
"Aku pernah berdiri di antara dua pilihan antara kekasihku atau putriku. Aku memilih putriku dan pada akhirnya aku kehilangannya. Dan kini, aku kembali berada di dua pilihan nyaris sama, bedanya kali ini adalah, antara kau dan seseorang yang ku anggap saudariku. Mana yang harus aku pilih kini?"
___oO0Oo___
Di sepanjang perjalanan setelah pertemuannya dengan sang ibu yang di akhiri pertengkaran, Taehyung terus saja menatap setiap perjalanan sambil memikirkan cara untuk terbebas. Ancaman sang ibu tidak pernah main-main. Meskipun ibunya sudah mengetahui mengenai cucunya yang meninggal, tapi itu tidak mengubah keadaan. Dia hanya perduli pada keturunannya namun tidak perduli pada wanita yang telah melahirkan keturunannya itu. Tidak perduli seberapa besar cinta putranya pada ibu dari cucunya. Wanita paruh baya itu nyatanya sangat berambisi.
"Ini tidak bisa di biarkan, aku harus mengakhirinya. Aku tidak akan melepaskannya lagi. Aku tidak akan pernah melepasnya meskipun pilihannya adalah kekayaan atau wanitaku? Aku akan tetap menggenggam tangannya." Monolognya di tengah perjalanannya. Mobil yang ia kendarai bahkan melaju dengan kecepatan tinggi, seolah dirinya ingin cepat bertemu dengan wanita yang sangat ia cintai.
-
-
-
"Irene-yya, bagaimana persiapannya? Kau sudah mencari gaun untuk pertemuan besok malam?" Tanya Ny. Bae pada putrinya yang tengah duduk sambil memeriksa beberapa berkas laporan pekerjaannya. Gadis yang tengah duduk di meja kerja di kamarnya itu menoleh lalu tersenyum menyambut sang itu. "Tentu saja, Hyuna memilihkan gaun yang sangat indah untukku." Jawabnya dengan senyum manis seperti biasanya. Ny. Bae pun tersenyum seraya mengusap surai hitam putrinya. Tatapan sendu pada putrinya yang tersenyum membuatnya semakin tidak rela melepaskan putri tercintanya ini. Pertunangan akan segera di laksanakan, beberapa saat yang lalu Ny. Kim yang merupakan ibu dari Taehyung menghubunginya, dan memberi tahu mereka bahwa pertemuannya nanti akan di sertai pertunangan antara dua keluarga saja kemudian menentukan tanggal pernikahan.
Entah apa yang di fikirkan Ny. Kim hingga merubah rencana yang tadinya hanya acara makan malam, kini malah seolah mempercepat perencanaan yang akan berakhir pernikahan.
"Ibu, apa ada yang mengganggu fikiranmu?" Irene bertanya saat dirinya menyadari tatapan ibunya kini sendu, seolah tengah memikirkan hal yang membuatnya menjadi bersedih. "Tidak nak, ibu hanya sedang memikirkan bagaimana hidup ibu tanpa putri kesayangan ibu." Jawabnya yang membuat Irene tersenyum sendu.
"Apa yang ibu fikirkan? Putri ibu ini belum akan menikah. Lagi pula pertemuan nanti hanya untuk makan malam, 'kan?" Katanya, Ny. Bae pun tersenyum dan mengangguk.
"Benar, tapi---" Ny. Bae menjeda ucapannya namun Irene tetap diam untuk mendengar kelanjutannya, meskipun dia merasa ada yang mengganggu fikiran ibunya. "Ny. Kim menghubungiku, beliau mengatakan bahwa mereka akan melangsungkan pertunangan denganmu besok. Dan mempercepat pernikahannya." Mendengar hal itu Irene sontak membulatkan matanya dan langsung berdiri.
