DARK MISSION (The Series)

DARK MISSION (The Series)
09


__ADS_3

"Kehancuran mampu membuatku semakin percaya, Tuhan memilihku karena aku mampu!"


___oO0Oo___


"Aku sudah katakan sejak awal, aku menolak perjodohan ini! Kim Corporation adalah kerja kerasku ibu, jadi aku berhak atas keputusanku! Tolong jangan campuri urusanku lagi!" Taehyung pun bergegas pergi namun langkahnya terhenti saat ada satu lagi yang akan ia katakan pada ibunya.


"Satu lagi, kunjungi makam cucumu sesekali. Kau ingin melihat cucumu bukan? Dia sangat cantik, mirip ibunya Lee Hyuna. Gadis yang beberapa tahun lalu kau hancurkan hanya untuk kepuasanmu!" Kini Taehyung benar-benar pergi sementara sang ibu masih dalam keterkejutannya. Apa yang Taehyung katakan soal cucu? Wanita paruh baya itu benar-benar masih harus mencerna dengan baik.


"Apa? Cucu?--- Lee Hyuna, wanita itu?" Gumamnya saat mengingat kembali gadis bernama Lee Hyuna, wanita yang beberapa tahun lalu ia usir. Mustahil, dia fikir Taehyung tidak akan pernah berhubungan dengan gadis itu lagi. Wanita paruh baya itu terduduk lemas. Kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Cari tahu keberadaan gadis bernama Lee Hyuna! Dapatkan informasinya dan kabari aku secepatnya!!" Perintahnya pada seorang kepercayaannya. Kemudian wanita itu menaruh kembali ponselnya di atas sofa tepat di sampingnya. Raut kecemasan pada wajahnya sangat terlihat jelas.


"Nyonya, kau baik-baik saja? Apa anda ingin ku buatkan minuman?" Seorang kepala maid pun menawarkan minuman untuk tuannya yang terlihat sangat cemas setelah putra satu-satunya pergi.


"Tolong ambilkan saja aku wine!" Titahnya yang di berikan anggukkan oleh kepala maid itu.


-


Kim Taehyung, pria itu tengah menatap tajam jalanan seraya fokus mengendarai mobil mewahnya. Fikirannya masih saja fokus pada wanitanya yang kini berada di Busan. Rasa rindu juga khawatir yang saat ini menyelimuti hati dan fikirannya membuatnya sangat ingin sekali pergi lebih cepat untuk menemuinya. Namun dia tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja. Karena saat ini masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan di Seoul.


"Lee Hyuna." Gumamnya.


Mobil mewah berwarna hitam itu melaju cepat membelah jalanan kota Seoul. Malam yang indah di penuhi lampu-lampu kota Seoul. Karlap kelip lampu yang bersinar dari berbagai kendaraan yang melintas pun menambah kesan indah malam itu.


-


-


-


Di kediaman Tuan Bae, seorang gadis cantik tengah merebahkan dirinya di sofa sambil menonton sebuah pertunjukkan drama, sesekali sudut bibir tipisnya tertarik membentuk sebuah senyuman, tak jarang pula tertawa. Di atas perutnya terdapat sebuah kemasan cemilan yang tengah ia nikmati.


"Kang ahjuma, tolong buatkan aku jus mangga." Teriaknya pada seorang maid yang bekerja di rumah besar dan mewah itu. "Baik nona muda." Jawab seorang maid yang di panggil Kang ahjuma itu.


Dari arah tangga, seorang pria paruh baya berpakaian tengah berjalan santai menghampirinya. "Irene-yya, jaga sikapmu itu! Kau seorang gadis mengapa penampilanmu seperti ini?" Tegurnya membuat gadis bernama lengkap Bae Irene ini menghela nafas dan dan menegakkan duduknya, namun tidak merubah pandangannya. Tn. Bae sangat tidak suka penampilan putrinya yang terlihat seperti gadis pemalas. Hanya mengenakan pakaian tidur di siang hari. Mau bagaimana lagi, hari ini dia sangat malas untuk mempercantik diri.


