DARK MISSION (The Series)

DARK MISSION (The Series)
11


__ADS_3

"Hal yang paling menyenangkan itu, saat aku menikmati proses bersamamu. Walaupun rumit tapi kau mampu mengubahnya dengan kebahagiaan."


__oO0Oo__


Menunggumu selama satu jam itu wajar, jarakmu dan jarakku tidaklah dekat. Tapi jika akan memakan waktu lebih lama dari pada satu jam, bukankah itu sedikit keterlaluan? Entah apa yang terjadi denganmu, kau bahkan tidak membalas pesanku, dan juga menjawab panggilanku. Kemana kau sebenarnya?


Benar, Hyuna sudah tidak bisa lagi menunggu kali ini. Dia pun memilih pergi dan pulang dengan taxi saja. Taehyung tidak tahu ada dimana dan akan menyusulnya atau tidak, walaupun beberapa jam yang lalu dia mengatakan sudah akan pergi. "Kau benar-benar menyebalkan, jika tidak ingin datang mengapa harus membuatku menunggu selama ini?" Gumamnya seraya berjalan ke luar dengan perasaan kecewa. Setelah sampai di lobby, dia pun langsung memanggil taxi setelah memesannya beberapa saat yang lalu.


***


"Tuan Kim, terima kasih sudah mengantarku. Kau ingin mampir untuk meminum teh hangat?" Taehyung tersenyum saat Irene dengan baik hati menawarinya mampir. "Tidak perlu, terima kasih atas tawarannya. Aku memiliki janji, dia mungkin sudah menungguku sangat lama. Kalau begitu, aku pergi dulu, sampaikan salamku pada tuan dan nyonya Bae." Tolaknya sangat sopan. Irene pun hanya membungkuk sopan lalu tersenyum.


Setelah berpamitan, Taehyung pun kembali masuk ke dalam mobilnya. Dia langsung mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Sial, Hyuna pasti menunggunya sangat lama. Dia sudah memperkirakan, perjalanannya dari pusat perbelanjaan ke rumah kediaman tuan Bae pasti cepat, tapi tadi di jalan macet total, dia terjebak di tengah kemacetan. Ada kecelakaan yang membuat jalan sangat macet, ingin putar balikpun tidak bisa karena kendaraan lainnya sudah berbaris di belakangnya.


"Shit! Mengapa aku harus melupakan ponsel milikku? Bagaimana sekarang? " Dengusnya seraya memukul stir di depannya. Beruntung saat kembali dari rumah Tn. Bae, jalan sudah kembali lancar, jadi dia bisa melajukan mobilnga dengan kecepatan penuh.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya Taehyung sampai di pusat perbelanjaan. Dia turun dari mobilnya dan meminta petugas keamanan memarkirkan mobilnya. Pria itu berlari ke restoran tempat Hyuna menunggunya. Setelah sampai di dalam Restoran, Taehyung pun memicingkan matanya menatap setiap sudut restoran tersebut. "Diamana dia?" Gumamnya. Kemudian dia bertanya pada seorang pelayan. Dia menyebutkan ciri-ciri Hyuna secara detail, dari tinggi badan, panjang rambut, serta pakaian dan sepatu yang Hyuna pakai hari ini.


"Maaf tuan, nona yang tuan maksud sudah pergi beberapa saat yang lalu setelah banyak minum beberapa jam di sini." Ujar seorang pelayan. Mendengar hal itu membuat Taehyung merasa kesal pada dirinya sendiri, jika dia tidak mengantarkan Irene ke Rumah sakit yang akhirnya memilih pulang ke rumahnya karena pasien darurat sudah mendapat pertolongan dari dokter yang menggantikan Irene, mungkin dia tidak akan se-terlambat ini. "Baiklah, terima kasih." Setelah bertanya dan mendapatkan jawaban yang yang tidak membuatnya puaspun, akhirnya di memutuskan untuk pulang. Lagi-lagi dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


***


"Hhh... Sangat melelahkan." Rain mendaratkan tubuhnya di kasur miliknya. Lelah setelah berkeliling menemani Irene berbelanja, dan menunggu Taehyung yang tak kunjung datang. Dimana pria itu sebenarnya, bahkan di rumahnya saja tidak ada. Matanya terpejam menikmati nyamannya tidur di kasur karena rasanya bokongnya menjadi kebas karena terlalu lama duduk di kursi restoran.


