
"Seperti angin yang berhembus mengenai wajahku. Kau terasa namun tak terlihat."
__oO0Oo__
Zee Rain. Gadis itu membulatkan matanya saat Jaehyun hendak mematik pistolnya dan tepat saat gadis itu memejamkan matanya. Suara tembakan itu menggema beberapa kali.
BANGGG
BANGGG
BANGGG
"LEE HYUNA!!!?" Pekik seorang pria dari arah bawah. Rain menoleh ke bawah saat suara seorang pria bergema meneriakan namanya. Suara yang sangat ia kenal dan rindukan. Kim Taehyung, Pria itu berlari ke arahnya dan memeluk gadis itu seraya membuka semua ikatan pada tangan dan sekujur tubuhnya.
"Taehyung-ah!" Lirihnya seraya memeluk tubuh laki-laki yang sangat ia cintai itu. Begitupun Taehyung, dia mendekap tubuh gadis yang sangat ia cintai dengan sangat erat. Sehun sudah menceritakan semuanya tentang alasan Rain meninggalkan Taehyung bahkan mengenai kehamilannya. Itu sebabnya Sehun sangat mengkhawatirkannya. Beruntung namjoon bisa cepat meretas keberadaan gadis itu jika telat satu detik saja mungkin gadis itu sudah tewas di tangan psycopath itu.
"Hyuna, kau? Bibirmu berdarah!" Taehyung menyentuh bagian bibir Rain membuat gadis itu menunduk. Karena jujur saja, dia merasa kotor setelah di sentuh oleh psycopath itu. Jaehyung tertembak di bagian kepalanya. Pria itu mati dengan beberapa kali tembakkan yang Taehyung arahkan tepat di kepalanya. Mereka dapat melihat jasad pria itu sudah tumbang bersimbah darah.
"Lakukan operasi kecil padanya! Cabut semua peluru di kepalanya dan hapus semua jejaknya!--- hubungi polisi untuk mengurus jasadnya!" Gumamnya seraya menggendong Rain ala bridal style.
"Kami mengerti, kami akan melakukan perintahmu!" Ujar Seokjin yang merupakan dokter bedah. Taehyung, Sehun dan Yoongi pergi ke rumah sakit untuk mengobati Rain. Rain memiliki banyak luka di sekujur tubuhnya, Taehyung mengeraskan rahangnya saat mereka dalam perjalanannya ke rumah sakit. Rain bisa melihat tatapan kekhawatiran bercampur amarah pada pria itu.
"Taehyung-ah, bagaimana bisa---" Ucapannya terhenti saat Taehyung menatapnya tajam ketika mereka sudah di dalam mobil. Yoongi dan Sehun duduk di kursi depan, sedangkan Taehyung duduk di belakang seraya menyanggah tubuh Rain yang bersandar di dada bidangnya.
"Kau terluka, jangan terlalu banyak bicara atau aku akan membungkam mulutmu dengan bibirku!!" Rain membulatkan matanya dengan rona merah di pipinya sedangkan Sehun dan Yoongi mengulum senyum di depan sana.
"Astaga dia frontal sekali!" Rain bergumam dalam batinnya.
Tidak perlu membutuhkan waktu lama. Mereka akhirnya sampai, alih-alih ke rumah sakit sesuai yang Taehyung katakan. Mereka malah sampai di sebuah mansion mewah.
"Ya! Kita dimana?" Tanya Rain, Taehyung tidak menjawab. Pria itu menggendong Rain ala bridal style dan berjalan memasuki mansion itu. Rain hanya diam sambil memperhatikan setiap sudut ruangan yang ia lewati dengan Taehyung hingga mereka kini sampai di lantai dua.
Sebuah kamar bernuansa klasik khas kerajaan Inggris. Warna hitam dan abu-abu mendominasi kamar ini. Taehyung dengan sangat hati-hati meletakkan Rain di king size yang terdapat di kamar itu.
"Taehyung-ah, ini rumah siapa?" Tanyanya seraya masih memperhatikan setiap sudut ruangan. "Ini rumahku, kau akan tinggal bersamaku sampai kita kembali ke Korea!" Gadis itu mengerutkan keningnya.
"Tapi paman Dong Gyu akan mencariku dan Sehun!" Balasnya. Taehyung yang tengah sibuk menyiapkan beberapa alat medis pun menghentikan kegiatannya dan menatap Rain.
"Mereka sudah aku pulangkan ke Korea, orang-orangku akan mengurus semua kebutuhannya! Mereka sudah menolongmu, jadi aku akan memenuhi semua kebutuhan termasuk pekerjaan lebih terhormat untuk Tuan Dong. Aku akan merekrutnya di perusahaanku, kau puas?" Jelasnya panjang kali lebar, membuat gadis itu tersenyum sangat tulus pada Taehyung. Pria itu mengerjapkan matanya saat melihat senyuman itu. Senyuman yang selalu menghiasi hari-harinya di masa lalu.
