DARK MISSION (The Series)

DARK MISSION (The Series)
20


__ADS_3

"Sejak awal Tuhan memang mentakdirkan semua ini terjadi, mungkin ini cara Tuhan mendewasakan kami. Bersama lalu berpisah, kehilangan lalu kembali menemukan, hingga akhirnya bersama kembali."


___oO0Oo___


Derap langkah terdengar di sebuah lorong rumah sakit, Taehyung masih setia menggenggam lengan sang istri untuk menemui sang ibu yang kabarnya tengah menjalankan perawatan intensif di rumah sakit Busan karena serangan jantung mendadak. Taehyung yang terlihat sangat mencemaskan sang ibupun hanya bisa berdoa dalam hatinya agar sang Tuhan menyelamatkan nyawa sang ibu. Walaupun ibunya sering sekali membuat Taehyung kecewa, tetapi tidak ada yang bisa menepis ikatan batin seorang ibu dan anak. Bahkan, pria setegas Taehyungpun masih sangat mengkhawatirkan ibunya di saat sang ibu dalam masa sulit, "Dimana nyonya besar?" tanya Taehyung pada supir Tan yang tengah berdiri di depan pintu kaca bertuliskan ICU. "Tuan muda, akhirnya anda datang. Nyonya di dalam, dokter belum mengizinkan siapapun menjenguknya." Jawabnya dengan raut cemas dan lega dalam waktu bersamaan. 


Taehyung memundurkan kakinya dua langkah dan mengusap wajahnya dengan kasar dengan lengan kirinya, sedangkan lengan kanannya masih tetap menggenggam lengan Hyuna dengan sangat erat. Hyuna yang tahu kecemasan Taehyungpun mengusap bahu kekar Taehyung dan membantunya untuk duduk agar prianya lebih tenang. "Tunggu disini, aku akan mencarikanmu minum." Baru saja Hyuna akan pergi, namun Taehyung menahan lengannya dan Hyunapun akhirnya mengurungkan niatnya, di tataplah wajah sang suami yang terlihat sangat khawatir itu. Hyuna tersenyum hangat lalu berjalan lebih dekat, membawa sang suami dalam dekapannya. Posisi Taehyung kini terduduk di kursi tunggu sedangkan Hyuna masih berdiri sambil mendekap tubuh suaminya yang tengah rapuh itu. "Jangan pergi." Lirih Taehyung, Hyuna hanya mengangguk sambil mengusap surai hitam suaminya. "Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Ibumu akan baik-baik saja." Ujarnya dengan nada yang sangat lembut. Supir Tan yang menatap kehangatan pasangan itupun merasa terharu, pasalnya dia juga salah satu saksi bisu kisah cinta pasangan ini. Dialah yang dulu melihat betapa hancurnya Taehyung saat Hyuna meninggalkannya dengan sepucuk surat dan mengembalikan gaun yang Taehyung berikan dalam keadaan hancur. "Tuan, saya akan membeli minuman untuk tuan dan nona Lee." katanya yang di berikan anggukan setuju oleh Hyuna seraya tersenyum. 


"Tuan muda, akhirnya kau menemukan cintamu yang telah lama hilang. Aku turut bahagia melihatmu dengan nona bisa kembali bersama." Batin supir Tan saat berjalan meninggalkan Taehyung dan Hyuna.


Dulu, tepatnya tiga tahun yang lalu saat Taehyung tengah menghadapi masa sulitnya, supir Tan lah yang selalu melihat betapa frustasinya Taehyung. Pria itu mengamuk seperti orang gila, menghancurkan semua benda yang bisa ia genggam, mungkin bisa membunuh jika ada yang berani membuatnya tersinggung. Taehyung tidak bekerja selama satu tahun dan hanya pergi ke club malam kemudian pulang dalam keadaan mabuk. Taehyung terlihat sangat kacau, pria itu seperti malas untuk mencukur kumis dan jenggotnya, terlihat rambutnya yang memanjang, yang ia biarkan begitu saja. Hingga akhirnya nyonya Kim meminta member Bangtan untuk bergabung di perushaannya, dan menemani Taehyung. Yoongi dan Seokjin yang selalu datang setiap hari untuk menghiburnya, Namjoon dan Jimin yang selalu membantu meng-handle pekerjaan Taehyung, serta Hoseok dan Jungkook yang terus membantu menjadi investor untuk beberapa perusahaan Taehyung yang mulai mendapat berbagai masalah. 


