DARK MISSION (The Series)

DARK MISSION (The Series)
14


__ADS_3

"Apa yang bisa aku harapkan dari sebuah kepalsuan? Memiliki pria yang tidak sama sekali mengharapkanku? Aku tidak mendapatkan apapun tapi aku kehilangan seseorang yang sangat ku sayangi."


-


-


-


___oO0Oo___


-


-


-


"Hyuna-yya, malam ini kau bisa temani aku makan malam?" Irene menggigit bibir bawahnya sambil menatap ke arah gedung-gedung pencakar langit dari balik dinding kaca ruang kerjanya, gadis itu tengah menghubungi Hyuna melalui panggilan suara. Sementara Taehyung masih duduk bersilang kaki sambil memperhatikan gadis yang tengah memunggunginya. Pria yang masih menatap dengan tegas dan dingin itu sangat tidak sabar menunggu malam. Baginya ini adalah kesempatan baik.


"Kau ingin makan malam dimana? Aku akan menemanimu." Sudut bibir Irene tertarik membentuk sebuah senyuman mendengar jawaban itu.


"Kita makan malam di Hotel Royal pukul tujuh malam ini, aku akan menunggumu."


"Hotel? Tumben sekali kau mengajakku makan malam di hotel?"


"Aku hanya ingin saja, lagi pula setelah aku menikah, kita pasti akan sangat jarang bertemu." Hening, Hyuna sedikit menjeda jawabannya. Tanpa Irene tahu, seseorang di sebrang sana tengah menahan nafasnya yang terasa tercekat mendengar tentang pernikahan.


"Baik, aku akan datang."


"Bagus, aku akan menunggunu."


"Hmm."


Irene menatap ponselnya saat Hyuna memutuskan secara sepihak setelah menjawabnya dengan deheman saja. Taehyung menaikkan sebelah alisnya saat Irene membalikkan tubuhnya dan kembali duduk di sebrangnya.


"Bagaimana? Apa dia menyetujuinya?"


"Tentu, Hyuna akan datang. Hhh... Aku akan sangat senang jika Hyuna bersama pria yang tepat. Aku akan sangat bahagia jika Sehun menjadi pasangannya." Gumamnya sambil tersenyum. Taehyung kesal mendengar hal itu, pria itu bahkan mengepalkan lengannya dan mengeraskan rahangnya.


"Aku akan kembali ke hotel sekarang, aku akan menjemputmu pukul tujuh!" Irene mengerjapkan matanya, dia fikir Taehyung akan mengantarnya pulang, ternyata pria itu sama sekali tidak mengatakan apapun bahkan sekedar basa-basi. Lupakanlah, yang terpenting saat ini Hyuna harus bicara dengan Sehun dalam moment yang berkesan.


"Baik, hati-hati di jalan." Taehyung mengangguk lalu keluar. Irene menghela nafas kasarnya setelah pintu ruangannya tertutup. Taehyung masih saja bersikap dingin. Tapi setidaknya dengan hanya membantunya menjodohkan Hyuna dengan Sehun saja dia sedikit senang. Setidaknya Taehyung mau membantunya. Fikirnya.


"Aku tidak tahu rahasia apa yang kau sembunyikan, tapi aku merasa, caramu memandang Hyuna seperti berbeda. Bahkan kau datang secara khusus untuk memberikan undangan pernikahan kita pada Hyuna."


-


-


-


"Sehun-ah, kau mau kemana?" Hyuna bertanya saat melihat Sehun yang sudah rapi dengan tuxedo putihnya. Begitupun Sehun yang sedikit tertegun dengan Hyuna yang juga sudah siap untuk pergi.


