DARK MISSION (The Series)

DARK MISSION (The Series)
19


__ADS_3

"Aku bahkan tahu bagaimana rasa sakitnya saat melahirkan, tetapi aku membuat wanita lain mengalami hal buruk saat mengandung hingga melahirkan. Apa aku masih pantas menjadi seorang ibu?"


___oO0Oo___


"Dokter Bae, ada pasien yang pingsan di lobby." Ujar seorang perawat wanita yang tiba-tiba datang ke ruangan Irene, padahal mereka bisa saja mencari dokter lainnya. Dan mereka cukup tahu bahwa Irene sedang tidak beroperasi hari ini, bahkan dia datang hanya untuk mengajukan surat cuti pada atasannya. Namun, Irene bukanlah dokter yang egois dan mementingkan diri sendiri, dia bahkan sudah bersumpah di hadapan Tuhan untuk menjalani tugasnya sebagai dokter, dengan begitu gadis Bae itu segera mengenakan jas kebanggaannya dan berlari mengikuti perawat yang tadi mencarinya. "Dimana dia?" Tanyanya sambil berlari, perawat itu melirik sekilas pada Irene dengan tatapan gugupnya, bahkan sangat terlihat jelas oleh Irene. "Dia di ruangan VIP dokter Bae!" Aneh, sepertinya ada yang tidak beres, bukankah harusnya ada di ruangan ICU? Mengapa ada di ruang VIP? Fikirnya.


"Pasiennya ada di dalam dok. A-aku permisi dulu dokter Bae, ada pasienku yang sedang menunggu." katanya dan langsung pergi, Irene menatap bingung perawat itu namun dengan segera ia membuka pintu ruang VIP itu dan menemukan seorang pemuda yang tengah tertidur di atas brangkar. Irenepun memutuskan untuk berjalan dan mendekati pasien yang tengah tidur membelakanginya itu. Dengan tatapa bingungnya Irene berdiri dan bersiap untuk memeriksa keadaan Si psien tersebut. "Apa yang anda rasakan saat ini tuan? Mengapa anda bisa pingsan di lobby?" Tanyanya saat dia melihat pasien itu bergerak dalam tidurnya. "Apa kau tidak mendengar apapun?" Jawab Si pasien tersebut, Irene sempat tertegun dengan suara itu, baginya terasa tidak asing. Namun Irene tetap melakukan pekerjaannya dengan sangat profesional lalu bertanya, "Suara? Maksud anda suara apa, saya tidak mendengar suara apapun." Katanya dengan nada kebingungan, pasien itu menghela nafas kasar lalu berbalik menatap Irene, lantas membuat dokter cantik itu membulatkan matanya dengan sempurna dengan mulut sedikit terbuka kerena terkejut. "Kau masih tidak bisa mendengarnya?--- Suara detak jantungku." Sehun tersenyum saat menatap wajah terkejut Irene, dia sengaja membayar seorang perawat untuk mengelabuhi Irene setelah dia mencari tahu jadwal kerja Irene. Sehun pergi ke rumah Irene namun seorang pelayan mengatakan bahwa Irene sedang pergi ke rumah sakit untuk mengajukan surat cuti. Setelah tahu dimana Irene berada, Sehun langsung menggunakan kesempatannya untuk mengarang sebuah drama dengan seorang perawat. 


"Kau..." Ujar Irene seraya menunjuk wajah Sehun, masih dalam ekspresi terkejut. 


"Benar, aku... lalu memangnya kau fikir siapa?" 


Irene mengerutkan keningnya bingung, bukankah pria ini harusnya kini berada di luar negeri? Mengapa tiba-tiba menjadi pasien? Atau jangan-jangan dia berbohong? Fikirnya. "Dokter Bae, lama tidak bertemu." Sapa Sehun seolah tak bersalah sambil mendudukkan dirinya di tepi brangkar, dan menatap Irene yang masih linglung di buatnya. "Mengapa kau hanya diam?" Lanjutnya dengan sebuah pertanyaan. "Bagaimana kau bisa ada disini? Kapan tepatnya kau kembali? Bagaimana dengan tuan Lee? Apakah beliau baik-baik saja?" Pertanyaan itu langsung dia ajukan pada Sehun, tentu saja membuat pria itu kelimpungan, jawaban dari pertanyaan mana dulu yang harus ia jawab? 


