DARK MISSION (The Series)

DARK MISSION (The Series)
22


__ADS_3

"Dia adalah gadis yang baik, sejak awal memang aku yang bersalah. Bahkan aku tidak mempercayai putraku saat dia mengatakan aku memiliki seorang cucu. Namun saat aku menatap wajah bayi tak berdosa itu, hatiku terasa sakit. Seolah membunuh putra kandungku sendiri, cucuku benar-benar mirip dengan putraku, Kim Taehyung."


____oO0Oo____


"Dimana Hyuna? Ibu ingin beremu dengannya, untuk meminta maaf padanya." 


Taehyung tertegun mendengar ucapan ibunya itu, bahkan dia merasa bahwa ini bukanlah kenyataan. Namun, rasanya mimpi ini terlalu nyata, "A-apa kau sadar siapa yang ingin kau temui, ibu?" Tanya Taehyung, hanya untuk memastikan bahwa sang ibu tidak sedang demam atau bahkan mengigau. Nyonya Kim tersenyum lalu menggenggam lengan putranya, "Bawa aku menemuinya, aku sudah baik-baik saja. Istirahat di rumahpun akan membuatku kembali pulih." Taehyung tersenyum dan duduk sambil membalas genggaman tangan sang ibu. Jika, ini mimpi baginya, dia sangat berharap agar Tuhan tidak membangunkannya. Nyonya Kim terdiam, fikirannya kembali berputar, mengingat dosa apa saja yang ia lakukan di masa lalu pada Hyuna? 


***


Taehyung meraih knop pintu kamarnya, di tataplah sang isteri yang tengah tertidur pulas malam ini. Taehyung baru saja kembali dari villa ibunya setelah menemani ibunya pulang, awalnya Taehyung akan kembali besok. Tetapi pelayan mengatakan bahwa Hyuna tengah demam, Hyuna sengaja tidak memberi Taehyung, mengingat suaminya itu tengah menemani ibu mertuanya, jadi dia meminta pelayan membeli obat penurun demam untuknya. Namun saat di apotek ternyata pelayan bertemu dengan Taehyung, Taehyungpun menanyakan perihal apa yang membuat pelayannya pergi ke apotek dan untuk siapa obat demam yang sejak tadi pelayannya beli? Tidak bisa berbohong, maka pelayan itupun mengatakan bahwa obat itu untuk isteri tuannya. Taehyung sangat khawatir, jadi dia meminta Supir Tan menghubungi Namjoon dan Jimin untuk datang ke villa ibunya, dan menitipkan sang ibu pada mereka sementara Taehyung akan pulang untuk memastikan isterinya baik-baik saja. 


Taehyung berjalan perlahan menghampiri isterinya, lalu duduk di tepi ranjang. Pria itu menempelkan keningnya dengan kening Hyuna, betapa terkejutnya ia saat merasakan panas di tubuh Hyuna. Hyuna mengerjapkan matanya saat merasakan sentuhan lembut suaminya, wanita itu tersenyum lirih begitupu Taehyung. "Kau sudah kembali, bagaimana dengan ibumu?"


"Ibuku sudah baik-baik saja, aku meminta Namjoon hyung dan Jimin datang untuk menggangtikanku." Hyuna berusaha untuk mendudukkan dirinya, namun Taehyung mencegahnya dan malah berbaring di samping Hyuna. "Tidurlah, aku akan menemanimu." Hyuna mengangguk dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Taehyung saat lelaki itu mendekapnya. Taehyung belum memejamkan matanya, dia ingin mengawasi isterinya, jadi dia membiarkan Hyuna tertidur sedangkan ia terjaga. Suara ponsel Hyuna berdering, membuat fokus Taehyung teralihkan. Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat kontak Jungkooklah yang memanggil. 


"Ada apa?" Taehyung bertanya saat dia telah menerima panggilan dari Jungkook di ponsel isterinya. "Hyung, tuan Lee... Tuan Lee sudah siuman dan dia mencari Hyuna." Taehyung membulatkan matanya dengan sempurna. setelah tiga tahun koma, akhirnya ayah mertuanya siuman, dia sangat senang sekali mendengar berita menyenangkan ini. Hari ini, keberuntungan sedang memihaknya. "Jaga tuan Lee sampai kami menyusul kalian kesana. Katakan padanya, kami akan segera pergi menemuinya." Kata Taehyung. Jungkookpun menyetujuinya dan mereka akhirnya mengakhiri panggilan tersebut. 


"Terima kasih Tuhan. Ini adalah kabar yang akan membuat isteriku sangat bahagia." Gumamnya, pria itu menatap wajah pucat sang isteri, dia tersenyum kemudian mengecup kening isterinya dengan lembut. "Hyuna-yya, ayahmu akhirnya siuman, apa kau bahagia?" Taehyung hanya tersenyum walau tak mendapatkan jawaban karena Hyuna memang tengah tertidur setelah meminum obat demamnya.


