DARK MISSION (The Series)

DARK MISSION (The Series)
17


__ADS_3

"Aku ingin melihatnya setiap hari, menyentuh wajahnya saat tertidur, dan mengucapkan 'selamat pagi' setiap hari. Aku sangat menginginkannya."


____oO0Oo____


Hyuna Side :


Di halaman yang luar biasa indah, hijau dan angin yang berhembus sedikit kencang. Langitnya terlihat biru, nyaris tidak ada awan berwarna putih ataupun abu-abu. Terlihat menyegarkan dari sudut mata memandang. Harum udara yang terasa basah, seperti di hutan, inilah pedesaan sesungguhnya. Sungguh, hatiku terasa lebih nyaman, dan sejujurnya aku sangat menyukai tempat ini.


Aku melihat seorang pria berjalan ke arahku, dia mengenakan kaos berwarna putih, celana pendek hitam dan rambutnya yang sedikit panjang bergelombang tertiup angin, membuatnya terlihat seperti pria normal biasa yang tidak pernah terlibat dalam dunia hitam. Bibirku lebih tersenyum saat dia semakin dekat.


"Ayah..." Aku menoleh dengan cepat saat suara seorang gadis kecil memanggilnya 'ayah'. Jantungku berdegup sangat cepat saat seorang gadis kecil berlari merentangkan kedua lengan mungilnya ke arah Taehyung. Bahkan pria itu berlutut untuk menyambut gadis kecil yang kira-kira berusia 4 tahun, lengan kekarnya merentang menyambut kedatangan gadis kecil dengan rambut sebahu terurai, siapa gadis kecil itu.


"Aigo, sayang. Jangan berlari, kau bisa terjatuh."


"Ayah, ayo bermain. Aku ingin naik perahu itu." Bocah kecil itu menunjuk sebuah perahu kecil di tepi danau, Taehyung tersenyum kotak menatap perahu sesuai petunjuk arah bocah itu hingga kedua matanya sedikit menyipit.


"Baiklah, ayo kita pergi."


"Ayah, kita tidak bersama ibu?"


"Tidak, ibumu sedang memasak. Kita pergi berdua saja."


Aku belum bisa memahami situasi ini, aku mencoba berjalan mengikuti mereka. Mengapa anak itu memanggilnya ayah? Mengapa Taehyung mengabaikanku? Bahkan aku seperti bayangan yang tak terlihat. Bagaimana bisa Taehyung mengatakan 'ibu sedang memasak'? Bukankah anak itu memanggilnya dengan sebutan 'ayah'? Lalu siapa ibu dari anak itu? Aku bahkan tidak dapat mencerna dengan baik situasi saat ini. Taehyung-ah, mengapa kau mengabaikanku?


"Kalian tidak ingin mengajakku juga?" Suara seorang wanita membuat langkahku terhenti, bocah kecil itu berhenti bersama Taehyung. Kedua manusia itu juga terlihat berbinar melihat seseorang yang berada di brlakangku. Aku baru saja ingin menoleh namun wanita itu melewatiku begitu saja. Dia, dia adalah Bae Irene? Ja-jadi, mereka sudah menjadi keluarga? Lalu, mengapa mereka tidak melihatku?


"Ibu, ayo kita naik perahu!"


"Baiklah aku datang, Taehyung-ah apa kau belum mandi?"


"Sayang, aku akan mandi denganmu nanti."


Degh~


Kenapa bisa begini? Sayang? Manis sekali dia memanggilnya? Jangan tanya soal hatiku, rasanya bahkan aku tidak bisa menggambarkannya. Taehyung? Mengapa dia menatapku? Apa dia melihatku? Dia bahkan berjalan ke arahku, aku ingin pergi, tetapi mengapa kakiku sulit sekali di gerakkan? Tidak, tidak, tidak... Aku tidak ingin mereka pergi tanpaku!


TAEHYUNG!! TAEHYUNG!!


***

__ADS_1


"Hyuna-yya?"


"Hyuna-yya?"


"Sayang, bangunlah!!"


"Hey, kau berkeringat! Apa kau mimpi buruk?---" belum sempat Taehyung menyelesaikan ucapannya, pria itu mematung saat Hyuna tiba-tiba saja memeluknya dengan sangat erat. Taehyung merasa senang saat Hyuna berinisiatif memeluknya, tetapi dia juga khawatir apakah wanitanya ini baru saja bermimpi buruk? "Hey, tenanglah. Aku disini." Katanya sambil membalas dekapan Hyuna. Taehyung mengusap lembut punggung Hyuna sambil menepuk perlahan, agar wanitanya merasa sedikit lebih tenang.


