nanti. " Jelas Pak Rahman dengan lembut.
" Hah?? Sakit?!! Masa sih pak? " Tanyaku kebingungan.
" Loh? Iyah. 2 Minggu ini kamu sakit, Kalo tidak salah ada semingguan kamu di rawat di rumah sakit karena koma, lalu karena keuanganmu yang menipis jadi dengan terpaksa Mama kamu membawamu pulang ke rumah. Bapak dan teman-teman kelasmu belum lama ini menjengukmu. Apa kamu tidak sadar? " Lagi pak Rahman tampak serius.
" O-oh. Iyah. Kalo begitu Afika pamit ngerjain ulangan dulu pak, Assalammualaikum. " Ucapku lalu menyalin punggung pak Rahman.
" Afika?! kalau tidak bisa, jangan paksakan yah, nak?! " Serunya saat tubuhku berada di ambang pintu kantor.
" Iyah, Pak. Terima kasih banyak. " Pungkasku datar.
Aku berjalan menyusuri jalan menuju ruang seni budaya, ada keganjalan yang mengitari pikiranku. Selama dua Minggu aku di katakan sakit dan selama seminggu koma di rumah sakit. Namun yang ku ketahui dengan jelas adalah aku seperti di culik di dunia lain yang bernama Astrolo.
" Astrolo. " Gumanku.
" Wuushhhhhsss..... " Hembusan angin yang tiba-tiba menyambarku.
" Aneh! sepertinya aku hanya tertidur semalaman saja, kenapa sekarang begitu... " Gumanku larut dalam pikiran sendiri.
" Angela!!! " Teriakan Yang ku kenali.
Set.
Berbalik badan.
" Eh kak Ken?! " Senyumku menyadari.
" Huh,hah,huh,hah... Kamu beneran udah sadar yah! Syukurlah Hah..hah... " Ucapnya diselah-selah tarikan nafas yang berantakan.
" Eh?! A- Ah Iyah kak! " Ucapku berpura-pura.
" Angela!!! Ken!!! Angela!! " Seru teman-teman lain di belakang Ken.
" Huh. hah. Huh.. Hah.. Ken?! Kah. Kamuh larihnya cepet banget sihh.. Hah.. hah.. " Protes Kak Feby yang sedang bersandar di dinding.
__ADS_1
" Angela. Bagaiman kondisimu? " Seru dingin kak Nadiya.
" Eh? Baik, Kak! " Lantangku.
" Eh- Angela? Ulanganmuu... " Ken menunjuk ragu kertas ulanganku.
" Oh- Iyah!! Kalo gitu Afika pamit dulu yah!! Afika harus selesaikan ini dulu!! Dadah!! " Pamitku lalu berlari cepat.
" Angela!!! Kapan kau selesaikan itu!!!?? " Teriak Ken di belakangku.
" Pukul 4 sore nanti!!!! " Jawabku sambil berlari.
Aku berlari dengan cepat menuju tempat tujuanku, pembicaraan tadi sudah menelan waktuku selama 10 menit lamanya. Sedangkan ulangan ini, totalnya ada 12 mata pelajaran. Semoga saja bisa!!!
" Akhirnya sampai jugahh.. hah...hah.. hah.. " Tibaku di ruang semua budaya.
Ruangan ini cukup menarik, sangat luas, dan juga tentram.
" Tin tin tin tin tin..tliinggg!! " Tanganku menekan keyboar pianonya.
" Hah ..... Sekarang saatnya deh!! " Seruku lalu menaruh tas di lantai.
Aku mengeluarkan tempat pensil ku, lalu mengambil satu mata pelajaran beserta lembar jawabnya yang akan segera ku isi.
" B.Indonesia. " Gumanku.
Aku mulai mengisi semua step-step saat mengerjakan ulangan ini. namun saat baru mulai tiba-tiba..
" Afika? " Seru suara wanita.
Aku mengangkat kepalaku.
" Eh ibu? Ada apa Bu? " Seruku kala melihat sosok Bu Wiwi sudah di depanku.
" Ibu di minta Sam Pak Rahman untuk jadi pengawas kamu. sudah mulai kerja yah? " Jawab Bu Wiwi.
" Iyah nih Bu! " Lantangku.
" Yah sudah, lanjutkan yah kamu konsentrasi saja pada ulangan di depanmu, kalo perlu apa-apa bisa minta tolong pada ibu. " Jelasnya lalu mengambil kursi.
