DARK MISSION (The Series)

DARK MISSION (The Series)
02


__ADS_3

Pada malam hari di suatu jalan yang terlihat sepi meskipun beberapa kendaraan berlalu lalang walaupun tak terlalu banyak seperti jalanan pada umumnya. Seorang gadis tengah memejamkan mata dengan merentangkan tangannya di bahu jalan yang terdapat jurang di sisi kanan dan kirinya karena jalanan itu merupakan jembatan yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya di daerah kota Busan. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Gadis itu tidak sendiri, dia bersama seorang pria tampan mengenakan topi dan stelan serba hitam sama seperti dirinya. Pria itu bernama Oh Sehun yang merupakan sahabatnya sejak mereka berkuliah dulu. Gadis itu bernama asli Lee Hyuna. Namun teman-teman yang merupakan rekan kerjanya termasuk Sehun memanggilnya dengan sebutan Zee Rain.


Pria itu tersenyum saat matanya terus saja memandang gadis di sampingnya. Sangat jarang Sehun melihat gadis itu tersenyum seteduh saat ini, karena saat pertemuannya tiga tahun yang lalu gadis itu tidak dalam ke adaan baik-baik saja. "Sepertinya kau sedang bahagia, kau jarang sekali tersenyum seperti ini." Ujar pria bermarga Oh itu. Rain perlahan menurunkan lengannya yang sejak tadi ia rentangkan dan membuka matanya yang awalnya ia pejamkan. Gadis itu menoleh menatap pria di sampingnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Aku bahagia karena kehidupanku saat ini, aku tidak harus memikirkan akan makan apa besok? Atau, harus mencari uang kemana lagi untuk biaya rumah sakit ayahku?" Ujarnya seraya memalingkan wajahnya dan menatap sungai di bawah sana. Sehun tersenyum dan mengangguk faham. Pria itu sangat faham, bisa di katakan saat ini dialah orang yang paling memahami gadis di sampingnya.


"Kau sudah memiliki uang yang sangat banyak. Jadi, jangan terluka lagi." Ujarnya. Gadis itu menoleh menatap sendu pria di sampingnya. Namun berbeda dengan sehun yang membulatkan bola matanya saat melihat seseorang yang hendak menyerang sahabatnya dari arah belakang. "Rain!! Awas di belakangmu!!" Pekiknya.


Gadis itu membalikkan tubuhnya dan berhasil menghindar dari serangan para pria bersenjata yang hendak menyerangnya. Rain meraih pergelangan tangan pria itu dan memilinnya hingga belati itu terlepas dari genggamannya. Sedangkan Sehun menghajar satu persatu pria berbadan besar lainnya. Pria berbadan besar itu hanya berlima, itu sebabnya dengan mudah Sehun menghadang 4 pria sisanya.


"Siapa yang mengirim kalian untuk menyerang kami??" tanya gadis itu seraya memilin lengan pria itu di belakang punggungnya dan menghuyungnya ke arah jurang yang terdapat di samping bahu jalan. Pria yang berada di bawah kungkungannya itu nampak cemas dan dengan susah payah menelan salivanya saat pandangannya menatap ke arah sungai di bawah sana.


"Aku tidak akan mengatakannya!!!" ujarnya seraya menelan salivanya susah payah saat lagi-lagi pandangannya tertuju pada sungai di bawahnya. Seperdetik kemudian pria itu memekik kuat saat Rain semakin memilin lengannya lebih erat. Hingga pria itu merasa tangannya nyaris putus. Gadis itu tersenyum miring sedangkan Sehun nampak bersandar di bagian pembatas jalan seraya menyaksikan aksi sahabatnya yang tengah mengungkung seorang musuh. Sehun bahkan tersenyum bangga, baginya kemampuan gadis itu semakin meningkat dari waktu ke watku.

__ADS_1


"Kau sudah dewasa. Aku tidak lagi mengkhawatirkanmu dalam hal ini. Aku tidak khawatir kau akan terluka di bagian kulit putihmu. Justru yang lebih aku khawatirkan hanya, luka di hatimu yang tidak pernah mengering, bahkan setelah tiga tahun lamanya." Sehun bicara dalam hatinya.


Sehun menengadahkan wajahnya menatap langit malam yang begitu sangat cerah malam itu. Terlihat taburan bintang yang sangat memanjakan mata, di sepanjang mata memandang.


"Kim Dong Gyu. Itu namamu\, Kim Dong Hee\, itu putrimu. Dan___ Kim Yunhee itu istrimu dan\, ahh aku lupa, nama putramu yang masih dalam kandungan istrimu? Apa kau sudah memberi nama padanya, hmm?" Pria itu membulatkan matanya saat gadis itu menyebut satu persatu nama anak dan istrinya. Pria itu kembali menelan salivanya dengan susah payah.


"Wanita iblis!!! Jika kau menyakiti keluargaku____" pria itu memekik sebelum menyelesaikan pembicaraannya. Rain semakin memilin pria tua itu dalam kungkungannya seraya tersenyum miring.


