DARK MISSION (The Series)

DARK MISSION (The Series)
16


__ADS_3

"Aku tidak dapat menggambarkan perasaanku saat ini, entah bahagia atau malah sebaliknya. Atau bisa jadi keduanya."


___oO0Oo___


Cinta telah membutakan seorang Kim Taehyung, rasa kehilangan di masa lalu membuatnya menjadi lebih posesif bahkan lebih gila. Terlalu memaksakan kehendaknya hingga menyakiti orang-orang di sekitarnya, termasuk gadis yang teramat ia cintai.


Mobil mewah berwatna hitam itu melaju lebih cepat. Taehyung dan gadis yang terborgol tangannya bahkan masih mengenakan jubah handuk di dalam mobil itu tengah duduk bersampingan, dengan mata Hyuna yang tertup kain berwarna hitam. Hyuna sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan, bahkan mengumpatpun dia sudah kehabisan kata-kata. Dia hanya bisa pasrah dan menunggu mobil ini sampai di suatu tempat yang entah itu dimana. Matanya tertutup kain hitam, Taehyung benar-benar menjadi gila saat ini.


"Kemana kau akan membawaku pergi? Kembalikan ponselku! Sehun dan Irene eonnie pasti mencariku." Gumamnya dengan suara paraunya, Taehyung menoleh sesaat namun tak menjawab, tidak ada yang tahu kemana mereka akan pergi bahkan bodyguard-nya sekalipun kecuali Taehyung.


Taehyung hanya mengatakan pada Namjoon untuk mengurus perusahaannya selama ia pergi.


"Kim Taehyung, kau tidak mendengarku?" Hyuna mengulangi pertanyaan yang sama sedari tadi, cukup membuat Taehyung kesal.


"Berhenti berbicara, kau hanya akan menyakiti pita suaramu. Karena aku tidak akan pernah mengatakan kemana kita akan pergi."


"Egois!?"


Taehyung membungkam mulutnya dan terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Hingga mobil mewah itu berhenti di tepi jalan yang lumayan sepi, Hyuna hanya mendengar seperti deburan ombak. Apakah mereka ada di dekat pantai? Entahlah, Hyuna hanya menebak saja.


"Ya, apa yang ingin kau lakukan?" Hyuna sedikit menekan pertanyaannya saat lengan Taehyung bergerak membuka jubah handuknya, Taehyung dapat melihat dengan jelas pakaian dalam berwarna hitam yang Hyuna kenakan, namun dia harus menahannya untuk saat ini.


"KIM TAEHYUNG!!!"


"DIAM!!! Aku hanya memakaikan kau pakaian, kau bisa masuk angin jika hanya menggunakan jubah ini." Mendengar ucapan yang sedikit meninggi itu Hyuna akhirnya memilih diam. Dia hanya merasakan Taehyung yang tengah membantunya mengenakan sebuah minidress yang entah seperti apa model dan warnanya, Taehyung sudah menyiapkan satu koper besar pakaian Hyuna sejak awal rupanya. Namun dari bahannya saja membuatnya sedikit lebih nyaman ketimbang dengan jubah handuk tadi. Terakhir pria itu menyambirkan coats tebal di bahu Hyuna dan menyembunyikan lengan Hyuna yang kembali ia borgol.


"Mengapa kau melakukan ini padaku?" Lirihnya. Gadis itu sudah tidak dapat menahan rasa sabarnya, Taehyung bahkan dapat melihat penutup matanya Basah karena air mata Hyuna.


"Maafkan aku Hyuna-yya, aku hanya ingin kita pergi bersama. Aku tidak butuh apapun selain dirimu. Aku sudah pernah kehilanganmu, kehilangan putri kita, dan aku tidak ingin kehilangan lagi. Kau yang pertama hadir dalam hidupku, kau lebih berhak memiliku dari pada wanita lainnya. Hyuna-yya, bagaimana caranya agar kau bisa percaya padaku?" Lirihnya seraya membawa gadis itu kedalam dekapannya.