"Ehm...! Buka bajumu!" Titahnya membuat Rain membulatkan matanya dan menatap nyalang pada Taehyung. "A-apa maksudmu? Mengapa harus buka baju---- YA! KIM TAEHYUNG!!!" Gadis itu memekik saat dengan paksa Taehyung membuka bajunya dan hanya menyisakan bra-nya saja. Taehyung mengerjapkan matanya, tubuh gadis ini dulu sangat faminim. Kini perut gadis ini bahkan memiliki abs, Rain bekerja keras untuk mencapai kemampuannya saat ini. Namun Taehyung memilih menggelengkan kepalanya, dan mulai duduk di samping Rain yang masih menutup tubuhnya dengan tangan yang ia silangkan di dadanya membentuk sebuah perisai.
"Singkirkan tanganmu, lihatlah perutmu memiliki luka." Mendengar hal itu Rain perlahan menyingkirkan lenganya. Dia memperhatikan Taehyung dengan cekatan mengobati perutnya yang terluka akibat sayatan. Dia juga mengobati luka sayatan di leher Rain. Beruntung sayaran itu tidak terlalu dalam.
Melihat banyak bekas kissmark di leher Rain. Taehyung mengerasakan rahangnya. Tangannya terkepal hebat di bawah sana. Terlebih saat melihat luka di bibir Rain, rasanya menyesakkan, perlahan Taehyung menarik gadis itu dalam dekapannya. Sedangkan Rain hanya bergeming dengan perasaan gugup dan jantung yang berdebar sangat kencang.
"Maaf..." Lirih pria itu yang terdengar seperti bisikkan. Rain mematung mendengar kata 'maaf' itu dan tanpa dia sadar, air matanya kembali menetes. "Maaf karena aku tidak bisa melindungi kalian, aku pria brengsek yang tidak peka di masa lalu!" Rain menangis dalam diam saat Taehyung menyebut kata 'mereka'.
__ADS_1
"Tae-Taehyung-ah?" Gumam Rain dengan nada terbatanya. Taehyung melonggarkan dekapannya dan menatap Rain sangat dalam.
"Aku sudah tahu semuanya, aku tahu alasan kau meninggalkanku. Aku bodoh karena langsung membencimu tanpa mencari tahu apa rencanamu saat itu. Dan--- aku tahu saat itu kau juga tengah mengandung darah dagingku." Taehyung menunduk dengan mata yang sudah di banjiri air mata. Rain menggelengkan kepalanya dan kembali memeluk Taehyung sangat erat. Begitupun Taehyung yang membalas dekapan itu tak kalah erat.
Dua manusia itu tengah melampiaskan rasa rindu mereka. Jika saja dulu Taehyung tidak mengambil keputusan untuk membenci Rain tanpa menyelidikinya terlebih dahulu, mungkin dia bisa melindungi gadisnya dan juga bayi mereka.
Taehyung menatap gadis itu dengan sendu. Kemudian dia mengecup setiap luka sayatan di leher Rain, menyesap setiap bekas kissmark dan terakhir luka di bibirnya. Rain melenguh seraya mengerutkan keningnya merasa ada yang aneh dengan perlakuan lembut Taehyung kali ini.
"Aku sudah memurnikan semuanya, tempat si gila itu menyentuhmu. Mulai sekarang, jangan pernah meninggalkanku lagi!! Aku bisa gila karena terus membenci gadis yang ku cintai." Rain meneteskan air matanya seraya menelusupkan wajahnya di dada bidang Taehyung. Taehyung tersenyum sendu saat membalas dekapan Rain.
"Maafkan aku." Lirihnya Taehyung tersenyum kemudian menempelkan bibir mereka dan memberi ******* lembut di bibirnya. Perlahan Rain juga membalas ******* itu. Menumpahkan rasa rindu mereka, tangan Taehyung menelusup menaik tengkuk Rain dan semakin memperdalam ciumannya.
"Aku tahu ini akan terjadi, hari dimana aku bertemu lagi denganmu dan saat kau mengetahui kebenarannya."
***
Oh Sehun, pria itu menghampiri sepupunya yang tengah mencuci piring bekas sarapan mereka. Sehun duduk di mini bar yang ada di dekat tempat Jungkook mencuci piring. Sedangkan Jungkook hanya melirik sedikit saat dia mengetahui kedatangan Sehun.
"Jeon Jungkook, bagaimana dengan lukamu?" Jungkook menoleh dan mengerutkan keningnya. Ada apa Sehun bertanya tentang lukanya? Perduli apa pria itu? Bukankah dia penyebab luka yang di miliki Jungkook?