Setelah sepuluh menit mereka saling mendekap, akhirnya Hyuna melepaskan dekapannya dan merasa lebih tenang. Taehyung menatap wanitanya dengan penuh kekhawatiran sambil menangkup wajahnya, sementara Hyuna merasa senang bercampur takut saat dia mengetahui bahwa yang tadi itu hanyalah mimpi.


"Mengapa kau tidur disini?" Tanya Taehyung, Hyuna pun menatap setiap sudut ruangan yang terbuat dari bahan kayu, dan terdapat layar LCD besar dan sepasang stick game. Ternyata ini rumah terapung yang Taehyung design khusus untuk bermain game, Hyuna kemari dan merasa lelah hingga akhirnya tertidur.


"Aku baik-baik saja." itulah kalimat pertama Hyuna setelah banyak sekali pertanyaan Taehyung setelah Hyuna terbangun dari tidurnya. Hari bahkan sudah gelap, itu tandanya Hyuna tertidur sejak pukul empat sore tadi. Bahkan Taehyung yang menyusulnya pun ikut tertidur bersamanya, Taehyung terbangun lebih dulu saat Hyuna terus saja merasa gelisah dalam tidurnya, hingga memanggil namanya saat wanita itu di landa kegelisahan dalam tidurnya.


"Kau mimpi buruk?" Tanyanya, seraya mengusap puncak kepala wanitanya. "Hm, dan aku tidak ingin mengingatnya." Baiklah, Taehyung mengerti kondisinya, jadi dia memilih tidak membahasnya lagi, dia hanya diam sambil tersenyum. Lengannya masih memainkan rambut wanitanya sambil menunggu kondisinya membaik.


"Aku lapar." Cicit wanita bernama lengkap Lee Hyuna itu, membuat Taehyung terpaksa menahan tawanya. Wanita ini sangat menggemaskan. Beberapa waktu yang lalu, dia terlihat ketakutan hingga membuat semesta mungkin terkejut dengan kepanikan Taehyung. Tapi lihatlah sekarang, dia bergumam lapar. Jelas saja, mereka belum makan sejak mereka datang.


"Pttt" Taehyung menutup mulutnya dan menahan tawanya, setelah bergulat dengan mimpi buruk ternyata wanitanya sampai kelaparan, apa dia baru saja bermimpi berkelahi dengan zombie? Astaga, Kim Taehyung apa yang kau fikirkan. "Kenapa kau tertawa?" Hyuna bertanya sambil mempoutkan bibirnya.


"Tidak apa-apa, ayo kita ke rumah utama. Sepertinya pelayan sudah menyiapkan makan malam untuk kita."


"Baik."


Merekapun memutuskan untuk pergi ke rumah utama. Dan Taehyung harus menelan rasa penasarannya karena Hyuna tidak memberi tahu apa sebenarnya yang menjadi mimpi buruknya, sebab wanita itu berkali-kali memanggil namanya. Sebaiknya dia tidak mendesak Hyuna atau wanita itu akan terganggu dan memberontak lagi. 


Bae Irene, gadis berparas cantik itu masih setia memandangi layar ponselnya. Bahkan sesekali dia menatap jari manisnya yang di bubuhi cincin berlian yang dua minggu lalu melingkar di jari manisnya sebagai ikatan pertunangan antara Taehyung dengannya. Sejujurnya, dia masih merasakan kejanggalan, terutama dengan sikap Taehyung. Terlebih pria itu seperti menyimpan banyak rahasia. Lantas pada siapa dia harus bertanya? Perlukan dia menemui nyonya Kim? Mungkin wanita tua yang akan menjadi ibu mertuanya itu tahu sesuatu. Dan juga, dia bisa lebih akrab dengan keluarga Kim sebelum lebih dalam masuk di lingkungan keluarga Kim. "Aku harus bertanya pada bibi Kim." Gumamnya dengan sangat yakin. Baru saja dia hendak menelpon nyonya besar itu, namun ponselnya berdering secara bersamaan. Gadis Bae itu sedikit terkejut, namun keningnya mengerut saat melihat nama di layar ponsel tersebut, sambil bergumam, "Kim Taehyung? Ada apa dia menghubungiku? Kebetulan sekali, aku juga ingin membicarakan sesuatu dengannya." Katanya lalu menggeser icon berwarna hijau itu ke samping dan meletakkan ponsel itu ke daun telinganya.