Ting...


Mendengar suara itu, matanya terbuka kembali, dia mendudukkan dirinya di tepi ranjang dan mengerutkan keningnya. "Bukan suara ponselku." Gumamnya saat menyadari bukan ponsel dia yang berbunyi. Lalu suara ponsel siapa?


Gadis itu memutuskan untuk mencari asal suara itu. Setelah menemukannya di nakas ruang keluarga, dia mengerutkan keningnya. "Ini ponsel Taehyung. Apa dia sengaja meninggalkannya? Pantas saja dia tidak ada kabar." Gumamnya saat melihat banyak pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab darinya. Lalu kemana pria itu pergi? Rain mulai merasa khawatir saat ini. Dia terus saja menunggu Taehyung sambil bolak balik di ruang keluarga. Dia takut terjadi sesuatu pada prianya.


"Astaga, ini sudah pukul sepuluh malam, mengapa dia belum kembali?" Gumamnya saat menatap jam dinding.


Pintu rumah terbukan, menampakkan seorang pria yang terlihat tergesa-gesa. Saat pandangan mereka bertemu, pria itu langsung berlari dan memeluk wanitanya seraya menciumi wajah wanita tercintanya membuat wanita itu bingung. "Apa yang terjadi? Kau kemana saja?" Tanya Hyuna dalam dekapan Taehyung.


"Maaf membuatmu menunggu, aku sudah pergi ke pusat perbelanjaan tepat waktu tadi, hanya saja aku menemukan seorang dokter yang harus segera menangani pasiennya yang tengah dalam keadaan darurat. Karena supirnya tidak kunjung menjemputnya, jadi aku mengantarnya dulu. Tapi saat sudah sampai di rumah sakit, pihak rumah sakit mengatakan jika pasien darurat itu sudah di tangani dokter pengganti. Jadi aku mengantarnya pulang, namun di jalan tadi sesuatu terjadi. Ada kecelakaan yang membuat jalan menjadi sangat macet. Aku tidak membawa ponselku, aku lupa membawanya setelah tidak sengaja meletakkan ponselku di nakas saat aku mencari kunci mobil dan coats. Tapi setelah aku kembali ke tempat kita membuat janji untuk bertemu, pelayang mengatakan kau sudah pulang setelah menungguku berjam-jam. Tolong maafkan aku." Jelasnya panjang kali lebar dengan perasaan menyesalnya. Hyuna pun menghela nafas leganya, walaupun dia juga sempat kesal tapi mendengar penjelasan itu, hatinya tidak merasakan kesal lagi. Terlebih prianya ini tengah berniat menolong seorang dokter yang sedang di butuhkan oleh pasiennya.


"Yang penting kau baik-baik saja, aku pulang karena tidak tahu harus menunggumu berapa lama lagi. Kau tidak menjawab panggilanku bahkan tidak membalas pesanku. Bagaimana aku bisa tahu kau akan datang atau tidak walaupun kau mengatakan akan datang." Taehyung sangat menyesal, benar-benar menyesal karena membuat wanitanya harus menunggu sangat lama.


"Aku janji, besok aku akan menemanimu mencari gaun. Aku tidak akan terlambat lagi karena kita akan pergi dan pulang bersama." Hyuna pun hanya mengangguk mengerti. "Mandilah, kau pasti sangat lelah." Taehyung pun mengangguk kemudian mencium kening Hyuna lalu pergi ke kamar mandi.


***


"Nyonya, ini data yang kau inginkan." Menerima sebuah map berwarna merah yang berisi riwayat hidup seorang wanita bernama Lee Hyuna, wanita paruh baya itu menatap penuh marah. Setelah puas membaca setiap point tentang Lee Hyuna. Dia kembali merogoh isi map itu dan menemukan beberapa foto yang berhasil membuat amarahnya semakin meningkat.