"Sudah lebih baik! Bagaiman denganmu?" Balasnya, Sehun mendengus senyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dulu mereka sering bermain bersama, percakapan seperti ini bahkan menjadi percakapan sehari-hari. Namun kini semua terasa canggung.
"Sudah lebih baik.---- Mari lupakan permusuhan kita!! Aku mengaku kalah darimu. Kau benar, pekerjaanku itu lebih buruk dari seorang mafia yang hanya memberantas orang-orang sepertiku. Jika aku mengikuti kata-katamu, mungkin sahabatku tidak akan terluka." Ujarnya seraya menunduk. Jungkook mendengus senyum seraya menepuk bahu sahabat sekaligus saudara sepupunya.
"Sehun-ah, semua ini sudah takdir! Jika tidak seperti ini mungkin hubungan persaudaraan kita juga tidak akan menjadi lebih baik bukan?" Sehun terkekeh seraya mengangguk. Dari tempat tak jauh dari mereka ternyata Seokjin memperhatikan adiknya itu. Jungkook sudah semakin dewasa menurutnya.
"Apa kalian sudah selesai mengobrol?" Tanya Seokjin yang berjalan menghampiri mereka. Jungkook dan Sehun pun menoleh dan tersenyum.
"Tapi mengapa kita akan tinggal satu hari lagi disini?" Sehun bertanya. Seokjin pun tersenyum dan merangkul kedua adiknya itu.
"Karena ini keputusan Taehyung." Jungkook hanya tersenyum, dia mengerti jika Taehyung sudah memutuskan sesuatu. Tidak ada yang bisa menolak bahkan tanpa harus tahu apa alasannya.
"Baiklah, ini kunci mobilnya!" Jungkook memberikan kunci mobil tersebut. Seokjin pun pergi setelah menerima yang dia pinta dari adik bungsunya itu.
"Lalu akan kau apakan isi koper yang berisi barang terlarang itu?" Jungkook bertanya pada Sehun.
"Aku akan membakarnya!! Persetan dengan klien-ku. Aku sudah tidak perduli, bahkan uangku masih mampu untuk membayar kerugiannya." Seperdetik kemudian kedua saudara itu tertawa bersama. Tanpa mereka tahu para hyung deul kecuali Taehyung tengah menyaksikan perdamaian kedua saudara itu.
-
Kim Taehyung, pria itu tengah berjalan-jalan di taman halaman belakang rumahnya. Dia tengah menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Ibu, aku ingin bicara!" Taehyung mulai bicara saat seseorang yang ia hubungi di sebrang sana sudah menerima panggilannya. Ya, yang Taehyung hubungi adalah ibunya sendiri.
"Bicaralah, apa yang kau ingin katakan? Ibu sedang ada urusan." Jawabnya dari sebrang sana.
"Aku ingin kita bertemu! Ada hal yang lebih penting yang ingin aku bicarakan, bahkan lebih penting daripada nyawaku sendiri." Jelasnya.
__ADS_1
"Baiklah, kau atur saja waktunya!" Taehyung mengakhiri panggilan itu secara sepihak.
Dalam hati, dia masih merasa kesal pada sang ibu. Karena ibunyalah penyebab kepergian Hyuna yang tak lain adalah Rain. Taehyung mengusap wajahnya kasar dan kemudian duduk di bangku halaman rumah yang kini dia dan teman-temannya termasuk Rain dan Sehun tempati.
"Kau sedang apa?" Mendengar suara gadis dari arah belakangnya, Taehyung menoleh dan tersenyum.
"Hyuna." Gumamnya, gadis itu tersenyum kemuduan duduk di samping Taehyung. "Aku ingin bertemu dengannya." Lanjutnya, Hyuna mengernyitkan dahinya namun Taehyung malah tersenyum.
"Bertemu siapa?" Hyuna bertanya.
"Tentu saja putriku. Aku ingin pergi menemuinya." Hyuna tersenyum lirih menatap Taehyung. Tangannya terangkat menyentuh pipi Taehyung, menatap wajah Taehyung dengan sangat inten.
"Dia sangat mirip denganmu, hidungnya, matanya, sangat mi denganmu. Tapi bibirnya mirip denganku." Taehyung tersenyum tipis sembari membayangkan bagaimana wajah putrinya itu jika mendengar gambaran dari yang Hyuna sebutkan tadi. "Setelah sampai di Korea, aku akan membawamu ke Busan. Kita akan pergi menemuinya bersama." Taehyung tersenyum dan mengangguk lalu membawa Hyuna dalam dekapannya.