"Taehyung? Ada apa?"


"Bisakah kau keluar sebentar? Aku ada di depan gerbang rumahu." Jawab Taehyung dari sebrang sana, gadis itu pun berlari kecil ke jendela kamarnya dan menatap ke pekarangan rumahnya sebelum menjawab. Dan benar saja, Taehyung tengah berdiri sambil bersandar di mobil berwarna hitam miliknya. Pria itu menggenakan pakaian serba hitam dan mantel tebal karena cuaca malam itu cukup menusuk. "Mengapa kau tidak masuk?" Irene bertanya masih sambil menatap pria yang berstatus tunangannya. "Aku ingin bicara denganmu, tetapi tidak di rumahmu." Jawab pria Kim itu dengan nada baritonya. Irene pun hanya menghela nafas kasar, tanpa banyak bicara dia pun berjalan keluar masih dengan ponsel yang tertempel di telinganya.


Sesampainya gerbang, dia dapat melihat dengan jelas wajah pria tampan dari sebrang sana, karena mereka hanya terhalang oleh gerbang. "Matikan panggilannya!" Dengus Irene sambil menatap kesal pada tunangannya. Taehyung hanya mendengus senyum lalu menekan satu-satunya tombol yang terdapat pada earphone bluetooth yang ia pasang di telinga kanannya, kemudian ia lepaskan benda tersebut dan menaruhnya di saku mantelnya.


Taehyung menatap Irene dari atas hingga bawah, membuat gadis itu mengerutkan keningnya dan bertanya, "ada apa kau menatapku seperti itu?" Taehyung hanya menhela nafas, tak habis fikir dengan Irene, bukankah cukup jelas bahwa mereka akan berbicara di luar, dan bukankah harusnya gadis ini juga tahu bahwa suhu malam ini mencapai lima belas drajat celcius? Tapi mengapa dia tidak mengenakan mantel dan hanya mengenakan pakaian formalnya? Namun Taehyung bisa menebak, sepertinya Irene baru saja pulang bekerja. Pria itupun berinisiatif membukakan pintu mobilnya dan berkata, "masuklah, di luar sangat dingin. Aku akan membawamu ke suatu tempat." Ujarnya, Irene pun hanya menurut saja dan masuk. Taehyung kembali menutup pintunya setelah Irene masuk, lalu pria itu mengitari mobilnya dan masuk dari pintu kemudi.


Irene nampak tidak asing dengan jalan yang mereka lewati, dia mengerutkan keningnya saat Taehyung tak bicara sepatah katapun, namun setelah mereka melewati beberapa tempat sepi dan terdapat sebuah gerbang besar di depan sana. Taehyung memarkirkan mobilnya lalu berkata, "kita sudah sampai, ayo turun." Ajaknya, dan lagi-lagi Irene hanya diam mengikuti perintah pria di sampingnya. Irene masih sibuk dengan segala tebakkan dan pertanyaan yang siap ia tanyakan sambil berbicara dalam hatinya, 'Ini bukankah rumah penyimpanan abu? Untuk apa pria ini mengajakku kemari?'


"Untuk apa kita kemari? Apa kau ingin mengunjungi seseorang?" Irene bertanya, Taehyung pun hanya tersenyum, pria itu menggenggam lengan Irene dan membawanya masuk kedalam sebuah gedung yang di penuhi beberapa dinding kaca besar di beberapa sisi. Irene merasa gugup karena ini pertama kalinya Taehyung menggenggam lengannya. Dia pun sedikit tidak nyaman sebenarnya, entah mengapa bersama Taehyung, kini ia merasa berbeda. Apa mungkin pria ini sudah tak menarik? Atau mungkin, ada kecemasan lain yang ia fikirkan saat ini. Mereka berjalan melewati beberapa almari yang berjajar dengan berbagai bentuk guci di dalamnya. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah almari berwarna putih, barisan ke lima. Bahkan Irene sangat tahu tempat ini, dia hanya berfikir mungkin secara kebetulan, seseorang yang ingin Taehyung kunjungi juga berada di sini.