Taehyung kembali bangkit saat dia memutuskan untuk bekerja sama dengan petugas militer untuk membantai para mafia yang saat itu meresahkan di Korea selatan, Taehyung lebih bersemangat lagi saat Jungkook mengatakan bahwa salah satu musuh yang akan di hadapi oleh mereka adalah Zee Rain, wanita yang sangat sulit di kendalikan, terlebih Jungkook telah dengan mudah meretas data pribada Zee Rain yang ternyata adalah Lee Hyuna. Awalnya Taehyung hanya ingin membalas perbuatan Hyuna padanya di masa lalu, dia ingin membuat Hyuna berlutut dan mengakui kesalahannya. Namun siapa yang bisa menyangka, setelah tiga tahun tidak bertemu dan hidup dengan penuh dendam, bahkan mengira Hyuna lari dengan pria lain, ternyata Tuhan kembali menghadirkan perasaan cinta Taehyung kembali, ketika mereka di pertemukan. 


Pria itu bahkan merasa khawatir saat Hyuna terkena tembakaan saat itu, membuat pria itu malah bersimpati padahal awalnya sangat ingin melihat Hyuna lebih menderita di bandingkan dirinya. Pada dasarnya Taehyung tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, tidak bisa di pungkiri bahwa rasa cinta itu masih ada dan tidak pernah hilang. 


-


Hyuna menatap wajah Taehyung yang tengah tertidur di pangkuannya. Awalnya seorang perawat menawarkan sebuah ruangan untuk Taehyung dan Hyuna beristirahat, namun Taehyung malah menyuruh Hyuna yang beristirahat sementara dia akan menunggu sang ibu dengan setia di ruang tunggu. Hyunapun pada akhirnya menolak tawaran perawat itu dan memilih untuk tetap menemani Taehyung, tentu saja setelah mereka berdebat terlebih dahulu karena Taehyung khawatir jika Hyuna menemaninya di luar, wanitanya masih dalam keadaan lelah atas perlakuannya beberapa waktu yang lalu. Namun pada akhirnya Taehyung kalah dan membiarkan Hyuna untuk menemaninya di luar menunggu sang ibu. 


Taehyung mengerjapkan matanya saat ia merasakan pegal di bagian lehernya, pria itu terbangun dan menatap sang istri yang juga tertidur dalam posisi terduduk karena Taehyung tidur berbantalkan paha Hyuna. Merasa khawatir pada Hyuna, Taehyungpun akhirnya mendudukkan dirinya, membawa sang istri dalam gendonganya dan membawanya ke ruang pasien VIP yang di sediakan oleh perawat tadi. Taehyung meletakkan tubuh sang istri dengan sangat hati-hati, di pandangi wajah lelah sang istri yang tengah terlelap. "Apa yang sedang kau cemaskan, sampai kau tidur dalam keadaan kening yang mengerut? Hyuna-yya, aku disini bersamamu jangan khawatir." Bisiknya saat merasa khawatir dengan keadaan Hyuna yang tengah tertidur dengan kening yang berkerut seolah tengah mencemaskan sesuatu. Setelah Taehyung mengatakan hal itu, Hyuna terlihat sangat tenang, Taehyung menarik selimut dan berbaring di samping sang istri dan menyelimuti tubuh mereka berdua. "Kau pasti sangat kelelahan, maafkan aku. Tidurlah dengan tenang, aku akan menjagamu." katanya sambil mengecup kening Hyuna, wanita itupun mengerang dan mengeratkan dekapannya pada Taehyung, mencari kenyamanan dalam dekapan sang suami. 

__ADS_1


***


Sehun masih setia menyesap wine di dalam mobilnya sambil menatap lurus kedepan, menatap seorang gadis yang tengah tertawa dan menari di atas pasir sambil sesekali menyesap souju langsung dari botolnya. Sehun menatap Irene dengan tatapan sendunya, pria itu baru saja membiarkan Irene bergerak sesuka hatinya. Awalnya mereka berpesta minuman di dalam mobil sambil menikmati angin malam di pantai sejak pagi tadi. Karena terlalu banyak minum, Irene menjadi tidak terkendali dan berlari ke luar untuk membebaskan dirinya dari kepenatannya. Sehun bahkan membiarkan gadis itu, agar dia bisa melepaskan semua yang menjadi beban fikirannya. "Taehyung memang bukan seseorang yang tepat untukmu, tapi izinkan aku memantaskan diri untuk menjadi pria yang tepat untukmu. Aku akan berusaha lebih keras untuk menjadi seseorang yang hebat, agar bisa berdiri dengan percaya diri di samping gadis terhebat sepertimu." Ujarnya sambil terus menatap Irene sebelum akhirnya dia memutuskan untuk turun dari mobil dan menemani Irene di luar. 