Dalam foto itu terlihat putranya yang tengah memeluk seorang gadis yang tidak lain adalah Lee Hyuna. Foto itu di ambil di sebuah bangku taman pada malam hari. Bukankah itu saat Taehyung dan Hyuna pergi bersama? "Kurang ajar, rubah kecil ini benar-benar membuatku muak." Dengusnya seraya mencengkram foto tersebut.

__ADS_1


"Siapkan pesawat pribadi, aku akan pergi ke Busan malam ini juga."


"Baik nyonya."


Beberapa orang suruhannya itu pun pergi setelah tugasnya selesai. Begitupun Ny. Kim yang kemudian duduk di sofa seraya memandangi foto lain yang menunjukkan putranya yang tengah tertawa sangat bahagia. "Sudah lama aku tidak melihat tawa itu, mengapa harus jalang itu yang membuatmu bahagia? Ibu akan memastikan jika kau akan hidup lebih bahagia dengan Bae Irene." Gumamnya seraya mengepalkan kedua lengannya.


***


"Sayang, kau sudah siap?" Itu suara Taehyung yang tengah menunggu kekasihnya turun dari kamarnya. Sesuai janji mereka akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari pakaian. Taehyung yang juga akan mencari tuxedo untuk pertemuannya dengan klien katanya, begitupun Hyuna yang akan datang di acara pertemuan keluarga antara Bae Irene dengan pria yang Irene selalu sebut tuan sombong. Lucu sekali, bagaimana jika mereka tahu jika pria yang akan mereka hadapi ternyata pria yang sama? "Aku sudah siap, ayo pergi." Sahut Hyuna seraya berlari menuruni anak tangga membuat Taehyung terkekeh. Gadis nakal itu tidak pernah berubah. Untuk apa berlari? Apa dia tidak takut terjatuh?


-


-


-


"Selamat datang Tn. Kim, ada yang bisa kami bantu?" Seorang pelayan di sebuah butik Diamond, yang memiliki rating tertinggi di kota Busan itu menyapa dengan ramah. Hyuna tersenyum menatap Taehyung seolah bertanya 'mengapa mereka mengenalmu?', Taehyung membalas senyum seraya mengelus puncak kepala kekasihnya. "Tolong keluarkam semua gaun terbaru yang cocok untuknya. Dan carikan juga tuxedo yang memiliki model yang sama dengan gaunnya." Pelayan itu tersenyum mengerti, mungkin maksudnya pasangan.


"Baik, kebetulan sekali ada tuxedo couple dengan gaun untuk acara-acara tertuntu yang masuk bulan ini. Apakah anda ingin melihatnya?"


"Baiklah, tolong keluarkan semuanya, aku akan membeli semuanya. Dan tolong kirimkan ke Villa S atas namaku."


"Baik."


Setelah pelayan itu pergi, Hyuna menatap Taehyung seolah meminta penjelasan. Apa maksudnya memborong begitu banyak pakaian? Bukankah pria ini hanya akan tinggal beberapa hari? Lagi pula, dia juga akan menggunakan gaun itu untuk satu malam saja. "Apa? Mengapa kau menatapku seperti itu?" Tanyanya. Hyuna pun menghela nafas untuk bersiap menjawabnya.


"Pertama, pusat perbelanjaan ini masih milik Kim Corporation, kedua, karena kita akan hidup bersama, jadi kita harus memiliki kekompakan. Bukankah aku benar?" Jawabnya seraya menaik turunkan kedua alisnya membuat Hyuna akhirnya menyerah. Terserahlah, lagi pula, percuma jika dia terus mengajukan protes. Taehyung benar-benar keras kepala. Apapun yang dia inginkan, itulah takdir yang harus di penuhi.