"Woah, jadi ternyata jika ekornya menghilang dia akan mengalami kematian? Heol!" (Astaga) pekiknya saat mengomentari sebuah drama berjudul 'My Girlfriend is A Gumoho' yang tengah ia saksikan tanpa menanggapi teguran dari sang ayah. Membuat pria paruh baya itu memejamkan mata dan menghela nafasnya.


"Irene-yya, kau tidak mendengar ayahmu bicara? Astaga, kau sudah dewasa dan kau seorang dokter! Sampai kapan kau seperti ini? Ayah dan ibumu sudah semakin tua, kau masih saja bermain-main!" Lirih sang ayah, membuat gadia cantik itu memutar bola matanya malas. Karena sang ayah selalu saja menyudutkannya untuk segera menikah. Dan mengapa harus terus di desak untuk segera menikah? Lagi pula jika sudah waktunya menikah, dia juga akan menikah, 'kan?


Setiap hari selalu saja di tuntut untuk segera menikah, bukankah itu hal yang membosankan? Terlebih jika para orang tua sudah membicarakan perihal perjodohan. Seperti saat ini saja Tn. Bae dan Ny. Bae tengah sibuk dengan perencanaan menjodohkan putri satu-satunya ini dengan seorang pria mapan yang merupakan seorang pimpinan di sebuah perusahaan terbesar di Korea.


"Ayah tidak ingin tahu! Pemuda itu akan pergi ke Busan dalam waktu dekat. Kau harus menemuinya, orang tuanya dan juga ayah ibumu sudah membicarakan ini bersama." Mendengar hal itu benar-benar membuatnya muak. Satu hal yang membuatnya kesal, karena pria itu sangat dingin dan jarang sekali berbicara. Walaupun dia akui jika pria itu sangat tampan dan lagi dia pernah sempat terpesona. Namun sifat pria itu benar-benar membosankan bagi Irene.


"Terserah ayah saja! Sudahlah, aku harus kembali lagi ke rumah sakit, ada panggilan darurat!" Tn. Bae hanya menghela nafas kasar saat putrinya berlalu bergitu saja meninggalkannya.


"Yeobo, sudahlah biarkan saja mereka saling mengenal lebih dulu. Lagi pula mereka pasti butuh waktu untuk menjadi dekat!" (Panggilan 'sayang' untuk suami dan istri) Itu adalah suara Ny. Bae yang baru saja datang bersama secangkir kopi yang di terima dengan senang hati oleh suaminya.


"Sudah satu tahun kita merencanakan perjodohan ini tapi sangat sulit mempertemukan mereka. Bayangkan saja, mereka bertemu hanya satu kali. Mereka sama-sama sibuk, bagaimana caranya membuat keduanya semakin akrab?" Ny. Bae pun tersenyum dan mengusap punggung suaminya untuk menyalurkan ketenangan.


"Tenanglah, kita akan bicara perlahan pada putri kita. Jangan menambah beban fikirannya, tugas seorang dokter itu mengobati pasien. Jika hatinya kacau, itu akan beresiko bagi pasiennya." Sekali lagi Tn. Bae hanya dapat menghela nafas kasarnya. Benar yang istrinya katakan, Irene adalah seorang dokter. Jika perasaannya menjadi kacau hanya karena pembahasan tentang perjodohan ini, bukankah ini akan berdampak buruk dengan pekerjaannya? Sepertinya memang memerlukan kesabaran yang lebih banyak untuk menghadapi putrinya yang sedikit keras kepala.