"Sehun-ah, hatiku sangat sakit. Apa yang harus aku lakukan?" Lirihnya saat tubuhnya terhuyung kedalam dekapan Sehun. Pria itu hanya diam, perlahan dia mengangkat lengannya dan membalas dekapan Irene kemudian memberinya usapan hangat agar gadis itu lebih tenang. "Aku tidak mencintainya, tapi mengapa rasanya sakit sekali? Apa aku bukan wanita baik, jadi Tuhan mengirimkan seorang pria untuk menghancurkan harapanku?---- Sehun-ah, aku ingin belajar mencintainya, tetapi dia mencintai wanita lain, wanita itu adalah sahabat yang telah aku anggap seperti adikku sendiri. Bah-bahkan mereka telah memiliki seorang putri yang sangat cantik. Apa yang harus aku lakukan?" Lirihnya seraya sesekali terisak, rasanya seperti di campakkan, seperti yang ia takuti selama ini. "Apa, Hyuna kekasihnya yang saat itu kau ceritakan padaku?" Lanjutnya, Sehun hanya memejamkan matanya saat kembali mengingat krtika dia menceritakan kisah cinta taehyung dengan kekasihnya yang tak lain adalah Hyuna, yang menjadi kisah paling populer saat itu, merasa tidak tega pada Irene, meskipun tidak mencintai Taehyung namun wanita mana yang tidak terluka jika tunangannya mencampakkannya dan lebih memilih sahabatnya meskipun dialah orang ketiga sesungguhnya. 


"Kau adalah wanita baik, kau adalah wanita yang sangat hebat, Tuhan tidak membiarkan Taehyung denganmu karena Tuhan tahu, ada wanita yang paling membutuhkan Taehyung daripada dirimu. Dan Tuhan tidak mentakdirkan dirimu bersama dengan Taehyung, karena ada seorang pria yang lebih membutuhkanmu di banding Teahyung..." Sehun menjeda ucapannya, dia melepaskan dekapan Irene dan menatap mata gadis itu sangat dalam, mencari kepercayaan dirinya di dalam sana untuk menguatkannya mengatakan sesuatu yang menurutnya sangat tergesah namun ia harus mengatakannya, Irene menatap Sehun dengan mata yang terdapat genangan cairan bening yang siap menetes dengan satu kali kedipan saja. 


"Pria itu adalah--- Aku. Aku yang paling membutuhkanmu di banding Taehyung." Finalnya yang sontak membuat Irene meneteskan air matanya yang sejak tadi ia tahan, jantungnya berdebar sangat cepat. Sehun menatap dengan penuh keyakinan di mata Irene, begitupun Irene yang menatap dengan ketidak percayaannya pada Sehun, karena pria ini baru saja mengungangkapkan perasaannya secara tidak langsung. "Ini terdengar mendadak mungkin untukmu, tapi--- aku sudah menyiapkan seluruh keberanianku untuk hari ini. Irene-yya, sejak awal--- perasaan ini tumbuh dan semakin berkembang setiap saat. Maafkan aku jika bagimu perasaanku ini salah, tapi--- AKU SANGAT MENYUKAIMU, AKU MENCINTAIMU, BERKENCANLAH DENGANKU." Pekiknya di akhir kalimat sambil membungkuk sembilan puluh derajat. 


Setelah menunggu sedikit lama, namun hanya keheningan yang Sehun rasakan. Tidak ada respon apapun dari Irene, perlahan Sehun membuka matanya satu persatu dan mendongak untuk menatap lawan bicaranya. Seperdetik kemudian dia menegakkan tubuhnya saat tidak melihat Irene di hadapannya, Sehun tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat melihat Irene yang tengah menari sambil berputar di tepi pantai sambil merentangkan kedua lengannya. "Aku akan mencari waktu yang paling tepat selanjutnya." Gumam Sehun saat merasa pernyataan perasaannya gagal karena gadis itu tengah mabuk dan sibuk dengan dunianya sendiri. Sehun berlari mengejar Irene, mereka menghabiskan banyak waktu di pantai bahkan sampai mentari terbit. 