"Apa maksudmu ibu? Bu, aku dan Tn. Kim Taehyung belum saling mengenal satu sama lain. Bahkan ini adalah pertemuan kedua kami." Katanya dengan penuh kekhawatiran, karena sifat Taehyung padanya yang sangat dingin membuatnya begitu khawatir bagaimana nanti setelah menikah? Dia hanya ingin menjalani pengenalan lebih jauh, agar tidak ada kecanggungan di antara mereka setelah menikah.
"Ibu bisa apa nak, Ny. Kim hanya ingin mempercepat pernikahannya. Lagi pula, putranya sangat baik dan bisa bertanggung jawab untukmu. Bukankah dia pria yang sangat sempurna?" Benar, dia memang sempurna, dia tampan, mapan dan juga bertanggung jawab. Hanya saja, pria itu terlalu dingin, tentu Irene tidak menginginkan hubungan yang canggung. Biar bagaimanapun pernikahan itu bukan hanya perkara tinggal di satu atap yang sama dan tidur di ranjang yang sama. Melainkan proses hidup yang akan di jalani setiap detiknya setelah menikah. Bisakah mereka tidak saling canggung setiap saatnya? Bagaimana caranya memulai jika keduanya masih terasa asing?
"Bu, aku---"
"Irene-yya, dulu ibu dan ayah juga di jodohkan, bahkan kami tidak pernah saling berkomunikasi satu sama lain. Kami bahkan bertemu hanya satu kali saat orang tua kami saling mengenalkan dan langsung memilih tanggal pernikahan. Kau lihat sekarang, kami masih bersama dan ada kau kini." Irene menoleh membuang muka. Rasanya ingin sekali berteriak dan tertawa.
"Tapi saat kalian menikah, ada seorang wanita yang terluka. Itu adalah kekasih ayah, 'kan? Bu, bahkan aku masih ingat betapa hancurnya kau saat mengetahui bahwa ayah sebenarnya memiliki kekasih sebelum menikah denganmu. Lalu setelah aku berusia lima tahun, kau mengancam akan menceraikan ayah lalu membawaku pergi jika ayah tidak meninggalkannya. Bu, aku dan kau sama-sama seorang wanita. Apa kau pernah berfikir, jika hal yang sama akan terjadi padaku jika aku menikahi pria yang tidak aku kenal?" Mendengar hal itu, Ny. Bae bahkan diam telak. Benar yang putrinya katakan, dulu saat dia dan suaminya menikah. Ternyata saat itu suaminya memiliki kekasih, bahkan mereka masih menjalin kasih setelah pernikahan. Dan baru ketahuan saat putrinya beranjak lima tahun. Saat itu pertengkaran antara dirinya dan suaminya di ketahui Irene, bahkan suaminya mengemis agar dia tidak membawa Irene. Sejak saat itupun suaminya lebih memilihnya dengan putrinya yaitu Bae Irene. Bahkan wanita yang dulu menjadi Tn. Bae pergi entah kemana. Wanita itu seolah hilang bak di telan bumi.
"Itu sudah berlalu, jangan pernah ungkit masalah itu lagi. Nak, ibu sangat yakin, pemuda itu adalah pemuda yang sangat baik. Sudahlah, lebih baik kau persiapkan dirimu saja. Selamat malam." Ny. Bae pun memilih keluar setelah mengecup kening putrinya dan memberi usapan lembut di puncak kepala Irene.
"Dia memang tampan dan kaya, tapi sikapnya tidak sekaya hartanya, tidak setampan wajahnya."
-
-
-
"Apa dia lupa jalan pulang? Mengapa belum sampai? Bukankah dia mengatakan hanya pergi sebentar?---"
~Ting
Suara pintu terbukapun mengalihkan perhatian Hyuna yang sejak tadi hanya menggerutu kesal karena Taehyung-nya belum juga kembali. Pria itu satu jam yang lalu mengatakan sudah di perjalanan pulang, tapi sudah tiga jam dia belum juga kembali. Sebenarnya di perjalanan kemana dia itu? Apakah perjalanan Busan ke Seoul yang dia maksud? Oh, yang benar saja.