-


-


-


Seorang gadis dengan penampilan faminim, dan elegan tengah berjalan di sebuah lorong rumah sakit. Ketukkan hight heels nya terdengar membuat siapapun yang tengah ia lewati menatapnya penuh kagum dengan kecantikkannya. Bibir merah cerry nya sesekali tersungging saat tatapannya bertemu dengan orang-orang yang menyapnya kagum. Lengan kirinya menggenggam se-bucket bunga mawar.


Lee Hyuna, gadis itu tengah berjalan santai di lorong rumah sakit untuk menjenguk sang ayah tercinta. 

__ADS_1


"Slamat pagi nona Lee." Sapa seorang perawat pria yang baru saja akan masuk ke kamar rawat Tn. Lee yang merupakan ayah dari Lee Hyuna.


"Selamat pagi." Balasnya dengan senyum terbaiknya. Hyuna pun masuk ke dalam ruangan setelah pria berseragam itu membukakan pintu untuknya. Hyuna berjalan mendekat pada sang ayah begitupun perawat pria itu yang berdiri di dekat selang infush-an Tn. Lee untuk melakukan check up rutin.


"Bagaimana kondisi ayahku?" Hyuna bertanya, meskipun dia tahu jawaban apa yang akan di katakan oleh pria di depannya ini. Namun setiap ia bertanya, dia selalu berharap jawabannya akan berbeda.


"Semuanya masih stabil, hanya saja masih sama seperti sebelumnya, Tn. Lee belum menunjukkan reaksi apapun." Jawabnya, Hyuna hanya tersenyum lirih sambil mengangguk faham. Kemudian pintu ruangan pun kembali terbuka saat seorang dokter cantik masuk ke dalam dengan senyum terbaiknya. Mereka pun membalas senyuman itu tak kalah ramah.


"Irene eonnie, kau bertugas hari ini?" Rain bertanya dengan sopan yang di berikan anggukan dan senyum terbaik dari gadis cantik bernama lengkap Bae Irene ini.


"Sebenarnya hari ini aku bertugas malam, hanya saja berdiam di rumah sangat membosankan. Kau tahu bukan, ayahku terus saja mendesakku supaya cepat menikah." Gumamnya seraya memeriksa beberapa berkas hasil check up yang di berikan perawat tadi.


"Mengapa kau tidak menikah saja, bukankah kau bilang pria yang ayahmu jodohkan itu sangat tampan dan kaya?" Hyuna berusaha menggodanya membuat Irene memutar bola matanya malas sedangkan Hyuba dan perawat pria tadi hanya terkekeh.


"Dr. Irene, apa aku harus pergi menemui ayahmu dan melamarmu?" Saran perawat pria itu yang di hadiahi cubitan oleh Irene di perutnya hingga pria tampan yang seumuran dengan Hyuna itu meringis kesakitan. Mereka pun tertawa bersama.


"Dia memang sangat tampan, tapi aku tidak menyukainya. Dia terlalu membosankan, kesan pertama bertemu dengannya saja. Dia sudah menanyakan seorang gadis pada bawahannya. Entahlah siapa yang ia cari sebenarnya. Dia tidak pernah mengatakannya." Irene menghela nafasnya dan menjeda ucapannya.


"Aku benar-benar di buat bosan. Kau tidak akan percaya, dia hanya mengatakan beberapa kata padaku saat makan malam saat itu." Irene mengehela nafas kasar saat nafasnya tiba-tiba memburu sangat mengingat pertemuan pertama yang sangat membosankan itu.


'Nona Bae, kau mau ku pesankan makanan? Nona Bae, terima kasih untuk pertemuan malam ini, Nona Bae kita harus pulang, sudah malam!'


"Astaga benar-benar sebuah ungkapan yang membosankan." Gerutunya saat membicarakan pertemuannya seraya memperagakan ucapan pria itu, membuat Hyuna dan perawat pria itu tertawa geli mendengarnya.


"Astaga pria macam apa dia? Benar-benar sangat kaku!" Hyuna tertawa di ikuti Irene dan perawat pria itu.


