DARK MISSION (The Series)

DARK MISSION (The Series)
10


__ADS_3

"Bagaimana rasanya menerima kenyataan bahwa dia yang tengah kau miliki, tapi kau harus melepaskan tanpa menyalahkan?"


___oO0Oo___


Saat seseorang menaruh harapan besar padamu namun kau tidak dapat memenuhinya, apa tindakkanmu agar dia mengerti? Bukankah harusnya harapan itu menjadi sebuah kekuatan untuk kau terus memperjuangkan. Tapi bagaima caranya memperjuangkan jika pada akhirnya ada seseorang yang akan terluka. Terlebih orang yang akan terluka itu adalah orang yang sangat berarti dalam hidupmu.


Sebuah pesawat pribadi milik Kim Corporation baru saja mendarat di bandara Busan. Beberapa pria bertubuh tegap tengah berbaris untuk menyambut tuan mereka. Mereka membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat saat pria mengenakan tuxedo berwarna hitam serta coats panjang yang tersampir di bahunya, rambut yang sedikit mengembang dan kacamata hitam yang menghiasi matanya. Pria itu berjalan sangat gagah menuruni satu persatu anak tangga. Bahkan di bawah sana sebuah mobil mewah berwarna hitam tengah menunggunya. Seorang pria paruh baya yang berperawakan tinggi tegap itu membungkuk seraya membukakan pintu mobil.


"Selamat datang di kota Busan Tn. Kim Taehyung." Sapa seorang pria berjas formal yang tengah menyambutnya. Taehyung pun menoleh ke sampingnya dan membuka kaca matanya lalu menggenggannya dengan tangan kirinya, tangan kanannya ia pakai untuk menerima uluran tangan pria paruh baya di hadapannya.


"Oh kau Tn. Bae? Senang bertemu dengan anda." Taehyung membalas dengan ramah dan sopan pada pria tua yang merupakan rekan kerja ayahnya. "Bagaimana kabar anda?" Lanjutnya.


"Saya baik-baik saja, saya kemari setelah mendapat kabar jika anda mempercepat kedatangan anda ke Busan. Jadi, saya memutuskan untuk menyambut anda saat anda mendarat." Taehyung tersenyum tipis mendengar hal itu.


"Suatu kehormatan, tapi harusnya anda tidak perlu berlebihan. Kedatangan saya kemari lebih awal karena saya memiliki urusan penting dengan seseorang. Rencana untuk berkunjung ke kediaman lama Bae akan tetap saya lakukan hari minggu nanti." Tn. Bae pun hanya tersenyum canggung. Dia fikir Taehyung datang lebih awal untuk mempercepat pertemuannya. Memalukan.


"Ah, ternyata seperti itu. Baiklah Tn. Kim saya mengerti. Mari, saya akan tetap menyambut anda." Tn. Bae pun mempersilahkan Taehyung masuk ke dalam mobil. Setelah menutup pintu mobilnya, Tn. Bae membungkuk dan menatap kepergian Taehyung setelahnya.


-


-


-


Hyuna baru saja kembali dari cafe kopi setelah banyak bicara dengan Irene, dia memutuskan untuk menemani sang ayah di rumah sakit. Gadis itu kini tengah membaca majalah sambil duduk di sofa. Dering ponselnya membuat fokusnya teralihkan, gadis itu menatap layar ponselnya lalu mengerutkan keningnya saat melihat Taehyung lah yang menghubunginya. Tidak butuh waktu lama Hyuna pun akhirnya menggeser icon berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut.


"Ada apa----"


"Kirimkan lokasimu sekarang!"


"Kenapa? Apa yang ingin kau lakukan?"


"Jangan banyak bicara lakukan saja! Aku akan menemuimu sekarang."


"Apa? Kau ingin menemuiku? Jangan main-main Taehyung-ah!"


"Aku tidak main-main, aku di Busan sekarang, kirimkan saja lokasimu aku akan menemuimu di sana."


"Jadi kau benar-benar dengan ucapanmu? Haisss benar-benar kekanak-kanakan."


"Salah siapa kau membuatku khawatir. Kau ingin mengirimkan lokasimu atau aku akan melacak keberadaanmu?"


Rain pun hanya menghela nafas kasarnya. Benar-benar Taehyung tidak pernah berubah.


"Aku di rumah sakit *** kau datang kemari saja, aku sedang menemani ayahku." Setelah Taehyung menyetujui hal itu, dia pun mengerti dan mengakhiri panggilannya.