Sehun tersenyum sambil duduk di samping Irene yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu kekarnya sambil tertidur, pria itu menikmati matahari terbit sambil sesekali mengeratkan jaket yang menjadi selimut untuknya dengan Irene. "Hhhh... tidak apa-apa, aku cukup bahagia hanya dengan menemanimu saja." Gumamnya, Sehun menoleh saat merasa Irene menggeliat dalam tidurnya, bahkan memeluk lengannya seolah mencari kenyamanan di sana. Pria itu tersenyum, perlahan mengangkat lengannya untuk menyisir helaian anak rambut yang menghalangi wajah cantik dokter tercintanya itu, namun ia segera mengurungkan niatnya saat Irene mulai mengerjapkan matanya dan segera terbangun saat sadar dengan posisi tidurnya saat ini. Gadis itu menatap kesegala arah sambil merapikan surai hitamnya dengan jemari lengannya. "Sehun-ssi, maafkan aku, apa aku membuatmu kesulitan? Aku terlalu banyak minum tadi malam." Katanya, Sehun terkekeh di buatnya, baginya Irene sangat menggemaskan. "Kau sungguh sangat merepotkan, kalau begitu, sebagai gantinya kau harus mentelaktirku makan malam yang sangat romantis." Ujarnya sambil berpura-pura kesal, namun Irene hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Sehun-ssi, terima kasih." Gumamnya yang hanya di berikan anggukan serta senyum hangat dari Sehun yang tengah fokus menyetir mobil milik Irene.


***


Hyuna mengerjapkan matanya dan menyadari bahwa malam sudah berganti siang, wanita itu mengedarkan penglihatannya dan menyadari bahwa saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dia masih menatap kesegala arah dan tidak menemukan sang suami di sampingnya, lalu dimana dia saat ini? Bukankah tadi malam dia tertidur di ruang tunggu bersama Taehyung? "Taehyung pasti membawaku kemari, dimana dia sekarang?" Gumamnya. 


"Sudah bangun?" Hyuna menoleh  dengan segera saat mendengar suara suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya. Wanita itu menghela nafas lega dan tersenyum. "Apa kau tidur di sampingku tadi malam? Tidurku sangat nyenyak." Taehyung terkekeh mendengar pertanyaan sang istri. 

__ADS_1


"Tentu saja aku bersamamu, jika itu pria lain--- mungkin kau sudah melihat potongan tubuhnya pagi ini." Katanya yang sontak membuat Hyuna menatapnya dengan tatapan mengerikan, "Astaga, apakah suamiku ini seorang psycop*th?" Taehyung mengul*m bibirnya, menahan senyum hingga wajahnya memerah. Entah mengapa  kata-kata suamiku yang Hyuna ucapkan membuatnya malu bercampur bahagia. "Ya, Kim Taehyung... ada apa dengan wajahmu? Kau seperti udang rebus." Hyuna mencoba menggoda sang suami dan membuat Taehyung semakin memerah dan mengomel, "Cepat mandi dan ayo sarapan. Pelayan sudah mengantarkan sarapan kita dan pakaianmu ada di atas nakas." Katanya lalu pergi meninggalkan Hyuna sendiri, Hyuna hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Bodoh.


-


Taehyung dan Hyuna kini kembali duduk di ruang tunggu setelah mereka menghabiskan sarapannya yang di kirimkan oleh pelayan dari rumah besar sesuai intruksi Supir Tan. Supir Tan menghubungi beberapa pelayan dari kediaman nyonya besarnya untuk melayani Taehyung dan Hyuna selama di rumah sakit. Setelah menunggu sekian lama, dokter keluar dan memberikanan kabar mengenai kondisi nyonya Kim. "Tuan muda, bisa kita bicara di ruanganku sebentar? Ada yang ingin aku sampaikan mengenai kondisi nyonya besar." Katanya, Hyuna menatap Taehyung lalu mengangguk seolah mengatakan 'pergilah,' Taehyungpun mengangguk lalu pergi mengikuti dokter. 


"Silahkan duduk tuan muda Kim."


