
Malamnya Nadira masuk ke kamar Digo, di dalam Digo sudah sadar dan berontak melepas ikatannya. Nadira duduk di samping Digo lalu mengeluarkan pisau dari saku bajunya, "Halo anak manis, bagaimana harimu?" tanyanya sambil menggoda Digo.
Digo tidak bisa bicara mulutnya masih di tutupi selotip oleh Nadira.
"Kau tau? Aku punya permainan yang menarik untukmu kau ingin bermain denganku?" tanya Nadira menyipitkan matanya.
Nadira membuka selotip yang menghalangi bibir Digo, sebelum Digo teriak Nadira telah menyimpan pisau yang ia pegang di lehernya, "Kau teriak maka kau akan mati," ancam Nadira.
"Tolong maafkan aku," Digo gemetar dan ketakutan, keringat dingin telah membahasi tubuhnya.
"Apa saat Nada meminta tolong dan meminta maaf kau berhenti? Aku akan berhenti kalau kau saat itu juga berhenti," Nadira tersenyum bak iblis berwajah malaikat.
Pria berotot itu nampak menyesali perbuatannya.
"Tenang saja aku hanya ingin bermain dengan mu, tidak akan sakit," ujar Nadira kembali menutup mulut Digo dengan selotip.
Nadira membuka baju Digo lalu menggoreskan pisau itu ke perutnya, Digo meringis kesakitan. Darah segar mengalir dari tubuh Digo baju dan kasurnya telah di penuhi darah miliknya, Nadira nampak menikmati hal itu tanpa rasa jijik sedikitpun.
___________
Paginya Nadira pergi ke sekolah bersama Kristin, sementara semalam Nadira meninggalkan Digo setelah melukai perutnya. Tidak ada yang tau bagaimana kondisi Digo saat ini, mereka mengira Digo memang kesiangan.
Andin berangkat ke kantor seperti hari biasanya, Andin juga berusaha keras mencari cara bagaimana agar Nadira dapat pergi dari rumahnya. Semalam Kristin memberinya ide untuk menyewa preman, Kristin ingin Nadira mati saja, Andin setuju jadi hari ini sepulang sekolah Nadira akan di hajar beberapa preman sewaan nya Kristin dan ibunya.
Di sekolah Nadira langsung ke kelas bertemu dengan Cici, "Pagi," sapa Cici tersenyum ramah menatap Nadira.
"Pagi juga."
Tiba-tiba seorang wanita datang ke kelas itu, wanita itu tampaknya kakak kelas mereka. Wanita tersebut bernama Maya, entah mengapa dia datang-datang langsung membenturkan kepala Nadira ke meja membuat semua orang di sana kaget dengan hal itu.
"Lu jangan sok jagoan deh di sini, murid baru bisa-bisanya," ucap Maya di barengi dengan gelak tawa murid lainnya.
__ADS_1
Maya adalah anak dari donatur tetap sekolah ini, tidak ada yang berani melawannya, guru akan selalu berpihak padanya jika sampai ada keributan yang terjadi.
Nadira mengangkat kepalanya, kemudian senyuman miring nya terukir di bibir. Nadira segera menjambak rambut Maya lalu membalas perbuatan wanita itu dengan membenturkan kepalanya juga ke meja bahkan tidak hanya sekali, Nadira melakukannya berulang kali hingga kepala Maya berdarah.
Cici yang melihat itu sangat syok, yang lainnya juga sama. Mereka heran pada Nadira yang begitu berani pada Maya, apakah karena Nadira tidak tau siapa Maya.
Setelah membenturkan kepala Maya ke meja, Nadira mendorong Maya hingga wanita itu tersungkur menubruk meja di belakangnya, Nadira berjalan mendekati wanita itu lalu menjambak rambutnya, "Saya tidak akan melakukan hal ini kalau anda tidak memulainya."
"Sialan, kau akan di keluarkan dari sekolah ini hari ini juga. Memangnya kau tidak tau siapa aku?"
"Siapa bilang saya tidak tau anda? Anda anak orang kaya yang sok itu kan? Hey di atas langit masih ada langit. Berapa harta kekayaan mu? Saya beli semuanya juga mampu, sekolah ini? Kalau di jual juga saya pasti akan mampu membayarnya."
Tiba-tiba wali kelas masuk ke sana karena mendengar keributan yang terjadi, Nadira dan Maya di panggil ke ruang guru. Kini mereka duduk menghadap kepala sekolah, "Nadira apa-apaan kamu, lihat temanmu!"