"Woah, lihat dirimu sendiri. Kau sudah rapi, kau mau pergi kemana? Apa kau sudah ingin pulang ke apartemenmu?" Katanya sambil mencebikkan bibirnya, sial. Sehun semakin menyebalkan, memang benar bahwa Hyuna kini tinggal bersama Sehun. Sejak saat Taehyung resmi bertunangan dengan Irene, Hyuna memang tidak lagi tinggal di apartemen milik Sehun yang ia tempati sebelumnya. Kemudian saat ia kembali ke Busan, dia memilih pulang ke manshion milik Sehun. Tentu saja Taehyung mengetahui hal itu dari anak buahnya yang di tugaskan untuk mengawasi Hyuna tanpa sepengetahuan wanita itu.


"Aku bertanya, kau harusnya menjawab. Mengapa kau balik bertanya? Haiss...!" Sehun terkekeh lalu merangkul bahu Hyuna.


"Rain..."


"Waeyo?" (Kenapa?)


"Kau tahu, betapa menariknya Dr. Irene? Astaga jantungku seperti ingin meledak jika aku bertemu dengannya." Sehun tersenyum sambil membayangkan wajah cantik Irene. Dia nampak bahagia saat Irene mengundangnya makan malam. Dan ya, Sehun mengira bahwa Irene ingin makan malam dengannya. Pria itu tidak tahu saja jika Irene memiliki sebuah rencana di balik ajakan makan malam itu. Hyuna mengibaskan lengan Sehun dari bahunya. Gadis itu melipat lengan di dadanya.


"Ya, sadarlah, dia sudah bertunangan. Apa yang kau fikirkan?"


"Rain-ah, memang benar dia sudah bertunangan. Tapi tidak ada yang tahu, 'kan, bisa saja dia tidak bahagia dengan tunangannya. Lalu dia lebih tertarik padaku?" Sehun tertawa sambil bertepuk tangan. Sedangkan Hyuna hanya memutar bola matanya jengah.


"Sehun-ah, berhenti bermimpi sebelum kau patah hati!" Ujarnya, gadis itu kemudian pergi mendahului Sehun. Sedangkan Sehun masih tersenyum menatap punggung Hyuna yang sudah menghilang di balik pintu rumahnya.


Kau benar, aku tidak pernah bermimpi sebelumnya. Tapi bisa saja dugaanku benar, dengan begitu kau bisa mendapatkan cintamu kembali kan?


-


-


-


***


-


-


-


Kim Taehyung, pria berjas hitam itu tengah duduk di jok belakang mobil mewah yang tengah di kendarai oleh pengawalnya. Pria itu menatap keluar jendela sambil sesekali tersenyum. Dia sangat tidak sabar bertemu kekasihnya.


"Hyuna-yya, setelah ini. Mari kita pergi saja."

__ADS_1


Taehyung memejamkan matanya sesaat. Rasa lelah dan kantuk rasanya tidak bisa tertahan lagi. Bayangkan saja, pria itu sama sekali belum beristirahat setelah perjalanannya dari Seoul ke Busan. Malamnya dia harus pergi lagi untuk acara makan malam. Tidak, sebenarnya bukan dia yang akan makan malam, anggap saja itu Hyuna dan Sehun, karena dalam skenario yang di buat oleh Irene seperti itulah adanya. Namun, siapa yang tahu, ada skenario di balik skenario. Taehyung tersenyum saat matanya terpejam, rasanya ia ingin segera melancarkan rencananya. 


-


-


-


Bae Irene, gadis itu tersenyum cantik menatap pantulan wajahnya melalui cermin yang berada tepat di hadapannya. Gadis itu sudah siap sejak beberapa waktu yang lalu. Taehyung mengatakan bahwa dia akan menjemputnya, jadi Irene hanya harus menunggu sebentar lagi.


Suara klakson mobil di pekarangan rumahnya membuat Irene semakin melebarkan senyumnya. Gadis itu bangkit dari duduknya lalu berlari kecil ke arah jendela. Dia tersenyum saat melihat pria tampan yang tengah melipat lengan di dadanya sambi bersandar di mobil hyundai mewah miliknya.


"Ya Tuhan, mengapa dia terlihat sangat tampan?" Gumamnya. Gadis itu menoleh saat pintu kamarnya terbuka. Irene tersenyum saat tatapannya bertemu dengan sang ibu.