***


Jeon Jungkook, pria itu berjalan dengan tergesa ke ruang VIP tempat tuan Lee saat ini. Pria itu tersenyum kemudian membungkuk saat berpapasan dengan seorang dokter. "Bagaimana keadaan tuan Lee?" tanyanya dengan menggunakan bahasa Inggris. "Ini luar biasa, tuan Lee Minjae sangat kuat. Obat yang tuan Kim Taehyung rekomendasikan pada kami di badan penelitian laboratorium internasional, akhirnya bisa membuat tuan Lee terbangun, virus baik yang di ciptakan oleh ilmuan terbaik dunia saja masih memiliki tingkat keberhasilan sepuluh persen, dan tuan Lee sangat kuat dan semangatnya untuk bertahan hidup sangat besar, itu sebabnya, tubuh tuan Lee sangat kuat untuk menerima obat ini. Ini juga mukjizat dari Tuhan, sejak awal menangani tuan Lee, kami bahkan tidak memiliki keyakinan bagi pasien yang mengalami kelumpuhan bahkan kematian pada otak akan bertahan sampai di titik ini, sangat kecil sekali kesempatannya, tetapi tuan Lee benar-benar merespon dengan sangat baik. Ini semua berkat Tuhan, melalui manusia sehebat tuan Kim Taehyung yang tidak pernah berhenti memberikan informasi tentang penemuan obat terbaru hasil laboratorium yang ia kelola. Ini sungguh sangat luar biasa." 


Jungkook sangat takjub dengan semua yang di ceritakan oleh dokter Smith kepadanya, dia tidak menyangka karena selama ini Taehyung ikut campur tangan untuk penelitian obat yang saat ini mampu membuat tuan Lee berhasil sadar. Padahal yang Jungkook tahu, meskipun Taehyung juga memiliki keahlian di bidang penelitian dan kedokteran, pria itu tidak pernah memperlihatkan keahliannya dan selalu sibuk dengan pekerjaannya di bidang bisnis. Taehyung benar-benar manusia yang tidak mengenal menyerah. Pantas saja Taehyung mengirim tuan Lee ke Argentina, karena di negara inilah pertama kalinya Taehyung melakukan sebuah penelitian besar dengan senior yang dulu satu jurusan pendidikan dengannya. 


"Terima kasih untuk kerja kerasnya, tuan Kim akan datang bersama isterinya nanti." 


"Sama-sama, saya akan sangat menantikan kedatangan tuan Kim." katanya, dokter Smithpun pergi setelah berjabat tangan dengan Jungkook. Perlahan Jungkook berjalan mendekat ke brangkar tuan Lee, pria yang terlihat semakin tua dan kurus itu menatap Jungkook dengan tatapan kosongnya, sementara Jungkook membungkuk hormat padanya. "Selamat pagi tuan Lee, saya Jeon Jungkook. Saya adalah teman dari Kim Taehyung dan juga Lee Hyuna." Jungkook memperkenalkan dirinya pada tuan Lee yang di berikan kedipan mata tanda mengerti dari tuan Lee. Tuan Lee bukan tidak dapat berbicara, namun dia butuh waktu dan mengumpulkan tenaganya karena telah tertidur selama tiga tahun, dia hanya bicara sedikit dan pertama kali saat ia bicara adalah tadi malam, dia menanyakan keberadaan Hyuna. "Tuan, Lee apa ada yang kau butuhkan? Aku disini untuk menemanimu, Hyuna dan Taehyung akan segera datang dalam beberapa hari." katanya, Jungkook tersenyum saat menatap bibir tuan Lee yang sedikit demi sedikit terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu.


"Di-dimana aku se-sekarang." Lirih tuan Lee dengan bicara terbata.


"Kita ada di luar negri, tepatnya di Argentina, Taehyung yang merekomendasikan rumah sakit ini. Karena rumah sakit ini memiliki fasilitas laboratorium terbaik." Jelasnya, terlihat bola mata tuan Lee yang tengah memperhatikan setiap sudut ruangan yang tengah ia tempati saat ini. Kemudian tuan Lee memperhatikan kulit di lengannya yang sedikit keriput dan kurus, dia sangat yakin bahwa dia tertidur sangat lama, meskipun rasanya hanya beberapa hari saja. 


"T-tanggal berapa hari ini? Berapa lama aku tertidu?" 