" Em! " Anggukku semangat.
Aku melihat isi pertanyaan dari kertas ulanganku.
" Woishhh! esai. " Guman pelanku saat melihat isi ulangannya.
" Kok pertanyaannya.... " Mendadak setiap kalimat muncul begitu saja di pikiranku.
Aku menulis sesuai yang ada dipikiranku, tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Hanya cukup membaca sekali saja setiap pertanyaannya, maka akan terlintas sebuah kalimat yang ku yakini itu adalah jawabannya.
3 jam telah berlalu, ada begitu banyak soal yang telah ku kerjakan. Bu Wiwi juga sejak tadi hanya memerhatikan hp nya walaupun kadang sesekali ia bertanya, apakah aku memiliki kesulitan dalam mengerjakan ulangan tersebut?
" Afika?? 15 menit lagi waktu istirhatamu. Kamu segera selesai ulanganmu yah? agar bisa membaca sedikit materi mata pelajaran ulanganmu. " Pungkas Bu Wiwi dengan lembut.
" Eng-Ngak, Bu! Afika ngak mao istirahat deh! soalnya Afika suka sama ulangan ini, materi susah sekali, jadi bikin Afika penasaran kalo sampe ngak tahu materi ini, Hihihi... " Jawabku menolak sambil menyeringai.
" Yah sudah, tapi jangan paksakan diri yah, ibu akan temani kamu sampe selesai disini. " Lagi Bu Wiwi.
" Wah... sudah 4 mata pelajaran yang baru selesai, Baru tahu aku Soalnya ada lebih dari 50 butir, bahkan sampe 70. Kok teman-teman ngak stres yah?? Afika sampe stress loh liat soalnya yang banyak, mata Afika berasa belrkunang-kunang! Heduehh... Pusing pala Afika. " Gumanku mengeluh.
Waktu terus berjalan, semua mata pelajaran hampir tersapu habis olehku. Masing-masing mata pelajaran yang ku kerjakan, rata-ratanya akan menghabiskan waktu hingga 2 jam lebih, aku cukup kewalahan memutar otak untuk mengerjakan semua itu.
Tak terasa hari sudah sore, namun aku masih belum juga menjawab tuntas ulanganku, hingga akhirnya Bu Wiwi meminta ijin untuk menjemput anaknya di tempat les dekat sekolah.
" Afika? Ibu jemput anak ibu dulu yah? Kamu ngak apa-apakan di tinggal sendiri di sini? Soalnya anak ibu itu penakut kalo jalan sendiri ke sini. " Jelasnya sambil mulai beranjak bersiap pergi.
" Ok Bu!! Tenang aja! Afika, ngak bakalan nyontek kok! " Pungkasku.
" Hahah.. terima kasih, Afika. kalo gitu permisi yah. " Pamitnya lalu menuju ambang pintu.
" Assalammualaikum! " Seru teman-teman ku yang baru saja datang.
" Waalaikumsalam " Balas ku dan Bu Wiwi.
" Oh pas sekali!! Nadiya, Kamu dan teman-teman kamu tolong temani Afika yah!! ibu mau jemput anak ibu dulu di tempat lesnya. " Pinta Bu Wiwi pada Nadiya.
" Iyah Bu, serahkan saja pada saya! Ibu berhati-hatilah!! " Lantang Nadiya.
" Baiklah, ibu sedikit tenang jika kalian membantu ibu. Ibu pamit dulu yah, kalo ibu belum sempat datang tepat waktu, Hantarkan saja Ulangan itu di atas meja ibu. Pulang baru akan ibu periksa. " Jelasnya pada kami.
" Baik, Bu! " Koor kami semua.
Bu Wiwi berjalan menjauh, sedangkan teman-teman ku tengah menungguku di depan.
" Tungguh yah! Tinggal 1 soal lagi nih! " Seruku.
" Santai ajalah Fik! Lagian kita juga ngak buru-buru kok! " Jawab Kak Feby.
" Oh, gitu yah? Tapi Afika udah selesai nih!! " Seruku cepat sambil mengangkat lembar jawabanku.
" Loh? Cepat banget sih!! " Kaget Kak Putri.