"Mau minum kopi?" Irene menawarkan Hyuna yang langsung di terima dengan anggukkan. Hyuna pun berjalan ke dekat nakas dan mengganti bunga yang ada pada fash bunga itu lalu menggantinya dengan yang baru. Kemudian mencium kening sang ayah sebelum ia pergi.


"Ayah, aku akan segera kembali." Ucapnya sambil tersenyum. Kemudian atensinya beralih pada ponselnya yang berdering menampakkan sebuah pesan dari seseorang di sebrang sana. Bibir gadis itu tersungging saat membaca pesan itu.


"Hyuna-yya, kemana saja kau tidak pernah menghubungiku? Apa kau melupakanku?" Kim Taehyung


"Apa? Kau sibuk sampai melupakanku? Kau cari mati?" Kim Taehyung


"Baiklah, jika kau ingin membunuhku, datanglah kemari!"


"Ya, kau menantangku?"


"Lee Hyuna, kau berani mengabaikanku?"


"Beraninya kau tidak membalas pesanku!"


"Hyuna-yya, balas atau aku akan menjemputmu!"


"Aku tidak main-main!"


"Baiklah, kau benar-benar ingin ku makan!!"


"Tunggu saja! Aku akan benar-benar datang!"


"Dasar gila!" Gumamnya seraya terkekeh tanpa membalas pesan dari kekasihnya. Dan ya, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali bersama.


"Ayo pergi!" Ajaknya pada Irene yang di beri anggukan oleh gadis cantik itu.


-


-


-


Kim Taehyung, pria itu menghela nafasnya kasar saat gadisnya tak juga memberikan balasan padanya. Dia menghubungi seseorang untuk membantunya.

__ADS_1


"Jungkook-ah, siapkan jet bribadiku! Aku akan pergi ke Busan saat ini juga!" Tegasnya pada Jungkook saat ia menghubungi pria itu melalui panggikan suara.


"Hyung, bukankah kau akan ke Busan dua hari lagi?"


"Turuti saja! Ada hal yang lebih penting dari pada menemui Tn. Bae!"


"Kau ingin bertemu Hyuna?"


"Cepatlah, lakukan saja!" Dengusnya seraya mengakhiri sambungan panggilan itu secara sepihak.


Lengannya bergerak untuk menekan bel guna memanggil sekretarisnya. Tak butuh waktu lama, seorang gadis cantik berpakaian modis yang merupakan sekretarisnya itu pun masuk.


"Anda memanggil saya Kim sajang-nim?" Tanya sekretaris Park, Taehyung pun mendongak sesaat kemudian fokus lagi pada ponselnya.


"Batalkan semua pertemuan hari ini sampai satu minggu ke depan. Aku akan pergi ke luar kota." Gumamnya tanpa nenatap sekretarisnya yang tengah memasang wajah terkejut.


"Tapi sajang-nim, besok anda harus menemui klien penting----"


"Batalkan saja semuanya! Apa kau ingin ku pecat?" Sekretaris Park pun hanya menunduk karena merasa takut dengan ancaman dari atasannya, belum lagi Taehyung menatap gadis itu sangat tajam.


"Pergi dan lakukan pekerjaanmu!" Titahnya, sekretaris itu pun membungkuk sopan lalu pergi. Taehyung memijat pangkal hidungnya saat rasanya kepalanya menjadi pusing. Oh ayolah, bukankah ini hal yang sangat spele? Mengapa pria ini menjadi sangat ke kanak-kanakan?


-


-


-


Di sebuah cafe kopi yang terdapat di sebrang rumah sakit tempat Tn. Lee di rawat. Dua gadis cantik itu tengah duduk santai sambil bercerita banyak hal di kursi dekat dinding kaca.