"Hari ini adalah hari jumat, tanggal dua puluh, tahun dua ribu dua puluh." Tuan Lee membelalakan matanya, dia tidak menyangka bahwa dia tertidur begitu lama. Bagaimana dengan putri semata wayangnya? Selama ini Hyuna sangat bergantung padanya, bagaimana dengan kehidupannya saat tak bersama ayahnya, satu-satunya keluarga yang masih Hyuna miliki? Apakah putrinya makan dengan baik selama ini? Tuan Lee meneteskan air matanya sementara Jungkook terduduk di kursi samping brangkar tuan Lee sambil menggenggam lengan rapuh itu untuk menyalurkan kekuatan pada tuan Lee. "Hyuna putriku... Apa ayah membuatmu sulit, nak? Bagaimana keadaanmu?" lirihnya seraya menangis sangat lirih. Jungkook yang menyaksikan hal itupun terbawa suasana dan menangis bersama tuan Lee. "Jangan khawatir, keadaan putrimu sangat baik karena Taehyung bersamanya." Mendengar hal itu setidaknya, tuan Lee dapat menghela nafas leganya. Sejak awal dia sangat percaya bahwa atasannya itu sangat baik dan akan menjaga putrinya dengan baik. Namun tanpa tuan Lee tahu, selama ia tertidur, banyak hal yang terjadi. Namun, semuanya sudah baik-baik saja, jadi tidak ada yang harus di ceritakan lagi. 


***


Hyuna terbangun dari tidurnya setelah demamnya menurun, tubuhnya juga terasa lebih ringan, karena perawatan dari sang suami. Wanita itu mengerjapkan matanya dan mencari Taehyung yang ternyata tidak ada di sampingnya, "Kau mencariku?" Hyuna menoleh ke arah walk in closet, dan mengerutkan keningnya saat melihat Taehyung yang mendorong dua koper berukuran besar. "Koper itu ingin kau apakan?" tanyanya, Taehyung menatap kedua koper yang sudah sejak beberapa jam yang lalu ia rapikan itu lalu tersenyum, "Tentu saja isinya ada pakaian milik kita. Kita akan pergi ke Argentina besok malam." Hyuna menatap suaminya dengan tatapan berbinar, apa katanya tadi?Argentina? itu artinya Hyuna akan bertemu dengan ayahnya? Tentu saja Hyuna sangat bahagia. Namun senyumnya memudar saat dia mengingat kondisi ibu mertuanya, Taehyung mengerutkan keningnya saat melihat perubahan ekspresi Hyuna lalu bertanya, "Ada apa? Apa kau tidak senang?" 


"Bukan begitu, tapi bagaimana dengan ibumu? Aku juga harus menemui orang tua angkatku." Taehyung tersenyum lalu duduk di samping Hyuna dan merangkul bahu Hyuna sambil menatap wajah cantik istrinya, Hyuna hanya diam sambil mengerjapkan matanya bingung. "Kau sudah tidak demam, lebih baik kau cuci wajahmu dan sikat gigi setelah itu ikut denganku ke bawah. Aku memiliki sesuatu yang sangat penting untukmu." Hyuna mengerutkan keningnya bingung. Namun tanpa protes atau apapun, Hyuna akhirnya mengikuti saja perintah Taehyung. "Baiklah, temani aku ke kamar mandi." Katanya dengan gaya manjanya, Taehyung terkekeh lalu mengacak poni Hyuna gemas kemudian dia membungkuk, agar Hyuna bisa naik di punggungnya. Hyuna tersenyum dan dengan semangat naik di punggung Taehyung, Taehyung menggendong Hyuna di belakang sambil tersenyum. "Apa aku sangat berat?" Tanya Hyuna, Taehyungpun berpura-pura merintih dan merasa pegal di pinggangnya yang berhasil membuat Hyuna kesal, apa dia seberat itu? Namun keduanya berakhir tertawa hangat. Taehyung tersenyum seraya bersyukur pada Tuhan dalam hatinya, karena dia memiliki Hyuna di sampingnya.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlalu, Hyuna dan Taehyung berjalan beriringan menuruni tangga, betapa terkejutnya Hyuna saat seluruh keluarganya ada di ruang keluarga. Hyuna menatap satu persatu orang tua angkatnya yang tengah tersenyum padanya, kemudian dia menatap Irene dengan Sehun yang juga menatapnya dengan senyuman, kemudian terakhir ibu mertuanya yang tengah duduk di sofa dengan shal tebal yang melingkar di lehernya. Hyuna menatap semuanya dengan tatapan harunya, wanita itu menatap Taehyung yang juga menatapnya dengan senyuman. "Taehyung-ah, apa aku tidak sedang bermimpi?" Taehyung tersenyum lalu menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak, kau sedang tidak bermimpi, aku memang mengundang mereka untuk datang. Aku ingin mengumumkan sesuatu yang penting. " Hyuna tersenyum seraya meneteskan air matanya, Taehyung menghapus air mata itu dengan sangat lembut kemudian menggenggam lengan Hyuna dan mereka melanjutkan langkahnya. 