"Bagaimana kondisi ibuku?" Tanya Taehyung setelah dia duduk berhadapan dengan dokter specialis jantung itu. Dokterpun mulai menjelaskan mengenai kondisi nyonya Kim lebih detail, dia memperlihatkan hasil x-ray yang menunjukkan pembengkakkan pada jantung nyonya Kim. Hal itu membuat Taehyung semakin merasa khawatir, selama ini ibunya sangat baik-baik saja. Dia bahkan tidak mengetahui tentang penyakit ibunya ini, yang dia tahu ibunya selama ini sangat sehat. Namun terlepas dari itu semua, sebenarnya Taehyung sangat jarang bertemu sang ibu karena mereka berada di rumah yang terpisah dan sama-sama memiliki kesibukan masing-masing. Taehyung mengepalkan kedua lengannya merasa kesal pada dirinya sendiri, mengapa dia baru tahu tentang kondisi sang ibu hari ini. "Lalu apa aku sudah bisa menemui ibuku?" Tanyanya yang di berikan persetujuan oleh dokter itu. Dokter juga memberi tahu Taehyung agar tidak terlalu membebani fikiran sang ibu, biar bagaimanapun saat ini, nyonya Kim masih dalam pengawasan petugas medis. 


-


Taehyung berjalan gontai di sebuah lorong dengan tatapan kosongnya, dia menjadi sangat bingung dengan situasi saat ini. Dia sangat ingin mengatakan pada sang ibu, bahwa dia sudah menikah dengan Hyuna, tetapi di lain sisi, dokter mengatakan agar dia tak mengejutkan ibunya untuk saat ini. Lalu apa yang harus dia lakukan? "Taehyung-ah..." Pria itu menghentikan langkahnya saat sang istri memanggil namanya dari arah belakang, Taehyung menatap lirih padanya lalu tersenyum saat Hyuna berlari dan memeluknya dengan sangat erat begitupun dirinya. "Ada apa? Apa yang dokter katakan padamu?" Taehyung menjadi bertambah bingung, mungkin hal ini juga akan membuat Hyuna merasa kecewa. Pria itu menghela nafas kasarnya lalu melepaskan dekapan sang istri kemudian menatapnya sangat dalam, sedangkan Hyuna hanya diam sambil membalas tatapan Taehyung. 


"Kau pulanglah dengan supir Tan, aku akan menjaga ibuku di sini. Tunggu aku hingga kembali." Hyuna mengerutkan keningnya bingung, mengapa Taehyung terkesan tidak menginginkannya berada di dekatnya? "Tapi---" Ucapnya terhenti saat Taehyung mengecup bibirnya, dan menempelkannya dengan waktu sedikit lebih lama meski tanpa lum*tan. Pria itu kemudian melepaskannya dan menangkup wajah sang istri, lalu mencoba memberinya pengertian padanya, "Kau harus menjaga kesehatanmu, jika kau tetap disini, kau akan membebani fikiranmu, itu akan memperlambat kehamilanmu. Kau sudah berjanji akan melahirkan adik Kim Taeri, 'kan?" Hyuna tersenyum saja agar taehyung tidak banyak memikirkan hal apapun, meskipun Hyuna sangat tahu, Taehyung pasti menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi pasti suaminya memiliki alasan, dan Hyuna hanya harus memahami situasi saat ini. "Baiklah, aku akan pulang. Berjanjilah untuk menghubungiku jika terjadi apapun." Taehyung tersenyum seraya mengangguk, kemudian pria itu mengecupi wajah sang istri, dari mulai puncak kepalanya, keningnya, kedua kelopak matanya, hidungnya kedua rahangnya, dan terakhir bibirnya. Hyuna memejamkan matanya seraya tersenyum sebelum akhirnya kembali membuka matanya dan berpamitan pada suaminya. 


"Maafkan aku Hyuna-yya, tunggu hingga semuanya membaik, baru aku akan mengatakan pada dunia termasuk ibuku, bahwa kau adalah wanitaku, istriku sekaligus ibu dari anakku." Batinnya setelah mengantar Hyuna ke lobby dan menatap kepergiannya. Taehyung menunduk kemudian berbalik untuk kembali ke kamar sang ibu. 


-


Hyuna terdiam sambil menatap ke luar jendela, gadis itu memikirkan banyak hal tentang yang terjadi sebenarnya. Namun pada akhirnya dia hanya mencoba berfikir positif, "Taehyung tidak akan pernah mengecewakanku lagi, aku harus percaya padanya." Batinnya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2