Dendam Si Kembar

Dendam Si Kembar
Hari Pertama


__ADS_3

"Wel saya pemilik rumah ini mulai sekarang," ujar Nadira berjalan menghampiri mereka berdua.


"Ma maksudnya apa ini?" Kristin langsung menghampiri ibunya yang tengah menundukkan kepala.


Ibunya Kristin yang bernama Andin itu langsung meminta Kristin untuk ikut tunduk bersamanya, "Ma apa-apaan sih?" Digo ikut menghampiri ibunya.


Nadira berbalik ke arah mereka, "Jadi jika kalian masih ingin tinggal di sini maka turuti semua yang saya inginkan dan saya perintahkan," ujarnya dengan Angkuh.


"Apaan sih?" Kristin hendak melawan dan mengusir Nadira dari sana.


Andin menahan tangan Kristin, "Jangan lakuin itu, ikutin aja apa yang dia katakan."


Kristin menatap ibunya, "Maksudnya apa sih Ma, jelasin sama aku kenapa harus ngikutin apa yang dia mau! Emangnya dia siapa?"


"Mau Anda yang menjelaskan atau saya aja yang bicara?" tanya Nadira melangkah mendekati mereka dengan perlahan.


"Jadi orang tua kalian ketahuan penggelapan uang, tidak bayar pajak. Barusan rumah ini pun sudah saya bayar," Nadira melempar sebuah berkas bukti kejahatan yang di lakukan Andin di kantornya.


"Ma kenapa di jual?" tanya Kristin langsung menatap ibunya.


"Mama di paksa menjual rumah ini olehnya, kalau tidak mama akan di laporkan, jadi turuti aja kemauannya," pinta Andin.


"Tapi-"


"Gak ada tapi-tapian, memangnya kalian mau hidup miskin kalau mama di penjara?" tanyanya dengan tegas.


"Sialan," Digo berdecak sebal.


Nadira dengan senyuman miringnya menghampiri Digo lalu merangkul pria itu, "Kenapa? Harus senang dong, dulu Nada adik kesayangan kamu kan?"


Digo menatap Nadira dengan tatapan tajam, "Lepaskan," ia menghempaskan tangan Nadira.


"Ah tanganku sakit, kakakku yang cantik tolong ambilkan air aku haus," Nadira menatap Kristin.


"Apa? Lu nyuruh gue? Gak mau," Kristin menolaknya.


Nadira berjalan ke arah Andin lalu merangkul pundak Andin, "Ma bagaimana? Kakakku tidak mau menuruti perintah ku. Apa aku harus melakukannya?" Nadira memasang ekspresi sedih.


"Kristin ambilkan," bentak Andin.


"Ma-"

__ADS_1


"Ayolah ambilkan Kristin."


"Ah sial," Kristin melempar tasnya ke sembarang arah lalu berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan air minum.


Nadira tersenyum lalu duduk di sofa melipat kedua kakinya bersilangan. Digo berjalan ke arah kamarnya, Kristin datang ke sana dengan membawa air putih ia lalu sodorkan ke meja, "Nih."


"Makasih kakakku yang cantik," Nadira menerima air itu namun dengan sengaja Nadira menjauhkannya.


"Ah sial jatuh, tolong bersihkan kak tangan ku nanti lecet kalau bersihin sendiri," ujar Nadira menaikkan kakinya ke lantai.


Kristin berdecak sebal lalu mulai membersihkannya, Andin mulai membantu Kristin, "Sweet sekali kalian berdua, saling membantu,. ah aku lelah ke kamar dulu kayaknya," Nadira berlari ke lantai dua.


Kristin duduk di lantai sambil mengacak-acak rambutnya kesal, "Ma kenapa kayak gini sih?"


"Udah turutin dulu aja mau dia apa."


"Tapi Ma capek banget dia ke sini palingan mau balas dendam sama kita, dia pasti-"


"Udah jangan banyak bicara, memangnya kamu mau jatuh miskin? Kamu mau hidup sendirian tanpa Mama?"


"Tapi-"


"Jangan tapi-tapian."


Digo baru keluar dari kamar mandi, ia hanya memakai handuk saja. Pria itu menatap Nadira dengan tatapan misterius, "Lu gak takut masuk ke sini?" tanya Digo dengan tatapan aneh menatap seluruh tubuh Nadira.