"Hyuna-yya, bibi sangat senang melihatmu bahagia." Ujar nyonya Bae yang memeluk Hyuna lebih dulu. Hyuna menatap tuan Bae terlebih dahulu, kemudian membalas dekapan itu setelah menerima anggukan dari ayah angkatnya. Awalnya hyuna berfikir bahwa keluarga Bae akan membencinya, namun ternyata mereka tetap baik kepadanya. "Bibi, tolong maafkan aku." lirihnya seraya menangis dalam dekapan nyonya Bae, Irene yang melihatnyapun ikut menitihkan air matanya karena terharu, dia menatap Taehyung yang juga menatapnya dengan lirih seolah mengatakan 'maaf', Irene tersenyum pada Taehyung dan memperlihatkan genggaman tangannya dengan Sehun seolah mengatakan 'aku baik-baik saja.' Taehyung tersenyum dan menoleh pada sang ibu yang berusaha untuk berdiri, pria itu berjalan dan membantu ibunya untuk berjalan. 


"Hyu-hyuna... ma-maafkan aku." Lirih nyonya Kim yang membuat semua orang ikut bersedih, Hyuna melepaskan dekapannya dari nyonya Bae dan menatap ibu mertuanya dengan sangat lirih. "Nyonya---" 


"Ibu... panggil aku ibu, kau adalah menantuku." Hyuna menatap Taehyung dengan tatapan penuh kebingungan, kapan tepatnya Taehyung menceritakan tentang pernikahannya? 


"Maafkan aku, aku sangat egois dan tidak adil padamu." Hyuna terkejut saat ibu mertuanya menekuk kakinya dan berlutut di hadapan Hyuna, Taehyung ikut berjongkok dan menekuk sebelah lututnya karena dia tengah memegangi tubuh sang ibu. Sementara Hyuna menatapnya dengan tatapan tak menyangkanya, bahwa akan ada hari seperti hari ini. "Nyo-- maksudku, ibu... Jangan melakukan ini, berdirilah, kumohon." katanya seraya memegangi lengan ibu mertuanya. "Aku memang pantas seperti ini, kesalahanku di masa lalu sangat banyak, bahkan aku membuatmu harus kehilangan putrimu. Tolong ampuni aku Lee Hyuna." Hyuna menangis sambil memeluk ibu mertuanya, begitupun Taehyung yang juga menangis karena terharu melihat sang ibu yang akhinya menyesali perbuatannya dan telah menerima Hyuna, sebagai menantunya. 


"Ibu, berdirilah..." Hyuna menggenggam lengan ibu mertuanya, menghapus air mata wanita yang tengah rapuh itu lalu membawanya untuk berdiri. "Aku sudah memaafkanmu, semuanya sudah berlalu. Tidak ada yang harus di sesali." Ujarnya sambil kembali memeluk sang mertua. Taehyung menatap Irene yang berjalan mendekat pada Hyuna, pria itu mengangguk saat Irene menatapnya seolah mengatakan 'apa aku boleh memeluknya?' 


"Hyuna-yya..." Hyuna menoleh seraya melepaskan dekapan sang ibu mertuanya perlahan, dia menatap Irene dengan tatapan penuh rasa bersalah. Hyuna berbalik dan menatap Irene yang tersenyum dengan air mata yang sejak tadi telah menetes karena melihat suasana haru anatara mertua dengan menantunya yang baru saja berdamai. "Eonnie---" Hyuna diam saat Irene memeluknya sangat erat, orang tua Irene saling bertatapan dan ikut menangis menatap kedua putrinya yang selalu terlihat hangat, dan merasa bangga dengan kebesaran hati Irene untuk menerima kenyataan.


"Hyuna-yya, maafkan aku... Aku selalu ingin melindungimu dari semua orang yang menyakitimu, tetapi yang aku lakukan--- i-itu lebih menyakitkan. Aku mengkhianatimu dan kau diam-diam menangis karena diriku. Maafkan aku.." Lirihnya seraya terisak dalam tangis yang teramat pilu, hatinya sakit bercampur merasa bersalah yang teramat pada Hyuna, Si gadis yang dulu sangat menyedihkan menurutnya. "Eonnie, kau tidak pernah bersalah. Kau tidak pernah bersalah padaku, semua yang terjadi adalah kesalah fahaman saja. Kau tidak pernah mengetahui yang sebenarnya. Tolong maafkan aku, karena aku menjadi penghancur pertunanganmu dengan Taehyung---"


"Tidak, itu semua bukan kesalahanmu. Kaulah yang paling pantas dengannya, kau selalu mengatakan bahwa kau sangat mencintai ayah kandung Taeri, 'kan?--- Lihatlah---" Irene menjeda ucapannya dan membantu Hyuna berbalik dan menatap Taehyung, Taehyung yang tidak mengerti maksud Irenepun hanya diam dan memperhatikan saja. Irene berdiri di belakang Hyuna seraya merangkul bahu adik angkatnya dan tersenyum sambil membisikkan sesuatu pada Hyuna, "Ayah Taeri ada disini, dia milikmu dan hanya kau yang pantas memiliki cintanya." bisiknya seraya mendorong perlahan tubuh Hyuna, membuat Hyuna sedikit terhuyung dan berakhir dalam dekapan Taehyung. Irene tersenyum sambil menghapus air matanya begitupun semua orang yang ada di sana. Taehyung menatap Hyuna sambil tersenyum, "Apa kau bahagia?" kata Taehyung, kemudian Hyuna memeluk suaminya dengan sangat erat dan mengangguk dalam dekapan Taehyung. "Terima kasih, Taehyung-ah." gumamnya, Taehyung tersenyum sambil mengangguk. 


