Dari Selir Menjadi Ratu Kaisar

Dari Selir Menjadi Ratu Kaisar
Bab 1 Kondisi Rumah Chi Xia


__ADS_3

Nama ku Chi Xia, lahir di keluarga yang memiliki banyak kekurangan. Bahkan untuk makan beras saja kami tidak ada, bukan hanya beras saja tetapi makanan lain pun juga seperti itu. Misalnya daging, gandum, bahkan air yang jernih saja kami tidak bisa mendapatkannya.


...****************...


Aku kini sudah berumur 10 tahun. Kebanyakan anak-anak yang berumur seperti diriku itu biasanya hanya memikirkan bermain saja, tapi kali ini berbeda contohnya aku.


Aku yang sudah berumur 10 tahun sudah memikirkan bagaimana caranya aku bisa bekerja, bahkan aku merengek meminta kepada orang tua ku untuk aku mau bekerja di rumah orang lain


Tetapi orang tua ku melarangku bekerja seperti itu dikarenakan aku masih anak kecil, mereka mengkhawatirkan ku jika aku terluka dan mengkhawatirkan ekonomi kami karena kondisi kami saat ini.


Setiap pagi kami bertiga keluar dan mencari makanan, di dekat rumah kami tidak ada satupun tetangga hanya kami saja yang tinggal di dekat situ.


Kami pergi mencari makanan, apa yang kami dapatkan itu lah yang kami makan.


Terkadang ayahku pergi ke perdesaan untuk mencari makanan sisa penduduk di sana, sedangkan aku dan ibuku setiap hari kami selalu memetik rumput dan juga memetik dedaunan yang bisa di makan.


Setelah itu kami langsung mengambil air untuk minum, mandi, mencuci, bahkan juga untuk memasak.


Kami mengambil air dari selokan yang sangat kotor dan juga bau, tapi kami tidak mengeluh sama sekali bahkan aku juga tidak mengeluh sama sekali.


Ayah selalu pulangnya sore karena, jarak dari desa ke rumah kami itu sangat jauh.


Kali ini ayah membawakan beras yang terbuang dan terkena tanah untuk kami makan, aku sangat gembira setelah aku melihat ayah membawakan kami beras yang bekas tanah.


Yah walaupun beras itu bekas tanah dan paling sekitar tiga genggam tangan saja sudah bersyukur kami bisa merasakan rasa beras itu menjadi nasi.


Lauk kami hanya rebusan rumput dan daun, minuman kami belas air yang ada si selokan.


Bahkan kami selesai mandi terharum bau selokan, tapi kami tidak pernah mengeluh sama sekali tentang kehidupan kami di sini.


Selesai makan kami langsung tidur malam, kasur kami saja terbuat dari tumpukan tanah, selimut dan bantal kami terbuat dari daun pisang.


Baju yang kami pakaian kami saja bekas orang yang sudah membuang pakaiannya.


Rumah kami seperti pondok, atap rumah kami terbuat dari daun kelapa yang di tumpukan dan di buat menjadi atap rumah.


Setiap proses membikin rumah menggunakan kayu, sedang kan kami terbuat dari batang pisang agar bisa kokoh dan tidak mudah rubuh.

__ADS_1


Ketika hujan semua orang menggunakan payung tapi, kami menggunakan daun pisang sebagai payung.


Kami hanya bisa merasakan segarnya air yang jernih itu ketika hujan turun dengan sangat deras.


Biasanya kami jika sudah seperti itu kami bergegas mencari ember dan menampung air hujan, kami mencari ember yang banyak agar bisa mendapatkan banyak air hujan yang segar dan dingin.


Bahkan juga aku bisa diam-diam pergi ketika ayah dan ibu tidak ada di rumah dan pergi jauh dari rumah


Aku diam-diam pergi dari rumah untuk mencari pekerjaan sebagai pelayan, namun itu tidak dapat terwujudkan.