"Bagaimana dengan ayahku? Kau membawaku tapi kau melupakan ayahku!"


"Jangan khawatir, Jungkook akan membawa ayahmu ke luar negri untuk pengobatan yang lebih baik. Ayahmu akan aman dengannya. Nanti kita akan pergi menjenguknya." Setidaknya perasaan Hyuna jauh lebih tenang saat ini.


Mobil hitam itu kembali melaju, cukup lama perjalanan mereka bahkan sampai malam berganti pagi barulah mobil itu terparkir di sebuah pekarangan rumah mewah dekat danau. Tidak terlalu besar, namun terlihat nyaman karena terletak di sebuah perdesaan.


"Kita sudah sampai, ayo masuk."


"Buka penutup mataku. Aku tidak bisa melihat."


Taehyung tersenyum lalu berdiri di belakang Hyuna, pria itu membuka perlahan penutup mata itu.


Hyuna mengerjapkan matanya perlaha, menetralkan penglihatannya yang sedikit buram dan gelap, matanya terlihat sembab, bahkan masih memerah karena dia menangis hingga tertidur semalaman.


"Ini dimana?" Hyuna tidak dapat memungkiri bahwa tempat ini terlihat sangat nyaman dan indah, tempat yang selalu ada dalam khayalannya dulu. Rumah di sebuah desa terpencil, tidak dekat dengan jalan umum, dan terdapat pepohonan yang menyejukan.


"Ini rumah kita, kau dulu menginginkan rumah di tempat seperti ini, 'kan? Aku membangunnya sejak lama, dan ini adalah hadiah pernikahan kita harusnya. Tapi kau malah pergi di hari aku ingin melamarmu." Lirihnya seraya membayangkan betapa kacaunya ia saat Hyuna tidak datang di malam itu, dan malah memberinya surat terkutuk baginya, yang harusnya menjadi malam paling bersejarah untuknya.



"I-ini rumah kita?" Tanyanya dengan mata berbinar, dia tidak tahu dimana tepatnya mereka berada. Masih di daerah Busan atau mungkin di daerah kota lain. Hyuna benar-benar takjub dengan pemandangan di sini. Udaranya sangat segar karena banyak di tumbuhi pepohonan, tidak berisik dan berpolusi seperti di daerah perkotaan di tempat ia tinggal.


"Kau suka tempat ini?"


"Aku suka, tapi--- aku tidak pantas berada disini. Harusnya, ini menjadi rumahmu dengan Irene---"


"CUKUP!! AKU MEMBAWAMU KEMARI, BUKAN UNTUK MEMBAHAS ORANG LAIN!"


"Tapi dia calon istrimu Kim!!" sarkasnya.


"Hanya kau satu-satunya yang lebih pantas menjadi istriku. Ayo masuk, kita sarapan terlebih dahulu. Setelah itu kita pergi ke pencatatan sipil, kita akan menikah hari ini juga!" Mendengar hal itu Hyuna membulatkan bola matanya dengan sempurna. Pria ini benar-benar sudah tidak waras.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau!"


"Terserah! Tapi aku akan tetap menikahimu!" katanya dengan penuh penekanan. Pria itu menarik lengan Hyuna dengan kasar dan memasuki rumah mereka.


Hyuna hanya bisa pasrah. Di rumah itu sudah ada beberapa pelayan pria dan wanita yang menyambut kedatangan tuannya.


"Selamat datang tuan dan nyonya. Sarapan sudah siap. Anda ingin langsung sarapan atau beristirahat terlebih dahulu?" ujar seorang pelayan wanita yang perkiraan usianya sudah lima puluh tahunan.


Hyuna menatap wajah Taehyung yang terlihat lelah, bagaimana tidak, pria itu mengemudi semalaman penuh, Hyuna kembali menghela nafas.


"Ahjuma, kami akan istirahat di kamar, bisakah kau mengantarkan sarapannya ke kamar?" ujarnya yang membuat Taehyung menoleh menatap kekasihnya dengan tatapan tak percaya.