***


Taehyung menggenggam lengan Hyuna sambil berjalan di sebuah lorong rumah sakit. Dapat ia rasakan lengan isterinya yang terasa dingin dan berkeringat, "Apa kau gugup?" Tanya Taehyung pada Hyuna, Hyuna menoleh dan tersenyum lirih. Air matanya sudah tidak dapat terbendung lagi, jantungnya berdebar sangat cepat saat mereka telah dekat dengan kamar VIP tuan Lee. Mereke berdiri di depan sebuah pintu bertuliskan VIP, Taehyung menoleh dan mengeratkan genggamannya pada Hyuna. Wanita itu memejamkan matanya seraya menghela nafas panjangnya, "Kau siap?" tanya Taehyung lagi, Hyuna menoleh pada Taehyung lalu mengangguk. Perlahan Taehyung meraih knop pintu kamar VIP itu, orang pertama yang mereka lihat adalah Jungkook dengan dokter Smith yang sudah menanti kehadiran pasangan yang baru menikah beberapa hari yang lalu itu. "V hyung, Hyuna-yya..." Jungkook menyapa mereka, Hyuna berjalan perlahan, lalu tangisnya pecah saat Jungkook bergeser dan memperlihatkan sang ayah yang tengah menatapnya dengan tatapan sendunya, bahkan air mata lelaki tua itu pecah saat Hyuna memeluknya. 


"A-ayah... ayah... ayah kau sudah bangun, ayah..." Lirihnya seraya menangis pilu di dekapan sang ayah yang sangat ia rindukan, Jungkook dan dokter Smithpun memutuskan untuk keluar, membiarkan Hyuna melepas rindunya dengan sang ayah, sementara Taehyung hanya berdiri sambil menatap kedua anak dan ayah itu menangis. "Hyuna-yya--- Hyuna-yya putriku sayang... maafkan ayah nak.." lirihnya dengan nada yang sangat parau, hyuna bahkan sulit untuk mengatakan sesuatu, dia hanya menangis dalam dekapan sang ayah. 


"Ayah juga sangat bahagia, nak... kau tumbuh dengan sangat baik. Apa aku membuatmu sulit?" Hyuna menatap sang ayah lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak, ayah tidak sama sekali membuatku sulit. Aku baik-baik saja." Hyuna kembali memeluk sang ayah. Taehyung membungkuk saat tatapannya bertemu dengan ayah mertuanya. 


"Taehyung... nak, kemarilah." Taehyung berjalan mendekat dan menggenggam lengan tuan Lee, Hyuna tersenyum menatap keduanya. Taehyung dan ayahnya sejak dulu memang sangat akrab, Taehyung selalu menganggap tuan Lee sebagai ayah kandungnya, karena lelaki tua itu selalu memberinya wejangan sejak dulu. "Taehyung-ah, terima kasih... kau telah menjaga putriku dengan baik selama aku tak di sampingnya." Lirihnya dengan sangat tulus berterima kasih pada pria yang ia kira masih berstatus kekasih putrinya itu. Hyuna menatap Taehyung dengan lirih saat Taehyung meneteskan air matanya, Hyuna tahu bahwa suaminya sedang merasa bersalah, begitupun dirinya. Tapi mereka sudah sepakat untuk menyimpan kenangan buruk itu, dan tidak membiarkan sang ayah tahu, karena itu akan mengganggu kesehatan sang ayah.


"Aku akan menjaga putrimu lebih baik lagi, dan maaf--- sebenarnya, kami baru saja mendaftarkan pernikahan kami beberapa hari yang lalu." kata Taehyung, Tuan Lee terlihat sedikit terkejut lalu menatap putrinya seolah berkata 'apakah itu benar?' Hyunapun mengangguk sambil tersenyum, tuan Lee tersenyum. Dia memaklumi jika mereka menikah tanpa menunggunya, "Kami akan segera melangsungkan resepsi pernikahan kami disini. Syukurlah kau telah siuman, jadi kau juga bisa ikut serta di hari bahagia kami." lanjutnya, tuan Lee memeluk Taehyung begitupun Hyuna. "Oh Tuhan, terima kasih." tuan lee sangat bersyukur atas kebahagiaan putrinya. 


-


"Hyuna-yya, bagaimana apa kau sudah siap?" tanya Sehun yang baru saja masuk ke ruang rias pengantin, Hyuna menoleh pada Sehun dan menatapnya dengan gugup. "Hey, ada apa? Apa kau sangat gugup?" tanya pria jangkung itu. Hyuna mengangguk, Sehun pun memeluk sahabatnya sangat erat. Dia sangat bahagia, akhirnya Hyuna menemukan kebahagiaannya yang utuh. Sehun melepaskan dekapannya lalu memperlihatkan hadiah pernikahan darinya untuk Hyuna. 