"Begini, sebenarnya belum ada perubahan pada tuan Lee. Tapi---"


"Tapi apa? Apa beliau baik-baik saja? bagaimana kondisinya?" Astaga saat ini Sehun bahkan tidak bisa menghadapi pertanyaan dokter cantik ini. padahal yang dia bayangkan sejak tadi adalah, saat Irene datang, gadis itu akan menangis dan mengkhawatirkannya, namun ternyata dialah yang terlalu percaya diri. "Tentu saja dia baik-baik saja, tapi aku yang tidak baik-baik saja." Katanya seraya menunduk sedih, namun berhasil membuat Irene sedikit bersimpati padanya, Irene bahkan terlihat khawatir dan memegangi bahu Sehun seraya bertanya, "Apa yang terjadi padamu?" Sehun diam telak saat Irene menempelkan keningnya di kening Sehun, pria itu malah terlihat sangat bodoh saat ini. Sadar dengan hal itu, Irene sedikit menjauhkan kepalanya dan menatap Sehun dengan gugup. Baru saja Irene akan menjauhkan dirinya namun Sehun menahan bahu Irene hingga gadis itu masih bertahan pada posisinya yang sangat dekat. Keduanya hanya diam dan saling menatap, bahkan entah suara detak jantung siapa yang paling terdengar keras saat ini. 


"Se-Sehun-ssi__ Kau tidak sedang demam, suhu badanmu juga normal, kau----"


"Aku berlari dari bandara dan menaikki taxy untuk sampai di sini. Namun di tengah jalan tadi, sesuatu terjadi dan membuat jalanan menjadi macet. Kemudian aku berlari untuk mengejarmu kemari karena pelayan rumahmu mengatakan bahwa kau akan pergi ke suatu tempat dan memutuskan untuk cuti. Dokter, kakiku sangat sakit, jantungku bahkan masih sangat berdebar. Jika kau meninggalkanku saat ini, mungkin aku akan mati." Irene menelan salivanya susah payah saat mendengarkan penjelasan panjang itu dari Sehun, entah mengapa Sehun malah terlihat seperti anak kecil yang tengah mengadu pada ibunya. "Lalu jika kau sakit, mengapa kau malah meminta perawat untuk mengantarmu kemari? bukankah harusnya orang sakit itu diam saja di ICU. Apa kau sedang membodohiku?" Katanya sambil menaikkan sebelah alisnya. Sementara kini Sehun malah kemabli diam karena bingung harus memberi alasan apa lagi? Namun, usaha seorang pejuang cinta tidak akan berhenti sampai di sini saja. Sehunpun berpura-pura merintih sambil memegangi perutnya, "Akh... perutku sangat sakit, sepertinya lambungku terluka. apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan mati?" Irene memicingkan matanya menatap betapa buruknya kualitasn ber-acting Sehun menurutnya. Gadis itu pun berdiri membelakangi Sehun sambil melipat lengan di dadanya kemudian menoleh sedikit dan berkata, "Hari ini aku cuti, ada dokter Han yang akan menanganimu. Jika kau tidak sedang sakit, aku pasti akan mengajakmu kesuatu tempat, tapi kau sedang sakit, jadi aku tidak akan mengajak----" 


"Aku baik-baik saja, aku sudah tidak sakit lagi!!! Jadi kau ingin aku menemanimu kemana?" Serunya seraya berdiri tegap seolah melupakan rasa sakitnya, Irene pun hanya tersenyum tipis menahan tawa gelinya pada Sehun yang akhirnya mengakui kebodohannya. Sehun tersenyum di belakang sana saat menatap Irene yang pergi mendahuluinya, dan akhirnya dia berlari kecil untuk menyusul Irene. 