"Baik nyonya, kami akan mengantarnya ke kamar utama." Jawabnya. Hyuna pun tersenyun. Wanita itu berjalan mendahului Taehyung, namun langkahnya kembali terhenti membuat Taehyung mengerutkan keningnya bingung.


"Dimana kamar utamanya?" Taehyung terkekeh, pria itu menggenggam lengan Hyuna yang terborgol dan menuntunnya ke kamar utama. Para pelayan tidak menyadari lengan Hyuna yang terborgol karena tertutup coats panjangnya. Para pelayan tersenyum melihat keduanya terlihat hangat.


"Kau tidak harus menggenggam lenganku."


"Aku memegang kunci borgolnya, kau tidak ingin aku membukanya?"


"Ck... Jika saja pelayan-pelayan itu tahu bahwa kau membawa seorang tawanan, mereka pasti sudah melaporkanmu pada polisi!"


Taehyung terkekeh lagi dan menggelengkan kepalanya pelan. Wanitanya sangat menggemaskan fikirnya. Apakah dia lupa bahwa tidak ada polisi yang mampu melawannya? Lagi pula pelayan mana yang berani melaporkannya pada polisi?


"Jangan banyak bicara, ayo kita mandi setelah itu kita sarapan."


Langkah mereka terhenti di sebuah kamar utama yang cukup besar, bernuansa putih dan abu-abu. Terdapat dinding kaca yang mengarah langsung pada danau dan pegunungan. Itu membuatnya terlihat sangat indah. Hyuna berkali-kali berdecak kagum setiap kali melihat pemandangan di hadapannya.


"Sudah terlepas, sekarang kau mandi lebih dulu. Atau kau ingin mandi bersamaku?"


"Jangan berharap!" Hyuna melemparkan bantal pada kekasihnya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Taehyung tersenyum, pria itu merebahkan dirinya di ranjang besar milik mereka, rasanya lelah sekali. Bahkan matanya sudah terasa sangat mengantuk. Baru saja pria itu hendak memejamkan matanya, suara ketukan pintu mulai menginterupsi indra pendengarannya.


Dengan terpaksa dia membuka kembali matanya dan berjalan gontai ke arah pintu. Di bukalah pintu berwarna putih gading itu, hal pertama yang ia lihat adalah troley berisi banyak makanan di atasnya dan tiga orang pelayan yang datang dengan makanan yang berbeda.


"Oke, bawa semuanya ke dalam."


"Baik."


Para pelayan itu pun meletakan semua makanan di meja bulat yang terdapat di kamar Taehyung.


"Kami sudah menata semuanya, apakah ada lagi yang anda butuhkan?"


"Tidak ada, kalian boleh keluar."


"Terima kasih tuan." Ketiga pelayan itu membungkuk sopan lalu pergi.


Setelah itu, Taehyung memilih menunda perut laparnya dan merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur yang empuk sambil menunggu kekasihnya.


Perlahan mata lelahnya terpejam dan tanpa menunggu lama, dia sudah berada di alam mimpinya.


***


Jeon Jungkook, pria itu tengah mengurus administrasi kebutuhan tuan Lee, Jungkook mendapat perintah dari Taehyung untuk membawa ayah Hyuna pindah ke rumah sakit terbaik di Amerika. Jungkook bahkan menghubungi Sehun untuk membantunya. Awalnya mereka tidak mendapat izin karena Irene menolak dengan alasan Hyuna tidak memberi tahunya.


Namun Sehun datang mengatakan bahwa Hyuna yang memintanya, Hyuna tengah melakukan pekerjaan di luar negri dan meminta mereka untuk memindahkan ayahnya ke rumah sakit terbaik. Pada akhirnya Irene memberikan izin dan membuatkan surat rujukan atas namanya.


"Terima kasih Irene-yya." Sehun tersenyum setelah mendapat surat rujukan itu dari Irene, gadis yang ia sukai.


"Sehun-ah, dimana Hyuna saat ini? Mengapa dia tidak menjawab panggilanku dan membalas pesan dariku?"