"Ini untukmu, selamat untuk pernikahan kalian." Kata Sehun, Hyuna tersenyum dan meraih kotak persegi kecil berwarna silver itu. Hyuna membulatkan matanya saat melihat isi dari kotak persegi panjang itu. "Sehun-ah..." lirihnya yang kemudian kembali memeluk Sehun, isi dari kotak persegi panjang itu adalah sepasang tespect, satu testpect telah terdapat dua garis merah sedangkan yang lainnya masih terbungkus oleh dus kecil yang artinya belum pernah di gunakan, lalu satu testpect lainnya itu merupakan bukti kehamilan Hyuna yang pertama yang di sertai foto Taeri yang masih sangat kecil dalam gambar USG. "Ini adalah Taeriku saat kandungannku berusia delapan bulan, bagaimana kau bisa menemukannya?" tanya Hyuna.


"Aku menyimpannya saat kau pindah ke apartemenku, kau membawa mereka saat kecelakaan itu. Aku sengaja menyimpannya, karena aku tidak ingin kau kembali mengingat kejadian mengerikan di masa lalu. Kemudian, hari ini aku mengembalikannya, karena kini ada Taehyung yang akan memberimu pengganti Taerimu. Testpect baru ini, akan menjadi bukti kehamilan keduamu nanti." Hyuna hendak menangis lagi, namun Sehun segera menengadahkan wajah Hyuna membuat wanita itu mendongak. "Ya, jangan menangis, jika riasanmu hancur, Taehyung akan membunuhku nanti." katanya yang berujung menoyor kening Hyuna gemas. Mereka tertawa setelahnya. "Ayo keluar, suamimu sudah menunggumu di altar." Hyuna mengangguk lalu memeluk lengan kekar Sehun. Sehun membimbing Hyuna bejalan sampai ke depan altar karena tuan Lee masih belum bisa berjalan dengan normal, Hyuna menoleh pada sang ayah yang duduk di kursi roda di temani Irene dan keluarganya. Mereka tersenyum bahagia begitupu Hyuna, wanita itu kemudia menatap ke enam member Bangtan yang juga tersenyum sambil bertepuk tangan menyaksikan resepsi pernikahan mereka.


"Taehyung-ah, jika kau menyakitinya lagi. Aku akan benar-benar membunuhmu." kata Sehun saat menyerahkan Hyuna pada suaminya. "Aku tidak akan melarikan diri darimu jika itu terjadi." Sehun tersenyum seraya mengangguk. Pria itu kemudian turun dari altar dan bergabung dengan Irene dan tamu lainnya. Taehyung tersenyum menatap sang isteri yang terlihat sangat cantik, dengan gaun  putih yang terbuka di bagian punggungnya, rambutnya yang setengah terikat  bergelombang dan sebuah mahkota berlian cantik yang di design khusus untuk Hyuna, membuat wanita itu terlihat seperti seorang ratu bangsawan. "Kau sangat cantik." pujinya yang membuat Hyuna merona di buatnya, Taehyung terkekeh melihat wajah menggemaskan Hyuna, saat bersemu. "Kau sangat tampan, suamiku." Kini Taehyunglah yang merona saat Hyuna dengan sengaja menggoda Taehyung dengan menyebutnya 'suamiku'. Hyuna terkekeh, dia sangat tahu bagaimana membuat suaminya merona. 


"Kalian sudah sah menjadi suami isteri, silahkan kalian berciuman." kata pastur, setelah Taehyung dan Hyuna telah selesai mengucapkan janji suci mereka di hadapan Tuhan. Taehyung dan Hyuna saling berhadapan lalu mereka berciuman, seketika riuh sorak para tamu menjadikan suasana semakin ramai bercampur haru. "Aku mencintaimu, Kim Hyuna." Hyuna tersenyum sambil memeluk Taehyung. "Aku juga mencintaimu, suamiku."


Percayakah kalian pada takdir? Aku sangat percaya, walaupun pada awalnya aku mengatakan, 'tidak ada takdir indah seperti yang sering aku lihat di dalam sebuah drama yang di buat oleh seorang sutradara,' tapi hari ini, aku menyaksikannya sendiri. Aku kembali di pertemukan, dengan pria yang telah merebut seluruh hati dan duniaku sejak awal. 

__ADS_1


Lee Hyuna, sejak awal kau adalah milikku, aku sudah menetapkan pilihanku padamu sejak pertama kita bertemu. Saat aku menjadi seniormu di universitas. Dihadapan Tuhan, aku bersumpah--- aku akan melindungimu dan mencintaimu selamanya. Hingga kakiku tak lagi bisa melangkah, hingga tanganku tak lagi bisa merengkuhmu, dan hingga jantungku tak lagi berdetak. Bahkan nafas terakhirku adalah dirimu, aku mencintaimu Lee Hyuna. Isteriku tercinta.