Karena aku masih kecil jadi banyak penduduk desa itu menertawaiku dan anak-anak di desa itu juga mengejekku sebagai "Kerbau Busuk", karena badanku dipenuhi bau air selokan yang sangat kotor dan bau itu.


Namun aku hanya bisa tersenyum dan menerima kenyataannya.


Aku sangat bingung karena tidak tau harus mencari pekerjaan di mana lagi, semua orang menolakku untuk bekerja karena aku masih kecil dan tidak berguna.


Ada juga yang berkata kalau aku sebenarnya bisa di terima tapi karena aku bau mereka tidak mau mempekerjakan ku, aku di situ sudah pasrah dan tidak tau mau berbuat apa lagi.


Suatu hari aku melihat pasukan dari kerajaan.


Beberapa pasukan tersebut membawa 2 kereta kuda, semua orang sangat heboh melihat bahwa keluarga kerajaan datang ke perdesaan.


Setelah aku melihatnya ternyata ada seseorang turun dari kereta kudanya.


Semua orang heboh ketika melihat ratu, raja, dan pangeran turun dari kereta kudanya.


Para penduduk remaja berharap seandainya saja pangeran anak mereka itu berumur sama dengan mereka, pangeran tersebut berumur 15 tahun.


Dia dan aku hanya beda 5 tahun saja, para prajuritnya ingin mengumumkan sesuatu aku ingin mendengarkannya juga tapi aku melihat jam menunjukkan bahwa sebentar lagi orang tua ku makan pulang.


Aku bergegas pulang ke rumah. Jika aku tidak segera pulang ke rumah duluan sebelum mereka, mereka akan mengkhawatirkan keberadaan ku dimana saat ini.


Aku langsung pulang tanpa mendengarkan pengumuman dari prajurit kerajaan itu, saat aku di jalan aku melihat karang tua ku sebentar lagi akan sampai di rumah.


Aku berpura-pura memperhatikan sekitar dan mencari sesuatu. Akhirnya aku terlihat oleh orang tua ku. Mereka menanyakan aku sedang melakukan apa di sana.


"Chi Xia" panggilan dari ibu

__ADS_1


"Iya ibu" aku menjawab panggilan dari ibu


"Apa yang sedang kau lakukan di sana nak?" tanya ibu


"Aku sedang mencari tanaman bunga ibu" jawabku


"Untuk apa kamu mencari bunga nak?" tanya ayah


"Tidak ada, Chi hanya bosan di rumah dan berpikir memetik bunga saja untuk menghilangkan rasa bosan di rumah" jawab ku


"Masuklah nak, kami membawakan makanan untuk mu" jawab ayah


"Benarkah?" jawabku dengan ekspresi gembira


"Iya itu benar nak" jawab ibu


"Sebentar lagi aku akan masuk ibu, ayah. Kalian duluan saja aku ingin memetik bunga terlebih dahulu" jawab ku


"Baiklah nak, ingat jangan lama ya" jawab ayah


"Iya ayah" jawab ku


Mereka berdua lalu masuk ke rumah dan aku akhirnya bisa bernafas lega jika mereka tidak tau kalau aku pergi dari rumah.


Tetapi, pengumuman itu masih terpikir oleh ku, aku ingin sekali mendengarkan pengumuman itu.


Tapi aku lupakan saja tentang pengumuman itu dan fokus mencari bunga saja untuk menghilangkan rasa bosan yang aku katakan kepada ayah dan ibu.


Pengumuman itu masih saja teringat di pikiranku, jadi untuk mencari bunganya aku tidak fokus sehingga aku melewati bunga yang paling indah.


"Ya ampun, aku ingin sekali mendengarkan pengumuman itu tapi tidak bisa" jawabku dengan kesal


Aku melihat bunga yang sangat indah mengapung di atas air


"Bunga apa ini?" tanya ku


"Ini indah sekali"

__ADS_1


......Lanjut bab 2......


__ADS_2