__ADS_1


***


"Selamat atas pernikahan kalian, setalah ini apa rencana kalian selanjutnya?" Tanya Seokjin yang kini berada di sebuah ruang rapat dengan ke empat member Bangtan lainnya yang tengah melakukan panggilan video bersama Taehyung dan Hyuna. Mereka tersenyum melihat Taehyung yang tengah merangkul bahu Hyuna di sebuah sofa mewah yang terdapat di rumah baru Taehyung dan Hyuna. "Tentu saja kami sangat bahagia. Kami akan segera pergi ke Argentina untuk melangsungkan pernikahan kami di sana, aku akan menyediakan jet pribadi untuk kalian nanti." Jawabnya dengan semangat. Terlihat Yoongi tersenyum bangga menatap keduanya. "Hyuna-yya, apa kau baik-baik saja? Kau seperti kurang bersemangat." Ujar Yoongi, dan membuat teman-temannya menatap Hyuna dengan serius, Yoongi memang selalu menunjukkan keperduliannya pada Hyuna sejak mereka kembali di pertemukan. Bakan Yoongi sudah seperti seorang kakak kandung bagi Hyuna. "Aku baik-baik saja, aku hanya sedang memikirkan Irene eonnie, jika dia tahu tentang kami yang telah mendaftarkan pernikahan kami hari ini ke catatan sipil, mungkin dia akan sangat membenciku." Katanya sambil tersenyum seraya menahan kesedihannya. Taehyung tersenyum dan menangkup wajah Hyuna dengan hangat lalu berkata, "Jangan khawatir, kita akan menghadapinya bersama kali ini. aku tidak akan membiarkanmu menghadapi masalah seorang diri lagi." Jelasnya yang berakhir mengecup kening Hyuna bahkan seolah lupa bahwa mereka kini tengah melakukan panggilan video. 


"YA...!!! APA KAU TIDAK MEMILIKI WAKTU KALIAN BERDUA DAN MEMAMERKAN KEHARMONISAN KALIAN? HAIISSSHH...!!!" Dengus pria tertua bernama lengkap Kim Seokjin itu. Hyuna pun sontak mendorong dada suaminya dan memalingkan wajahnya yang sudah terlihat memerah bak tomat yang siap panen itu. "Hyuna-yya, kali ini kau harus mendengarkannya, Taehyung akan melindungimu apapun yang terjadi." Ujar Namjoon dan di setujui teman-temannya. "Kalian jangan khawatir, kami akan pergi menghadiri pernikahan kalian nanti." Ujar Hoseok. 


"Terima kasih, kalian memang keluargaku yang sangat berharga." Kata Hyuna sambil tersenyum, Taehyung pun tersenyum dan kembali mendaratkan kecupannya di puncak kepala Hyuna. "Baiklah, kalau begitu kami akhiri dulu. Sampai jumpa." Ujar Taehyung yang langsung mematikan panggilan itu secara sepihak tanpa menunggu balasan dari sahabat-sahabatnya itu. 


"Ya...! Kim Taehyung-ssi, aku bahkan belum sempat mengatakan apapun padamu. Haiss... ku fikir persahabatan kita sampai disini saja." Ujar Jimin sangat kesal, yang memang baru saja ingin mengungkapkan sepatah dua patah katanya namun tak sempat karena Taehyung sudah mengakhiri panggilannya lebih dulu. Hoseok adalah orang yang paling bahagia sepertinya melihat Jimin yang tengah mengomel, terlihat pria bermarga Jung itu terbahak hingga meneteskan air matanya. "Ya, Jimin-ssi... kau terlalu lamban, kau tahu Taehyung tidak pernah menghubungi kita lebih dari sepuluh menit, 'kan?" Kata Yoongi yang di akhiri gelak tawa semuanya. 