"Maaf Pak dia bukan teman saya," timpa Nadira memotong, ia terlihat santai tanpa wajah berdosanya.
Sementara Maya menangis, ia berbicara dari tadi kalau ia akan melaporkan perbuatan Nadira pada ayahnya.
"Nadira tidak boleh memotong pembicaraan orang, tidak sopan kamu."
"Nadira tidak boleh kamu melakukan itu pada dia."
"Lalu dia boleh melakukan itu pada saya? Sekolah macam apa ini?" sinis Nadira.
"Nadira nada bicara mu tidak sopan sekali."
Maya meraih ponselnya dari saku baju ia akan menghubungi orang taunya, namun kepala sekolah itu malah memegang tangan Maya, "Maya jangan yah, saya kan hukum Nadira sekarang."
Nadira tersenyum sinis melihat itu tatapan matanya juga terlihat miris, "Miris sekali yah sekolah ini, yang benar malah yang di hukum. Kenapa pak kekurangan uang sampai segitunya?"
Kepala sekolah itu langsung menatap Nadira dengan tajam, "Nadira saya sudah sabar dari tadi, kamu tidak sopan sekali. Saya bisa keluarkan kamu dari sekolah ini jika perlu."
__ADS_1
Nadira tertawa, "Saya juga bisa pak upload vidio perkelahian saya dengannya tadi, dimana perempuan itu yang mulai duluan tapi malah saya yang di keluarkan. Saya juga bahkan bisa upload percakapan kita saat ini, agar semua orang tau kebusukan sekolah Juanda yang terhormat ini," ancam Nadira.
"Maksud kamu?" tanya kepala sekolahnya.
Nadira membuka ponselnya lalu memperlihatkan vidio saat Maya datang-datang ke kelas membenturkan kepalanya, ia juga memperlihatkan vidio percakapan mereka yang ia rekam sedari tadi.
"Nadira jangan lakukan itu," ujar kepala sekolah yang ketakutan namanya tercemar jelek.
Maya terdiam ia tidak tau harus berbuat apa sekarang, power ayahnya tidak akan mampu membantunya kini.
"Ah sudahlah saya lelah sakit kepala," Nadira meninggalkan ruang tersebut.
Ia kesal pada sekolah ini, Nada dulu sering sekali jadi korban bully tapi tidak ada yang pernah peduli pada Nada setiap kali wanita itu angkat bicara malah dirinya yang kena hukum karena memang Nada orang miskin.
Nadira berjalan ke kelasnya, "Sekolah ini pun akan hancur, aku tidak akan membuat satu orangpun bahagia setelah apa yang mereka lakukan pada kembaranku," gumamnya dalam hati.
Di perjalan menuju kelas Nada bertemu dengan Andri, Andri menarik tangannya, "Kau boleh saja menakuti siswa lain, tapi tidak denganku. Aku akan membuatmu tunduk seperti apa yang telah kembaranmu lakukan," bisiknya.
Nadira tersenyum miring, "Aku akan memberimu seluruh hidupku jika aku mau tunduk padamu, ingat aku akan membuatmu merasakan kehilangan yang sama dengan ku. Jadi tunggulah sampai waktunya tiba," ujar Nadira sebelum akhirnya menghempaskan tangan Andri.
Nadira berjalan lalu melambaikan tangan pada Andri, "Sampai ketemu nanti," Nadira tersenyum misterius.
Tiba-tiba ponsel Andri berbunyi, Andri segera mengangkat telponnya yang ternyata telpon itu dari ibunya.
"Andri kamu beli bunga?" tanya ibunya di sebrang telpon.
"Bunga apa? Perasaan aku gak pesen bunga apapun."
"Ini ada tukang bunga ke rumah nganterin bunga katanya pesanan kamu, tapi di sini ada nama Mama juga kok."
Andri terdiam sejenak memikirkan apakah ia memesan bunga atau tidak, "Bunga apa memangnya?"
__ADS_1
"Bunga mawar hitam, ngapain sih beli bunga mawar hitam? Emangnya Mama mau mati? Mawar hitam kan melambangkan kematian. Tapi gak papah deh bagus bunganya, kamu pasti gak tau arti makannya pesan bunga mawar hitam. Eh udah dulu yah Mama lagi masak," ibunya Andri langsung mematikan ponselnya.
Setelah mendengar ucapan itu Andri segera mencari Nadira.