"Ya, Kim Taehyung, apa kau---" Hyuna menjeda ucapannya saat melihat kekasihnya datang dalam keadaan mabuk, pria itu bahkan di antar oleh bodyguard-nya. "Apa yang terjadi, mengapa dia mabuk?" Tanyanya seraya mengambil alih pria mabuk itu dari rangkulan bodyguard Taehyung. Hyuna sedikit meringis saat Taehyung merancau dalam dekapannya, bau alkohol yang sangat menyengat. Pria ini tidak akan semabuk ini jika tanpa alasan. Benar, Hyuna sangat mengenal Taehyung lebih dari siapapun. Taehyung tidak pernah minum sebanyak ini sampai membuatnya mabuk hingga pulang di antar seseorang jika tidak memiliki masalah.
"Boss tadi bertemu dengan nyonya besar, lalu barista club menghubungi kami untuk menjemput Boss, kemudian Boss meminta untuk di antar ke apartemen nona Lee." Ujarnya setelah menyerahkan Boss-nya pada Hyuna. Gadis itu menghela nafas kasar, pasti sesuatu terjadi mengingat pertikayan antara ibu dan anak ini begitu sengit selama ini.
"Baiklah, terima kasih." Katanya, Bodyguard yang berjumlah tiga orang itu pun membungkuk dan berpamitan untuk pergi. Setelah mereka pergi, Hyuna dengan susah payah memapah Taehyung ke kamarnya. Gadis itu tak habis fikir, apa kali ini yang membuat Taehyung sampai semabuk ini. Apa masih berhubungan dengannya atau ada hal lain. Sebaiknya dia bertanya besok saja pada Taehyung, saat ini pria itu lebih baik tidur saja, karena jika bertanya saat ini pun Taehyung tidak akan pernah menanggapinya dengan serius.
"Hyuna-yya, kau sangat cantik dan wangi. Kau masih menggunakan sabun yang ku sukai dan membuatku candu." Lihat saja, pria ini terus saja merancau. Tidak ada jawaban, Hyuna hanya terus membantu Taehyung berjalan hingga sampai di kamarnya. Hyuna membantu Taehyung berbaring di tempat tidurnya, membuka dasi, dan sepatu pantopelnya. Hyuna juga membantu Taehyung melepas satu persatu kancing kemejanya, mengelap dada Taehyung dengan kain basah. Setelah itu, Hyuna menghela nafas dan menatap Taehyung yang sudah terlelap dengan tenang. Hyuna pun pergi membawa baju kotor Taehyung dan menyimpan mangkuk air hangat bekas mengelap tubuh Taehyung. Tidak untuk keseluruhan, Hyuna hanya mengelap bagian perut ke atas saja. Bahkan Taehyung masih mengenakan celana bahan yang sejak pagi ia pakai, Hyuna hanya mengganti bajunya saja karena dia tahu bahwa Taehyung tidak pernah bisa tidur dengan nyaman dengan baju kotor, tanpa terkecuali celana. Hyuna tidak mungkin seberani itu mengganti calana Taehyung meskipun pria itu telah menjadi kekasihnya kembali.
-
"Sehun, apa kau bisa mencari tahu sesuatu?" Tanyanya pada seseorang yang tengah ia hubungi melalui panggilan suara.
"Ada apa? Apa yang kau butuhkan, bicaralah aku akan membantumu."
__ADS_1
"Semalam Taehyung pulang dalam keadaan mabuk berat, bodyguard-nya mengatakan, Taehyung bertemu dengan Ny. Kim. Bisakah kau cari tahu, apa rencana Ny. Kim, apa ini ada hubungannya denganku?"