"Kau lihat ayah, dia tidak pernah berubah. Dia masih saja melakukan apapun sesukanya." Hyuna bergumam nengadu pada sang ayah walaupun seperti biasanya sang ayah tak merespon.


-


-


-


Di depan sebuah lobby rumah sakit *** di kota Busan. Sebuah mobil berhenti tepat di depan sana, seorang pria gagah baru saja turun dan mengenakan kaca mata hitamnya. Semua orang yang menatapnya begitu terpanah, mereka bahkan mengira jika yang turun itu seorang aktor atau idol, sebab di belakangnya terdapat pria-pria bertubuh tinggi besar dengan pakaian serba hitam dan kaca mata hitamnya, mereka adalah bodyguard.


Kim Taehyung, pria itu membuka kaca matanya saat berdiri di sebuah meja informasi. Mata hazel-nya seolah menghipnotis para wanita yang bertugas di bagian informasi. Wanita itu menatap kagum pria yang tengah berdiri di hadapannya.


"A-ada yang bisa kami bantu tuan?" Tanya seorang wanita dengan gugup.


"Dimana ruang Tn. Lee Minjae ayah dari nona Lee Hyuna?" Tanyanya, wanita berparas cantik dan mengenakan pakaian formal itu pun menelan salivanya susah payah dan mengerjapkan matanya dua kali.

__ADS_1


"Se-sebentar tuan, saya akan memeriksanya." Taehyung pun hanya mengangguk seraya tetap berdiri dan menunggu. Beberapa saat kemudian wanita itu memberi tahu ruangan yang tengah Taehyung cari. Pria itu kemudian pergi setelah menerima informasi yang dia cari. Di sepanjang lorong bahkan banyak orang yang berbisik dan menatapnya kagum.


"Tn. Kim Taehyung-sii?" Langkah pria itu terhenti saat mendengar namanya di sebut oleh seorang gadis. Dia menoleh dan menemukan seorang dokter wanita yang sangat cantik dengan rambut terikat. Matanya memicing saat samar-samar seperti mengenal gadis ini.


"Kau tidak mengenalku?---" Tanya gadis itu, seorang bodyguard Taehyung membisikan sesuatu pada Taehyung dan akhirnya pria itu membuka kaca matanya dan tersenyum tipis.


"Maaf Nona Bae, aku sedikit lupa. Lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?" Irene tersenyum tipis, jika saja ayahnya tidak menghormati pria ini maka sudah pasti ia akan memukul kepalanya. Bagaimana bisa dia melupakannya? Yang benar saja.


"Tidak masalah, kabarku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" Irene tersenyum dengan paksa. Ingat, dia sama sekali tidak menyukai pria membosankan ini.


"Baguslah, aku juga baik. Kau bekerja di rumah sakit ini?" Irene tersenyum dan mengangguk.


"Bukankah kau akan datang hari minggu nanti? Mengapa tiba-tiba sudah sampai di sini?--- Apa yang kau lakukan di sini?" Taehyung mengarahkan pandangannya ke setiap sudut sesaat lalu menoleh manatap Irene kembali.


"Aku ada urusan, sedang mencari orang yang sangat penting." Irene pun hanya mengangguk faham meskipun dia sangat penasaran siapa orang yang sangat penting itu.


"Dokter, ada pasien gawat darurat mohon untuk segera datang ke ruang ICU." Seorang perawat wanita tengah terengah menghampiri Irene.


"Baiklah tunggu di sana, Tn. Kim aku harus pergi sekarang." Irene pun membungkuk sopan begitupun Taehyung.


Taehyung menyuruh para bodyguard nya menunggu di ruang tunggu sementara dia berjalan sedikit untuk menuju ruangan yang sudah ia cari sejak tadi.


Dia melihat seorang gadis cantik tengah tertidur di sofa, dengan sebuah majalah yang ada di lahunannya. Senyum pria itu mengembang, kemudian dia mulai masuk kedalam. Taehyung berjongkok di hadapan wanitanya sampil menyampirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantiknya.


"Hyuna-yya, bangun. Aku datang!" Taehyung bergumam kecil namun gadis itu hanya menggeliat tak memperdulikannya. Taehyung pun kembali berdiri dan membaringkan tubuh wanita itu di sofa, dia membuka coats panjangnya dan menyelimuti tubuh gadis itu lalu mencium keningnya cukup lama.