" Hehehe, Iyah soalnya Afika laper bangettt.. Mau jajan, tapi kayaknya udah pada tutup yah? " Pungkasku sambil membereskan dan mengecek kertas Ulanganku.
" Okeh dah beres!! Yuk pulang!! " Ajakku.
Kami berjalan bersama-bersama, menulusuri koridor sekolah.
* Tibanya kami di ruang guru.
" Permisi, Pak! Saya mau ijin taruh ini di atas meja Bu Wiwi, Meja Bu Wiwi dimana yah, Pak? " Seruku pada bapak guru yang sudah lansia.
Ia mengangkat wajahnya dan melihatku, sambil menunjuk meja yang paling pojok di sebelah kiri.
" Terima kasih, Pak! " Ucapku lalu berjalan sesuai yang di tunjuknya.
Akan tetapi sewaktu aku berjalan menuju meja Bu Wiwi, salah satu seorang guru datang dengan beberapa muridnya yang mengikuti di belakangnya.
" Assalammualaikum, Pak! Pak maaf! Saya boleh tidak lihat kertas ulangan yang seluruh siswa kelas 6? Soalnya tadi pagi murid saya bilang ia tanpa sengaja menabrak salah satu guru saat disini, lalu tanpa sengaja juga kertas ulangannya tertukar akibat tabrakan saat itu. " Jelas Pak Guru yang sedikit agak tergesa-gesa.
" Loh? Itu bukan wewenang saya. Tapi tolong tunggu sebentar, saya telpon dulu komite kesiswaan yah?! " Pungkas Pak Guru kami.
__ADS_1
Seluruh teman-temanku terpaku melihat kondisi yang ada didepan mata kami, aku pun ikut terpaku saat menyaksikan wajah kekhawatiran Guru tersebut.
Ia sesekali memarahi salah satu siswanya yang berada di belakangnya, sedangkan Pak guru kami sedang berusaha menghubungi pihak berwenang untuk meminta ijin. Aku menyadari niatku dan tersadar akan diri yang membeku, akhirnya aku pun memutar badanku dan malanjutkan langkah kaki ini menuju meja Bu Wiwi.
" Astaghfirullah ulanganku! " Gumanku tersadar dari lamunan.
Segera aku memutar badanku dan berlari kecil. Akan tetapi mendadak Pak guru itu, tiba-tiba memasang wajah yang menakutkan saat aku meliriknya.
" Ya, Allah? Serem banget sih wajahnya! " Batinku ketakutan.
Aku menaruh kertas ulanganku dengan baik-baik di atas meja, namun entah mengapa Pak Guru tersebut malah berseru kearahku.
" Kamu!!? " Seru Guru tersebut.
Aku melirik kanan kiriku, tak ada siapapun sedangkan wajahnya mengarah padaku. Jadi untuk memastikannya, aku menunjuk diriku sendiri dengan penuh keraguan.
" Sa-saya yah, Pak?! " Raguku karena merasa takut.
" Iyah! Kamu!! Coba bawa kemari yang kamu pegang itu!! " Pintanya dengan garang.
*Gl**ek*!.
Aku menelan air ludahku dengan susah payah, mendengar cara dia berbicara padaku, aku merasa bahwa aku akan terkena masalah besar selanjutnya.
Aku berjalan ragu menemuinya, sampai tibanya tubuhku di depan Guru tersebut.
" Srek!! " Ia merampas Semua kertasku.
Matanya sekita membesar kala pertama kali melihat kertas ulangan ku, lalu ia pun menatapku dengan tajam.
" !? " Kagetku kala melihat mata yang siap menerkam tubuh kecilku
Aku langsung menunduk ketakutan sewaktu di beri tatapan yang mengerikan seperti itu. Tanpa berbicara apapun, ia lalu berbalik badan seraya berkata.
" Eh? Pak Yanto!!!? Maaf merepotkan, tapi saya telah mendapatkan kertasnya! Kalau begitu saya minta ijin pamit dulu. " Pungkasnya pada Pak Guru kami yang masih berusaha menelpon.
" Oh? Sudah dapat?! Baiklah, Pak, Tidak apa-apa. " Jawab Guru kami.
" Nanti saya cari kamu lagi!! Kelas berapa kamu!? " Garangnya menunjukku.
" Ha!! Ke-kelas 4 A² Pak! " Gumanku gagap.
Setelah mendengar jawabannya, ia pergi bersama murid-murinya dan meninggalkanku begitu saja.