"Itu sangat mudah, aku akan meretas data miliknya. Kau fokus saja pada priamu. Biarkan kali ini aku yang bekerja." Serunya dengan sangat yakin, Hyuna pun tersenyum dan berterima kasih, setelah itu mereka mengakhiri panggilan tersebut. Lalu Hyuna pergi ke kamarnya untuk tidur. Hanya ada satu kamar di apartemennya, itu sebabnya mau tidak mau dia tidur dalam satu ranjang dengan Taehyung.
-
Malam kini telah berganti pagi, Kim Taehyung baru saja membuka mata sayunya. Terlihat sedikit membengkak setelah bangun tidur. Bibirnya sedikit mengerucut, pria itu mengucek matanya dan menguap, merenggangkan otot-ototnya lalu menatap kesetiap sudut ruangan, mencari seseorang yang sebenarnya sangat ia rindukan. Hanya saja dia malah mengalami sedikit frustasi karena sang ibu yang sangat menyebalkan. "Kemana dia?" Gumamnya saat tak melihat Hyuna-nya di dalam kamar. Hingga akhirnya atensinya mengarah pada pintu kamar yang terbuka perlahan. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman saat melihat sosok cantik yang sejak tadi ia cari, siapa lagi jika bukan Hyuna kekasihnya.
"Sayang, aku mencarimu sejak tadi. Mengapa kau tidak membangunkanku, hm?" Pria itu melemparkan protes setelah Hyuna duduk di tepi ranjang dan meletakkan semangkuk sup pereda mabuk di atas nakas. "Apa tidurmu nyenyak? Sepertinya lebih dari nyenyak." Katanya dengan nada dinginnya. Taehyung melirik mangkuk sup itu lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia baru sadar bahwa dia baru saja tertangkap basah telah mabuk dan pasti membuat Hyuna kesulitan.
"Apa sup ini untukku?" Hyuna memutar bola matanya jengah. "Tentu saja, kau fikir siapa yang mabuk?" Katanya membuat Taehyung sedikit merasa bersalah. Pria itu bermanja dan memeluk Hyuna dari belakang, mendaratkan kepalanya di ceruk leher Hyuna, bahkan sesekali dia mengendus wangi leher Hyuna.
"Maafkan aku, aku hanya--- sudah lama aku tidak minum. Pekerjaanku sangat banyak, jadi aku meluangkan waktu untuk minum."
Sudah ku duga, dia tidak akan mengatakannya. Tapi untung saja bodyguard-nya memberi tahu perihal pertemuannya dengan Ny. Kim, dan beruntung Sehun mau membantuku.
"Kau bisa minum denganku, mengapa harus minum sendiri?" Taehyung menghela nafas pasrahnya lalu melonggarkan dekapannya, menangkup pipi kekasihnya dan menatapnya begitu dalam. Degupan jantung Hyuna bahkan rasanya seperti sudah siap meledak. Tatapan Taehyung selalu menjadi titik kelemahannya. Hyuna pun menoleh dan menelan salivanya kasar, mencoba menghindari tatapan itu. Tentu saja membuat Taehyung tersenyum, dia berhasil menggoda kekasihnya. Lengannya bahkan terangkat untuk menarik rahang Hyuna agar gadis itu kembali menatapnya. Taehyung kembali tersenyum dengan hangat.
"Hyuna-yya, kau percaya padaku bukan?--- Kau percaya bahwa aku sangat mencintaimu, 'kan?" Tanyanya dengan tatapan penuh harap. Sedangkan Hyuna mengerutkan keningnya bingung. Mengapa Taehyung tiba-tiba bertanya seperti ini.
"Apa yang kau katakan? Tentu saja aku percaya." Katanya, Taehyung tersenyum dan mengusap lembut pipi Hyuna lalu membawa gadis itu dalam dekapannya. Bahkan sangat erat, Hyuna hanya mengerutkan keningnya, walaupun masih bingung tapi dia membalas dekapan Taehyung.