"Woah, putriku sangat cantik. Tuan Kim pasti sangat senang melihatmu. Cepatlah turun, dia sudah menunggumu di bawah." Ujar sang ibu, Irene pun tersenyum dan mengangguk.


"Ibu apa penampilanku sudah bagus?"


"Putriku adalah gadis paling cantik di dunia ini."


"Ibu..." Keduanya tertawa ringan setelahnya. Irene pun berpamitan sambil mencium pipi sang ibu. "Aku pergi sekarang." Ujarnya, kemudian gadis itu berlari kecil menuruni tangga untuk menemui tunangannya.


Ny. Bae tersenyum, melihat putrinya berlari seperti putri yang hendak menghampiri pangeran yang tengah menunggunya dengan kereta kuda di pekarangan rumahnya.


"Putriku sudah dewasa. Nak, ibu selalu berharap, kau akan menemukan seseorang yang dapat melindungimu. Tidak menyakitimu seperti saat ayahmu menyakitiku. Ibu berharap kau selalu bahagia." Satu tetesan air mata mengalir begitu saja dari kelopak wanita yang tengah rapuh saat kembali mengingat masa lalunya yang membuatnya terus menangis.


Seorang ibu akan dengan tulus berdoa untuk kebahagiaan putri maupun putranya. Karena kebahagiaan mereka adalah bentuk keberhasilan orang tuanya. Orang tua akan merasa gagal saat putra atau putri mereka menemukan kesengsaraan. Ny. Bae memiliki harapan besar pada Taehyung, putrinya yang sangat baik, cantik dan tidak pernah menyakiti siapapun. Dia berharap Irene pun akan menemukan pria yang baik seperti dirinya, yang mampu membahagiakan lahir dan batinnya. Wanita paruh baya itu menghapus air matanya dan menutup tirai jendela rumahnya setelah melihat Taehyung dengan baik hati membukakan pintu mobil untuk putrinya. Mereka bahkan sudah meninggalkan pekarangan rumah mereka. 


-


"Tuan Kim, Hyuna sudah sampai di hotel." Ujarnya sambil menatap ponsel saat sebuah pesan teks masuk. Itu dari Hyuna, wanita itu baru saja memberi tahu Irene bahwa dia sudah sampai. Taehyung tersenyum dan kembali menatap ke luar jendela.


Hyuna-yya, tunggu aku sebentar lagi.


"Bagaimana dengan Sehun?" Pria itu membuka suara membuat Irene menoleh sesaat lalu kembali menatap ponselnya. Namun sepertinya Sehun belum datang, pria itu masih belum memberi kabar.


"Sepertinya Tn. Oh belum sampai." Jawabnya yang hanya di beri anggukan oleh Taehyung.


-


-


-


"Silahkan di nikmati minumannya nyonya." Ujar seorang pelayan yang baru saja masuk ke ruang VIP dengan segelas jus jeruk. Hyuna tersenyum dan tak lupa berterima kasih. Pelayan itu membungkuk dan pergi setelah melakukan pekerjaannya.


"Sepertinya Irene eonnie tahu, aku sangat suka jus jeruk sebelum menikmati jamuan makan malam." Gumamnya sambil menatap gelas yang masih ada dalam genggamannya. Namun beberapa saat kemudian, gadis itu merasakan pusing. Udara bahkan menjadi sangat panas. Pipinya perlahan memerah, Hyuna mengibas-ngibaskan baju bagian dadanya saat rasanya terlalu panas.


"Minuman itu.--- Siapa yang melakukannya?" Gumamnya sambil menatap jus jeruk yang ada di hadapannya. Dia sangat tahu, sepertinya ada yang sengaja memberinya obat perangsang. Gadis itu berdiri dan berjalan keluar. Keringat dingin bahkan sudah mengucur deras di tubuhnya.