"Kau pasti sangat lelah, aku akan membiarkanmu istirahat. Aku akan menyapa ayah mertuaku dulu." Ujarnya lalu berbalik dan menatap pria paruh baya yang masih setia memejamkan matanya. Taehyung membungkuk sambil tersenyum, tangannya terulur menarik kursi di samping Tuan Lee lalu dia mendudukan dirinya di kursi samping brangkar Tn. Lee.


"Paman, maafkan aku karena baru menemuimu setelah bertahun-tahun. Maafkan aku karena aku telah membuat putrimu kesulitan." Taehyung bergumam dengan tangannya yang menggenggam tangan lemah Tn. Lee, baginya Tn. Lee sudah seperti ayahnya sendiri.


"Maafkan perlakuan keluargaku yang telah memberi kesulitan untuk putrimu. Tolong maafkan aku." Taehyung membungkuk seraya meneteskan air matanya. Rasanya sesak saat mengingat kembali Hyuna yang pergi mencari bantuan kesana kemari, bekerja dengan memikul beban di perutnya, tidak ada siapapun yang melindunginya hingga orang jahat mencelakai wanita itu sampai kehilangan bayinya.


"Taehyung-ah..." Taehyung menoleh saat sebuah tangan tengah menyentuh bahunya, pria itu berdiri dan menatap wanitanya dengan sangat lekat. Lengannya terangkat untuk menarik wanita itu dalam dekapannya.


-


Di cafe kopi sebrang rumah sakit, Hyuna tengah tersenyum menatap kekasihnya yang tengah menyesap Caramel Macchiato kesukaannya. Ya, Taehyung sangat menyukainya, pria itu mengulum senyum sambil menatap senyum wanitanya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau terkejut melihatku? Sudah ku katakan, aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku." Hyuna mendengus senyum seraya menggeleng, benar-benar pria ini tidak pernah berubah.


"Kau memang tidak pernah berubah, keras kepala dan selalu melakukan banyak hal yang akan membuat orang lain menjadi gila. Lalu, siapa saja yang kau buat gila di Seoul setelah kau memutuskan untuk pergi ke Busan?" Taehyung terkekeh, baginya wanitanya memang tidak pernah berubah. Hyuna-nya selalu tahu apapun tentang Taehyung. Taehyung saat ini sedang memikirkan seseorang paling gila saat ini mungkin sekretaris Park.


"Aku tidak membuat siapapun gila, aku kemari setelah pekerjaanku selesai." Hyuna mengernyitkan matanya, dia benar-benar tidak percaya. Lihat saja pria ini, dia selalu menggaruk hidung banghirnya.


"Kau sangat buruk dalam hal berbohong, terutama padaku. Jangan lupakan, aku satu-satunya manusia yang tidak bisa kau bohongi." Taehyung menghela nafas pasrah. Dan ya, lagi-lagi dia kalah.


"Tentu saja ini semua salahmu, kau yang membuatku hampir gila memikirkanmu." Hyuna menaikkan sebelah alisnya, dia tidak terima jika di salahkan.


"Ya, mengapa kau menyalahkanku?" Protesnya.


"Tentu saja kau yang salah, jika kau membalas dan menjawab panggilanku tadi pagi, mungkin aku tidak akan menjadi khawatir." Hyuna pun menghela nafas kasar. Benar-benar sangat kekanak-kanakan.


Meskipun begitu, mereka sebenarnya sangat senang bisa bertemu kembali. Tidak perduli berapa manusia yang Taehyung buat gila setelah dia memutuskan untuk pergi ke Busan. Terlebih hari ini dan besok harusnya dia masih memiliki jadwal meeting dengan klien penting. Tapi baginya tidak ada yang lebih penting daripada Hyuna.


Malam semakin larut, angin malam pun kini sudah tak bersahabat. Namun dua manusia yang tengah berjalan-jalan di sekitar taman di alun-alun kota busan masih saja terlihat bahagia. Tangan yang saling bertautan seolah tak ingin saling melepaskan.


Taehyung membuka coats-nya lalu menyampirkannya di bahu Hyuna, wanita itu tersenyum dan merasakan kehangatan.


"Hyuna-yya, selama di sini kau tinggal bersama siapa?" Mereka duduk di salah satu bangku taman.