Aku mencintaimu selamanya, Kim Taehyung.


Senyuman dan air mata bahagia tuan Lee mengiringi sang putri tercintanya, lelaki tua yang duduk di kursi roda itupun berdoa untuk kebahagiaan putrinya. "Hyuna, sayang... ayah sangat mencintaimu, berbahagialah putriku." Irene tersenyum menatap air mata tuan Lee yang kembali menetes. "Isteriku, apa kau melihatnya di syurga? putri kita sangat cantik, doakan putri kita, agar selalu menemukan kebahagiaan di setiap hela nafasnya." 


***


Pagi di pulau Maldives sepasang manusia yang masih betah meringkuk sambil berdekapan di balik selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya itu masih terlelap. Taehyung dan Hyuna tengah berbulan madu setelah satu bulan pernikahan mereka. Mereka baru sempat berbulan madu karena terhambat oleh pekerjaan Taehyung yang sangat padat. Hyuna mengerjapkan matanya saat sinar mentari pagi menusuk retinanya, gadis itu menggeliat dalam dekapan Taehyung. Hyuna dapat membuka matanya setelah seseorang menghalangi cahaya matahari dari jendela, dia menatap suaminya yang tengah menghalangi cahaya itu dengan lengannya untuk Hyuna, sambil menatapnya dengan senyuman hangat, sehangat mentari pagi. 


"Good morning, sunshine..." Sapa lelaki itu seraya tersenyum kotak pada belahan jiwanya.Seperti dejavu, Hyuna melingkarkan lengannya di perut Taehyung dan menenggelampan wajahnya di dada bidang suami tercintanya, Taehyung terkekeh melihat istrinya yang bermanja padanya setiap pagi. Taehyungpun akhirnya membalas dekapan Hyunanya dengan hangat. 


"TUNGGU!!!!" Pekik pria itu yang membuat Hyuna terkejut setengah mati sambil melepaskan pelukannya, "Ya, ada apa denganmu?" katanya saat melihat suaminya yang berlari cepat ke kamar mandi, Hyunapun membelit tubuhnya dengan selimut tebal dan berlari menyusul Taehyung saat mendengar suaminya tengah memuntahkan isi perutnya. 


"Taehyung-ah, ada apa? Apa kau sakit? A-atau kau mabuk laut?" tanya wanita itu seraya mengusap punggung suaminya lembut dengan perasaan khawatir. Hyuna menatap wajah Taehyung yang sudah memucat setelah memuntahkan cairan bening dari perutnya. "Aku tidak tahu, tapi kepalaku sangat pusing sejak tadi malam, perutku juga terasa mual." Lirihnya, Hyuna segera meletakkan punggung lengannya di kening taehyung. "Kau tidak sedang demam, apa jangan-jangan kau keracunan? Oh Tuhan, aku akan memanggil dokter untukmu." Hyuna segera berlari mencari ponselnya untuk menghubungi dokter. 


Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, akhirnya dokter datang setelah Taehyung dan Hyuna telah rapi dengan pakaian mereka masing-masing. Hyuna duduk di samping Taehyung sambil memperhatikan dokter yang tengah memeriksa keadaan suaminya. "Bagaimana, ada apa dengan suamiku, dokter?" tanyanya dengan khawatir sementara Taehyung hanya terduduk lemas setelah mendapat perawatan dari dokter. Dokter itu mengerutkan keningnya dan merasa bingung. "Ini sangat aneh, tuan Kim baik-baik saja, detak jantung dan tekanan darahpun normal. bahkan tidak terdapat racun." kata dokter yang membuat Taehyung dan Hyuna bingung. 


"Bagaimana mungkin? Suamiku merasa pusing dan mual sejak tadi malam." kata Hyuna. 


Dokter itu mengerutkan keningnya, kemudian dia teringat sesuatu, lalu berkata, "Nyonya, bisakah saya memeriksa kesehatanmu?" Taehyung dan Hyuna saling menatap bingung. "Tapi mengapa isteriku? Dia baik-baik saja." Taehyung mengajukan protesnya saat merasa dokter ini tidak masuk akal menurutnya. "Taehyung-ah, biarkan dokter memeriksaku." final Hyuna yang juga penasaran akan satu hal. Taehyung bergeser dan menatap isterinya yang tengah di periksa oleh dokter. 


"Sesuai dugaan, ini bukan penyakit biasa. Nyonya Kim tengah mengandung, usianya baru lima minggu. Hal ini biasa terjadi, ketika sang isteri mengandung dan suami mengalami mual dan sebagainya." katanya, dokter itu bingung dengan reaksi pasangan ini yang bahkan tidak menunjukan apapun. "Tuan, nyonya, kalian akan memiliki seorang anak-- apa kalian tidak senang?" lanjutnya yang merasa bingung. Namun seperdetik kemudian Taehyung dan Hyuna memekik dan tertawa bahagia sambil berpelukkan. Dokter itupun mengusap dahinya yang berkeringat, pasangan yang unik menurutnya. 