"Sudahlah, jangan bicara yang tidak-tidak, sekarang makanlah sup-nya lalu mandilah. Kau sangat bau alkohol." katanya membuat Taehyung refleks mencium tubuhnya sendiri yang mudah di gapai. Pria itu tersenyum kotak saat dia sedikit mencium alkohol yang masih menempel di tubuhnya.
-
-
-
"Ibu, apa ini terlihat bagus?" Irene membawa kue tart yang ia buat special untuk menyambut tamu yang akan datang malam ini. Ny. Bae pun menoleh lalu tersenyum bangga. "Itu terlihat sangat bagus, Taehyung dan Ny. Kim pasti akan menyukainya." Jawabnya seraya mengiris sayuran yang sedang mereka siapkan untuk di jadikan salad.
Hari ini Irene dan ibunya tengah sibuk memasak untuk acara makan malam dan juga pertunangan yang Ny. Kim rencanakan. Walaupun hanya pertemuan dua keluarga, tetap saja harus di sambut dengan baik untuk mengawali kesan yang baik. "Dimana Hyuna? Bukankah dia akan membantu kita?" Ny. Bae bertanya, Irene pun tersenyum saat bel rumah mereka berbunyi. "Sepertinya dia panjang umur sekali, baru saja aku menanyakannya." lanjut Ny. Bae sambil tersenyum. Dia yakin bahwa yang datang itu Hyuna.
"Ya, mengapa kau baru datang? Kau bilang akan datang pagi-pagi?" Irene mengerucutkan bibirnya. Hyuna pun terkekeh lalu merangkul lengan Irene.
"Maaf, tadi pagi kucingku sangat manja. Aku harus melayaninya dulu." Katanya membuat Irene mengerutkan keningnya bingung, sejak kapan Hyuna memelihara kucing fikirya.
"Apa kau memelihara kucing? Mengapa aku baru tahu?" Tanyanya membuat Hyuna menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sebenarnya bukan kucing, melainkan Taehyung. Pria itu tidak ingin di tinggalkan, Taehyung hanya ingin menghabiskan waktu bersama kekasihnya seharian, karena malamnya dia memiliki pertemuan dengan klien-nya. Itulah yang Taehyung katakan, sementara Hyuna merengek ingin membantu dokter pribadi ayahnya yang akan melangsungkan pertunangan. Namun karena keras kepalanya Taehyung, alhasil Hyuna mengalah dan pergi pada sore harinya setelah Taehyung pergi menemui bodyguard-nya untuk sebuah pekerjaan. Tadinya Taehyung ingin mengantar Hyuna pergi, tapi gadis itu menolak. Sempat terjadi pertengkaran kecil namun Hyuna berhasil meyakinkan Taehyung, dan akhirnya Hyuna pergi sendiri.
"Lupakan saja, apa semuanya sudah selesai." Irene mengangguk dan tersenyum.
"Semuanya sudah siap, ayo ke dapur, ibuku membuatkan puding kesukaanmu." Katanya membuat Hyuna membulatkan matanya yang berbinar. Ny. Bae sangat baik padanya, memanjakannya bagaikan putri kandungnya. Itulah yang membuat Hyuna sangat menyayangi keluarga Bae. Mereka kini tengah menikmati puding di dapur sementara semua makanan sudah tersaji dengan apik di atas meja makan. Hanya tinggal menunggu keluarga calon tunangan Irene saja.
"Aku sangat gugup." Hyuna tersenyum lalu menggenggam lengan Irene yang sudah terasa dingin dan berkeringat.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Katanya membuat Irene tersenyum.
-
"Nyonya, keluarga Kim sudah sampai. Mereka ada di ruang tamu." Sahut seorang pelayan pada Ny. Bae dan Irene. Hyuna tersenyum saat melihat kegugupan Irene. "Eonnie, tenanglah." Katanya.
"Irene, ayo kita sambut mereka." Ajak Ny. Bae pada putrinya, Irene pun menggenggam lengan Hyuna untuk pergi bersama. Namun sesaat kemudian ponsel Hyuna berdering. Itu dari Sehun, Hyuna pun tersenyum kaku pada Irene.