"Hyuna pasti sangat sibuk, dia mendapat panggilan mendadak dari klien." Meskipun Irene sedikit menaruh khawatir, namun sejak dulu Hyuna memang selalu berpergian ke luar negri. Tapi perasaannya mulai tidak enak. Seperti ada kejanggalan, dia seperti menyangkut pautkan segala hal tentang Hyuna dengan Taehyung, pria itu seperti bersikap berbeda pada Hyuna, malah saat Hyuna hilang, Taehyung pun mendadak hilang. Sejak Taehyung pulang lebih dulu, pria itu tidak mengabarinya sama sekali.

__ADS_1


"Irene-yya? Apa yang terjadi? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu?" Tanya sehun pada gadis yang tengah melamun di hadapannya. Jungkook menatap Sehun seolah memberi perhatian lebih pada Irene, dia merasa jadi obat nyamuk di ruangan itu.


"Astaga, aku akan menunggu di luar saja." Sehun pun hanya menoleh dan kembali menatap Irene sementara Jungkook memilih ke luar dan menunggu.


"Entahlah, aku hanya sedang tidak enak badan." Jawabnya sambil tersenyum dengan paksa.


"Kau seorang dokter, kau harus bisa menjaga kesehatanmu, istirahatlah. Jika kau sakit, siapa yang akan mengobati pasienmu?" Irene tersenyum lirih menatap Sehun, pria seperti Sehun yang terlihat seperti badboy saja bisa bersikap perhatian dan hangat. Mengapa Taehyung malah sebaliknya? Apa yang bisa dia harapkan dari pria batu es itu? Fikirnya.


"Terima kasih Sehun-ah, kau sangat baik." Sehun tersenyum dan mengangguk.


"Jangan sungkan padaku, jika kau membutuhkan sesuatu, aku pasti akan ada untukmu." Irene tersenyum, namun senyum itu menjadi sebuah keterkejutan saat lengan besar Sehun menggenggam lengannya. Terasa hangat dan nyaman. Itulah yang Irene rasakan.


Ada apa dengan perasaanku? Apakah aku--- tidak-tidak, aku sudah memiliki tunangan, lagi pula bagaimana mungkin aku bersama pria yang akan aku jodohkan dengan adikku sendiri?


"Terima kasih Sehun-ah." Ujarnya seraya melepaskan lengannya dari genggaman Sehun, pria itu hanya tersenyum seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


***


Pintu kamar mandi terbuka, seorang gadis dengan jubah handuknya baru saja keluar setelah menghabiskan waktu dua puluh menit, untuk urusan berendam dan mandi. Hyuna mengerutkan keningnya saat melihat Taehyung tengah memejamkan matanya di atas ranjang. Makananpun masih utuh tanpa tersentuh barang sedikitpun. Sepertinya Taehyung terlalu lelah hingga mengabaikan perut laparnya.


Hyuna berjalan dan menatap wajah polos Taehyung ketika tertidur, dia sebenarnya ingin membangunkan Taehyung untuk sarapan, tapi dia mengurungkan niat karena tidak tega. Alhasil dia memilih membiarkan Taehyung tidur dan meminta pelayan untuk membawa kembali makanannya. Hyuna memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah untuk melihat-lihat pemandangan yang luar biasa indah.


Gadis itu berjalan keluar rumah dan menatap dengan kagum barisan gunung beserta pepohonan di depannya. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman, dia merentangkan kedua lengannya dan menghirup udara segar di sekitarnya. Hyuna menatap pergelangan tangannya yang sedikit kemerahan karena semalaman di borgol oleh kekasihnya sendiri.


"Psycopath gila!?" Dengusnya, kemudian menatap kembali pemandangan setiap sudut mata memandang.


"Pintar juga dia mencari tempat seindah ini--


Oh, itu sepertinya rumah terapung." Hyuna berlari kecil menuju sebuah rumah yang terletak di atas danau. Betapa indahnya pemandangan di sekitar sini. Di rumah terapung itu terdapat satu kamar dan sebuah ruang yang sangat nyaman, terdapat sofa bad dan televisi besar dengan perlengkapan game. Hyuna mendengus senyum, pasti Taehyung sengaja membuat rungan khusus game ini, mengingat Hyuna yang selalu mengomel setiap kali Taehyung lupa waktu jika sudah bermain dengan game kesayangannya. Seolah game lebih cantik dari dirinya. Menyebalkan.