Setelah membayar semua belanjaannya. Taehyung mengajak Hyuna pergi makan siang. Mereka pun pergi ke restoran di hotel bintang lima yang juga masih milik Kim Corporation. "Selamat datang Tn. Kim, anda ingin memesan tempat VIP?" Tanya seorang pelayan dengan sopan. "Tempat biasa saja." Taehyung dan pelayan itu menoleh, itu suara Hyuna yang terdengar bahkan saat Taehyung akan berbicara. Pelayan itu menatap Taehyung takut, namun Taehyung tersenyum lalu mengangguk.


"Tolong tunjukkan tempat biasa, tapi aku ingin tempatnya yang di dekat jendela."


"Baik Tn. Kim, mari saya tunjukkan."


Taehyung dan Hyuna berjalan mengekori pelayan itu, pelayan itu berhenti di sebuah meja yang terletak di pojok dekat jendela yang mengarah langsung ke pemandangan kota Busan, bahkan mereka bisa melihat pantai walau hanya sedikit. Itu sangat indah. "Tidak buruk." Taehyung merasa puas walaupun ini bukan ruang VIP yang biasa ia tempati jika datang ke restoran di hotel ini.


"Aku menyukai tempat ini."


"Baguslah jika kau suka, aku akan melarang siapapun duduk di sini selain kita."


"Kau berlebihan Tn. Muda."


Taehyung terkekeh mendengarnya. Seperti kembali ke masa lalu, saat mereka bersama ketika mereka di Seoul. Hangat genggaman tangan Taehyung saat ini benar-benar membuat Hyuna bahagia. Jika saja putrinya masih ada, mungkin mereka menjadi pasangan yang sempurna. Setidaknya, mereka adalah orang tua yang lengkap dan akan menyayangi putri mereka lebih dari apapun.


"Setelah ini, aku ingin pergi menemui putriku." Mendengar hal itu, Hyuna mendongak. Taehyung seperti tahu jika kini Hyuna tengah merindukan putrinya. Apa mungkin mereka saat ini sedang memikirkan hal yang sama? "Baik, kita akan pergi bersama." Jawabnya seraya tersenyum, Taehyung pun tersenyum seraya menggenggam lengan kekasihnya lebih hangat lagi.

__ADS_1


***


Disinilah mereka saat ini, lahan luas yang di penuhi nisah. Pemakaman orang dewasa hingga balita bahkan bayi. Bagi Hyuna mungkin menapakkan kakinya di sini sudah menjadi hal yang menjadi rutinitasnya. Berbeda dengan Taehyung yang baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di sini. Di rumah putrinya. Ada rasa sesak yang membuat nafasnya seperti tercekat. Hyuna bahkan bisa merasakan genggaman tangan Taehyung mengerat, terasa dingin dan berkeringat. Sepertinya pria ini tengah menahan luka yang menancap di dadanya. Hyuna melangkahkan kakinya semakin dalam, masuk ke dalam seolah memapah langkah Taehyung. Berjalan melewati banyak nisan orang-orang yang tidak di kenal. Hingga akhirnya langkah mereka berhenti di sebuah nisan yang di hiasi bunga bawar putih. Terlihat masih segar, sepertinya seseorang baru saja kemari. "Sehun pasti sudah lebih dulu datang kemari." Gumamnya seraya menatap bunga mawar putih itu. Taehyung menoleh seolah bertanya yang tentu saja Hyuna sudah mengerti, jawaban apa yang harus ia jawab.


"Kami selalu datang setiap hari, aku tidak akan membiarkan putriku kesepian."


"Maafkan aku." Lirihnya, Hyuna pun menoleh menatap Taehyung yang berlutut dengan air mata yang sejak tadi ia bendung dan akhirnya tumpah dengan sendirinya. Pria itu akhirnya menangis, Hyuna merjongkok dan memeluk Taehyung, diapun tidak bisa membendung air matanya. Merasakan sesak yang sama. Orang tua mana yang rela kehilangan putrinya. Perasaannya sangat kacau. Pertama kalinya untuk Hyuna melihat Taehyung seterpuruk ini. Dia tentu tahu, Taehyung pasti sangat menyesalinya.


"Sehun menyimpan foto putri kita di rumah abu. Agar kita bisa melihatnya di sana. Dia meletakannya di samping guci abu ayahnya."