"Aku akan menyusul, aku ada panggilan penting dulu." Katanya, Irene dan Ny. Bae pun tersenyum. Mereka pergi lebih dulu sementara Hyuna pergi ke halaman belakang untuk menerima panggilan dari Sehun.
-
"Selamat datang Ny. Kim dan Tuan muda Kim Taehyung." Ujar Tn. Bae yang baru saja datang untuk menyambut kedatangan mereka, di ikuti istri dan juga putrinya. Taehyung dan Ny. Kim pun berdiri dan membungkuk. Berbeda dengan Ny. Kim yang terlihat ramah, Taehyung justru masih menampakkan wajah dinginnya. Dia merasa kesal karena ibunya malah ikut, padahal dia akan pergi sendiri, toh dia hanya datang untuk menggagalkan perjodohan ini saja. Tapi kelihatannya keluarga Bae sangat baik menyambutnya, bahkan mereka memakai pakaian yang sangat mewah untuk ukuran acara makan malam saja. Taehyung akhirnya hanya acuh saja.
"Aku kemari untuk bicara sesuatu, aku hanya ingin---"
"Bagaimana jika kita percepat saja acara pertunangannya." Sanggah Ny. Kim memotong ucapan Taehyung, membuat Taehyung membulatkan matanya tak percaya, sedangkan Tn. Bae dan Ny. Bae hanya tersenyum, begitupun Irene yang masih diam menahan malu.
__ADS_1
"Ibu, apa yang kau bicarakan?" Sarkas Taehyung.
"Taehyung-ah, apa maksudmu? Tentu saja pertemuan ini bukan hanya sekedar acara makan malam saja. Kita akan melangsungkan pertunangan antara kau dan nona Bae. Setelah itu kita harus menetapkan tanggal pernikahan kalian----"
~PRANGGG....
Suara pecahan itu membuat semua orang menoleh. Tepat saat tatapan Taehyung bertemu dengan orang penyebab kebisingan itu, Taehyung membulatkan matanya dan berdiri di ikuti yang lainnya.
"Hyuna-yya..." Gumam Taehyung saat melihat Hyuna yang terlihat kecewa bahkan matanya sudah memerah, air mata yang terbendung pun kini lolos sudah. Irene yang menatap Taehyung pun menjadi bingung, mengapa Taehyung mengenal Hyuna. Bahkan terlihat sangat khawatir.
"Hyuna, apa kau baik-baik saja?" Tanya Ny. Bae, mendengar hal itu, hyuna mengerjapkan matanya lalu menghapus air matanya segera. Tersenyum seolah tak terjadi apapun.
"Ma-maaf, aku terlalu bahagia mendengar kabar bahagianya. Aku-- aku akan membawa kue yang baru. Maaf mengacaukan pembicaraan kalian." Katanya dengan sangat gugup, Taehyung mengepalkan lengannya. Dia mengerti, artinya Irene adalah dokter yang Hyuna ceritakan. Pria itu pun melangkahkan kakinya mendekat pada Hyuna, berjongkok untuk membantu kekasihnya. Membuat Ny. Kim menatap penuh amarah, sedangkan Hyuna tidak sanggup menahan air matanya bahkan lengannya bergetar hebat.
"Tuan Kim, biar aku saja yang merapikannya. Ku mohon kembalilah." Apa-apaan Hyuna ini, mengapa dia bersikap seolah Taehyung bukan siapa-siapa. Itu bahkan membuat Ny. Kim tersenyum puas. Gadis yang cukup tahu diri fikirnya.
"Hyuna-yya---"
"Tuan Kim, aku adalah adik Irene eonnie, tolong jaga kakak perempuanku dengan baik, dia adalah gadis yang sangat baik dan pintar--- ah ya, Eonnie tiba-tiba saja aku mendapat panggilan, aku harus segera ke kantor. Aku akan pergi sekarang." Katanya lalu membungkuk.