__ADS_1


Pria itu melepaskan genggaman tangan mereka dan menatap deretan guci sebelum berjalan di antara almari itu. Taehyung memejamkan matanya sesaat, jantungnya berdebar lumayan kencang setiap kali dia mengunjungi tempat ini, seseorang yang sangat penting baginya ada di antara guci ini. Pria itu menghela nafas panjang, setelah ia menenangkan hatinya. Barulah ia kembali berjalan dan Irene pun mengikutinya dari belakang. "Disini." Gumam Taehyung, saat kakinya berhenti di sebua guci berwarna ungu muda dan bertuliskan Kim Taeri. Irene membulatkan matanya, dia sangat tahu guci ini dan cerita mengapa guci ini ada di sini. Namun gadis itu masih diam dan menunggu maksud apa yang Taehyung utarakan, dan yang berhubungan dengan guci yang jelas-jelas adalah putri Lee Hyuna yang meninggal dalam kandungan, saat kecelakaan tiga tahun yang lalu. "I-ini..."


"Dia adalah putriku..."


Degh~


Entah bagaimana menafsirkan semua kalimat sederhana seperti 'Dia adalah putriku', bagaimana aku memulainya? Dari mana aku harus memikirkan kembali cerita memilukan tentang keberadaan guci berisi abu bayi kecil tak berdosa ini? Jelas anak ini adalah putri pertama Lee Hyuna, wanita malang yang sejak beberapa tahun lalu ia angkat sebagai adik, bahkan dia sendiri yang menjadi penolong saat Hyuna berada di titik terendahnya. Irene bahkan sangat mengingat betapa Hyuna mencintai ayah dari bayi yang dia kandung, mungkin pria itu tengah membencinya karena memilih pergi meninggalkannya di malam yang sangat penting bagi mereka, harusnya.


Semesta seperti menamparnya, menyadarkannya bahwa pria yang berstatus tunangan itu, ternyata pria yang selama ini di rahasiakan Hyuna. Kekasihnya yang sangat ia cintai bahkan hingga saat ini. Hanya karena keegoisan seorang ibu, mereka berpisah tanpa meninggalkan kenangan baik. Keduanya bahkan harus menelan pahit, karena harus kehilangan buah hati yang sangat mereka nantikan. Hyuna merahasiakan kehamilannya dari Kim Taehyung, dan hari ini mungkin dunia tertawa melihat kebodohan Irene, fikirnya. Gadis itu tertawa sendu sambil memundurkan langkah goyahnya. Bahkan Taehyung hendak memegang lengannya jika saja Irene tidak menepisnya. Taehyung semakin merasa bersalah saat melihat buliran air bening yang menetes, membasahi pipi tunangannya.


"Mengapa harus begini?" lirihnya, Irene menangis tersedu menutupi wajahnya hingga kakinya terasa lemas dan akhirnya terduduk. Taehyung yang melihatnyapun berlutut di hadapan Irene, merendahkan tatapannya dan memohon maaf setulus mungkin. Dia merasa bersalah karena telah menyetujui pertunangan ini karena keegoisannya saat itu. Merasa Hyuna mengabaikannya kala itu, maka saat itulah keputusan bodoh untuk melanjutkan pertunangan mulai ia lakukan. Seandainya waktu bisa di ulang, mungkin Taehyung akan menarik Hyuna dan mengatakan sejujurnya di hadapan semua orang, bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Namun, di dunia ini, jika sudah ada keterlanjuran, maka tidak akan ada kata seandainya.


Taehyung menundukkan wajahnya, dan berkata "aku adalah kekasih Lee Hyuna, dan Taeri adalah putri kami. Aku baru mengetahuinya, tentang kehamilan dan semua keadaan Hyuna setelah kami berpisah, baru-baru ini. Aku sangat mencintainya, sejak dulu bahkan hingga saat ini. Aku telah bersumpah demi anakku, aku tidak ingin meninggalkannya lagi. Tolong maafkan aku, aku membawamu kemari, karena aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Dan inilah kebenaran yang harus kau ketahui. Tolong maafkan aku, semua ini salahku. Hyuna tidak pernah bersalah, dia hanya tidak ingin menyakitimu dan keluargamu. Dia bahkan melepaskanku demi menghormati keluargamu. Tetapi, aku sangat mencintainya, itu sebabnya, aku ingin... kita akhiri pertunangan ini. Aku akan bertanggung jawab untuk semuanya, aku akan mengatakan yang sesungguhnya pada orang tuamu. Irene-yya, maafkan aku." Jelasnya.