"Mengapa begitu?"


"Awalnya dia tidak ingin memperlihatkan foto putri kita, karena takut menyakitiku. Itu sebabnya dia menyimpannya di samping abu ayahnya. Tapi pada akhirnya, dia memberi tahu foto putri kita. Dia sangat cantik."


"Aku sudah tahu, Sehun sudah memberi tahuku dan memperlihatkan fotonya sebelum kau memberi tahuku."


Hyuna tersenyum. Lalu kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Taehyung.


***


Kim Taehyung, setelah mengantar Hyuna pulang, dia pergi ke hotel S untuk menemui ibunya yang baru saja sampai. Sebenarnya sangat malas, tapi dia harus meluruskan masalah ini, dan menjelaskan pada keluarga Tn. Bae jika dia ingin membatalkan perjodohan ini. Dia tidak ingin menyakiti kekasihnya lagi. Dia tahu, ibunya tidak akan semudah itu menyerah. Buktinya saja sekarang ibunya sampai menyusulnya ke Busan. Padahal tadinya dia akan menemui keluarga Tn. Bae seorang diri, tapi sang ibu bersi keras ingin menemaninya.


"Nyonya, tuan muda sudah datang."


"Suruh dia masuk."


"Baik."


Pintu kamar pun kembali tertutup saat pengawal sudah keluar, namun selang beberapa saat pintu kembali terbuka. "Ibu, sebenarnya apa rencanamu?" Wanita paruh baya itu melipat tangannya di dada lalu berjalan mendekati putranya yang duduk di sofa. "Tidak bisakah kau menyapa ibumu lebih sopan?" Taehyung menghela nafas kesal.


"Taehyung-ah, apa maksud ini semua?" Tanyanya seraya melemparkan beberapa foto yang pengawalnya dapatkan. Melihat foto-foto dirinya dengan Hyuna, pria itu menunjukkan smirk-nya.


"Kau memata-mataiku? Untuk apa? Memisahkan aku dengan kekasihku lagi?"


"Putuskan hubunganmu sekarang juga. Kau akan menikah dengan Bae Irene, mengapa kau tidak mendengar kata-kataku?" Taehyung kembali terkekeh.


"Apa aku ini anak kandungmu? Mengapa kau tidak pernah perduli kebahagiaanku?"


Mendengar hal itu membuat Ny. Kim menjadi semakin kesal. Ini semua salah Hyuna, gadis itu sudah memperngaruhi putranya sejak awal. "Tinggalkan dia, atau aku akan menghilangkannya dari hidupmu." Mendengar hal itu tentu saja membuat Taehyung marah. Sudah cukup ibunya ikut campur tentang hidupnya selama ini. Dia sudah dewasa, tentu dia berhak menentukan hidupnya termasuk dengan siapa dia harus bersama.


"Jangan pernah menyentuhnya. Apa kepergian putriku tidak cukup membuatmu berubah? APA KAU INI BENAR-BENAR SEORANG IBU?" Pekiknya di akhir kalimat membuat Ny. Kim membulatkan matanya. Tidak menyangka jika putranya sendiri lebih memilih membentaknya demi melindungi gadis jalang itu, fikirnya.


"CUKUP!! Kau sudah keterlaluan, otakmu sudah di racuni oleh rubah sialan itu, kau lihat saja Taehyung-ah, kau memilih mendengarku atau aku antarkan mayat rubah kecil itu ke hadapanmu?" Sudah cukup, ibunya kali ini sudah keterlaluan. Dia bahkan sudah sangat muak mendengarnya. Taehyung punemilih pergi. Namun sebelum dia benar-benar pergi, dia menghentikan langkahnya di ambang pintu dan berkata. "Jika kau ingin membunuh kekasihku, sama saja kau membunuhku. Jika kau adalah ibuku, ku mohon biarkan aku menentukan pilihanku sendiri."


Setelah mengatakan hal itu kini Taehyung benar-benar pergi. Wanita paruh baya itu bahkan mengepalkan lengannya erat, benar-benar benci pada Lee Hyuna.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2