"Shit! Siapa yang sudah berani menjebakku?" Rancaunya. Dia berjalan menyusuri lorong di antara kamar-kamar hotel, niatnya dia ingin memesan satu kamar hotel untuk merendam dirinya dengan air dingin. Namun tak di sangka seseorang menariknya ke dalam salah satu kamar hotel.


"YA!!!---" Baru saja gadis itu hendak memekik namun orang itu membungkam mulutnya dengan telapak tangannya. Perasaan Hyuna sudah mulai bercampur aduk. Rasanya dia sudah sangat tidak bisa menahan hasrat dalam dirinya. Gadis itu merasakan terlempat ke atas ranjang yang empuk.


Ini salah, ini tidak benar! Siapa yang sudah melakukan hal seperti ini padanya?


"Lepaskan aku, jangan membuatku membunuhmu di sini." Rancaunya seraya terus menggeliat-geliatkan tubuhnya yang sudah terasa sangat aneh.


-


-


-


"Dimana dia?" Irene tidak menemukan Hyuna dimanapun saat mereka sudah sampai di ruang VIP. Taehyung mengerutkan keningnya bingung, bukankah tadi dia sudah sampai, lalu dimana dia sekarang?


"Kau yakin dia sudah sampai?"


"Aku yakin, kau sendiri tadi melihat isi pesannya, 'kan?"


Taehyung mengeraskan rahangnya dan mengepalkan lengannya. Sial, apa Hyuna sudah mengetahui rencananya?


"Dr. Irene, aku datang. Maaf karena membuatmu menunggu----" Sehun baru saja samapai, namun ucarapannya terhenti saat tatapannya bertemu dengan Taehyung. Apa yang terjadi? Mengapa ada Taehyung di sini? Fikirnya.


"Kim Taehyung?"


"Ah, Tn. Oh sebenarnya---"


"Sehun-ah, kau duduk saja dulu. Irene-sii kau tunggu di sini, aku ada sedikit urusan." Irene baru saja ingin mengajukan protes namun Taehyung lebih dulu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Mau tidak mau Irene harus menemani Sehun sambil menunggu Hyuna datang.


"Mengapa Taehyung ada di sini?" Irene masih diam, gadis itu masih memikirkan Hyuna, dimana sebenarnya wanita itu. Apa dia tahu bahwa Irene tengah merencanakan perjodohan untuknya, itu sebabnya dia pergi? Astaga, apakah Hyuna akan marah padanya? Irene sangat tahu, adiknya itu sangat tidak menyukai perjodohan.


"Dr. Irene?" Gadis itu terperanjat saat sebuat tangan menyentuh lengannya, membuat lamunannya buyar seketika. Sehun yang menyadari tatapan Irene yang tertuju pada lengannya pun segera menjauhkan kembali lengannya dan lengan Irene.


"Maaf. Aku tidak---"


"Tidak apa-apa, aku yang salah karena malah memikirkan hal lain." Ujarnya dengan sopan. Sehun tersenyum. "Kau tadi bertanya apa?" Lanjutnya.

__ADS_1


"Itu--- kau mengajakku makan malam, ku fikir Taehyung tidak akan tahu."


"Ah, dia---- tidak, Sehun tidak boleh tahu jika aku sedang menjodohkannya dengan Hyuna. Kami kebetulan bertemu, dia ada meeting dengan klien di hotel ini." Lanjutnya.


"Apa dia tidak marah jika kita makan malam bersama, bahkan sampai menyewa ruang VIP?" Irene menggigit bibir bawahnya, apa yang harus ia lakukan? Baru saja ia hendak membuka mulutnya namun ada sebuah pesan masuk di ponselnya. Gadis itu menatap Sehun sesaat memberi kode bahwa dia akan melihat pesan masuk di ponselnya terlebih dahulu. Sehun pun mengangguk memberi izin.


"Irene-sii, maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa menemanimu atau mengantarmu pulang. Aku ada pekerjaan mendesak, aku akan meminta Sehun mengantarmu pulang nanti." KTH


Ada rasa kecewa sebenarnya, padahal dia sudah berdandan secantik ini hanya untuk Taehyung. Tapi pria itu seperti tidak perduli padanya. Bahkan sejak saat pertemuan pertama tadi pun tidak ada sedikitpun pujian.