***


Taehyung meregangkan otot-ototnya dan bersandar di dashboard sofabed sambil memijat kepalanya, entah mengapa kepalanya terasa pusing. Mungkin karena dia tidak tertidur beberapa hari kebelakang untuk mengerjakan berbagai pekerjaan yang menumpuk itu. "Ada apa?" Hyuna bertanya, bukannya menjawab, Taehyung malah menarik wanitanya untuk tidur di sampingnya. Hyuna hanya diam seraya mengerutkan keningnya bingung. "Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu sebentar saja." Jawabnya sambil membawa Hyuna kedalam dekapannya. Wanita itu tersenyum dan membalas dekapan Taehyung dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Taehyung. "Bagaimana dengan ibumu?" Hyuna bertanya seraya memainkan jemarinya di dada bidang Taehyung, tanpa dia sadar hal itu malah mengganggu konsentrasi Taehyung. "Hey, kau sedang bertanya atau menggodaku?" kata Taehyung yang tentu saja membuat Hyuna menaikkan sebelah alisnya. 


"Kenapa? Apa kau tidak merasa senang?" Bisikan itu kembali Hyuna dengar, bahkan aroma mint khas Kim Taehyung membuatnya merasa tenang. Nafas Taehyung yang berhembus di sekitar lehernya membuat Hyuna merinding di buatnya. "Be-begini, Kim Taehyung... kita---" Belum sempat Hyuna  menyelesaikan ucapannya, Taehyung sudah membungkamnya dengan mulutnya. Pria itu bahkan memejamkan matanya, menikmati lembutnya bibir Hyuna yang sangat ia rindukan dan menjadi candu sejak pertama ia merasakannya. Terbawa suasana akhirnya Hyuna perlahan memejamkan matanya dan membalas lum*tan dari Taehyung. Seolah terbuai, ciuman yang awalnya hanya sebuah lum*tan biasa kini menjadi lebih menuntut. Hyuna melenguh saat Taehyung mulai mengecupi lehernya, tangan besarnyapun kini mulai aktif menjelajahi bagian sensitiv isterinya. "Hyuna, aku sangat mencintaimu." Bisiknya, Hyunapun hanya terseyum lalu mereka kembali menautkan bibirnya. Taehyung bahkan dengan tergesa membuka jas dan kemejanya. Dengan lihai pria itu membantu sang istri untuk menarik resleting mini dress milik Hyuna. "Taehyung-ah, jangan di sini!" Pintanya, jujur saja, meskipun di rumah sebesar ini hanya ada mereka berdua, tetapi Hyuna tetap tidak akan merasa nyaman jika melakukannya di ruang keluarga. "Baiklah, kita ke kamar sekarang." Taehyung kembali mel*mat bibir istrinya dan membawa istrinya ala bridal style ke dalam kamar mereka. 


"Apa kau sudah puas nyonya?" Ujar Taehyung saat mereka telah berada di kamar. Hyuna hanya tersenyum dan kembali mengalungkan lengannya di leher suaminya dan mereka kembali melanjutkan suatu kewajiban yang tertunda. Taehyung tidak lagi segan untuk membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh isterinya dan mulai menjamahi tubuh sang istri yang sangat ia kagumi keindahannya. Lenguhan Hyuna bahkan semakin terdengar saat Taehyung mulai memasukinya dan pada akhirnya, mereka kini telah saling memberi dan menerima kenikmatan yang telah lama mereka tunda. Malam panas mereka menjadi sangat indah setelah mereka meresmikan statusnya. "Hyuna, berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku lagi, berikan aku anak-anak yang lucu. Apa kau mengerti?" 


"Baik."


***


Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di sebuah gerbang menjulang tinggi. Terdapat beberapa tanaman hijau di sekitarnya, dan sebuah bangungan yang terdapat dinding kaca yang sangat besar di beberapa sisi. Seorang wanita paruh baya baru saja turun dari mobil hitam itu dan membuka kaca mata hitamnya.  Wanita itu menatap dingin bangunan besar dan satu-satunya di lahan yang sangat luas itu. "Nyonya, apa anda ingin saya antar ke dalam?" Ujar sang supir yang juga turun bersamanya. "Tidak, aku akan pergi sendiri, tunggu aku di sini." Katanya, supir itupun hanya membungkuk faham saat tuannya berjalan masuk ke dalam.