"Jika aku membunuhmu, apa yang akan terjadi dengan keluarga kecilmu?" ucapnya seraya tersenyum meremehkan. Namun itu bukan ucapan dari hatinya, itu hanya gertakan supaya pria itu mengakui apa yang dia tanyakan sejak awal. Gadis itu menggunakan kacamata yang memiliki tekhnologi tinggi yang bisa meretas identitas seseorang hanya dengan mengeja namanya saja. "Tn. Ju-Jung Jaehyun. Dia tuanku, ku mohon lepaskan aku! Istriku sedang berjuang di rumah sakit. Putriku masih sangat kecil. Ku mohon." Setelah mendengar siapa yang menyuruh pria itu untuk membunuhnya. Rain melepaskan pria itu dan mendorongnya hingga tubuh pria itu terhuyung ke aspal. Pria itu meringis merasa ngilu di bagian lengannya. Rain tersenyum miring setelah mendengar jawaban pria itu. Sehun yang sedari tadi hanya memperhatikanpun diam-diam dia mengepalkan lengannya saat mendengar siapa yang mengutus para pria ini. Jung Jaehyun, pria itu salah satu musuh terbesarnya sejak dulu hingga saat ini.


Kim Dong Gyu. Pria itu hanya seorang kepala rumah tangga yang melakukan pekerjaan hanya untuk biaya operasi istrinya. Kebetulan Jaehyun membayarnya untuk membunuh Rain karena gadis itu telah lancang meretas semua datanya dan mencuri sebagian sahamnya, juga menolak cintanya. Namun nyatanya Kim Dong Gyu itu tidak lebih kuat dari seorang Zee Rain. Bahkan ke empat temannya sudah di lempar hidup-hidup ke dasar sungai yang sangat dingin oleh Sehun setelah dia membuat ke empat pecundang itu limbung. Belum sempat pria itu berterima kasih. Namun gadis itu sudah lebih dulu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh bersama seorang temanya. Pria bernama Kim Dong Gyu itu menatap mobil itu yang sudah semakin menjauh dengan tatapan sendu. Merasa menyesal karena nyaris membunuh gadis sebaik Zee Rain.


"Kau adalah gadis yang baik nak. Aku yakin, kau adalah gadis yang baik dan bukan Zee Rain yang selama ini aku tahu. Gadis yang terkenal kejam dan membunuh siapapun yang kau inginkan. Kau pasti memiliki alasan, sama sepertiku. Aku akan mendoakanmu, terima kasih Zee Rain" gumam pria itu seraya meneteskan air matanya dan memangis tersedu-sedu.

__ADS_1


-


"Rain!!! Kau keren!!!" teriaknya dari sebrang sana. Kedua sahabat itu tengah mengendarai mobil dengan bersampingan. Gadis itu meletakan tangannya di daun telinganya untuk lebih jelas mendengar teriakkan Sehun. Sebenarnya Rain mendengar apa yang Sehun katakan. Dia hanya ingin Sehun mengatakan pujian itu sekali lagi.


"APA?? KAU BILANG APA?" Balas gadis di sebrang sana dengan intonasi yang tidak kalah tinggi dengan Sehun. Pria itu memutar bola matanya seraya melayangkan jari tengahnya pada Rain dan mendahului gadis itu. Tak terima ejekannya kemudian gadis itu menatap tajam mobil di depannya dan menginjak gas dengan kecepatan penuh.


"SHITTTT...!" Umpatnya saat melihat mobil Sehun yang semakin menjauh.


Rain memilih tak mengejar Sehun lagi. Dia memutar kemudi tanpa Sehun tahu. Gadis itu berbalik arah saat melihat putaran dan menuju tempat yang paling ingin dia kunjungi. Namun sebelum dia mengunjungi tempat itu. Gadis itu mampir kesebuah mini market untuk meminjam kamar mandinya. Rain mengganti pakaian serba hitamnya dengan sebuah gaun berwarna putih selutut dan mengurai rambutnya yang berwarna coklat gelap. Dia juga menambahkan sedikit make up di wajahnya, hingga dirinya terlihat sangat cantik. Rain berubah seratus delapan puluh derajat setelah keluar dari kamar mandi itu. Tidak ada lagi Rain yang terlihat tomboy, yang ada hanyalah Lee Hyuna. Gadis cantik yang memiliki tubuh yang ideal bak seorang model. Siapapun yang melihatnya tidak akan menyangka jika gadis itu memiliki riwayat pernah membunuh ratusan orang dalam kurun waktu tiga tahun kebelakang.


Selesai mengganti pakaiannya dia pergi setelah berterima kasih pada penjaga mini market yang ia pinjam kamar mandinya dan mampir kesebuah toko bunga di samping mini market itu. Dia membeli satu tangkai bunga berwarna putih dan dua cup kopi panas. Kemudian kembali mengendarai mobilnya ke suatu tempat.


Kalian pernah mendengar istilah "Don't judge the cover?" Ya! Sepertinya kalian harus benar-benar menerapkan kata-kata itu. Jangan pernah melihat seseorang dari luarnya saja. Terkadang dunia akan terasa mempermainkanmu. Tapi sesungguhnya kalianlah yang mempermainkan diri kalian sendiri. Kebanyakan manusia akan melihat sesuatu dari luarnya saja tanpa tahu bagaimana dalamnya. Ada yang terlihat baik namun nyatanya memiliki kepribadian yang buruk. Namun ada juga yang terlihat buruk, tapi memiliki kepribadian yang baik.

__ADS_1


"Lalu apa yang kalian tekankan pada diri kalian untuk sebuah kebaikkan? Menyenangkan hati manusia dengan uang? Oh ayolah, tidak selamanya uang akan menyelamatkanmu. Bahkan uang akan lebih berbahaya di banding belati yang telah kau asah sebanyak ribuan kali. Seseorang akan membunuhmu demi uang."


TBC.


__ADS_2