"SAYANG... AKU AKAN MENJADI SEORANG AYAH?!! INI LUAR BIASA!!!" Pekik Taehyung seraya memeluk Hyuna. Pria itu bahkan menitihkan air mata bahagianya begitupu Hyuna, "Ak-aku hamil, Taehyung-ah, aku hamil... kita akan segera memiliki adik Taeri." Taehyung mengangguk seraya mengecupi wajah isterinya dengan bahagia. 


-


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan tak terasa kini usia kandungan Hyuna telah menginjak sembilan bulan. Selama tiga bulan di awal kehamilan Hyuna, Taehyung sangat menderita karena kehilangan nafsu makan dan tenaganya ketika rasa mual itu datang. Dia bahkan membuat ibunya dan juga member Bangtan kewalahan. Taehyung bahkan selalu menyesali saat kehamilan Hyuna yang pertama, dia tak di sampingnya. Bagaimana Hyuna bisa betahan seorang diri menghadapi gejala kehamilannya, Taehyung mengakui bahwa dia berhutang sebuah nyawa pada Hyuna setelah dia merasakan penderitaan dari kehamilan kedua isterinya. "Taehyung perutku sangat sakit." lirih wanita yang kini tengah berjalan-jalan di lorong rumah sakit bersalin yang di temani taehyung. "Bertahanlah sayang, aku akan menemanimu berjalan-jalan agar proses melahirkannya mudah. Dokter menyuruhmu untuk berjalan-jalan sambil menunggu pembukaan selanjutnya."


Taehyung mengangkat tubuh isterinya ke kursi roda dan membawanya kembali ke kamar setelah mereka selesai berjalan-jalan sesuai intruksi dokter, "Taehyung-ah, aku sudah tidak tahan..." Lirihnya, Taehyung menggenggam lengan Hyuna, pria itu ikut merasakan sakit dan berkeringat saat menemani sang isteri yang tengah berjuang melawan hidup dan matinya untuk melahirkan darah dagingnya. Mereka sudah mengetahui bahwa kali ini anak mereka seorang laki-laki. Hyuna mengerang hebat saat mencapai klimaksnya dan di iringi tangisan bayi yang membuat Hyuna maupun Taehyung dapat menghela nafas leganya. Taehyung menitihkan air matanya dan mengecupi wajah sang isteri yang di banjiri keringat. "Sayang, kau berhasil... Terima kasih, kau sudah bertahan dan berjuang demi putra kita." Hyuna menangis dalam dekapan Taehyung. 


"Tuan, nyonya, putra anda telah lahir dengan sempurna dan sangat sehat. Putra anda sangat tampan." ujar dokter sambil meletakkan bayi yang baru lahir itu di dada telanjang Hyuna. Agar si bayi bisa lebih tenang mendengar detak jantung ibunya.


-


Kebahagiaan ini terasa lengkap setelah Kim Taehyun lahir, anak laki-laki yang kini berusia empat tahun itu sangat periang. Dia sangat pintar seperti ayahnya. "Ayah, lihatlah, kau sangat payah... perahuku melaju dengan sangat cepat." Pekik bocah kecil yang tengah bermain perahu yang di hadiahi Namjoon untuknya, di sebuah danau yang terletak di halaman rumah mereka. Taehyun mendapat banyak sekali hadiah ulang tahun dari ke tujuh pamannya termasuk Sehun. Taehyung tertawa saja melihat putranya yang sangat pintar itu, "Hey, perahuku kehabisan daya. Kemenanganmu itu tidak adil bagiku." Protes pria yang tengah mengenakan celana pendek dengan baju berwarna cokelat yang bagian lengannya terpilin itu. "IBU---- Lihatlah, ayah tidak menerima kekalahannya." Rengek si kecil yang membuat Hyuna tertawa melihat ayah dan anak itu yang tengah bermain bersama. Hyuna dengan member Bangtan serta keluarganya tengah menyiapkan makan malam untuk ulang tahun putranya yang ke empat tahun. Mereka tengah bersenang-senang sore itu. 


Semuanya menjadi sangat indah, bahkan lebih indah dari mimpi-mimpiku. Taehyung, kau begitu berharga bagiku. Terima kasih karena berjuang untuk menggenggam lenganku lagi. 


Taehyun putraku sayang, terima kasih karena kau telah hadir melengkapi kebahagiaan kami. Terima kasIh telah membuat Hyunaku kembali bahagia. Ayah berjanji, akan bekerja sangat keras lagi, untuk memberikan kebahagiaanmu dengan ibumu. Tumbuhlah dengan baik, dan bercita-citalah setinggi langit. 


THE END

__ADS_1


__ADS_2