"Hyuna-yya, apakah sangat penting? Makanlah dulu baru pergi." Kata Irene, Hyuna pun tersenyum dan berusaha kuat.
"Aku akan menghubungimu setelah pekerjaanku selesai."
"Lee Hyuna, berhenti bermain-main!" Gumam Taehyung penuh penekanan membuat Hyuna dan yang lainnya membulatkan matanya.
"Ap-apa yang anda bicarakan?"
"KU BILANG BERHENTI BERMAIN-MAIN DENGANKU! APA KAU---"
"Taehyung-ah, kemarilah. Kita harus menyelesaikan pertunangan kalian." Tegas Ny. Kim.
"Kembalilah, jangan membuatku sulit." Bisik Hyuna, Taehyung tak habis fikir dengan gadis ini, apa katanya tadi? Membuatnya sulit, apa yang dia fikirkan. Lengannya bahkan mengepal kuat, sangat kecewa pada Hyuna.
"Apa ini yang kau fikirkan? Kau tidak mencintaiku?" Gumamnya seperti bisikan yang penuh tuntutan, Hyuna menelan salivanya susah payah. Dia melirik keluarga Bae dan Kim. Lalu tersenyum.
"Tuan Kim, ingat pesanku. Kau harus baik pada kakakku!" Katanya berhasil membuat Taehyung sangat muak dan kesal.
"Baiklah, baiklah jika ini permintaanmu aku akan segera mengirim surat undangan padamu."
~Deg
Hyuna menatap lirih punggung Taehyung yang semakin menjauh. Gadis itu menunduk dan pergi dengan hancurnya hati.
"Ayo kita selesaikan acaranya." Ujar Tn. Bae. Dengan wajah penuh amarah Taehyung mengikuti setiap prosedur yang sudah di rencanakan. Akhirnya malam ini Taehyung resmi bertunangan dengan Irene.
-
-
-
"Kau disini ternyata." Hyuna menoleh dan tersenyum lirih saat Sehun baru saja duduk di sampingnya. Mereka kini tengah duduk di taman. Sehun memberi tahu Hyuna perihal rencana Ny. Kim tentang pertunangan Taehyung dengan Irene. Bagaimana bisa dia mengatakan sejujurnya mengenai hubungannya dengan Taehyung, mengingat betapa baiknya Irene padanya, bahkan saat dia berada di titik terendahpun, hanya Irene dan keluarga Bae lah yang berada di sampingnya hingga akhirnya dia bertemu dengan Sehun.
"Semuanya sudah selesai. Dia semakin jauh, tidak dapat aku gapai. Harusnya aku menyadari semuanya sejak awal." Lirihnya, Sehun tersenyum lirih dan merangkul sahabatnya, Hyuna tersenyum namun air matanya tidak dapat membohongi betapa hancurnya hati saat ini.
"Aku sudah pergi darinya selama bertahun-tahun, aku sudah berhasil melepaskan diri darinya, tapi mengapa aku harus kembali padanya dan kembali terluka?"
"Hyuna-yya, tenanglah, aku disini bersamamu. Kau adalah wanita yang sangat kuat. Semua akan baik-baik saja. Sesuatu yang sudah menjadi milikmu akan tetap menjadi milikmu."
"Tidak, semuanya tidak sama. Kini benteng yang berdiri di antara aku dan dia terlalu kuat, bahkan jika ada sesuatu yang bisa meruntuhkan benteng itu, aku tidak akan pernah mampu menghancurkannya." Gadis itu terisak, sangat pedih bahkan seperti kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Antara cinta dan keluarga, keduanya sama-sama sangat penting.
"Aku mencintaimu, tapi dia sudah seperti kakak perempuanku. Taehyung-ah, kali ini aku akan benar-benar melupakanmu."
__ADS_1
TBC.