
Chi Xia terus berada di dalam kereta kuda sambil memikirkan kalau selama ini dia salah terhadap kaisar tersebut sehingga dia langsung berpikiran negatif terhadapnya.
"Bagaimana ini ya? Apakah aku harus meminta maaf kepadanya? Tapi...jika aku meminta maaf kepadanya, aku sangat malu karena aku telah berpikiran negatif terhadapnya"
"Nyonya"
"Iya?"
"Apakah kamu tidak aman turun dari kereta kuda ini?"
"Oh baiklah aku akan turun, maaf aku terlalu lama di dalam karena aku tadi sedang melamun"
"Tidak apa-apa nyonya"
Chi Xia terus memikirkan apakah dia harus meminta maaf kepada kaisar atau tidak. Setelah di pikirkan terlalu lama, akhirnya Chi Xia memutuskan untuk meminta maaf.
Akhirnya dia pertama menuju ke dapur untuk membuat teh agar perbincangan mereka lancar dengan meminum teh sambil santai nantinya.
Setelah membuat teh, Chi Xia langsung pergi menuju ruangan kaisar sambil membawakan teh untuk mereka berdua mengobrol dengan santai nanti.
"Aku sudah membikin teh untuk kami berdua mengobrol dengan santai. Dan juga, teh bisa membuatku berbicara tidak dengan gaya gagap nantinya"
Chi Xia pun sudah sampai di depan pintu ruangan kaisar tersebut. Dia mengetuk pintu ruangan kaisar dan dia diperboleh kan masuk oleh kaisar.
Chi Xia langsung menaruh kan teh tersebut di atas meja.
"Mengapa kau membawa teh kemari?"
"Aku membawakan teh untuk kita berdua sambil menikmati teh yang hangat ini dengan santai"
"Oh, begitu rupanya. Baiklah, terima kasih kau telah membuatkan ku teh hari ini" sambil mengambil teh di atas meja
"Iya sama-sama"
Mereka berdua menikmati teh itu bersama. Namun, Chi Xia ingin mengatakan sesuatu kepada kaisar namun ia tidak berani untuk membicarakannya.
"Yang mulia"
"Ada apa?"
"Aku ingin mengatakan satu hal kepadamu"
__ADS_1
"Katakanlah"
Chi Xia masih ragu untuk mengatakan kepada kaisar kalau dia ingin meminta maaf kepada kaisar karena dia selama ini berpikiran negatif terhadapnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan kepada ku?"
"Aku ingin..."
"Yang mulia" salah satu prajurit datang ke ruangan kaisar
"Ada apa?"
"Ada sebuah surat penting sedang menunggu mu di ruangan aula kerajaan"
"Baiklah. Kau pergi lah dulu, aku akan segera menyusul"
"Baik yang mulia"
"Maaf Chi Xia, aku tidak bisa mendengarkan apa yang ingin kau katakan. Karena aku mempunyai urusan yang sangat penting"
"Baiklah"
Kaisar tersebut mengulurkan tangannya dan mengusap kepala nya.
"Baiklah yang mulia"
Kaisar tersebut langsung meninggalkan Chi Xia sendiri di dalam ruangan kaisar tersebut. Chi Xia wajah nya langsung memerah karena malu.
Dia terus membayangkan wajah kaisar dengan penuh kelembutan mengusap kepalanya dan itu membikin Chi Xia wajahnya memerah semua karena malu.
"Ya ampun! Apa yang terjadi dengan diriku!? Padahal aku sudah membuat rencana untuk berbicara dengan nya, mengapa aku gugup!? Aaaaaaa......!!! Chi Xia! Kau memang orang yang bodoh!"
Chi Xia memarahi dirinya sendiri kalau dia tidak bisa mengerjakan seperti yang sudah dia rencana kan tadi. Chi Xia malah membayangkan wajah kaisar tersebut.
Chi Xia langsung meninggalkan dari ruangan kaisar tersebut dan pergi menuju taman kerajaan. Chi Xia langsung membikin rencana baru di taman kerajaan tersebut.