"Awalnya aku hanya tinggal di sebuah rumah atap, aku bekerja paruh waktu. Namun kandunganku semakin membesar, aku kehilangan pekerjaanku karena atasanku khawatir jika aku terus bekerja dalam keadaan hamil tua. Kemudian pemilik rumah sewa itu mengusirku karena aku tidak bisa membayar uang sewanya. Aku memutuskan untuk tinggal di rumah sakit bersama ayah." Hyuna menghela nafas panjang dan menjeda ceritanya saat mengingat kembali pertemuannya dengan keluarga Bae yang menolongnya, dan menawarkan tempat tinggal. Meskipun dia menolaknya namun kebaikan keluarga Bae terhadapnya sangatlah berarti. Tuan dan Nyonya Bae sangat baik dan terus membantunya. Hingga akhirnya insiden kecelakaan itu terjadi, namun beruntung di bertemu Oh Sehun. Pria itu sangat baik, dia mengatas namakan balas budi pada Hyuna sebagai alasan mengapa dia meminjamkan Hyuna apartemen saat itu.

__ADS_1


"Jadi begitulah ceritanya. Keluarga dokter dari ayahku sangat baik. Aku bahkan sudah menganggap keluarga dokter ayahku sebagai keluargaku sendiri. Bahkan dokter ayahku sudah ku anggap kakakku sendiri." Taehyung tersenyum lalu merangkul bahu Hyuna. Rasanya sesak saat memikirkan betapa menderitanya Hyuna saat itu.


"Aku akan sangat berterima kasih pada dokter pribadi ayahmu. Aku akan memberinya hadiah sebagai tanda terima kasihku karena menjaga calon mertuaku dan juga kekasihku." Hyuna tersenyum lalu memeluk Taehyung.


Taehyung perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah Hyuna. Lengannya bergerak menelusup meraih tengkuk gadis itu. Dia tersenyum begitupun Hyuna, mereka menyatukan bibir mereka, dengan lembut Taehyung ******* bibir wanitanya. Melepas rindu pada keduanya. Taehyung memutuskan untuk tinggal di apartemen Hyuna selama satu minggu. Dia ingin menghabiskan cuti bersama kekasihnya, mengunjungi makam putrinya dan berlibur ke tempat yang sangat indah di kota Busan.


"Aku akan mengakhiri semuanya, dan memulai masa depan hanya bersamamu. Tunggulah aku Hyuna-yya, tetap di sampingku dan kita hadapi semuanya bersama. Jangan pernah lagi berfikir untuk menyerah dan pergi meninggalkanku. Kita harus tetap bersama, apapun yang terjadi. Biarkan aku melindungimu mulai saat ini."


-


-


-


Di suatu pusat perpelanjaan elit, Irene dan Hyuna tengah menghabiskan waktu mereka untuk berbelanja. Mereka tengah berkeliling di sebuah butik brand yang sangat terkenal. Irene dan Hyuna sesekali mencoba gaun-gaun indah yang berjajar sebagai brand ter-favorite di musim ini. Hyuna pun tak segan-segan memuji kecantikkan Irene saat mencoba salah satu gaun di sana.


"Bagaimana dengan yang ini?" Hyuna menoleh dengan mata berbinar saat melihat Irene mengenakan gaun yang sangat cantik. Terlihat sangat sempurna karena memang Irene sangatlah cantik dan anggun. Irene tersenyum bahagia saat Hyuna mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Sempurna, kau sangat cantik eonnie. Tn. Kim itu pasti sangat terpesona padamu." Irene terkekeh dan mendekat pada Hyuna.


"Semoga dengan seperti ini, pria membosankan itu sedikit demi sedikit bisa berbaik hati padaku. Hhhh... Sejak pertemuan kami kedua kalinya di rumah sakit. Aku merasa dia lebih semangat saat itu." Hyuna tersenyum ikut bahagia, Irene mengatakan padanya bahwa mereka berpapasan di rumah sakit tiga hari yang lalu. Dan Tn. Kim itu bersikap sangat ramah seperti orang yang tengah berbahagia. Tidak seperti tahun lalu saat pertama bertemu. Benar-benar pria kaku dan tak bersemangat.


"Itu pasti karena dia akhirnya menyadari kecantikkanmu." Irene terkekeh mendapat pujian berkali lipat dari Hyuna.


"Bagaimana denganmu, kau sudah menemukan gaun pilihanmu?" Irene bertanya karena sejak tadi Hyuna hanya sibuk memilihkan gaun untuknya sedangkan dirinya tidak memcari gaun untuk dirinya sendiri.