__ADS_1


"Selamat datang nyonya, apakah anda ingin mengunjungi makam seseorang?" Ujar seorang wanita tua yang mengenakan pakaian hanbok berwarna putih dengan rambut yang sudah memutih tersanggul rapi dengan sebuah tusuk konde tuanya yang terbuat dari kayu. "Aku ingin melihat makam seseorang." jawab nyonya Kim dengan nada gugupnya. Wanita tua itu menatap sebuah kertas kecil yang di berikan nyonya Kim padanya, sebuah alamat sebagai petunjuk agar ia sampai di tempat ini, dia melihat nyonya besar ini tengah gugup, terlihat kentara saat dia menyerahkan kertas itu dengan lengannya yang bergetar. "Beberapa hari yang lalu, seorang pemuda juga baru saja mengunjungi makam yang ingin kau kunjungi. Dia seorang tuan muda bersama seorang dokter terkenal di Busan, namanya Bae Irene. Pria yang bersamanya adalah tuan muda Kim Taehyung tunangannya." Katanya sambil berjalan beriringan dengan nyonya Kim menuju lemari abu yang merupakan cucu pertamanya itu. "Dia adalah putraku nyonya." Jawab nyonya Kim yang di berikan anggukan mengerti oleh wanita tua itu.


Mereka berhenti di sebuah lemari kaca besar yang terdapat banyak sekali rangkaian bunga berukuran kecil yang menempel di setiap kaca yang merupakan kaca penghubung guci berisikan abu jenazah. Entah mengapa perasaan nyonya Kim saat ini sangat gelisah, wanita paruh baya itu berjalan dengan penuh kecemasan dalam hatinya di antara guci-guci yang ia lewati dan kemudian berhenti di sebuah guci berwarna ungu dan terdapat sebuah lukisan seorang bayi yang tengah memejaman matanya dengan hiasan bandana kupu-kupu berwarna biru di kepalanya yang masih memiliki rambut yang sangat tipis. "Kim Taeri?" Gumamnya saat melihat tulisan di bingkai foto tersebut. 


"Benar, namanya Kim Taeri, marga yang di berikan orang tuannya sesuai dengan marga ayahnya. Anak ini meninggal saat ibunya melahirkannya secara prematur, usia kandungannya saat itu baru saja menginjak delapan bulan, mereka mengalami kecelakaan dan menjadi korban tabrak lari." Tangisan nyonya Kim pecah seketika, betapa ia sangat jahat saat dulu memisahkan orang tua cucunya dan menyebabkan cucunya meninggal karena Hyuna dulu berjuang seorang diri, entah wanita itu makan dan minum dengan baik saat mengandung cucunya? Atau tidur dengan teratur? Itulah yang kini nyonya Kim fikirkan.


Tangisan yang sangat pilu itu tersengar sangat menyesakkan, wanita itu terduduk sambil memeluk bingkai foto cucunya, menangis seperti bayi yang kehilangan orang tuanya. "Maafkan aku nak, aku memang ibu yang tidak berguna, aku adalah seorang nenek yang jahat... maafkan aku." Wanita tua yang tadi bersamanya itupun berjongkok dan memeluk nyonya Kim untuk menyalurkan kekuatannya. 


"Aku sangat kejam, aku mengusir ibunya saat ia mengandung cucuku. Aku bahkan memisahkannya dengan putraku. Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat menyesal." Lirihnya. "Taehyung-ah, maafkan aku nak..." Lanjutnya sebelum akhirnya ia jatuh dan tak sadarkan diri. Supirnyapun bergegas menyusul setelah mendengarkan teriakan dari wanita tua yang menjadi penjaga rumah abu ini. Nyonya Kim akhirnya di larikan ke rumah sakit di Busan. Supirnyapun segera menghubungi Taehyung, namun sayang sekali Taehyung sangat sulit di hubungi, alhasih sang supirpun dengan setia menemani tuannya sambil terus mencoba menghubungi Taehyung. 