"Bagaimana dia menemukan tempat ini?" gumamnya. Hyuna menaikkan sebelah alisnya saat retinanya menatap seorang pria paruh baya yang tengah memperbaiki dermaga kecil tak jauh dari rumah apung itu. Hyuna menghampiri pria paruh baya itu untuk mengajukkan beberapa pertanyaan seperti, sedang apa? Dan siapa dia?


"Hallo, aku Hyuna." dengan sopan Hyuna membungkuk seraya menyapanya.


"Oh, nyonya, maaf aku tidak menyadari kedatangan anda."


"Tidak apa-apa, tapi mengapa paman memanggilku nyonya?"


Pria itu tersenyum seraya membungkuk. "Saya Minho, pengurus rumah ini." Hyuna mengangguk faham.


***


Taehyung mengerjapkan matanya setelah tertidur beberapa menit. Di tatapnya setiap sudut kamar dan pria itu terperanjat saat isi kamar sudah kosong. Padahal tadi banyak sekali makanan, tetapi sekarang sudah tidak ada, pria itu berlari ke kamar mandi dan membulatkan matanya saat tidak menemukan kekasihnya dimanapun. Taehyung berjalan ke arah dinding kaca dan mencari kekasihnya dari dalam kamarnya.


"Dimana dia?" gumamnya, kemudian saat tatapannya mengarah pada sebuah dermaga kecil, dia kembali menghela nafas lega, ternyata kekasihnya sedang berada di sana dengan seorang paman penjaga rumah. Pria yang menjadi saksi berdirinya rumah ini. Dan menjadi kepercayaan Taehyung untuk mengurus rumah ini selama Taehyung tidak ada. Taehyung memutuskan untuk pergi mandi sebelum menyusul kekasihnya.


"Rumah ini di design sesuai keinginanmu Hyuna, harusnya kau senang berada disini denganku."


***


"Lima tahun yang lalu tuan muda memilih tempat ini untuk membangun rumah masa depan. Tuan sangat serius memperhatikan setiap lingkungan di sini. Dulu tempat ini tidak dapat di lalui mobil. Tapi tuan membangun jalan khusus untuk menuju rumah ini. Tuan sangat bersemangat mengatakan padaku, bahwa tuan akan segera menikah dan menempati rumah ini dengan istrinya. Tetapi setelah lima tahun, tuan baru kemari bersama nyonya." Hyuna meringis, dia merasa kasihan pada Taehyung, padahal dulu harusnya mereka sudah menempati rumah ini namun karena satu dan lain hal yang membuat mereka berpisah begitu lamanya, hingga baru hari ini mereka datang bersama.


Tidak heran mengapa pelayan bahkan penjaga rumah ini langsung menyebutnya nyonya, itu karena Taehyung mengatakan bahwa dia hanya akan membawa satu wanita ke rumah ini yaitu istrinya. 


Ternyata kita berpisah sudah sangat lama, harusnya putri kita disini bersama kita, aku pasti sedang melihatnya berlarian kesana dan kemari.


Taehyung sengaja membuat halaman begitu luas, karena dia pernah mengataka bahwa dia ingin membuat taman bermain untuk anak-anaknya kelak. Taehyung sangat menyukai anak-anak. Bahkan pria itu berencana memiliki banyak anak, jika Hyuna lelah melahirkan, mereka bisa mengadopsi anak. Itu terdengar gila menurut Hyuna, dia masih mampu melahirkan mengapa harus mengadopsi anak?


Tapi masalahnya Taehyung tidak hanya ingin memiliki dua atau tiga anak. Begitulah Taehyung.


Seandainya saja kita bisa mewujudkan itu semua. Tapi sayangnya, saat ini sudah ada Irene eonnie.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2