Entah bagaimana Irene harus menanggapi semua kenyataan ini, antara kecewa juga rasa bersalah tengah mengalir dalam darahnya, hingga gadis itu masih terdiam dalam tangisnya. Taehyung menatap Irene dengan penuh permohonan. Lelaki itu terlihat sangat tulus meminta maaf, Irene menundukkan wajahnya seraya menghapus air matanya, lalu tersenyum sendu dan berkata "ini memang harus terungkap, hanya saja, aku tidak menyangka... Bahwa kebenaran ini sangat menusukku. Aku mungkin sakit, tapi aku juga merasa bersalah. Bagaiamana perasaan Hyuna, ketika dia harus berpura-pura bahagia saat melihat pertunanganku dengan kekasihnya, padahal aku sangat tahu, selama ini di sangan merindukanmu. Dia selalu menyembunyikan kesedihannya demi diriku. Aku selalu menginginkan kebahagiaannya, tetapi aku sendiri yang menciptakan luka. Aku harus bagaimana menghadapinya?" Lirihnya di akhir kalimat, Taehyung perlahan menarik gadis itu dalam dekapannya. Memberilan usapan hangat untuk Irene. Perlahan Irene membalas dekapan itu dan mulai menangis pilu dalam dekapan Taehyung.


"Akulah yang bersalah, jika saja dulu aku lebih tegas, mungkin aku bisa melindungi kekasihku dan juga putri kami. Aku yang telah gagal, tapi... Aku sudah berjanji, aku tidak akan melepasnya lagi, aku akan melindunginya."


"Maafkan aku Irene-yya, harusnya aku tidak melibatkanmu." Gumamnya.


Irene terus saja menangis hingga terisak, merasa sesak yang begitu dalam. Bagaimana dia harus bertemu dengan Hyuna kedepannya. Walaupun Hyuna sudah pasti akan memaafkannya karena wanita itu terlalu baik padanya. Tetapi tetap saja, dia telah membuat Hyuna menangis dan itu sudah pasti, meskipun tangisan Hyuna tak ia lihat secara langsung. Karena wanita itu selalu terlihat tenang dan bahagia untuknya.


Kim Taehyung, pria itu menjadi sensitiv saat tatapannya bertuju pada sebuah lukisan seorang bayi yang tengah memejamkan matanya, bahkan air matanya menggenang di pelupuk matanya, dan siap mengalir dalam sekali kedipan matanya. Lukisan itu di buat oleh Sehun saat pria itu mengurus pemakaman putrinya. Dadanya terasa sesak setiap kali mengingat, betapa menyedihkannya pasti saat Hyuna mengetahui bayinya meninggal dan tidak ada dia di sampingnya. Jika di ingat-ingat lagi, saat kejadian itu, Taehyung tengah gila dan membunuh banyak orang untuk melampiaskan rasa kesalnya pada Hyuna yang meninggalkannya kala itu. Taehyung bahkan tidak memberi ampun pada siapapun yang bersalah, meski kesalahan itu hanya setitik saja. "Hyuna, aku adalah pria yang gagal melindungi bayi kita dan juga gagal menjagamu. Bahkan aku tidak ada di saat kau sangat membutuhkanku. Ini adalah sumpahku, aku tidak akan pernah melepasmu lagi." Batinnya.


BRAK~


Suara meja yang di gebrak kedua tangan tuan Bae itu membuat siapapun terperanjat. Bahkan Irene menitihkan air matanya dalam pelukan sang ibu. Tuan Bae terlihat sangat marah dan kecewa dengan pengakuan Kim Taehyung yang tengah duduk di sofa tepat di seberangnya. Taehyung telah menceritakan semuanya, dia datang bersama Irene. Mungkin keluarga Bae mengira, itu adalah kunjungan menantu pada mertuanya. Tetapi ternyata bukan, karena Taehyung datang hanya untuk meluruskan kesalah fahaman yang terjadi pada keluarganya dan juga keluarga Bae atas keegoisan sang ibu. Tuan Bae menajamkan penglihatannya, menatap tegas pria yang tengah duduk dengan aura dingin seperti biasanya. Lengannya menunjuk pria di hadapannya seraya berkata "apa kau tidak memiliki hati nurani saat mempermainkan putriku?" Tegasnya. Taehyung hanya diam dan masih mendengarkan. "Apa kau sadar? Keputusanmu ini, telah menyakiti dua wanita sekaligus? Kau tahu? Hyuna bahkan sudah ku anggap putri kami sendiri, kemudian kau mengacaukan segalanya. Dimana dia sekarang Kim Taehyung-ssi?" Lanjutnya.