Namun, Chi Xia selalu digagalkan oleh wajah kaisar yang mengusap kepalanya tadi. Setiap kali Chi Xia membayangkan wajahnya pasti dia selalu lupa rencana yang dia buat tadi.
Chi Xia berteriak sendiri di taman tersebut sehingga dia dilihat semua pelayan karena mereka berpikir kalau Chi Xia sudah gila karena bekerja di sini.
Dan dia terus mondar mandir memikirkan rencana terbaiknya untuk mengatakan dia ingin meminta maaf kepada kaisar tersebut. Namun digagalkan lagi oleh wajahnya.
__ADS_1
Chi Xia melompat, berteriak sendiri di taman itu. Akhirnya dia lelah dan berbaring di atas rumput yang sangat nyaman tersebut. Chi Xia berbaring sambil memikirkan rencananya.
Setelah 4 jam lamanya dia nemikirkan rencana barunya, akhirnya dia menemukan rencana baru yaitu langsung kengatakannya di hadapan wajah kaisar tersebut.
Dan dia memberanikan diri untuk mengatakan seperti yang sudah dia rencanakan sebelumnya. Saat dia ingin pergi ke ruangan kaisar, dia melihat kaisar disana.
Dia melihat kalau kaisar pergi menuju ruangannya dengan ekspresi wajah yang sedang marah besar. Dan itu membuat Chi Xia takut melakukan rencana nya tadi.
Namun dia memberanikan diri dan ikut pergi juga menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan kaisar tersebut, dia langsung mengatakannya di hadapan kaisar itu.
"Yang mulia, sebenarnya aku mau mengatakan sesuatu kepada mu"
"Katakan secara langsung aku lagi sibuk!" dengan ekspresi wajah marah sambil mengerjakan urusannya
"Sebenarnya aku ingin meminta maaf kepada mu karena aku salah berpikir tentang dirimu. Tolong maaf kan lah aku yang mulia perkasa" sambil wajah memerah
Kaisar tersebut tiba-tiba berhenti menulis dna dia terdiam. Chi Xia langsung menyadari apa yang telah dia katakan tadi tidak sesuai dengan rencana nya.
"*Apa yang aku katakan tadi barusan!? Aku mengatakannya yang mulia perkasa!? Ya ampun, itu tadi tidak sesuai dengan rencana yang aku buat tadi! Tamatlah sudah riwayatku*"
Kaisar tersebut langsung bangkit dari tempat duduk nya dan menuju Chi Xia.
"*Tamatlah riwayatnya Chi Xia, dia pasti akan memarahimu*"
Kaisar tersebut langsung menarik tangannya dan Chi Xia bersentuhan dengan tubuhnya yang kekar tersebut. Itu membuat wajah Chi Xia menjadi memerah.
"Tadi kau mengatakan aku apa? Yang mulia perkasa?"
"*Tematlah riwayat mu Chi Xia*. A...aku..."
Kaisar tersebut langsung memeluknya dengan penuh kelembutan dan mengatakan kalau perkataannya tadi membuat dia menjadi lebih tenang.
Chi Xia merasakan kalau pelukan kaisar tersebut dengan penuh kelembutan dan kehangatan seperti pelukan dari ibunya yang sangat dia sayangi.
Chi Xia langsung memeluk tubuh maisar tersebut dan membayangkan kalau itu adalah pelukan dari arwah ibunya datang untuk memeluk kembali putri tercintanya.
Chi Xia tidak memperhatikan kalau yang dia memeluk tubuh kaisar dengan sangat kuat dan tidak mau melepaskan tubuhnya dari pelukannya.
Kaisar tersebut mengetahui apa yang dia pikirkan dan dia juga melakukan sama hal nya dengan Chi Xia yaitu tidak mau melepaskan pelukan mereka satu sama lain.
Kaisar tersebut juga berpikir seperti dirinya, kalau yang dia peluk ini adalah ibunya bukan Chi Xia yang sedang ia peluk sekarang ini. Chi Xia mengeluarkan air matanya perlahan.
__ADS_1
Dan juga sama hal nya kaisar tersebut mengeluarkan air matanya juga perlahan karena mengingat pelukan dari ibunya yang penuh dengan kasih sayang dan penuh cinta.
Lanjut bab 9