-


-


-


"Tuan lihat, seseorang dengan seragam pelayan hotel kami memberikan minuman pada nyonya Lee, apa kau yang memesannya?" Ujar seorang staf CCTV pada Taehyung seraya memperlihatkan sebuah rekaman CCTV yang merekam keadaan di dalam ruang VIP beberapa saat yang lalu.


"Aku tidak memesannya!" Gumamnya masih dengan tatapannya yang tajam pada layar LCD di depannya.


Sial, siapa yang menjebak Hyuna?


Taehyung menajamkan tatapannya saat tak lama Hyuna seperti merasakan gejala-gejala aneh. Hingga wanita itu berjalan ke luar, setelah keluar seorang pelayan kembali masuk dan mengambil gelas jus jeruk yang sempat di minum oleh Hyuna. Dari tampilan CCTV lainnya, terilihat Hyuna berjalan sempoyongan di lorong hingga sebuah lengan kekar tiba-tiba menarik gadis itu ke dalam.


"Dimana kamar ini?" Gumamnya dengan tegas, dengan aura kemarahan yang membuat siapapun yang mendengarnya merasa terbunuh.


"Di-di lantai 14 kamar 2297."


"BERIKAN KUNCINYA!!" Pekiknya, manager pun memberikan kartu VIP yang bisa membuka semua pintu hanya dengan satu kartu saja. Taehyung merampasnya dengan kasar, pria itu melonggarkan dasinya dan berlari di ikuti para bodyguard-nya begitupun staf hotel yang sejak tadi menemaninya mencari petunjuk keberadaan Hyuna.


-


Sementara di kamar tempat Hyuna berada saat ini, gadis itu terus menggeliat kepanasan.


"Kau keluar sekarang!" Terdengar suara seorang pria paruh baya yang memerintahkan pria lainnya keluar. Pria yang sejak tadi menemani Hyuna pun akhirnya keluar setelah mendapat bayaran. Kini hanya Hyuna dan pria paruh baya yang berada dalam kamar itu. Pria itu menampakkan smirk-nya. Lalu perlahan dia merangkak menaiki ranjang Hyuna. Gadis itu terus menggeliat sambil memejamkan matanya. Lengannya yang mencengkram kuat sprai tempat tidurnya.


"Lee Hyuna, long time no see." Gumamnya. Mendengar suara itu Hyuna perlahan membuka matanya dan mengerutkan keningnya bingung. Siapa pria ini?


"Siapa kau? Pergi atau aku akan membunuhmu!" Pria itu terkekeh mendengar ancaman Hyuna. Satu persatu ia membuka pakaiannya hingga kini dia hanya memakai celana bahannya saja. Lengan kekarnya perlahan ia angkat dan membelai wajah Hyuna dengan sangat lembut. Membuat gadis itu memejamkan matanya, mencoba menahan hasratnya yang sudah memuncak.


"Jangan sentuh aku brengsek!---" Rancaunya yang berakhir melenguh saat pria itu membelai pagian rahang lalu turun ke lehernya. Seperdetik kemudian, pria itu merobek pakaian Hyuna hingga memperlihatkan pakaian dalam Hyuna saja. Pria itu menatap Hyuna penuh nafsu. Wanita ini terlihat sangat sexy, lekukan tubuhnya yang sempurna, bahkan perutnya memiliki abs membuatnya terlihat semakin menarik walaupun pernah mengandung.


"Kau akan menjadi milikku malam ini." Gumamnya, Hyuna mencoba menyadarkan dirinya, namun entah mengapa tubuhnya tidak ingin menolak. Dia merasa sangat tersiksa.