Taehyung menengadahkan kepalanya dan menatap tuan Bae dengan tatapan datar. Pria itu benar-benar menghadapi masalah ini dengan tenang. Taehyung menghela nafas kemudian menjawab "aku tahu, ini semua adalah kesalahanku. Jika kau ingin menyalahkan, maka salahkan aku. Hyuna tidak bersalah, dia bahkan meninggalkanku demi kalian, tetapi___ aku yang kembali mengejar. Karena aku mencintainya, maafkan aku... Jika kalian ingin menuntutku, aku akan menerimanya." Jelasnya. Tuan Bae jelas saja sangat marah, mengapa harus Hyuna? Bahkan dia tidak dapat marah pada Hyuna, meskipun dia sangat ingin. Bahkan dia tidak dapat mengumpat Hyuna, meski dalam hatinya. Tuan Bae hanya dapat terduduk lemas sambil memijat ruang di antara alisnya.


"Aku benar-benar kecewa padamu! Bagaimana kau bisa setega itu pada putri kami?" Lirihnya yang terdengar memilukan, Irene bahkan berlutut di hadapan sang ayah sambil berkata "ayah... Hyuna tidak bersalah." Lirihnya yang membuat lelaki berusia enam puluh tahunan itu menatap lirih sang putri. Tuan Bae menatap istrinya seolah memberi isyarat, dan di berikan anggukan tanda mengerti dari sang istri.


"Kim Taehyung, sebaiknya kau pergi. Suamiku butuh waktu untuk menerima semua ini. Kami akan memikirkan yang terbaik." Kini nyonya Bae yang buka suara setelah terdiam sejak pengakuan Kim Taehyung yang sangat mengejutkan. Semua orang di keluarga Bae tidak menyangka dengan kebenaran ini. Mereka sangat tahu bagaimana sulitnya Hyuna, saat wanita itu menjalani hari-harinya saat mengandung putrinya, dan harus bekerja paruh waktu di saat usia kandungannya berusia delapan bulan untuk biaya pengobatan sang ayah. Bahkan hingga saat insiden kecelakaan itu terjadi. Mereka adalah saksi bisu, bagaimana Hyuna menjadi sangat depresi saat kehilangan buah hatinya. Dan betapa bangganya Hyuna setiap kali menceritakan pria yang sangat ia cintai saat dulu. Itulah sebabnya, mereka tidak bisa marah pada Hyuna. Wanita itu memang tidak bersalah, hanya saja keadaan yang membuatnya seolah salah.


Taehyung membuka tuxedonya. Dia tersenyum menatap Hyuna yang tengah tertidur pulas di kamar mereka. Dia baru saja kembali setelah meminta izin untuk pergi. Taehyung mengatakan, bahwa dia akan pergi mengurus pekerjaan pada Hyuna. Padahal pria itu pergi menemui Irene dan orang tuanya untuk menceritakan semuanya. Taehyung melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing atas kemeja hitamnya. Pria itu berjalan mendekat pada sang kekasih dan berlutut seraya menatap wajah polos kekasihnya yang tengah tertidur seraya berkata, "Taeri-yya, ibumu sangat cantik ketika dia tertidur, dia tidak berisik seperti saat terjaga. Kau harus percaya padaku, dia sangat mencintai kita. Aku akan menjaganya dan membahagiakannya. Aku berjanji padamu, aku akan menjadi ayah yang bertanggung jawab. Kau harus percaya padaku." Taehyung tersenyum lalu mencium kening Hyuna sebelum ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum ia bergabung dengan Hyuna.


Setelah Taehyung menghilang di balik pintu kamar mandi, Hyuna perlahan tersenyum dalam tidurnya. Wanita itu seolah mendapatkan mimpi yang indah, begitu terlihat tenang.


Taehyung-ah, sejak awal... Aku tidak pernah salah memilihmu sebagai lelakiku. Aku sangat mencintaimu, terima kasih Kim Taehyung.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2