***


Malam semakin larut, Hyuna mengerjapkan matanya dan menatap jam dinding di kamarnya. Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Rasa haus yang membuatnya terbangunpun membuat Taehyung akhirnya ikut terbangun, kedua manusia yang masih dalam keadaan tanpa busana dan hanya di tutupi sehelai selimut tebal itu sama-sama saling menatap dan melemparkan sebuah senyuman. "Masih sangat pagi, mengapa kau terbangun?" Tanya Taehyung dengan suara serak khas bangun tidur, "Aku merasa haus, bisakah kau ambilkan minum untukku?" Taehyung mengerang sebal, dia sangat malas namun dia harus bertanggung jawab, karena ulahnya juga membuat semua pelayan berlibur. "Kau ambil saja sendiri, aku sangat mengantuk Hyuna." Rengeknya, Hyuna yang tidak terima pun mencoba menjahili suaminya dan menekan hidung banghir suaminya hingga empunya kesulitan bernafas dan akhirnya menyerah. "Baiklah ayo pergi bersama." Hyuna tersenyum puas setelahnya. 


Taehyung mengenakan celana bahan berwarna putih yang sering ia gunakan untuk tidur sedangkan Hyuna hanya membelit tubuhnya dengan selimut tebal, mereka berjalan beriringan ke luar kamar, mencari sesuatu untuk di minum. Sesampainya di mini bar Taehyung memberikan segelas air mineral pada Hyuna. Hyuna merasa lega setelah rasa hausnya terobati, setelah selesai dengan kegiatan mereka, fokus mereka teralihkan pada dering telepon yang berasal dari kamar mereka. "Ponselmu." Ujar Hyuna, Taehyung hanya menghela nafas dan merasa malas melayani orang yang tidak memiliki pekerjaan, menelponnya di jam seperti ini. "Abaikan saja, mungkin hanya member Bangtan yang ingin mengganggu malam pertama kita." Katanya, Hyuna merasa kesal karena ponsel Taehyung terus saja berdering, diapun memutuskan pergi meninggalkan Taehyung dan berniat untuk melihat ponsel suaminya. "Hey, kau mau kemana?" Panggil Taeyung sambil berjalan mengikuti istrinya. Betapa terkejutnya Hyuna saat melihat riwayat panggilan yang sudah menumpuk hingga lima puluh panggilan lebih dari supir Tan yang merupakan tangan kanan ibu dari suaminya. 


"Ya, sepertinya ada yang tidak beres, tuan Tan terus menghubungimu sejak tadi malam." ujarnya sambil memberikan ponsel itu pada Taehyung. Taehyungpun menerimanya dengan kerutan dahi karena ia juga merasa ada sesuatu yang terjadi. Pada akhirnya Taehyungpun menghubungi supir Tan kembali. 


"Ada apa?" Kata Taehyung saat panggilannya sudah terhubung dengan supir Tan. 


"Tuan muda, akhirnya kau menghubungiku. Nyonya di ruang ICU beliau pingsan saat mengunjungi rumah abu tadi sore." Ujarnya dengan nada luar biasa cemas. Taehyung membulatkan matanya dengan sempurna, hal itu membuat Hyuna ikut cemas di buatnya. 


"Baik, aku kesana sekarang." Taehyung segera menutup panggilan tersebut dan segera mengenakan pakaiannya. "Ada apa?" Hyuna bertanya. "Ibuku masuk ruang ICU, dia pingsan di rumah abu." Ujarnya, Hyunapun membulatkan matanya dengan segera ia memakai pakaiannya dan ikut bersama Taehyung untuk menemui ibu mertuanya. 

__ADS_1


TBC


__ADS_2