Nadira tiduran di kasur itu, "Kenapa takut?"


Digo duduk di samping Nadira. Nadira bangun lalu berdiri, "Aku salah kamar, dah," Nadira berjalan pergi.


Digo menarik tangan Nadira, wanita itu langsung menatap Digo, "Ada apa?"


"Kamu harus bertanggung jawab," balas Digo yang langsung menarik Nadira mendekat.


Nadira tersenyum, ia kemudian membanting tubuh Digo ke lantai. Digo bangun dengan cepat, "Sial, kamu agak berbeda dengannya ternyata," Digo hendak mendekat pada Nadira.


Mereka berdua terlibat perkelahian sampai Nadira memenangkan perkelahian itu sambil mencekik Digo dengan lengannya, "Kau yang harusnya tanggung jawab, kau salah satu orang yang sudah membuatnya ingin bunuh diri. Aku akan membuatmu menderita juga," Nadira melepaskan cekikan nya. Digo tergeletak lemas di kamar, ia kemudian di angkat oleh Nadia ke atas kasur.


Nadira mengeluarkan rantai dari tasnya, ia kemudian merantai Digo di kasur. Mulutnya ia tutup menggunakan selotip, Nadira tersenyum senang saat mandang pria itu.


"Ah lelahnya," Nadira mengambil kunci kamar itu lalu keluar dari kamar tersebut dan menguncinya.

__ADS_1


"Kita lanjutkan nanti yah," tambahnya sebelum meninggalkan kamar tersebut, Nadira masuk ke kamar yang dulu pernah Nada tempati.


Matanya langsung berkaca-kaca saat melihat isi kamar tersebut, sangat berantakan dan tidak layak di sebut kamar. Tempat itu lebih cocok di jadikan gudang saja, "Ma-maafkan aku karena terlambat, aku tidak bisa bayangkan bagaimana hidupmu sampai kamu melakukan hal itu."


"Aku akan membalaskan semuanya untukmu, mereka harus menanggung semua yang kamu rasakan dulu."


Nadira duduk di kasur Nada, "Bahkan ini sangat keras, bagaimana bisa kau tidur di sini?"


Nadira langsung keluar dari kamar itu lalu pergi ke kamar Kristin, "Boleh tukeran kamar?" tanyanya setelah membuka pintu kamar Kristin tanpa izin.


"Kaget tau, minta izin dulu kalau mau ke kamar."


"Harus yah? Bukannya ini rumahku?"


"Sialan, mau apa?"


"Tukeran kamar."


"Gak mau dan gak bisa, pergi sana!"


"Yakin? Ini rumahku loh."


"Ah dasar," Kristin pergi dari sana sambil mengambil laptopnya.


"Jangan sentuh barang gue, nanti gue pindahin sekarang males," tambah Kristin.


Wanita itu pergi ke kamar lain, Nadira tersenyum licik. Ia bukannya menuruti Kristin untuk tidak menyentuh barang-barangnya tapi ia malah melempar keluar kamar semua barang milik Kristin bahkan dengan baju milik Kristin ia lempar keluar kamar.


Kristin yang melihat itu langsung menghampiri Nadira dan marah-marah pada Nadira, "Apa yang lu lakuin?" bentak Kristin marah.


Nadira dengan tampang polosnya menatap ke arah Kristin, "Ini kamarku."


"Tapi-"


"Jangan banyak protes, atau kau yang mau ku lempar keluar?"


"Ma," Kristin berlari sambil menangis karena kesal menghampiri ibunya untuk mengadu.


Setelah mengosongkan kamar Nadira menutup Kamar itu lalu tiduran di kamar, Nadira menelpon Haruto, "Besok malam aku butuh bantuan mu."


"Baik kabari lagi saja nanti, kabari lagi jika kau butuh sesuatu."

__ADS_1


"Oke, ku matikan yah. Aku lelah ingin tidur," Nadira mematikan telponnya.


Nadira menidurkan tubuhnya di kasur, ia mengunci pintu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Di tempat lain Kristin sedang menangis pada ibunya, ia kesal dan ingin marah dengan apa yang telah Nadira lakukan padanya. Ibunya tidak dapat berbuat apapun walaupun sebenarnya ia juga kesal dengan hal itu.


__ADS_2