-


Semntara di tempat lain, Taehyung tengah berlari di lorong hotel. Dia baru saja sampai di lantai 14, pria itu terengah hingga atensinya mengarah pada kamar nomor 2297. Taehyung dengan segera membuka pintu itu dan berlari masuk ke dalam. Betapa terkejutnya saat seorang pria tengah mencumbu dada gadisnya. Taehyung di buat semakin gila. Pria itu berlari dan menendang pria brengsek itu dengan sangat keras hingga membuat pria itu terhuyung.


Beberapa bodyguard yang menyusul sempat mengalihkan pandangan mereka saat melihat Hyuna yang hanya memakai pakaian dalam saja. Demi privasi sang boss, mereka membalikkan tubuh mereka terlebih dahulu. Taehyung menyelimuti tubuh Hyuna dengan selimut dan tuxedo miliknya. Setelah itu, dia menghampiri pria brengsek itu yang masih terduduk di lantai karena mendapat tendangangan dari Taehyung sekaligus terbentur nakas. 


"SIAPA KAU?" Tidak ada jawaban. Taehyung sangat tidak sabaran, pria itu terus memukuli pria brengsek itu hingga akhirnya pria itu menendang dada Taehyung, membuat Taehyung terpental. Saat hendak menyerang, beberapa bodyguar menghadangnya.


"Brengsek, siapa kau? Mengapa kau membuat wanitaku seperti ini, huh?"


"Ch, wanitamu? Jangan lupakan tunanganmu tuan muda. Kau bahkan akan menikah, tapi kau masih saja menganggapnya wanitamu?"


"Kau tidak berhak mencampuri urusanku, dia wanitaku dan aku tidak akan membiarkan pria lain menyentuhnya, bahkan hanya sehelai rambutnya. Aku akan membunuhmu!!"


"Silahkan saja, aku sama sekali tidak merasa terancam. Hhhh... Kau sangat serakah Kim Taehyung, kau sudah akan menikah tapi kau ingin memiliki keduanya."


Taehyung sudah sangat muak, baru saja ia hendak menyerangnya lagi namun suara Hyuna membuatnya mengurungkan niatnya. Taehyung menatap lirih Hyuna yang sudah terlihat sangat kacau.


"Keluar kalian semua, bawa dia dan jangan biarkan dia kabur sebelum aku kembali."


"Baik." Para bodyguard dan staf hotel pun keluar. Kini hanya ada Taehyung dan Hyuna di dalam kamar. Taehyung membuka selimut yang menutupi tubuh Hyuna, pria itu mengeraskan rahangnya saat melihat beberapa bekas kissmark di bagian dada dan leher Hyuna. Pria brengsek itu rupanya sudah menyentuh Hyuna-nya, Taehyung sudah pastikan. Pria itu tidak akan pernah hidup setelah ini.


"Hyuna-yya, kau baik-baik saja?"


"Taehyung-ah, aku sudah tidak kuat lagi. Tolong aku. Ini sangat menyakitkan." Lirihnya seraya menangis, Taehyung mengepalkan lengannya. Dia marah, kesal, sakit, dan menjadi gila. Pria itu menelan salivanya kasar saat Hyuna menariknya dan memeluknya dengan sangat erat.


"Baiklah, aku akan melakukannya." Katanya kemudian, pria itu membuka semua pakaiannya. Perlahan dia mencium bibir wanitanya dan memberikan *******.


Keduanya merasakannya lagi, sentuhan yang sangat mereka rindukan. Ada perasaan sedih, bahagia, dan juga marah yang datang bersamaan.


"Aku kembali jatuh di bawahnya, lagi dan lagi. Aku sangat membenci diriku sendiri. Aku melakukan kesalahan besar, Irene eonnie kau berhak membunuhku setelah ini."


Taehyung maupun Hyuna sudah tidak perduli lagi dengan hal apapun. Mereka seolah melupakan permasalahan mereka saat ini.


"Hyuna-yya, aku membencimu dan mencintaimu di waktu yang bersamaan. Kau membuatku terjebak dalam pertunangan gila ini. Aku tidak akan memikirkan apapun lagi, kau adalah milikku. Selamanya."


-


-


-


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2