"Tidak eonnie, setelah menemanimu. Aku akan mencarinya dengan kekasihku. Aku juga akan memilihkan pakaian untuknya karena dia akan tinggal denganku untuk beberapa hari ke depan sampai urusannya selesai." Irene pun hanya mengangguk faham. Lagi pula adik nya ini sudah lama tidak berkencan, jadi dia akan membiarkannya kali ini.


"Baiklah, aku akan mengganti pakaianku terlebih dahulu, setelah itu kita makan siang bersama, bagaimana?" Tanya Irene yang di hadiahi anggukan oleh Hyuna.


"Setuju." Serunya. Irene pun kembali ke kamar pas untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu dia akan membayarnya.


Seperti rencana awal, mereka akhirnya selesai dengan kegiatan belanja. Kini keduanya akan pergi ke restoran, hanya saja Irene tidak bisa berlama-lama karena dia harus segera kembali ke rumah sakit. Sedangkan Hyuna tetap tinggal di sana karena dia harus menunggu prianya datang. Sebelumnya Taehyung menawarkan untuk ikut bersama Hyuna dan dokter yang sudah kekasihnya anggap sebagai kakak. Namun Hyuna menolak dengan alasan mereka akan berbelanja untuk keperluan wanita. Jadi Taehyung menunggu saja di apartemen, jika wanita-wanita itu sudah selesai maka dia akan menyusulnya.


"Sudah satu jam, mengapa dia belum juga datang?" Hyuna bergumam sembari menatap arloji yang melingkar di lengannya. Sesekali dia menoleh menatap layar ponselnya yang tidak juga mendapat respon dari kekasihnya. Apakah Taehyung tertidur? Fikirnya.


-


Di tempat lain di sebuah parkiran, Taehyung memarkirkan mobilnya setelah sampai di pusat perbelanjaan. Kemudian dia membuka seatbelt-nya lalu mulai membuka pintu mobilnya. Di menatap pantulan dirinya di jendela kaca mobil untuk memastikan jika penampilannya sudah bagus.


"Astaga! Mengapa lama sekali." Taehyung menoleh saat mendengar rengekan seorang gadis. Dia memicingkan matanya saat menatap gadis itu, seperti sangat familiar.


"Nona, Bae?" Panggilnya saat dia telah melihat wajah yang ia kenal. Gadis itu menoleh dan sedikit terkejut.


"Tn. Kim? Bagaimana bisa kau ada di sini?" Tanyanya bingung.


"Aku sedang ada janji dengan seseorang. Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya dengan sopan.


"Aku mendapat panggilan darurat, tapi supirku belum sampai. Dia terkena macet." Ujarnya, sesekali gadis itu menatap arlojinya. Meskipun ragu apakah Taehyung harus memberi tumpangan atau tidak. Tapi bagaiaman dengan kekasihnya? Namun mengingat pekerjaan Irene sebagai dokter, panggilan darurat bukankah juga sangat penting? Bagaimana jika ini menyangkut hidup dan mati manusia.


"Naiklah, aku akan mengantarmu. Jika kau menunggu supir atau taxi itu akan memerlukan waktu lebih lama." Irene pun mengerutkan keningnya.


"Tapi bukankah kau sedang ada pertemuan?"


"Dia sangat pengertian, ku fikir dia tidak akan salah faham jika aku menjelaskannya. Mari ku antar kau sampai rumah sakit." Taehyung pun membukakan pintu untuk Irene. Meskipun ragu, namun akhirnya gadis itu menurut saja. Karena dia juga sedang dalam keadaan mendesak.


-


"Sudah tiga jam, mengapa dia tidak datang juga?" Hyuna menghela nafas panjang. Menyebalkan, mengapa Taehyung tidak menerima panggilan dan juga tidak membalas pesannya? Hyuna pun akhirnya bangun dari duduknya, dia sudah merasa pegal, rasanya kaki dan tangannya sudah mati rasa karena menunggu pria itu. Kesal.


"Tidak ada gunanya menunggu di sini, lebih baik aku pulang saja." Dengusnya, gadis itu pun akhirnya memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


'Sepertinya kau sangat senang memberiku harapan saat kau tidak bisa memenuhinya. Apa yang kau lakukan sebenarnya?'


TBC.


__ADS_2