***
KOREA
Beberapa waktu yang lalu, Taehyung dan rombongannya baru saja mendarat di tanah air. Mereka baru saja kembali dari Amerika. Beberapa mobil bahkan sudah berjajar di bandara untuk menjemput mereka.
"Kau pulang bersamaku saja." Taehyung bicara pada Hyuna seraya menggenggam lengan Hyuna.
"Tidak, aku akan kembali ke Busan. Kita akan bertemu lagi minggu depan, aku sudah berjanji padamu untuk membawamu bertemu putri kita." Taehyung menunduk sedih, jika saja dia tidak memiliki urusan penting mungkin dia akan pergi dengan Hyuna-nya.
"Aku pergi." Hyuna tersenyum dan hendak melepaskan genggaman tangan Taehyung. Namun pria itu menariknya dalam dekapannya. Hyuna terdiam dengan detak jantung yang bersahutan dengan kencang.
"Hubungi aku jika sudah sampai." Taehyung berbisik, Hyuna pun hanya tersenyum dan mengangguk. Dia memejamkan matanya saat Taehyung mengecup puncak kepalanya.
"Jaga dirimu baik-baik." Hyuna berujar lalu pergi bersama Sehun. Mereka akan kembali ke dalam pesawat untuk melanjutkan perjalanan ke Busan. Sebenarnya bisa saja dia langsung ke Busan. Hanya saja Taehyung ingin Hyuna pergi bersamanya ke Seoul. Jika tidak, maka Taehyung lah yang akan pergi dengannya ke Busan. Hyuna tidak setuju untuk hal itu, karena dia tahu jika Taehyung masih memiliki pekerjaan penting di Seoul.
***
Dua hari setelah kembalinya Taehyung di tanah air. Dia menemui ibunya, mereka bertemu di kediaman keluarga Kim. Hanya ada ibu dan para pelayan rumah disana karena ayah Taehyung sudah tidak ada. Taehyung berjalan masuk dengan santai setelah pelayan membukakan pintu untuknya.
"Tuan muda, anda ingin minum apa?" Tanya seorang kepala pelayan yang memang sudah bekerja dengan keluarga Kim selama bertahun-tahun, bahkan saat Taehyung belum lahir ke dunia. "Aku ingin coklat hangat saja." Jawabnya, kepala pelayan itupun membungkuk faham lalu pergi.
Suara ketukan langkah terdengar tengah menuruni tangga. Seorang wanita paruh baya yang memiliki wajah yang masih cantik dan glamor, dengan barang-barang mahal harga selangit yang menempel di tubuhnya tengah berjalan mendekati Taehyung yang tengah duduk santai di sofa ruang keluarga.
"Akhirnya kau datang juga!--- ku fikir kau sudah lupa jalan ke rumah orang tuamu!" Dengusnya, Taehyung tersenyum miring dan berdiri menatap wanita angkuh di depannya yang sialnya adalah ibunya sendiri. "Katakan, apa yang lebih penting dari nyawamu itu?" lanjutnya. Taehyung mengeluarkan sebuah dokumen yang ia bawa dan meletakkannya di atas meja. Wanita paruh baya itu menatap map berwana merah di atas meja dan kembali menatap putranya lagi.
"Apa ini?" Tanyanya.
"Kau tidak akan tahu apa pun tanpa membuka berkas itu!" Jawab Taehyung dengan nada dinginnya. Ny. Kim pun akhirnya duduk dan memperhatikan dokumen yang Taehyung bawa.
"Taehyung-ah, apa kau sudah gila? Bagaiamana bisa kau membatalkan tender sebesar ini dengan Tn. Bae?" Dengusnya seraya menatap putranya tidak percaya. Pasalnya dia susah payah mengatur perjodohan Taehyung dengan putri Tuan Bae agar perusahaan Keluarga Kim bisa bekerja sama dengan perusahaan yang di pimpin oleh Tuan Bae.
"Aku sudah katakan sejak awal, aku menolak perjodohan ini! Kim Corporation adalah kerja kerasku ibu, jadi aku berhak atas keputusanku! Tolong jangan campuri urusanku lagi!" Taehyung pun bergegas pergi namun langkahnya terhenti saat ada satu lagi yang akan ia katakan pada ibunya.
__ADS_1
"Satu lagi, kunjungi makam cucumu sesekali. Kau ingin melihat cucumu bukan? Dia sangat cantik, mirip ibunya Lee Hyuna. Gadis yang beberapa tahun lalu kau hancurkan hanya untuk kepuasanmu!" Kini Taehyung benar-benar pergi sementara sang ibu masih dalam keterkejutannya. Apa yang Taehyung katakan soal cucu? Wanita paruh baya itu benar-benar masih harus mencerna dengan baik.
TBC.