" Afika?!! Itukan kertas ulangan kamu?? " Lirih Kak Putri menunjuk kertasku yang telah dibawa pergi.
" Kalo kertas itu tidak di periksa sama guru kita, kamu bakalan tinggal kelas! Kamu buat masalah yah sama Guru garang itu? " Tebak Kak Feby yang ambigu.
" ... " Aku bungkam.
Seakan dunia runtuh menimpaku seorang, aku begitu takut Mama akan kecewa jika benar aku tidak naik kelas.
" Afika?!! Aku tadi liat Batagor loh!! Kamu suka itu kan?!! " Seru Kak Nadiya mencoba membujukku.
" Em. " Anggukku lemah.
" Afika?!! " Seru seorang wanita di belakangku.
Aku membalik badanku, Sosok itu adalah Bu Wiwi sambil mengandeng gadis kecil yang lucu.
" Sudah taruh di meja ibu yah?! " Tanya Bu Wiwi.
" Sudah Bu, Tap... " Gumanku ragu.
" Oh baguslah kalau begitu! Ibu akan pulang jika sudah kamu letakkan di atas meja, kalian juga harus pulang yah!! " Sautnya lalu berjalan cepat memasuki mobilnya.
" Afika?! Kok kamu ngak kasih tau sih kalo kertasmu sudah di bawa oleh guru tadi? " Saut Kak Putri.
" .... " Aku tak punya alasan apapun.
" Yah sudah! Besok baru kita bicarakan! Sekarang yang terpenting perut kita dulu, seharian kita ngak ke kantin karena ngak ada Afika, Yukk beli batagor!! " Potong Kak Feby sambil mengelus-elus perutnya.
Kak Putri dan juga Kak Feby berjalan memimpin kami, mereka tampak biasa saja, dan sesekali terus menghiburku meskipun aku tidak terlalu menanggapinya.
" Sejujurnya aku sudah tau itu bukan kertas ulanganmu. " Guman Ken yang mengejutkan Kami semua.
" Hah!?? " Kor kami.
" Kenapa Lo ngak kaasih tau dari tadi bego!!! " Teriak Kak Feby yang mulai bersiap menghajar Ken.
" Tunggu kak! " Ucapku menghalang Kak Feby.
" Kak Ken punya alasan untuk itu! " Ucapku melanjutkan.
" Yah sudah, sekarang jelaskan pada kami kenapa kamu tidak memberitahukan pada kami, terutama Afika. Apa kamu tau ulangan itu sangat penting untuk kenaikan kelas!! tidak mengerjakan 1 mata pelajaran saja, maka tidak akan ada harapan untuk bisa duduk di kelas selanjutnya?!! Kamu kan tahu itu!! " Kesal Kak Putri yang penuh emosi.
Singkat cerita.
Kamarku
Aku tengah membuka buku pelajaranku, sambil berbincang dengan salah satu temanku.
" Cari tahu, siapa yang merampas kertas ulanganku itu! lalu curi pembicaraan mereka tentangku. Aku tak mau ketakutan lagi saat di panggil olehnya! " Pungkasku pada satu sosok di belakangku.
" ... " Ia membisu lalu menghilang bersama hembusan angin yang tiba-tiba menerpaku.
" Tidak akan aku ijinkan siapa pun memasang mata seperti itu padaku. Dari mimpiku pagi ini sepertinya itu bukan Hanya Mimpi! Emosiku terus berubah-ubah dengan sendirinya, aku tahu betul itu bukan kondisi normal. Bisa jadi akau memilii dua kepribadian. " Guamnku mencoba memikirkan segala emosiku selama ini.
" Sejak melihat darah Mama, semua menjadi seperti ini. " Lagiku.
" Ken Nazume pasti tahu! Aku akan minta mereka segera menemuiku. " Ucapku bergegas.
.
.
.
.
**Author ingin mengucapkan, Selamat merayakan Idul Fitri 1442H, Minal Aidin Wal Faaiziin, Mohon maaf lahir dan batin.
__ADS_1
Dan Author juga ingin meminta waktu kalian sejenak untuk mendoakan saudara kita yang sedang mendapat perlakuan tidak adil, Semoga Rakyat Palestina segera mendapat keadilan di mata dunia.
Terima kasih telah mendukung Kami☺️**