"Bagaimana kabar paman dan bibi Bae? Apakah mereka baik-baik saja?" Hyuna bertanya, karena dia sangat dekat dengan keluarga Bae. Keluarga Bae sudah sangat banyak membantunya, bahkan saat dia mengalami keguguran Ny. Bae selalu datang untuk menjenguknya dan berperan layaknya seorang ibu.


"Mereka baik-baik saja. Hari minggu nanti si Tn. Muda itu akan datang. Entah apa yang ingin ia katakan, ayahku hanya mengatakan jika dia akan datang untuk membicarakan sesuatu. Kau harus tau bagaimana tampang Tn. Muda membosankan itu!" Hyuna pun terkekeh setiap kali mendengar Irene menceritakan tentang pria yang tengah di jodohkan dengannya.


"Eonnie, kau hanya belum terbiasa dengan pria itu! Dan lagi kalian hanya baru bertemu satu kali, 'kan?--- Kau dan dia hanya butuh saling mengenal satu sama lain, dengan begitu kalian akan saling memahami." Irene menghela nafasnya, yang di katakan Hyuna memang benar. Mereka baru satu kali bertemu, wajar saja jika mereka masih canggung bukan?


"Yang kau katakan sangat benar, tapi Hyuna-yya sepertinya dia memiliki seorang gadis yang ia cintai. Bahkan di hadapanku dia berani menanyakan gadis lain, aku tidak ingat nama gadis itu karena dia mengecilkan suaranya." Hyuna pun hanya diam, ini benar-benar posisi yang sangat sulit. Jika benar pria itu memiliki gadis lain, mungkin Irene akan patah hati.


"Lalu apa rencanamu?" Irene pun sedikit berfikir, rencana apa yang akan ia lakukan. "Sepertinya aku tidak akan cocok dengannya! Lagi pula, aku masih belum bisa melupakannya." Hyuna pun menatap Irene lirih, dia sangat tahu cerita kelam kisah cinta Irene.


Kekasihnya meninggal karena penyakit jantung. Kekasihnya seorang Dokter. Saat mereka berkencan dulu, Irene bahkan belum menjadi seorang dokter. Dia masih menyandang sebagai junior dari kekasihnya. Bahkan Irene menjadi dokter karena ingin melanjutkan tugas kekasihnya. Dia sangat mencintai kekasihnya itu.


"Eonnie, hidup itu harus berjalan. Kau harus melihat ke depan dan belajarlah untuk membuka hatimu." Hyuna menggenggam lengan Irene untuk menguatkan gadis cantik itu. Irene pun hanya mengangguk dan tersenyum.


"Satu cup Caramel Macchiato dingin, dan Capucino Latte hangat?" Seorang bartender meletakkan pesanan yang telah di pesan kedua gadis itu.


"Terima kasih." Bartender itu pun membungkuk dan pergi setelah Irene berterima kasih. "Hyuna-yya, ini Caramel Macchiato-mu." Irene menggeser satu cup kopi milik Hyuna dan di terima dengan senang hati oleh gadis itu.


Hyuna menoleh ke luar dinding kaca saat hujan turun. Dia tersenyum merasa senang setiap kali menatap hujan dari dalam cafe kopi itu. Dulu dia sering berteduh dari hujan dengan Taehyung sambil meminum kopi. Taehyung adalah pria yang tidak menyukai kopi, tapi dia mengatakan dia sangat suka Caramel Macchiato. Itu sebabnya Hyuna menjadi sangat suka Caramel Macchiato.


"Manis dan dingin berpadu dengan hujan. Apa kau gila? Memberiku minuman dingin saat hujan turun?"


"Kau tahu, saat aku merasa dingin karena hujan dan minuman dingin yang tengah ku minum. Kau selalu memelukku agar aku tetap merasa hangat!"


"Kau benar-benar ingin aku peluk?"


"Hyuna-yya, ayolah aku ini kekasihmu!"


Tapi saat ini, siapa yang akan menghangatkanku? Kau sangat jauh. Taehyung-ah, aku merindukanmu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2